Cahaya Cinta Untuk Seroja

Cahaya Cinta Untuk Seroja
CCUS 48 : Mengagumi


__ADS_3


Berdiri di balik jendela dengan sorot mata nyalang ke depan, Seroja mencoba menikmati suasana malam yang sedikit dingin ini. Berkali-kali ia mengusap-usap lengan tangannya, mencoba menghalau rasa dingin itu, namun nampaknya suasana seperti ini akan terus berlanjut hingga esok, kala sang mentari mulai merajai hari.


Kejadian beberapa saat yang lalu benar-benar mengusik ketenangan batin Seroja. Salah seorang anak asuh mami Laura yang menjemput ajalnya kala sedang berkencan dengan seorang pelanggan yang mengencaninya. Apa yang terjadi terhadap anak asuh mami Laura ini sukses menjadi sebuah berita yang mengejutkan bagi orang-orang yang tinggal di sini. Ia yakin sampai beberapa hari ke depan kasus yang menimpa anak asuh mami Laura itu masih akan menjadi topik perbincangan hangat orang-orang yang berada di sekitar sini.


"Jangan terlalu dipikirkan akan apa yang dialami oleh anak asuh mami Laura, Mbak."


Ana seakan mengerti apa yang mengganggu pikiran Seroja. Sejak mendengar berita pembunuhan itu, Seroja nampak banyak terdiam. Biasanya ada saja yang menjadi bahan pembicaraan wanita itu, namun sejak kabar pembunuhan itu, mendadak ia menjadi lebih sering terdiam.


"Sus, apa yang menjadi pandangan suster Ana tentang anak asuh mami Laura yang menjadi korban pembunuhan tadi?"


"Yang pasti sangat merugi, Mbak. Merugi karena di akhir hidupnya, ia meninggalkan dunia ini dalam keadaan yang buruk atau yang biasa disebut dengan su'ul khotimah."


"Apakah seseorang yang meninggal dalam keadaan su'ul khotimah itu akan langsung masuk ke dalam neraka?"


Suster Ana hanya mengulas sedikit senyumnya sembari ikut menatap arah luar jendela dengan tatapan yang menerawang pula. "Memasukkan seseorang yang telah mati ke dalam surga atau ke dalam neraka adalah hak prerogatif Allah, Mbak. Kita tidak pernah tahu apa-apa saja telah diperbuat oleh orang itu selama hidupnya. Barangkali ada kebaikan yang pernah dilakukan yang mungkin bisa meringankan siksa kuburnya." Suster Ana kembali mengulas sedikit senyumnya sembari menoleh ke arah Seroja. "Dengan kejadian ini, mbak Seroja harus banyak-banyak bersyukur, karena mbak Seroja menjadi salah satu hamba Allah yang mendapatkan hidayahNya. Kini yang harus mbak Seroja lakukan adalah banyak-banyak berbuat amal kebaikan dan selalu meminta agar senantiasa diberikan keteguhan hati untuk tetap istiqomah dalam perbaikan diri. Dengan begitu InshaAllah di akhir hidup mbak Seroja nanti akan mendapatkan apa itu husnul khotimah."


Ucapan Ana sukses menembus bilik jantung Seroja dan membuatnya berdegup kencang. Ternyata ini adalah jawaban dari Allah kala ia bertanya mengapa Allah tidak langsung mencabut nyawanya saja kala ia berada dalam kepelikan hidup yang bertubi-tubi menimpanya. Ya, Allah memberinya kesempatan bertaubat, berbenah diri dan mengumpulkan bekal berubat amal kebaikan yang akan ia bawa pulang ke sebuah kehidupan yang kekal nanti.

__ADS_1


Seroja mengulum senyum manis di bibirnya. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Ana dan memeluk erat wanita ini. "Bagiku, suster Ana seperti sosok malaikat yang dikirimkan oleh Allah untuk keluargaku. Aku benar-benar bersyukur pernah mengenal suster Ana. Terimakasih banyak Suster, terimakasih."


"Sama-sama Mbak. Semoga kita bisa menjadi salah satu wanita akhir zaman yang senantiasa mendapatkan cahaya cinta dari Allah SWT."


Bulir kristal itu kembali menetes dari pelupuk mata Seroja. Entah mengapa kini hatinya seakan mudah tersentuh terlebih jika mengingat akan sebuah fase yang akan dilalui oleh manusia yaitu kematian.


