
Seroja PoV
Tubuh yang terasa begitu lemah, aku bawa untuk berlari menembus pekat malam ini. Malam yang sebelumnya nampak begitu terang, kini ia bersihkan wajahnya dari bintang-bintang, dan mulai turun setetes air langit, dari tubuhnya.
Entah mengapa di setiap aku mengalami kepelikan hidup seperti ini, hujan selalu jatuh ke bumi. Seakan mewakili air mata yang tertumpah akan kepedihan hati yang mengaliri di setiap aliran darah ini. Hujan turun semakin lebat. Tetes-tetes airnya yang begitu dingin seakan membabibuta mengeroyok tubuhku, dan semakin terasa hingga ke tulang.
Tubuhku kembali meluruh di bawah deras air langit. Semakin aku menjauh dari apartement milik mas Randy justru semakin membuat bulir-bulir kristal itu semakin deras mengalir. Ada sedikit rasa tidak rela melepaskan lelaki itu. Namun, kali ini aku memang harus mundur. Mundur demi kebahagiaan si kembar.
"Tuhan ... di saat aku menjadi wanita baik, Engkau memberiku sebuah musibah dengan kehadiran lelaki biadap itu. Dan kini setelah hidupku hancur karena kebiadaban lelaki itu dan aku memilih untuk menjadi wanita simpanan seorang lelaki beristri, aku kembali mendapatkan kepedihan hati seperti ini. Sesungguhnya apa mau Mu Tuhan? Apa mau Mu? Apakah Engkau menciptakan aku hanya untuk menanggung derita seperti ini? Mengapa tidak Engkau berikan kepadaku satu kesempatan untuk mencecap apa itu kebahagiaan? Aku lelah Tuhan, aku lelah!"
Ada sebuah nasihat lama yang pernah aku dengar, menangislah saat hujan lebat, ketika air membasahi wajah agar tidak ada satupun yang tahu bahwa kau sedang menangis. Dan berteriaklah di sana, gemuruh suaranya memekakkan telinga sehingga tidak ada yang tahu bahwa kau sedang berteriak.
Dan kali ini, aku benar-benar mempraktekkan nasihat lama itu. Aku menangis, berteriak lantang di bawah deras air hujan untuk mengurai segala sesak dalam dada. Dan pastinya kembali mengajukan protes kepada Tuhanku akan jalan hidup yang tertulis untukku. Menjadi orang baik, menjadi orang jahat, pada kenyataannya tetap menghempaskan tubuhku dalam derita ini.
Aku kembali bangkit untuk berdiri. Kembali ku langkahkan kaki menapaki ruas jalan ini dengan langkah gontai. Hingga tubuhku berpijak di salah satu jembatan yang di bawah sana terdapat sungai yang alirannya begitu deras. Aku lihat hanya ada keheningan di sisi kanan kiri. Tidak ada satupun aktivitas penduduk bumi di tempat ini.
Aku lelah, aku lelah dengan jalan hidup yang telah Tuhan pilihkan untukku. Jika benar Tuhan itu maha adil, lalu di mana letak keadilan itu untukku? Pada kenyataannya, selama dua puluh tujuh tahun aku hidup di dunia ini, kebahagiaan itu tidak pernah menghampiri.
Aku menaiki rangka-rangka baja yang berada di sisi jembatan. Aku rasa, tidak ada gunanya lagi untukku melanjutkan hidup di dunia ini. Ada baiknya jika aku mati saja, sehingga bisa terlepas dari lilitan penderitaan hidup ini.
Kutundukkan wajahku, terlihat di bawah sana aliran arus sungai ini begitu deras. Aku yakin jika sungai ini cukup dalam dan curam dan dengan sekali lompatan, aku pasti bisa menjemput ajalku. Ya, aku sudah lelah. Akan aku sudahi segala penderitaan ini.
__ADS_1
Aku menghela nafas dalam dan aku hembuskan sedikit kasar. Kala tubuh ini akan kubawa untuk melompat, tiba-tiba...
Manda ingin berdoa agar kak Seroja dan ibu bisa selalu bahagia dan kelak bisa masuk ke dalam surga.
Aku terkesiap kala aliran sungai di bawah sana membiaskan wajah Alamanda. Nampak jelas wajah gadis kecil itu dengan suara-suara halus yang kembali merembet masuk ke dalam indera pendengaranku. Kata-kata tulus yang keluar dari bibir gadis kecil itu seakan kembali menarik paksa akal sehatku yang sebelumnya melayang entah kemana. Aku yang sebelumnya berdiri di rangka jembatan ini, mendadak pijakan kakiku terasa begitu lemah. Tubuhku bergetar hebat kala bayangan wajah Alamanda kembali nampak jelas di dalam kepala.
