
"Dahlia, apa nanti malam kamu dan keluargamu ada di rumah?"
Sembari memberikan dua kantong plastik yang berisikan nasi kotak, Mukhlas mencoba mengajak bicara Dahlia yang tak lain adalah kakak dari gadis yang ia cinta. Seperti inilah cara Mukhlas memberikan perhatian kepada Lily. Agar tidak terlalu mencolok, pemuda itu selalu memberikan makan siang untuk Lily namun melalui sang kakak. Tidak hanya itu saja, malam ini ia berencana akan bertandang ke kediaman Lily.
Dahlia mengulas sedikit senyum di bibirnya sembari menerima kantong plastik yang diberikan oleh Mukhlas. "Terimakasih banyak Mas. Malah setiap hari saya jadi merepotkan kamu dengan nasi kotak ini."
"Sama sekali tidak repot, Dahlia. Aku justru sangat senang bisa memberikan makan siang untukmu dan juga adikmu. Oh iya, apakah nanti malam kamu dan keluarga ada di rumah? Maksudku tidak ada acara ke mana-mana?"
Dahlia menganggukkan kepala. "Iya Mas, aku dan keluarga ada di rumah, sama sekali tidak ada acara apa-apa. Memang ada apa ya Mas?"
Dahi Dahlia sedikit mengerut. Ia begitu penasaran dengan pertanyaan Mukhlas. Karena selama ia mulai dekat dengan pemuda ini, ia tidak pernah menanyakan agenda apa di malam hari.
"Tidak ada apa-apa Dahlia, hanya sekedar bertanya saja. Kalau begitu aku pergi dulu. Jangan lupa berikan satu kotak nasi ini untuk adikmu. Dan selamat menikmati makanan yang aku bawakan ini."
"Terimakasih banyak mas Mukhlas."
Pada akhirnya Mukhlas mengayunkan kakinya untuk kembali ke ruang kerjanya. Sedangkan Dahlia, masih berada di dalam mode terpaku. Ia benar-benar penasaran apa maksud pemuda itu menanyakan perihal nanti malam.
Tidak ingin terlalu larut dalam rasa penasaran itu, pada akhirnya Dahlia kembali ke ruang packing, untuk melanjutkan kembali pekerjaannya.
🍁🍁🍁🍁
"Eh, dengar-dengar hari ini mas Mukhlas akan meminang seorang gadis yang tidak jauh dari tempat ini. Siapa ya, gadis beruntung yang akan dipersunting oleh mas Mukhlas?"
"Masa sih? Memang kamu dapat kabar darimana?"
"Yang jelas dari sumber yang terpercaya. Dan bisa dibuktikan kebenarannya."
"Kita tunggu saja, rumah siapa yang nanti malam akan didatangi oleh mas Mukhlas. Salah satu penghuni rumah itulah yang akan dijadikannya istri."
__ADS_1
Obrolan karyawan-karayawan pabrik sukses membuat jiwa keingintahuan Dahlia meronta. Ia yang sedari tadi memasukkan kecimpring ke dalam kemasan sampai tidak fokus dengan pekerjaannya. Wanita itu terlihat sibuk membagi perhatiannya antara kecimpring yang ia masukkan ke dalam kemasan dengan obrolan teman-temannya ini. Namun bisa dipastikan, obrolan dari teman-temannya inilah yang mejadi titik fokusnya.
Senyum simpul terbit di bibir Dahlia. Hatinya terasa dipenuhi oleh kelopak-kelopak bunga kebahagiaan. Jika memang kasak kusuk yang dibicarakan teman-temannya ini memang benar adanya, bisa dipastikan bahwa dia adalah orang itu. Orang yang akan dipersunting oleh Mukhlas.
Dahlia tidak asal bicara. Selama satu minggu belakangan, sikap putra pemilik pabrik ini nampak begitu berbeda. Ketika di pabrik, lelaki itu sering memberikannya nasi kotak untuk bisa dimakan pada saat jam makan siang. Meski bukan hanya dia yang diberi nasi kotak itu, namun sang adik pun juga diberinya, namun ia yakin bahwa putra pemilik pabrik ini menyimpan sebuah rasa untuknya. Ya, pemuda itu diam-diam menaruh hati kepadanya. Terlebih perihal obrolan siang tadi antara dirinya dengan pemuda itu yang menanyakan agenda malam nanti. Itu semua semakin menegaskan bahwa ia lah yang akan didatangi oleh Mukhlas.
