Cahaya Cinta Untuk Seroja

Cahaya Cinta Untuk Seroja
CCUS 57 : Ruko


__ADS_3


Sebuah mobil terlihat menepi di bahu jalan raya yang terlihat begitu ramai di siang hari ini. Meski sang raja siang mentransfer energi panasnya secara berlebihan hingga membuat kulit terasa terbakar, namun sama sekali tidak menyurutkan niat para penduduk kota Bandung untuk keluar dari peraduan. Entah apa yang mereka cari di siang hari yang begitu terik ini. Namun sepertinya mereka tengah mencari sesuatu yang bisa di makan di jam istirahat siang seperti ini.


Dari balik kaca mobil, seorang lelaki dengan kaca mata hitamnya, terlihat sedang memperhatikan dengan lekat sosok seorang wanita yang sepertinya tengah kesusahan membawa barang-barang belanjaannya. Ingin rasanya ia membantu wanita itu untuk sekedar meringankan beban berat yang ia bawa. Namun, ia masih belum memiliki cukup keberanian untuk menyapa bahkan sekedar mendekatinya. Sehingga hanya dengan cara seperti inilah yang bisa ia lakukan. Memantau keadaan wanita itu dari kejauhan. Ia sudah sangat bersyukur melihat wanita itu dalam keadaan baik-baik saja.


Lelaki yang berada di dalam mobil, masih lekat memandang ke arah wanita itu. Wanita itu terlihat berdiri di depan sebuah ruko di mana di depan rolling door itu terdapat sebuah pelakat bertuliskan 'disewakan'. Dahi lelaki itu sedikit mengerut memperhatikan gerak gerik wanita yang menjadi intaiannya itu. Wanita itu sibuk menatap lekat tulisan di pelakat kayu itu sembari mengotak-atik ponselnya.


"Apa yang sebenarnya sedang kamu lakukan di depan ruko itu, Sayang? Mengapa kamu tidak bersegera pulang ke rumah? Apa yang sebenarnya kamu lakukan di depan ruko itu?"


Lelaki itu sibuk bermonolog lirih dengan sorot mata yang tidak lepas dari sosok wanita itu. Hingga pada akhirnya, seorang laki-laki yang sepertinya pemilik ruko itu keluar dari dalam dan terlihat berbincang-bincang dengan sang wanita. Lelaki itu semakin dibuat penasaran, kala sang wanita dipersilakan masuk ke dalam oleh lelaki yang sepertinya pemilik ruko itu.


"Aku sungguh ingin tahu apa yang kamu lakukan di dalam sana, Sayang."


🍁🍁🍁🍁🍁


"Nah, ruangan ini bisa dijadikan sebagai ruang produksi Mbak. Jika Mbak memiliki usaha di bidang jahit menjahit, tempat ini bisa dijadikan ruang produksinya. Dan untuk hasil jahitan bisa dipajang di lantai bawah."


Pandangan Seroja mengedar ke sekeliling tempat ini. Sebuah bangunan tiga lantai yang berdiri di pinggir jalan raya, yang tak jauh dari tempatnya membeli bahan-bahan untuk keperluan jahit. Bangunan ruko yang lumayan besar dan luas yang sepertinya sangat cocok untuk ia jadikan sebagai tempat memproduksi pakaian-pakaian yang ia buat.


"Lalu, untuk harga sewanya berapa ya Pak?"


Lelaki itu tersenyum simpul. "Untuk harga sewanya, lima puluh juta satu tahun Mbak. Dan setidaknya Mbak harus mengontrak minimal selama dua tahun."


Kedua bola mata Seroja terbelalak dan membulat sempurna. Lima puluh juta per tahun dan harus menyewa setidaknya dua tahun, itu berarti harus ada budget sekitar seratus juta untuk menyewa tempat. Belum lagi untuk membeli mesin-mesin jahit untuk berproduksi, sungguh banyak yang harus ia keluarkan. Sedangkan uang tabungannya baru terkumpul setengah dari harga sewa tempat ini selama satu tahun.


