Cahaya Cinta Untuk Seroja

Cahaya Cinta Untuk Seroja
CCUS 87 : Persiapan


__ADS_3


Adiba mematut tubuhnya di depan cermin yang berada di dalam kamar. Sembari sesekali terlihat merapikan hijab dan polesan make-up yang menghiasi wajah cantiknya. Aura kecantikannya bertambah dua kali lipat kala rona penuh kebahagiaan itu juga ikut membingkai wajahnya. Bahagia, karena sebentar lagi, seseorang yang ia nanti akan segera tiba. Siapa lagi jika bukan Fakhru beserta rombongan keluarga besarnya.


Pagi tadi, pemuda tampan nan rupawan itu menghubungi Adiba. Memberikan sebuah kabar jikalau malam ini ia akan bertandang ke kediamannya. Bertandang untuk menyampaikan niatan baiknya melamar gadis berusia dua puluh empat tahun itu.


Bagi Adiba semua terasa serba mendadak. Meski mendadak namun sama sekali tidak mengurangi kadar rasa bahagia yang membuncah dalam dada. Karena pada akhirnya, segala pinta yang ia langitkan kepada sang pemilik kehidupan, diijabah dan mendapatkan ridhoNya.


"Sudah tidak perlu lagi kamu oleskan bedak itu, Nak. Karena putri Umi ini sudah nampak begitu cantik."


Adiba mengulas seutas senyum simpul di bibirnya. Ia yang sebelumnya sibuk me-retouch bedak di wajahnya, gegas ia letakkan bedak itu di atas meja rias. Rupa-rupanya ia ingin menyambut kedatangan sang ibu yang tiba-tiba.


"Umi bicara apa? Wajah Adiba ini biasa-biasa saja, Umi."


Aisyah mendaratkan bokongnya di tepi ranjang milik Adiba. Melalui pantulan cermin itu, ia menikmati kecantikan sang putri yang tercetak jelas di sana.


"MashaAllah, kamu benar-benar terlihat begitu cantik, Nak. Tidak terasa sebentar lagi kamu akan dipersunting oleh seorang pemuda. Padahal sepertinya baru kemarin Umi menimang-nimang kamu dan ternyata sebentar lagi kamu akan berperan menjadi seorang istri."


Adiba tergerak lirih sambil memutar tumitnya untuk mendekat ke arah Aisyah. Gadis itu ikut duduk di tepi ranjang, di sebelah sang ibu. "Mungkin inilah waktunya bagi Adiba untuk melepas masa lajang Adiba, Umi. Dan alhamdulillah Allah memberikan atas segala doa da pinta yang Adiba langitkan."


Aisyah mengangguk-anggukkan kepalanya. Jodoh, hidup dan mati merupakan salah satu rahasia Ilahi. Dan wanita paruh baya itu hanya selalu percaya bahwa saat ini adalah saat yang tepat bagi sang putri untuk melepaskan masa kesendiriannya.


"Apakah kamu bahagia Nak?"


Adiba sedikit mengeraskan gelak tawanya. "Wanita mana yang tidak bahagia dipersunting oleh lelaki seperti aa' Fakhru, Umi? Wanita manapun pasti akan berbahagia. Dan alhamdulillah Adiba lah wanita itu."

__ADS_1


Aisyah menggenggam jemari tangan sang putri dengan erat. Wanita paruh baya itu juga tak kalah berbahagia akan mendapatkan seorang menantu yang terlihat begitu sempurna. Baik sifat, sikap maupun fisiknya seakan semakin mempertegas bahwa ia adalah sosok lelaki yang sempurna.


"Umi juga ikut bahagia saat jika kamu bahagia, Nak. Tidak ada yang menjadi harapan Umi selain melihatmu menjemput kebahagiaanmu. Semoga Allah mempermudah dan memperlancar semua urusanmu."


"Aamiin, aamiin ya rabbal alaamiin. Itu semua tidak akan Adiba dapatkan jika tidak ada doa tulus dari Umi dan juga Abi. Doakan agar semua lancar."


Aisyah memeluk tubuh Adiba dengan erat. Terbesit sebuah rasa tidak rela yang bergelayut manja di dasar hatinya kala memikirkan bahwa sebentar lagi sang putri akan hidup jauh darinya. Namun sekuat tenaga ia harus memangkas segala rasa itu yang bisa jadi hanya akan menambah beban bagi Adiba dalam melangkah.


"Adiba!"


Ibu dan anak yang tengah berpelukan itu sama-sama terkejut kala mendengar suara seseorang yang tiba-tiba hadir di kamar pribadi milik Adiba ini. Kala mereka mengedarkan pandangan ke arah sumber suara, terlihat sosok wanita cantik dan anggun berdiri di ambang pintu.


"Mbak Seroja!" seru diba memanggil nama seseorang yang tengah berdiri di ambang pintu itu.


