Cahaya Cinta Untuk Seroja

Cahaya Cinta Untuk Seroja
CCUS 66: Tentang Masa Lalu -2-


__ADS_3


"Astaghfirullah!!"


Tubuh Lily sedikit melonjak tatkala keluar dari dalam mushola tiba-tiba ia melihat sosok laki-laki dengan baju koko warna putih, lengkap dengan sarung dan juga songkoknya muncul dari arah tempat wudhu. Bagaimana Lily tidak terkejut? Sebelumnya, ia hanya seorang diri berada di mushola ini namun tanpa terduga, ada seorang laki-laki yang tiba-tiba datang menghampiri.


Lelaki yang tak lain adalah Mukhlas, putra pertama pemilik pabrik kecimpring ini terlihat mengulas sedikit senyumnya. "Assalamualaikum, sedang apa kamu di sini?"


Bibir Lily sedikit mencebik. Tidak paham dengan apa yang ditanyakan oleh lelaki ini. Mengapa ia harus bertanya sedang apa di tempat ini? Sudah jelas jika di tempat ini sedang beribadah bukan?


"Waalaikumsalam Mas. Hmmmmm ... saya baru saja selesai menunaikan ibadah shalat maghrib. Maaf ya Mas, saya permisi dulu. Tidak enak jika terlalu lama meninggalkan pekerjaan saya. Bisa-bisa jika terlalu lama meninggalkan pekerjaan, uang lembur saya dipangkas lagi."


Cicitan kecil dari bibir Lily seketika membuat senyum manis terukir di wajah tampan Mukhlas. Rupa-rupanya wanita ini tidak tahu dengan siapa ia berbicara. Karena sejatinya yang berhak memangkas ataupun menambah uang lembur untuk karyawan adalah dirinya sendiri.


"Memang ada yang ingin memangkas uang lembur kamu?"


Lily hanya mengendikkan bahu. "Bisa saja seperti itu kan Mas? Para karyawan di pabrik ini saja terlihat begitu mengerikan saat mengetahui saya izin sebentar untuk menunaikan shalat. Sampai-sampai tidak rela jika gaji saya sama dengan mereka. Lalu bagaimana dengan pemilik pabrik ini? Dia pastinya juga akan lebih marah bukan jika melihat karyawannya meninggalkan pekerjaan di saat-saat seperti ini?"


Mukhlas masih berada di dalam mode mematung mendengar rentetan keluhan salah satu karyawannya ini. Namun sungguh, ia hanya bisa menahan rasa gemas di dalam hati akan mimik wajah wanita ini.


Hembusan nafas kasar terdengar keluar dari mulut Lily. Nampaknya ia akan melanjutkan ucapannya. "Huh, lagipula nih ya Mas, apa maksud pemilik pabrik kecimpring ini membangun mushola di sini jika tidak digunakan? Bukankah lebih bijak jika sudah tiba waktu shalat seluruh aktivitas di pabrik dihentikan sejenak agar seluruh karyawan bisa menunaikan shalat? Aku benar-benar heran, apa maksud pemilik pabrik ini mendirikan mushola? Apa hanya untuk pajangan saja?"


Mukhlas semakin tidak bisa membendung tawanya. Sungguh di mata lelaki itu, wanita ini terlihat begitu berbeda. Dengan berani ia mengatakan sesuatu yang justru bisa menjadi saran yang membangun untuknya yang saat ini diberikan kepercayaan untuk mengelola pabrik ini.


"Baiklah, nanti biar aku sampaikan kepada pemilik pabrik ini. Sepertinya ucapan kamu ini bisa menjadi sebuah saran yang baik untuk kemajuan pabrik." Mukhlas menghela nafas sedikit dalam dan perlahan ia hembuskan. "Oh iya, apakah kamu adalah karyawan baru di pabrik ini?"


Lily menganggukkan kepala. "Iya Mas, baru satu minggu aku bekerja di tempat ini. Kalau kamu pasti karyawan lama ya?"


Mukhlas terkekeh lirih. Ingin rasanya ia memberitahu kepada wanita di hadapannya ini bahwa ia adalah putra pemilik pabrik ini. Namun, ia urungkan niatan itu. "Aku hanya tukang bersih-bersih di pabrik ini. Oh iya, kalau boleh tahu, siapa nama kamu?"


"Aku Lily, Mas. Aku bekerja di pabrik ini bersama kakakku."


"Oh jadi kakakmu bekerja di pabrik ini juga?"


Lily menganggukkan kepala. "Iya Mas, dia kak Dahlia. Sudah satu tahun lebih dia bekerja di sini di bagian packing."