"Bagaimana Mbak? Apakah Mbak berminat untuk menyewa ruko ini? Jika berminat bisa langsung saya buatkan kuitansi dan perjanjian sewanya."


Seperti seseorang yang sedang membutuhkan banyak uang, pemilik ruko ini terkesan mendesak Seroja untuk segera menyewa ruko miliknya ini. Sedangkan Seroja hanya bisa tersenyum kikuk dibuatnya.


"Apakah harga sewanya tidak bisa dikurangi Pak? Dua puluh juta per tahun dan tidak harus langsung menyewa selama dua tahun?"


Basa-basi Seroja mencoba untuk melakukan proses negosiasi. Ia sedikit tidak enak hati jika harus langsung pergi dari tempat ini.


Pemilik ruko itu menatap lekat tubuh Seroja dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan senyum sinis yang tersungging di bibirnya.


"Sebenarnya Mbaknya ini punya cukup uang untuk menyewa tempat atau tidak? Masa ruko sebesar ini dihargai dua puluh juta per tahun? Jika memang tidak memiliki cukup uang jangan pernah coba-coba untuk menghubungi pemilik ruko Mbak. Hanya membuang-buang waktu saja."

__ADS_1


Seroja semakin terperangah dengan apa yang diucapkan oleh pemilik ruko ini. Ucapan lelaki ini sungguh tidak beradab sama sekali. Seharusnya pemilik ruko ini bisa menolak negosiasi yang ia tawarkan dengan bahasa yang baik tanpa harus merendahkan.


"Kalau begitu saya mohon maaf, Pak. Karena uang yang saya miliki memang tidak cukup untuk menyewa ruko ini. Saya mohon pamit."


Sembari membuang nafas kasar, Seroja mengayunkan langkah kakinya untuk turun ke lantai bawah dan bermaksud untuk segera meninggalkan tempat ini.


"Dasar pengusaha miskin. Jika memang tidak memiliki banyak tabungan, jangan sekali-kali bermimpi untuk menyewa ruko dong. Hari gini sewa ruko tiga lantai dua puluh juta per tahun? Itu ruko atau kios gorengan?"


Sayup-sayup terdengar suara pemilik ruko mengolok-olok Seroja. Suara lelaki itu masih terdengar jelas di telinga Seroja yang saat ini sudah berada di depan ruko. Sekilas Seroja menatap lekat bangunan yang ada di depan matanya ini sembari membuang nafas kasar.


Ya Allah, jika seperti ini bagaimana bisa aku membantu orang-orang yang ada sekitar rumah? Semoga bukan hanya ini saja yang akan menjadi jalan untukku ya Rabb.. Semoga masih ada jalan-jalan yang lain.


Dengan gontai, Seroja melangkahkan kakinya untuk pergi dari ruko ini. Ia mengarahkan pijakan kakinya untuk kembali pulang. Pastinya dengan barang belanjaan yang terasa berat.


Sedangkan lelaki yang sedari tadi berada di dalam mobil dan mengintai pergerakan Seroja, semakin dibuat bingung oleh ekspresi wajah wanita itu. Ia bisa menangkap sinyal ekspresi wajah penuh kekecewaan dari raut wajah wanita yang begitu ia cintai itu.


"Saat kamu memasuki ruko ini, kamu terlihat begitu bersemangat. Namun setelah keluar, mengapa raut wajahmu terlihat begitu sendu. Sebenarnya ada keperluan apa kamu menemui pemilik ruko ini Sayang?"


Tidak ingin terjebak dengan segala pertanyaan yang bergelayut manja di dalam pikirannya, lelaki itu menghidupkan mesin mobil yang ia naiki. Ia injak pedal gas dan perlahan ia arahkan kemudinya ke arah ruko yang terletak di seberang jalan itu.


