Cahaya Cinta Untuk Seroja

Cahaya Cinta Untuk Seroja
CCUS 41 : Terdampar


__ADS_3


Semburat warna oranye nampak jelas di ufuk timur, kicau burung gereja yang bertengger di dahan dan kokok suara ayam jantan yang bersahutan menyambut sang raja siang menaiki singgasananya. Sinar lembut cahaya matahari mulai menyapa penduduk bumi. Sinarnya terbias indah di butiran-butiran embun yang masih menggelayut manja di atas dedaunan. Membuatnya berkilauan layaknya butiran mutiara indah di dasar lautan.


Satu minggu telah berlalu. Kala Seroja telah menemukan kembali titik balik hidupnya dengan menjadi seorang hamba yang lebih dekat dengan Tuhannya, perlahan ia pun kembali bersemangat untuk menapaki hari-harinya. Dan kini pijakan kakinya terasa jauh lebih kuat dengan kehadiran Ana yang selalu ada di sisinya dan tidak pernah meninggalkannya.


Seroja nampak duduk di depan mesin jahit. Berbekal ilmu yang ia peroleh ketika duduk di bangku SMK, ia mulai menyalurkan bakat yang selama ini bahkan tidak pernah terpikirkan olehnya. Bakat itu justru terlihat nyata di depan mata Ana yang tanpa terduga menjadi jalan pembuka bagi Seroja untuk memperbaiki hidupnya.


Uang yang dipinjamkan oleh Ana, Seroja gunakan untuk membeli satu buah mesin jahit, mesin obras dan semua perlengkapan jahit lainnya. Mulai dari sana lah ia memulai menjalankan usaha ini. Membuat desain pakaian, ia jahit, dan ia tawarkan melaui akun media sosial yang ia punya.


"MashaAllah ... ini benar-benar cantik Mbak."


Ana menatap penuh takjub beberapa maxi dress berbahan sifon yang telah tergantung di salah satu sudut dinding rumah ini. Maxi dress dengan motif dan model sederhana namun terlihat begitu elegan.


Seroja hanya tersenyum simpul. Kakinya masih sibuk berkutat dengan motor penggerak mesin jahit ini. "Alhamdulillah jika suster Ana menyukai hasil jahitanku ini. Semoga respon pasar tidak jauh berbeda dengan respon yang diberikan oleh suster Ana ya."


Seroja memotong benang kala jahitan lengan baju yang ia buat telah selesai. Dan tinggal sedikit lagi, blouse yang ia buat ini akan selesai sempurna.


"Saya yakin target pasar akan memberikan respon yang sangat baik Mbak. Terlebih oleh kaum-kaum milenial, karena sungguh pakaian-pakaian yang Mbak buat ini begitu kekinian."


Senyum penuh arti kembali terbit di bibir Seroja. "Terimakasih banyak untuk semua bantuan yang suster Ana berikan untukku. Sungguh jika saat itu suster Ana tidak memberiku sebuah usulan untuk membuka usaha ini, dan tidak memberikanku pinjaman modal, entah apa yang saat ini terjadi kepadaku. Mungkin saat ini aku masih kebingungan untuk kembali mengawali kehidupanku. InshaAllah, jika apa yang coba aku tawarkan ini mendapatkan respon yang bagus dari pasar, aku akan segera mengembalikan uang suster Ana."


Hanya dibalas dengan senyuman hangat pula, Ana menanggapi ucapan Seroja ini. "Sama-sama Mbak, saya juga merasa senang bisa membantu mbak Seroja. Mbak Seroja sudah saya anggap sebagai keluarga saya sendiri. Jangan terlalu memikirkan uang itu Mbak. Gunakan dulu saja untuk mengembangkan usaha mbak Seroja ini. Untuk membeli bahan dan perlengkapan lainnya."


"Kak Seroja dan suster Ana sedang apa? Apakah sedang membuat baju?"


Alamanda yang baru saja dari teras rumah membuat obrolan Ana dan Seroja sedikit terpangkas. Seroja tersenyum simpul melihat kehadiran adik perempuannya ini. Ia raih tangan sang adik dan ia giring untuk lebih dekat ke arahnya. Perlahan, ia angkat tubuh Alamanda dan ia dudukkan di atas pangkuannya.


"Kak Seroja buatkan baju untuk Alamanda. Apakah Manda ingin mencobanya?"


Wajah Manda nampak berbinar dipenuhi oleh kebahagiaan. Gadis itu menganggukkan kepala. "Mau Kak, mau, mau!!"


Seroja menautkan pandangannya ke arah suster Ana bermaksud untuk meminta tolong. "Sus, tolong ambilkan paper bag yang ada di bufet itu ya. Di dalam sana ada tiga potong gamis. Untuk suster Ana, untuk Manda dan untuk ibu. Semoga semua pas di badan masing-masing."

__ADS_1


Ana mengambil paper bag yang berada di bufet. Netranya nampak berbinar kala melihat tiga potong gamis itu. Sungguh baju hasil jahitan Seroja ini benar-benar halus.


"Lalu untuk mbak Seroja sendiri mana?"


"Milikku masih belum jadi Sus. Aku memang sengaja membuat untuk kalian bertiga terlebih dahulu." Seroja kembali mengusap kepala Manda dengan lembut. "Nah Sayang, coba ikut suster Ana. Biar dipakaikan oleh suster Ana."


"Baik Kak."


Alamanda turun dari pangkuan Seroja. Ana meraih tangan Manda dan ia tuntun untuk masuk ke dalam kamar. Sedangkan di ruangan ini hanya tinggal menyisakan dirinya dengan sang ibu seorang.