Selain itu, Mukhlas tidak pernah terlihat menggandeng seorang kekasih, jadi Dahlia merasa yakin bahwa yang akan dipersunting oleh Mukhlas adalah dirinya.
"Mas Mukhlas benar-benar manis dan jantan sekali. Ia diam-diam menaruh hati kepadaku dan nanti malam akan datang ke rumah untuk melamarku? Ya Tuhan, benar-benar langka lelaki seperti itu di zaman sekarang ini."
Dahlia sibuk bermonolog lirih dengan tatapan mata yang menerawang. Ia sudah membayangkan apa yang akan ia persiapkan untuk menyambut kedatangan Mukhlas di malam hari ini.
"Kak Dahlia kenapa? Mengapa senyum-senyum sendiri seperti itu?"
Ucapan Lily sukses membuyarkan lamunan-lamunan Dahlia yang entah terbang ke mana. Ia menoleh ke arah sang adik sembari berdecak lirih. "Isshhh, kamu benar-benar mengganggu kesenangan orang Ly. Tahu tidak? Gara-gara kamu, lamunanku menjadi buyar semua."
Lily tergelak lirih. "Memang Kakak sedang melamunkan apa? Kok sepertinya bahagia sekali?"
"Ya pasti bahagia. Karena sebentar lagi, aku akan.... Ah sudahlah, kamu tidak perlu tahu Ly."
Sedangkan Lily, ia hanya bisa mengernyitkan dahi, bertanya-tanya dalam hati apa yang sebenarnya tengah dialami oleh kakaknya ini. Namun, ia hanya bisa menggelengkan kepala lirih, sembari mulai melanjutkan kembali pekerjaannya.
🍁🍁🍁🍁
Layaknya sebuah setrikaan pakaian, Dahlia terlihat mondar-mandir di depan jendela kamar. Sesekali ia terlihat menggigit kuku jari telunjuknya seperti menandakan seseorang yang sedang dilanda oleh rasa resah dan gelisah.
Sejak pulang dari pabrik, ia langsung membersihkan tubuh dan segera mengurung diri di dalam kamar. Di dalam kamar ini, ia terlihat sibuk mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan lelaki yang ia yakini akan datang kemari. Wanita itu mengenakan pakaian yang paling bagus yang ia punya dan setelah itu sibuk berhias di depan cermin. Setelah semua selesai, rupa-rupanya ia semakin dilanda oleh rasa gugup untuk menanti kedatangan Mukhlas.
Dahlia menghentikan langkah ke sana-kemarinya kala deru suara mesin mobil terdengar memasuki halaman rumahnya. Ia mendekat ke arah jendela dan sedikit mengintip akan apa yang ada di halaman rumahnya. Kedua mata Dahlia terbelalak dan membulat sempurna. Bibirnya juga ikut menganga lebar kala melihat mobil siapa yang berhenti di halaman depan. Ya, mobil itu adalah mobil milik Mukhlas yang sering ia bawa ke pabrik.
"Oh ya Tuhan, ternyata benar kasak-kusuk yang beredar di pabrik bahwa malam ini mas Mukhlas akan mendatangi sebuah rumah untuk melamar penghuni rumah itu. Dan kini ia datang kemari, itu artinya mas Mukhlas akan segera mempersuntingku."
__ADS_1
Binar-binar kebahagiaan nampak jelas terlukis di wajah Dahlia. Pada akhirnya, angan dan mimpinya menjadi istri putra pertama pemilik pabrik benar-benar menjadi nyata. Ia yakin, setelah ini hidupnya akan jauh lebih berbahagia, pastinya dengan menjadi istri Mukhlas yang ia yakini hartanya tidak akan pernah habis tujuh turunan. Dahlia pun kembali mematutkan tubuhnya di depan cermin sembari memastikan ia sudah nampak sempurna.