Aku kembali turun di bahu jembatan ini, dan terduduk lunglai di sana. Kulipat kakiku dan kubenamkan kepalaku di sela-sela lutut. Lagi, aku kembali tergugu di sana.
Ucapan-ucapan polos Alamanda benar-benar berhasil memporak-porandakan hatiku. Jika saat ini aku mati setelah lompat dari jembatan, apakah doa-doa tulus Alamanda akan terkabul dengan aku masuk ke dalam surga? Apakah semudah itu surga bisa aku dapatkan hanya dengan doa-doa dari Alamanda? Padahal selama ini aku hidup dalam kubangan dosa seperti ini. Tidak mengenal Tuhanku sama sekali. Dan jika saat ini aku mati, lalu bagaimana dengan Alamanda sendiri dan ibuku? Siapa yang akan menjadi tumpuan bagi mereka untuk melanjutkan hidupnya? Oh Tuhan ... aku sungguh tidak tahu harus berbuat apa. Aku memang kecewa dengan jalan hidup ini, namun masih ada dua sosok yang masih menjadi tanggung jawabku. Terlalu egois jika aku memilih jalan pintas untuk mengakhiri hidup di saat mereka masih membutuhkanku untuk menopang kehidupan mereka.
Aku kembali bangkit. Ku seka air langit dan air mata yang membasahi wajah. Kembali kukuatkan pijakan kaki ini, untuk pulang ke mana seharusnya aku berada.
🍁🍁🍁🍁
Hujan perlahan mereda. Air langit yang sebelumnya begitu deras jatuh ke bumi, kini hanya menyisakan rintik-rintik kecil namun dinginnya masih terasa begitu menusuk di pori-pori kulit. Tubuh Seroja masih basah kuyup akibat hujan deras yang membasahinya. Dengan langkah gontai, Seroja menyusuri jalan kecil ini, untuk kembali pulang ke tempat di mana seharusnya ia berada. Hari masih gelap, karena memang belum waktunya sang matahari menaiki singgasananya. Ditambah dengan awan mendung yang masih menggumpal layaknya bulu-bulu domba, seakan kian mengikis sinar lembut sang dewi malam yang kini entah menyembunyikan wajahnya di mana.
Seroja menghirup udara dalam-dalam kala kakinya telah berpijak di depan pintu tempat tinggalnya. Ragu, apakah ia akan mengetuk pintu ini sehingga bisa segera beristirahat di dalam. Atau memilih untuk terdiam sehingga ia hanya bisa mengistirahatkan tubuhnya di teras saja.
Sepersekian menit wanita itu menimbang-nimbang. Namun rasa nyeri di tulang-tulang wajah dan juga rasa pening yang begitu hebat mendera syaraf-syaraf otaknya, membuat wanita itu mengangkat sedikit tangannya untuk mulai mengetuk daun pintu ini.
Satu kali, dua kali, tiga kali ketukan tidak ada jawaban apapun dari penghuni rumah ini. Seroja beranggapan bahwa mungkin suster Ana sudah lelap dalam tidurnya mengingat waktu masih menunjukkan pukul tiga dini hari. Seroja menyerah. Ia berbalik badan dan mulai mengayunkan kakinya untuk berdiri di ujung teras.
Masih lekat ia menatap rintik air hujan yang masih jatuh membasahi bumi. Hatinya sedikit tersentil dengan salah satu fenomena alam yang ada di depan matanya ini. Meski jatuh itu sakit, namun mereka tetap menjatuhkan diri mereka untuk memberikan kesejukan di gersangnya bumi.
__ADS_1
Lama berada di bawah deras air hujan, perut yang sejak kemarin sore tidak terisi, dan tamparan yang bertubi-tubi Rosmala layangkan, membuat tubuh wanita itu semakin tiada bertenaga.
Ceklek....
Daun pintu terbuka dan terlihat sosok seorang wanita yang masih berbalut mukena keluar dari dalam rumah.
"Mbak Seroja!"
Meski wanita yang berdiri di hadapannya ini dalam posisi memunggunginya, namun Ana tahu persis siapa wanita ini. Seroja membalikkan badan. Dan perlahan mendekat ke arah Ana.
Kedua bola mata Ana terbelalak sempurna kala melihat wajah Seroja yang dipengaruhi oleh lebam-lebam.
"Astaghfirullahalazim ... mbak Seroja... "
Seroja tersenyum getir di hadapan Ana. "Sus ... aku lelah.... "
Tubuh Seroja terhuyung diiringi dengan kelopak mata wanita itu perlahan mulai terpejam. Dan seketika wanita itu kehilangan kesadaran.
"Mbak Seroja.....!!!"
.
.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