Hati Seroja juga menghangat kala melihat sang ibu sudah tidak lagi memberikan respon yang buruk ketika berhadapan langsung dengannya. Entah apa yang terjadi pada sang ibu, perubahan emosinya benar-benar berubah drastis. Sejak ia kembali ke rumah ini sang ibu justru terlihat jauh lebih tenang. Wanita paruh baya itu memang sudah tidak pernah mengamuk dan merusak barang-barang lagi.


Seroja mendaratkan bokongnya di samping sang ibu. Ia beranikan untuk meraih telapak tangannya dan Dahlia hanya menatap lekat wajah Seroja dengan ekspresi wajah datar.


Dengan intens Seroja mengecup punggung tangan sang ibu dan kedua pipinya. "Terimakasih banyak karena Ibu mengizinkan Seroja untuk mengecup tangan dan pipi Ibu. Dua hal yang sejak dulu ingin Seroja lakukan terhadap Ibu. Seroja mencintai Ibu. Sampai kapanpun akan selalu mencintai Ibu."


Dahlia masih menatap wajah Seroja dengan tatapan datar tanpa ekspresi sama sekali. "Lili... "


🍁🍁🍁🍁


"Astaghfirullahal 'adziim..., motor kita malah mogok seperti ini. Lalu sekarang kita harus bagaimana?"


Wajah Fakhru nampak sedikit pias kala melihat motor yang ia kendarai bersama Hakim tiba-tiba mogok di pinggir jalan di jam menjelang maghrib seperti ini.


Hakim mengedarkan pandangan matanya ke arah sekeliling. Ia tahu betul tempat apa ini. Salah satu lokalisasi yang berada di kota ini.


"Sepertinya kita harus mencari masjid di sekitar sini dahulu, Ru. Ana hanya khawatir jika tidak bisa mengejar waktu untuk shalat maghrib. Jadi untuk sementara, kita tinggal motor ini di sini terlebih dahulu."


Dahi Fakhru mengerut. "Apa tidak masalah jika motor kita tinggal di sini Tadz? Saya khawatir tidak akan aman."


Hakim tersenyum simpul. "Antum jangan khawatir. InshaAllah, Allah akan menjaga apa yang menjadi milik kita. Yang terpenting, saat ini kita cari masjid terlebih dahulu. Atau kita titipkan motor ini ke warung kelontong itu terlebih dahulu?"


Fakhru terlihat sedikit menimbang-nimbang apa yang diucapkan oleh Hakim, dan ia pun menganggukkan kepala. "Baiklah kalau begitu Tadz."

__ADS_1


Fakhru dan Hakim mendorong motor itu. Kemudian ia titipkan ke warung kelontong yang tak jauh dari sini. Dan dari pemilik warung kelontong itu pulalah mereka tahu, bahwa ada surau yang ada di dalam gang kecil yang ada di hadapannya ini. Gegas, Fakhru dan Hakim berjalan melintasi gang kecil ini.


Hakim dan Fakhru saling melempar pandangan kala melihat suasana sekitar tempat ini. Rumah-rumah kecil yang berjejer dan di hiasi oleh lampu-lampu tumblr yang berkerlap-kerlip. Dan di depan teras rumah-rumah ini nampak para wanita duduk dengan make-up yang terlihat sensual dan pakaian yang serba sexy.


"Hai Mas, mau kemana? Mari mampir dulu. Biar kami temani."


Fakhru dan Hakim nampak terkejut setengah mati kala melihat dua orang wanita dengan rok di atas lutut dan tank top mendatanginya.


"Maaf ya Mbak, saya di sini sedang mencari surau. Kalau boleh tahu suraunya ada di mana ya Mbak?"


Dengan menundukkan wajahnya, Hakim mencoba untuk mencegah agar wanita ini tidak berbuat lebih. Baru kali ini ia memasuki kawasan seperti ini. Namun entah mengapa ada sesuatu yang tiba-tiba menggelayuti hatinya. Dan perasaan apa itu? Hakim sendiri juga tidak tahu.


"Surau di sini kotor Mas, dan tidak terawat sama sekali. Lebih baik Mas masuk ke rumah kami saja yang bersih, wangi dan nyaman. Jadi Mas ini akan betah. Mari silakan masuk. Biar kami temani dan untuk tarif bisa kita bicarakan di dalam."


"Maaf Mbak, saya tidak berminat. Saya permisi dulu."


Hakim menggeret pergelangan tangan Fakhru. Ia tahu betul jika Fakhru sedikit shock dengan kondisi sekitar sini. Kawasan yang mungkin baru sekali ia datangi. Hingga pada akhirnya langkah kaki mereka terhenti di sebuah surau kecil. Netra keduanya menatap lekat bangunan yang ada di hadapannya ini. Miris, karena tempat ibadah yang merupakan tempat bermesraan kepada sang Maha pemilik kehidupan dalam keadaan terbengkalai seperti ini.


"Fakhru... " ucap Hakim masih sambil menatap surau kecil ini.


"Ya Tadz?"


"Apakah kamu siap menjadi partnerku untuk berdakwah di tempat ini?"


Kedua bola mata Fakhru terbelalak dan membulat sempurna. "Apa?"


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Maaf, maaf, janji untuk mempertemukan Seroja dan Fakhru belum bisa saya kabulkan di part ini. InshaAllah besok ya Kak... Di part ini pastinya kakak-kakak sudah mengetahui bahwa pertemuan Seroja dengan Fakhru semakin dekat. Hihihihi sabar ya... ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2