Mukhlas mengangguk-anggukkan kepala, pertanda mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Lily. "Baiklah kalau begitu.... "


"MashaAllah ... suara adzan isya' sudah terdengar. Aduh ini bagaimana? Gara-gara kamu ini Mas, aku jadi kelamaan meninggalkan pekerjaanku."


Ucapan Mukhlas terpangkas kala melihat Lily heboh sendiri di saat suara adzan isya' sudah terdengar. Wanita itu sepertinya buru-buru ingin segera kembali ke ruang packing, karena hampir saja ia mengayunkan langkah kakinya, namun segera dicegah oleh Mukhlas.


"Kamu mau ke mana Ly?"


"Kembali bekerja lah Mas? Masa mau pulang."


Mukhlas tersenyum simpul. "Ini sudah masuk waktu shalat isya', mari kita shalat berjamaah terlebih dahulu. Bukankah kamu tadi mengatakan ada baiknya jika pada saat adzan berkumandang, aktivitas pabrik dihentikan sejenak agar para karyawan bisa melaksanakan shalat?"


"Ya, tapi itu kan kewenangan pemilik pabrik, Mas. Dan pastinya bukan kamu kan yang bisa memutuskan?"


Lily sedikit bingung dengan apa yang diucapkan oleh lelaki ini. Lelaki ini mengatakan bahwa ia hanya sebagai tukang bersih-bersih di pabrik ini, namun mengapa berperilaku seperti petinggi pabrik? Yang bisa membuat keputusan apapun.


"Kamu tenang saja, aku dekat dengan pemilik pabrik ini, jadi saran dari kamu ini bisa aku sampaikan. Aku yakin pasti akan segera disetujui."


Lily terkesiap. "T-Tapi Mas... "

__ADS_1


"Ssstttt ... sudah, sudah, ayo kita shalat isya' sekalian. Segeralah ambil wudhu, dan kita shalat berjamaah. Akan aku panggil beberapa temanku untuk bisa berjamaah pula dengan kita."


Pada akhirnya Lily pun menurut. Ia memutar tumit untuk kembali ke tempat wudhu. Ia basuh anggota-anggota tubuh yang harus terkena air untuk bersuci.


🍁🍁🍁🍁


"Ya Allah ... ini ban sepedaku mengapa bisa bocor seperti ini? Jika sudah begini, bagaimana caranya agar aku bisa pulang?"


Wajah Lily mendadak pias kala melihat ban sepeda yang ia naiki sebagai alat transportasi ke pabrik tiba-tiba bocor. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Malam semakin larut, dan suasana pabrik perlahan sudah mulai sepi. Gadis itu bingung, akan meminta bantuan kepada siapa.


"Masa iya, aku harus tidur di pabrik? Ya Allah, aku harus bagaimana? Ayah dan ibu pasti sangat khawatir karena aku belum sampai rumah? Atau aku jalan kaki saja? Tapi jarak rumah dengan pabrik lumayan jauh, aku yakin tidak akan kuat."


Lily sibuk bermonolog lirih sembari menatap ban sepedanya yang bocor. Sekilas, ia mengusap wajah frustrasi, bingung akan apa yang harus ia lakukan. Saking fokusnya ia dengan ban sepeda itu, sampai-sampai ia tidak paham jika seorang laki-laki sudah berada di balik punggungnya.


"Ada apa Ly?"


Lagi, tubuh Lily seketika melonjak kala getaran suara bariton seorang laki-laki mulai merembet masuk ke dalam indera pendengarannya. Lily menoleh ke arah sumber suara dan terlihat lelaki yang tadi ia temui di mushola kembali datang menghampirinya.


"Mas, bisa tidak sih jika kamu tidak mengagetkanku? Ini sudah kedua kalinya kamu bikin aku terkaget-kaget seperti ini! Untung aku tidak memiliki penyakit jantung. Kalau punya, aku pasti langsung dilarikan ke UGD!" sungut Lily dengan raut wajah yang terlihat sedikit kesal. Bagaimana tidak kesal jika belum sampai satu hari, lelaki ini tiba-tiba datang mengagetkannya.


Mukhlas tergelak. Melihat wajah gadis yang sedikit kesal ini justru semakin mengeluarkan aura kecantikannya. "Maaf, maaf, aku tidak sengaja Ly!" Mukhlas menautkan pandangannya ke arah ban sepeda milik gadis ini. "Ban sepeda kamu bocor?"


Lily mengangguk samar. "Iya Mas, ban sepedaku bocor. Aku bingung harus bagaimana? Mana malam sudah semakin larut, ayah dan ibu pasti khawatir."


