Cahaya Cinta Untuk Seroja

Cahaya Cinta Untuk Seroja
CCUS 84 : Dahlia


__ADS_3


"Jadi bagaimana Yah, apakah pernikahan kedua anak kita dilangsungkan secara bersamaan saja?"


Setelah puas dalam pusaran suasana yang mengharu biru, kini semua orang yang berada di ruangan ini hanyut dalam kebahagiaan yang tiada terkira. Mereka sama-sama bahagia, terlebih Lily dan juga Mukhlas karena selangkah lagi putra putri mereka akan menjemput kebahagiaan masing-masing. Hakim menikah dengan Ana dan Seroja menikah dengan Randy. Seakan tidak ingin menunggu waktu yang terlalu lama, sampai-sampai Lily berniat menikahkan kedua anaknya di waktu yang bersamaan. Tidak ada hal yang ingin ia raih selain agar putra putri mereka bisa segera mendapatkan kebahagiaannya.


Mukhlas terlihat menimbang-nimbang akan apa yang diucapkan oleh sang istri. Namun, seketika ia tautkan pandangannya ke arah Seroja dan juga Hakim. "Nah Hakim, Seroja, bagaimana? Apakah kalian setuju jika acara pernikahan kalian dilangsungkan di waktu yang bersamaan?"


"Kalau Hakim tidak ada masalah jika hari pernikahan Hakim sama dengan Seroja. Hanya saja Hakim tidak tahu bagaimana dengan Seroja sendiri, mau atau tidak jika bersamaan dengan Hakim."


"Bagaimana Nak, apakah kamu setuju dengan apa yang diusulkan oleh ibumu?" Mukhlas melontarkan pertanyaan itu ke arah sang anak.


Sekilas, Seroja melirik ke arah Randy, dan lelaki itupn menganggukkan kepalanya seraya tersenyum simpul, sebagai pertanda ia pun menyetujui rencana sang calon mertua.


"Seroja tidak keberatan Yah. Tidaklah mengapa jika hari pernikahan Seroja dan mas Randy disamakan dengan hari pernikahan kak Hakim dan suster Ana."


Lily dan Mukhlas nampak tersenyum bahagia dengan seberkas rasa penuh kelegaan. "Alhamdulillah, jika memang kalian semua tidak ada yang keberatan. Ayah benar-benar bahagia mendengarnya. InshaAllah jika tidak ada aral melintang, satu bulan lagi acara pernikahan kalian akan dilaksanakan, bagaimana? Kalian setuju?"


Seroja dan Hakim mengangguk bersamaan. "Kami setuju Ayah!"


"Alhamdulillah. Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan dan kelancaran untuk kalian semua ya."


"Aamiin, aamiin ya rabbal alaamiin."


Semua yang terlibat dalam perbincangan itu semakin larut dalam kehangatan yang tercipta. Sesekali mereka terdengar tergelak yang semakin menegaskan bahwa mereka tengah berada di dalam pelukan suasana bahagia.


"Mbak Seroja, bu Dahlia, Mbak!"


Gelak tawa orang-orang yang berada di ruang tamu seketika terpangkas kala suster Ana dengan sedikit berlari memasuki ruangan itu. Dari raut wajahnya nampak begitu panik seakan menegaskan bahwa saat ini sedang ada sesuatu yang terjadi.


Seroja mengedarkan pandangan matanya ke arah Ana dengan dahi sedikit mengerut. "Ya Sus, ada apa?"


Suster Ana terlihat mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. "Ibu Dahlia Mbak, ibu Dahlia ...."


Ana bahkan tidak sanggup lagi untuk melanjutkan penuturannya. Hal itulah yang membuat orang-orang yang berada di ruang tamu semakin terperangah dan diliputi oleh perasaan cemas dan khawatir. Tanpa membuang banyak waktu, Seroja bangkit dari posisi duduknya dan mengayunkan kakinya untuk memasuki kamar wanita yang tetap ia anggap sebagai ibunya.


Langkah kaki Seroja terhenti di pintu masuk kamar Dahlia. Kedua netranya terbelalak dan membulat sempurna. Bibirnya menganga lebar kala melihat Dahlia seperti seseorang yang sukar untuk bernafas.


"Ibu!!!"


🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Tubuh wanita paruh baya itu terbaring lemah di atas pembaringan. Nafas yang nampak tersengal-sengal dengan kedua bola mata yang terbuka lebar menatap ke arah langit-langit kamar, seperti menjadi tanda bahwa bahwa saat ini raganya tengah terjebak di dalam rasa sakit yang begitu mendera.


Wajahnya terlihat tirus bahkan tidak nampak gumpalan daging bersemayam di sana. Kulit wajahnya mengeriput dan matanya terlihat begitu cekung, tubuhnya kurus kering yang menjadikannya seperti seonggok rangka tubuh yang hanya berbalut kulit.


"Ayah, Ibu, mari kita bawa Ibu ke rumah sakit. Ia pasti sangat kesakitan."


Bulir-bulir kristal bening yang berkumpul di pelupuk mata Seroja tiada henti mengalir deras. Dengan erat, ia menggenggam jemari tangan Dahlia yang sudah semakin berkeriput itu. Berkaki-kali wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu mengecup punggung tangan Dahlia dan meletakkannya di pipinya.


Mukhlas dan Lily saling melempar pandangan. Sepertinya mereka tengah memikirkan hal yang sama.


"Nak, kita doakan Dahlia saja ya. Saat ini, yang ia perlukan hanyalah doa-doa dari kita semua. Nampaknya Dahlia sedang ....."


Mukhlas menghentikan ucapannya. Ia khawatir jika yang akan ia utarakan membuat Seroja terkejut tiada terkira. Kondisi seseorang seperti Dahlia ini sudah sangat sering ditemui oleh Mukhlas. Seseorang yang tengah mengalami apa itu sakaratul maut.


"Ibu sedang apa Yah? Apa yang sebenarnya sedang terjadi terhadap Ibu?"


Tangis pilu Seroja sudah tidak dapat lagi ia bendung. Berkaki-kali ia mengecup punggung tangan Dahlia dengan intens. Sungguh sangat tidak tega kala kedua netranya menatap sosok manusia yang mungkin saat ini tengah berada di antara hidup dan mati.


Mukhlas membuang nafas sedikit kasar. Meski Dahlia pernah menjadi seseorang yang paling jahat karena telah membawa pergi putri kandungnya namun kali ini, hatinya benar-benar terasa bak tertikam sebuah pisau tak kasat mata. Sakaratul maut, salah satu fase yang dilalui oleh manusia yang mana bisa membuat orang-orang bergidik ngeri.


"Nak, bisikkan kalimat tauhid di telinga Dahlia! Semoga Allah memberi kemudahan Dahlia untuk melalui fase ini."


Seroja terkesiap. Ia edarkan pandangan matanya ke arah sang ayah. "M-maksud Ayah?"


"Terima kasih Ibu, sudah memberikan nama untuk Seroja yang indah seperti ini. Sudah membesarkan Seroja hingga Seroja dewasa dan memberikan perhatian yang penuh untuk hidup Seroja."


Seroja menyeka air matanya yang sudah membanjiri pipi. Ia hela nafas dalam-dalam dan ia hembuskan perlahan. "Seroja sudah ikhlas memaafkan Ibu. Saat ini jika Ibu akan meninggalkan dunia ini, pergilah dengan tenang, Bu. Sampai kapanpun, Ibu akan tetap menjadi Ibu Seroja dan doa Seroja akan selalu mengalir untuk Ibu."


Ucapan Seroja sukses membuat Mukhlas, Lily, Hakim, Randy dan Ana terenyuh seketika. Mereka tidak menyangka jika wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu memiliki hati yang luas, ikhlas memaafkan Dahlia yang bisa dikatakan selalu memperlakukannya dengan buruk. Tidak ada sedikitpun dendam atau sakit hati. Yang ada justru hanya doa-doa tulus yang mengalir dari bibir Seroja.


"Laa illaha illalllah .... Laa illaha illallah .... Laa illaha illallah..."


Seroja membisikkan bacaan talqin di telinga Dahlia. Sembari memohonkan sebuah pinta, semoga Sang penggenggam kehidupan memberi kemudahan sang ibu dalam menghadapi sakaratul maut nya ini.


"Suster Ana, kak Seroja!"


Keheningan ruangan ini dipecah oleh kehadiran Alamanda. Ana yang berdiri di dekat pintu menyambut kedatangan Alamanda yang baru saja terjaga dari lelap tidurnya.