🍁🍁🍁🍁🍁


Seorang laki-laki yang tidak lain adalah Randy berhasil bertemu dengan pemilik ruko ini. Untuk mengulik apa yang sebenarnya yang dilakukan oleh Seroja, ia berpura-pura bertanya harga sewa ruko ini. Dan benar saja, sang pemilik ruko mulai menceritakan apa yang sebelumnya dilakukan oleh Seroja.


"Maksud Bapak bagaimana? Pengusaha abal-abal siapa yang Bapak maksud?"


"Itu tadi sebelum Anda datang kemari, ada seorang wanita yang bertanya tentang harga sewa ruko ini. Dia mengatakan memiliki usaha jahit dan ingin memperluas usahanya dengan menyewa tempat ini. Eh tapi ternyata dia tidak memiliki uang sama sekali."


Dengan menggebu, pemilik ruko ini menceritakan apa yang baru saja terjadi di antara ia dan Seroja. Bahkan di hadapan Randy, pemilik ruko ini masih mengolok-olok Seroja.


Ada perasaan tidak rela mendengar wanita yang ia cinta diolok-olok oleh lelaki ini. Randy pun hanya bisa menatap kedua bola mata pemilik ruko dengan sorot mata tajam tak terbaca.


Ya Allah, ternyata kamu memiliki mimpi untuk memperbesar usahamu, Sayang? Maafkan aku, karena di saat kita hidup bersama, aku tidak banyak tahu apa yang menjadi mimpi-mimpimu.


"Jadi, berapa harga yang Anda pasang untuk menyewakan ruko ini?"


Tidak ingin berlama-lama berhadapan dengan orang sombong seperti pemilik ruko, tanpa basa-basi Randy langsung bertanya harga sewa ruko ini.

__ADS_1


"Lima puluh juta per tahun, Pak. Dan sewa minimal harus dua tahun!"


Randy tersenyum sinis. "Hanya lima juta dan minimal dua tahun? Apakah itu tidak terlalu sedikit dan waktu yang sangat cepat?"


Pemilik ruko itu terperangah. "Maksud Anda bagaimana?"


Randy tersenyum simpul. "Bagaimana jika tidak hanya saya sewa." Randy menatap netra pemilik ruko ini dengan lekat. "Satu milyar. Saya beli ruko ini seharga satu milyar. Bagaimana? Apakah Anda menyetujuinya? Jika Anda menyetujuinya, akan saya lunasi hari ini juga!"


Kedua bola mata pemilik ruko membulat sempurna. Ia yang memang pada dasarnya sedang memerlukan uang untuk keperluan yang mendesak, tanpa pikir panjang langsung menganggukkan kepala.


"Baik Pak. Saya jual ruko ini seharga satu milyar kepada Bapak. Lalu, kapan transaksi jual beli ini bisa kita lakukan?"


Dengan wajah berbinar, lelaki itu menyetujui penawaran Randy. Ia pun juga seperti mendesak Randy untuk segera melakukan proses transaksi jual beli ruko ini.


"Anda tenang saja. Sebentar lagi notaris yang akan datang kemari untuk proses jual beli tempat ini. Bapak tinggal sediakan sertifikat tanah dan bangunan ini saja."


"Baik Pak, akan saya siapkan. Terimakasih banyak!"


Randy mendekat ke arah pemilik ruko. Ia menepuk pundak lelaki itu seraya tersenyum penuh arti. "Berterimakasihlah kepada wanita yang sebelumnya datang kemari!"


Pemilik ruko terperangah. "M-maksud Anda?"


"Dia istri saya, jika bukan karena dia, saya tidak akan pernah membeli ruko ini."


"Apa?"


"Dan saya harap Anda bisa menjaga sikap terhadap orang lain. Tidak sepantasnya Anda mengolok-olok istri saya seperti itu!" sambung Randy pula.


Randy kembali memasang kaca mata hitam yang sebelumnya ia selipkan di atas kepala. Perlahan, ia melangkahkan kaki dan meninggalkan ruko ini.


Semoga hal kecil yang aku lakukan ini bisa membantumu Sayang...


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2