Tanpa malu-malu, Lily mencurahkan isi hatinya. Isi hati yang mencemaskan ayah dan ibunya yang mungkin saat ini juga dipenuhi oleh kecemasan menunggu kepulangannya.


"Aku antar kamu pulang ya?"


Tanpa banyak berpikir, Mukhlas menawarkan diri untuk mengantarkan Lily pulang. Rasanya ia juga sangat tidak tega jika membiarkan gadis ini pulang sendirian di malam yang semakin larut seperti ini.


"Sudah, sudah, untuk saat ini, aku tidak menerima sebuah penolakan. Kamu tunggu di sini sebentar, aku ambil motor terlebih dahulu."


Belum sempat Lily menimpali ucapan Mukhlas, lelaki itu sudah mengambil langkah kaki seribu untuk mengambil motor yang ia letakkan di depan bangunan yang merupakan tempat para petinggi-petinggi pabrik ini. Lily sedikit keheranan, jika memang lelaki yang baru saja ia kenal itu hanya sebagai tukang bersih-bersih, namun mengapa ia meletakkan motornya bukan di tempat para karyawan? Namun buru-buru ia membuang semua pikiran keheranannya itu. Yang paling penting saat ini ia harus banyak bersyukur karena ada seseorang yang akan menjadi penolong untuknya, untuk bisa mengantarkannya kembali ke rumah.


Tak selang lama, Mukhlas kembali menghampiri Lily. Ia mengulurkan helm ke arah gadis itu. "Pakailah dan lekas naik. Aku akan mengantarmu pulang."


Meski masih digelayuti oleh perasaan tidak enak hati, namun tangan Lily terulur jua untuk menerima helm yang diulurkan oleh Mukhlas. Perlahan, ia mendudukkan bokongnya di belakang tubuh Mukhlas dan lelaki itu mulai melajukan motor yang ia kendarai.


"Oh iya, mengapa motor kamu ini tidak kamu letakkan di tempat parkir khusus karyawan?"


Di sela-sela perjalanan, Lily mencoba mencari tahu apa yang sedikit mengganjal di pikirannya. Mukhlas hanya bisa tersenyum tipis di balik helm full face yang ia kenakan itu.


"Ini bukan motorku, Ly. Aku pinjam motor milik salah satu putra pemilik pabrik itu."


Lily mengangguk-anggukkan kepala. "Oh seperti itu. Pantas, jika ini motor milikmu megapa kamu letakkan di depan bangunan para petinggi-petinggi pabrik."


"Memang, kamu belum pernah melihat siapa pemilik pabrik itu ya Ly? Atau mungkin putranya?"


"Belum Mas, aku belum pernah melihatnya. Namun dengar-dengar dari para karyawan, salah satu putra pemilik pabrik ini merupakan lelaki yang sangat tampan. Banyak teman-temanku yang sering memuji ketampanan putra pemilik pabrik itu. Bahkan mereka berlomba-lomba ingin menjadi istri dari lelaki itu karena katanya ia masih lajang."


Mukhlas tergelak. "Apa kamu tahu nama putra pemilik pabrik ini?"


"Hmmmm..." Dahi Lily mengernyit seperti mengingat-ingat sesuatu. "Mu... Mukhlas! Ya, sepertinya namanya Mukhlas. Aku dengar sih ia bernama Mukhlas, tapi entahlah Mas. Aku tidak terlalu ambil pusing dengan siapa nama putra pemilik pabrik kecimpring itu. Lagipula tidak akan berpengaruh apa-apa bukan? Kalau dengan mengetahui nama putra pemilik pabrik itu bisa membuat gajiku naik, aku pasti akan mengingatnya, hehehe!"


Mukhlas semakin tergelak dengan tingkah polos gadis yang saat ini duduk di belakang punggungnya ini. Sungguh, di mata Mukhlas, Lily merupakan sosok gadis yang berbeda. Gadis ini terlihat lemah lembut, santun namun begitu supel. Hal itulah yang membuat Mukhlas merasa semakin nyaman berada di dekat gadis yang baru saja ia kenal ini.

__ADS_1


"Dengar-dengar putra pemilik pabrik itu sedang mencari pendamping hidup. Apakah kamu tidak tertarik untuk ikut mendaftarkan diri?"


Mukhlas sengaja memancing Lily dengan pertanyaan seperti itu. Ia begitu penasaran akan apa yang menjadi jawaban gadis ini.