"Sayang!" ucap Ana sembari menahan rasa sesak di dalam dadanya dan mulai menggandeng tangan Alamanda.


"Suster, baru saja Manda bermimpi melihat ibu pergi jauh. Manda ingin bertemu Ibu, Sus. Manda ingin tidur bersama ibu."

__ADS_1


Ucapan Manda berhasil membuat bulir bening orang-orang yang berada di kamar ini berjatuhan seketika. Mungkin inilah yang dinamakan sebagai ikatan batin antara ibu dan anak. Amanda ingin berada dekat dengan sang ibu, yang bisa jadi untuk terakhir kalinya.


"Sayang, kemarilah! Duduk di sini bersama kak Seroja. Kita temani Ibu sama-sama."


Dengan suara bergetar, Seroja mengajak Alamanda untuk duduk di dekatnya. Tak lama, Ana menuntun langkah kaki Alamanda untuk mendekat ke arah Seroja.


"Kak Seroja, apakah ibu sedang tertidur? Atau apakah ibu tengah membuka matanya?"


Tak kuasa menahan segala gejolak rasa yang berkecamuk di dalam dada, Seroja menarik tubuh kecil Alamanda untuk ia rengkuh ke dalam pelukannya. Ia hujani pucuk kepala Alamanda dengan penuh kasih sayang.


"Sayang, anak shalihah, doakan ibu ya. Doakan ibu agar ibu dapat melewati masa ini dengan baik..."


"A-apa yang terjadi kepada ibu, Kak? Ibu kenapa? Ibu baik-baik saja kan?"


Alamanda memangkas ucapan Seroja dengan melontarkan pertanyaan yang bertubi-tubi. Pertanyaan dari bibir kecil Alamanda itulah yang semakin menggerus batin Seroja.


"Sayang, Ibu akan kembali menghadap Allah. Alamanda bisikkan kalimat tauhid di telinga ibu ya. Agar ibu dapat menghadap Allah dalam keadaan yang baik."


Masih sembari mengusap-usap punggung Alamanda, Seroja mencoba memberikan pengertian dan kekuatan untuk Alamanda.


"Apakah itu artinya ibu akan pergi jauh? Apakah itu artinya ibu akan meninggalkan Alamanda, Kak?"


Seroja menggeleng samar seraya membuang nafas kasar. "Tidak Sayang, ibu tidak akan pernah pergi jauh. Ibu akan selalu ada di hati kita. Sekarang Alamanda bisikkan kalimat tauhid di telinga ibu ya. Semoga Allah mengampuni segala dosa-dosa ibu dan semoga kelak kita bisa dikumpulkan di dalam surga Allah. Alamanda anak shalihah, inshaAllah doa dari Alamanda akan diijabah oleh Allah."


Hidung gadis kecil itu kembang kempis dan pada akhirnya tangis itu pecah melalui bibir Alamanda. Lagi, tangis pilu itu kembali terdengar menyayat hati.


Tangan kecil Alamanda membelai lembut wajah Dahlia. Ia kecup pipi dan kening sang ibu dengan penuh kasih. Dan ia dekatkan bibirnya ke telinga Dahlia.


"Jika Ibu akan menghadap Allah, Alamanda akan mengikhlaskan Ibu. Semoga Allah mengampuni semua dosa-dosa Ibu dan diberikan jalan yang terang."


Alamanda menyeka air matanya. "Ibu jangan bersedih, Alamanda di sini tidak akan sendirian. Akan ada kak Seroja dan suster Ana yang akan menemani Alamanda. Pergilah dengan tenang, Ibu..."


Alamanda menarik nafas dalam dan ia hembuskan pelan. "Laa illaha illalllah, muhammadurrasulullah... Laa illaha illallah, muhammadurrasulullah... Laa illaha illallah muhammadurrasulullah...."


Selepas Alamanda mengucapkan kalimat itu, nafas Dahlia seakan tercekat di dalam tenggorokan. Kedua bola matanya semakin melebar. Tak selang lama terdengar seperti bunyi seseorang yang tengah cegukan, dan perlahan, kedua bola mata Dahlia terpejam.


Genggaman tangan wanita paruh baya itu mengendur dari genggaman tangan Seroja dan seketika melemas dan terjuntai di sisi tubuhnya.


"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un...."


.

__ADS_1


.


🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2