Sedangkan di ruang tamu, kedua orang tua Lily terlihat sangat terkejut dengan kedatangan Mukhlas dan keluarga. Meski begitu terkejut, mereka tetap menyambut kedatangan tamunya ini dengan penuh keramahan. Ia pun mempersilakan Mukhlas dan keluarga untuk duduk di kursi yang telah tersedia.
"Selamat malam pak Abdul. Mohon maaf jika kehadiran saya kemari mengagetkan Bapak dan keluarga," ucap ayah Mukhlas membuka pembicaraannya.
"Tidak mengapa Pak. Saya yang seharusnya minta maaf karena tidak ada persiapan untuk menyambut kedatangan nak Mukhlas dan keluarga. Jadi mohon maaf jika jamuan dari kami kurang berkenan."
"Tidak masalah pak Abdul." Ayah Mukhlas yang bernama Faisal itu menghela nafas sedikit dalam sebelum ia lanjutkan ucapannya. "Begini pak Abdul, maksud dan tujuan saya datang kemari adalah untuk meminang putri Bapak untuk putra saya Mukhlas. Apakah Bapak menerima pinangan putra saya ini?"
Abdul dan Melati terkejut setengah mati. Tidak ada angin dan tidak ada hujan, tiba-tiba ada seorang pemuda yang datang untuk melamar putrinya. Namun ia tidak paham, putrinya yang mana yang ingin dipersunting oleh Mukhlas.
"Begini pak Faisal, sebelum saya memberikan jawaban, saya ingin memastikan sesuatu terlebih dahulu."
Abdul merapatkan tubuhnya ke arah sang istri dan lirih berbisik di telinga istrinya ini. Melati pun paham dan mulai beranjak dari posisi duduknya dan mengayunkan kakinya untuk menuju kamar Lily dan Dahlia. Tak selang lama, Melati telah berjalan dengan menggandeng kedua putrinya. Melati, Lily dan Dahlia pun duduk di kursi yang masih kosong.
"Nah pak Faisal, ini adalah putri-putri saya. Dahlia si sulung dan Lily si bungsu. Lalu, yang ingin dipinang oleh nak Mukhlas itu yang mana?"
Dahlia yang sudah berdandan habis-habisan semakin merasa gugup. Ia sudah tidak sabar mendengar jawaban dari Mukhlas. Sedangkan Lily yang bahkan tidak sempat mempersiapkan diri, tetap saja terlihat cantik natural. Dengan balutan gamis simpel, ia terlihat sangat mempesona meski wajahnya tidak sedikitpun dipoles dengan make up.
"Nah Nak, siapa diantara dua gadis ini yang ingin kamu jadikan istri? Sedari tadi Ayah bahkan belum tahu nama gadis yang kamu maksud."
Mukhlas tersenyum penuh arti. Ia yang sebelumnya menundukkan kepala, kini sedikit mendongak. Ia membuang nafas sedikit berat. "Pak Abdul, saya ingin mempersunting Lily Ayu Purnama untuk menjadi istri saya. Apakah pak Abdul memberikan restu?"
Ucapan Mukhlas membuat tubuh kakak beradik itu terperanjat seketika. Lily terperanjat karena tidak menyangka bahwa Mukhlas akan melamar dirinya secara tiba-tiba. Sedangkan Dahlia terkejut setengah mati karena ternyata yang dipinang oleh Mukhlas bukanlah dirinya melainkan sang adik.
Hujan kelopak-kelopak bunga asamara yang sebelumnya memenuhi ruang-ruang hati Dahlia, kini berubah menjadi hujan kerikil yang terasa begitu menyesakkan jiwa. Ia tidak menyangka jika yang dicintai oleh Mukhlas adalah adiknya sendiri.
Apa-apaan ini? Jadi mereka sudah menjalin hubungan di belakangku dan tanpa sepengetahuan ku? Dasar lelaki buaya dan kamu juga Ly, kamu benar-benar tega merebut apa yang menjadi kebahagiaannku!
.
__ADS_1
.
🍁🍁🍁🍁🍁