Lily tergelak lirih. "Kamu ini ada-ada saja Mas. Meski aku ikut mendaftarkan diri, pastinya tidak akan lolos seleksi."


"Mengapa kamu bisa berbicara seperti itu Ly?"


"Mas, di mana-mana putra konglomerat itu memiliki kriteria-kriteria khusus dalam memilih pendamping hidup. Misalnya cantik, kaya, dan berpendidikan tinggi. Masa iya, putra konglomerat menjatuhkan pilihan kepada kaum buruh seperti aku ini? Hahahaha ada-ada saja kamu ini."


Mukhlas tersenyum tipis.


Andai kamu tahu Ly, kebaikan dan ketulusan hati yang kamu miliki sungguh bisa menggeser kriteria-kriteria itu. Aku menemukan kriteria wanita yang ingin aku persunting dalam diri kamu. Terlebih ketaatanmu kepada Tuhanmu. Itulah yang membuatku jatuh cinta kepadamu. Sebelumnya aku tidak percaya akan ungkapan cinta pada pandangan pertama. Namun, saat ini ungkapan itu justru aku alami sendiri.


"Mas, di depan sana ada gang ke kanan, kamu langsung masuk saja ya," ucap Lily memberikan arahan.


"Siap Nona!"


Tak selang lama, motor yang dikemudikan oleh Mukhlas berhenti di sebuah rumah yang nampak begitu sederhana namun terlihat begitu asri. Karena di halaman rumah ini tumbuh berbagai macam tanaman seperti pohon mangga, rambutan, dan nangka. Pohon-pihon itu berjajar rapi di sisi kanan kiri halaman rumah ini.


Tepat pukul sembilan malam, Mukhlas berhasil mengatarkan Lily tiba di rumah. Di depan teras, nampak ibu dan juga ayahnya duduk di sebuah lincak yang sepertinya tengah menunggu kepulangan sang putri.


"Assalamu'alaikum, Lily pulang Yah, Bu!"


Melati dan sang suami gegas beranjak dari posisi duduk mereka. Mereka menghampiri sang putri yang masih berdiri di sisi motor yang dikendarai oleh Mukhlas. Mukhlas pun ikut turun dari motor kala melihat ibunda Lily menghampirinya.


"Waalaikumsalam. Akhirnya kamu pulang juga Nak. Tapi mengapa kamu tidak memakai sepeda?"


Dahi Melati sedikit mengerut kala tidak melihat sepeda yang biasanya dipakai oleh sang anak. Dan saat ini justru ada seorang laki-laki yang mengantarkannya pulang.


"Ban sepeda Lily bocor Bu, dan Lily diantarkan oleh Mas ini!"


Melati menautkan pandangannya ke arah Mukhlas. Tanpa berpikir panjang, Mukhlas meraih tangannya untuk berjabat tangan dengan kedua orang tua Lily.


"Mohon maaf jika saya membawa Lily pulang sedikit terlambat dari biasanya ya Pak, Bu."


"MashaAllah ... tidak apa-apa Nak. Ibu malah berterimakasih kepadamu karena ada yang mengantarkan putri Ibu ini pulang sampai rumah. Oh iya, nama kamu siapa Nak? Lily kok hanya memanggil kamu dengan sebutan Mas-nya."


Mukhlas tersenyum penuh arti. "Saya Mukhlas, Bu. Mukhlas Al-Huda, putra pemilik pabrik!"


Ucapan Mukhlas sukses membuat kedua bola mata Lily terbelalak dan membulat sempurna. Ia letakkan kedua telapak tangannya di depan bibir untuk menutupi bibirnya yang menganga lebar.


Apa ini? J-jadi sedari tadi aku mengobrol dengan putra pemilik pabrik? Ya Allah ... aku harus bagaimana? Mana sedari tadi aku sedikit mencela pemilik pabrik ini perihal shalat. Haduh Lily ... siap-siap kamu dipecat dari pabrik!


Wajah Lily mendadak pias. Ia pun hanya bisa menundukkan kepala. Malu, sungguh sangat malu. Sedangkan Mukhlas hanya bisa tergelak lirih melihat ekspresi wajah gadis ini.


Apakah kamu juga akan semakin terkejut jika aku berniat untuk menikahimu, Lily?


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁


Hihihihi hihihihi nostalgia dulu ya Kak.. Benar tebakan para pembaca semua. Ada cinta segitiga di antara Lily, Mukhlas dan Dahlia. InshaAllah empat part akan saya tulis untuk kehidupan di masa lalu para orang tua itu. Sampai Seroja dibawa pergi oleh Dahlia ☺☺☺

__ADS_1


__ADS_2