Semenjak semua masa lalu Seroja terkuak, kedua orang tuanya membawa Seroja untuk pergi ke kediaman Abdul dan Aisyah. Mereka kenalkan sang putri dengan Abdul dan Aisyah yang tak lain adalah paman dan bibinya. Dan hari ini merupakan kedua kalinya Seroja bertandang ke kediaman Adiba. Jika sebelumnya ia datang untuk bisa lebih dekat dengan salah satu kerabatnya, kini ia datang ke kediaman Adiba untuk menyaksikan secara langsung acara lamaran adik sepupunya dengan teman masa kecilnya. Tidak ada perasaan lain yang menghinggapi hatinya selain rasa bahagia yang tiada terkira.


"Alhamdulillah aku baik Mbak. Masuklah Mbak, duduk di sini!"


Seroja mengayunkan langkah kakinya dan mulai mendaratkan bokongnya di atas kursi kecil yang ada di depan meja rias. "Bagaimana Diba? Apakah kamu merasa gugup?"


Sembari tergelak lirih, Seroja mencoba mencairkan segala suasana. Ia melihat wajah adik sepupunya ini begitu tegang. Mungkin tegang karena sebentar lagi ia akan menikah.


"Tentu saja aku merasakan gugup Mbak." Adiba meraba-raba wajahnya. "Apakah make-up yang aku pakai ini begitu menor? Apakah riasan wajahku ini sudah terlihat sempurna?"


Melihat polah tingkah Adiba yang sedikit lain dari biasanya ini hanya membuat Seroja semakin tergelak. Tidak hanya Seroja, Aisyah pun juga ikut tergelak. Wanita paruh baya itu kembali menggeleng-gelengkan kepala. Baru kali ini ia melihat sang putri begitu khawatir dengan penampilannya. Padahal ia sudah terlihat begitu cantik.

__ADS_1


"Kamu sungguh terlihat sangat cantik Diba. Aku yakin bahwa Fakhru akan begitu bangga mempersunting mu."


Adiba menghela nafas dalam. "Terima Kasih banyak ya Mbak. Mungkin aku tidak akan pernah merasakan kebahagiaan seperti ini jika saat itu Mbak Seroja tidak membantuku."


Seroja tertawa renyah. Ia menganggap adik sepupunya ini terlalu berlebihan. "Bahkan aku tidak melakukan apapun Diba."


Diba menggelengkan kepala. "Tidak Mbak. Mbak Seroja telah melakukan hal besar untukku."


Kini dahi Seroja mengerut. "Maksud kamu bagaimana Diba? Aku sungguh sangat tidak paham."


"Aku tahu bahwa sebenarnya saat itu aa' Fakhru sempat mengutarakan apa yang ia rasakan kepada mbak Seroja. Namun, mbak Seroja menolaknya." Adiba menjeda sejenak ucapannya sebelum kembali ia lanjutkan. "Apakah mbak Seroja melakukan hal itu karena terpaut akan sebuah janji yang pernah kita sepakati bahwa mbak Seroja akan mendekatkan aku dengan aa' Fakhru?"


Seroja mulai paham ke mana arah pembicaraan Adiba. Mungkin adik sepupunya ini merasa was-was dan cemas jika Fakhru hanya terpaksa menyambut kehadirannya.


"Percayalah bahwa aku tidak memiliki perasaan khusus untuk Fakhru selain hanya sebagi seorang teman karena di waktu kecil hanya Fakhru dan keluarganya lah yang mau medekat dan menerima keberadaanku. Dan satu hal yang harus kamu tahu, Diba. Bahwa Fakhru adalah sosok seorang laki-laki bertanggung jawab atas segala keputusan yang telah ia ambil. Dan dia tidak akan pernah mempermainkan hubungan yang ia jalani terlebih hubungan suci yaitu pernikahan."


"Tapi seandainya saat itu aku tidak pernah meminta bantuan kepada mbak Seroja, mungkinkah mbak Seroja akan menyambut perasaan aa' Fakhru?"


Pandangan Seroja mengedar ke sekeliling ruangan ini. Pandangannya seakan kosong. "Hati tidak bisa dipaksakan, Diba. Saat itu aku merasa Fakhru adalah sosok lelaki sempurna dan pastinya akan sangat disayangkan jika aku tidak menyambutnya. Namun hatiku masih dibelenggu oleh cinta untuk mas Randy. Hal itulah yang membuatku memilih untuk tidak menerima Fakhru."


Adiba begitu bahagia mendengar penuturan langsung dari bibir Seroja. Rupa-rupanya ia begitu beruntung memiliki sosok saudara seprti Seroja. "Terima kasih untuk segala hal yang sudah mbak Seroja lakukan untukku. Terima kasih."


"Kembali kasih Diba!"


.

__ADS_1


.


🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2