🍁🍁🍁🍁


Sembari mengintip wajah sang dewi malam yang tengah bersembunyi di balik awan, pemuda berusia dua puluh tujuh tahun itu tiada henti melukiskan senyum manis yang ia punya. Meski malam ini nampak sedikit muram namun sedikit pancaran cahaya lembut sang rembulan mampu untuk menciptakan suasana hangat di bumi manusia. Memberikan sedikit kehangatan di suasana yang dingin ini.


Pandangan pemuda itu sedikit menerawang. Teringat akan saat-saat pertama ia kembali dipertemukan dengan teman masa kecilnya. Sebuah pertemuan yang sama sekali tidak pernah ia duga sebelumnya dan hanya menyisakan sebuah buncahan kebahagiaan.


Hakim yang baru saja selesai dengan satu juz yang ia baca, gegas menghampiri Fakhru yang tengah berdiri terpaku menatap sang dewi malam yang bahkan enggan menampakkan wajahnya. Memilih tenggelam di balik awan. Senyum tiada henti yang tersungging di bibir pemuda itulah yang menaril perhatian Hakim. Pemuda itu sedari tadi terlihat senyum-senyum sendiri.


Fakhru sedikit tersentak. Ia geser pandangan matanya untuk menatap ustadz muda yang berdiri di sampingnya ini. "Saya baik-baik saja Tadz. Bahkan sangat baik."


Hakim terkekeh lirih. Ia ikut menatap ke arah langit yang gelap itu. "Sejak pertemuan antum dengan Seroja, Ana rasa antum lebih sering senyum-senyum sendiri. Apakah wanita itu yang membuat senyum antum kembali merekah setelah ujian cinta datang menyapa antum?"


Pertanyaan Hakim sukses mencubit hati Fakhru. Pertanyaan Hakim inilah yang seakan memaksanya untuk bersegera mencari jawabannya. Apakah memang kehadiran Seroja yang telah berhasil membuat senyum yang ia miliki kembali merekah ataukah karena hal lain.

__ADS_1


"Jika memang karena Seroja, apakah salah Tadz?"


Hakim tersenyum simpul. "Tidak ada yang salah jika antum memiliki perasaan itu. Yang salah itu ketika antum memiliki perasaan itu namun tidak antum jaga kesuciannya."


Fakhru terperangah. "Maksud ustadz bagaimana? Saya sungguh tidak paham."


"Istikharah, meminta petunjuk kepada Allah. Jika memang Allah memberikan kemantapan hati, Ana rasa tidak ada salahnya jika antum langsung mengkhitbahnya. Atau langsung menikahinya. Sehingga kesucian cinta itu akan senantiasa terjaga." Hakim sedikit menghela nafas dalam dan perlahan ia hembuskan. "Cinta itu sebentuk perasaan yang suci yang datang dari sang Maha pemilik cinta dan sudah selayaknya kita sebagai manusia untuk selalu menjaga kesuciannya."


Fakhru mengulas sedikit senyumnya dan rasa hangat tiba-tiba menelusup masuk ke dalam hatinya kala mendengar tiap kata yang terucap dari bibir ustadz muda ini. "Saya merasa Seroja memang wanita yang berbeda Tadz. Meski ia tinggal di tempat seperti ini namun ia tetap bisa menjaga kehormatannya sebagai seorang wanita. Dan ia berhijab yang mana sebagai salah satu bentuk ketaatannya kepada Allah SWT. Apakah terlalu berlebihan jika jauh di lubuk hati saya yang paling dalam rasa kagum itu tiba-tiba hadir menyapa?"


Hakim menggelengkan kepala. "Sama sekali tidak. Karena memang sangat langka seseorang yang hidup di tempat seperti ini yang tidak ikut terbawa arus. Jadi wajar saja jika antum mengagumi sosok seorang wanita bernama Seroja itu. Dan pertemuan kembali antara antum dengan Seroja, siapa tahu menjadi salah satu pertanda dari Allah, bahwa memang kalian ditakdirkan untuk bersama."


Senyum lebar kembali merekah di bibir Fakhru. "Terimakasih banyak untuk pencerahannya Tadz. Rasa-rasanya saya semakin mantap untuk menyelipkan nama Seroja menjadi bait-bait doa di setiap sujud saya."


Hakim menepuk-nepuk pundak Fakhru. "Semoga Allah senantiasa memberikanmu yang terbaik Ru."


"Aamiin, aamiin, ya rabbal alaamiin."


🍁🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Waaaaa..... Fakhru sudah mulai merasakan getar-getar cinta nih.. Eiitsss... tapi dia belum tahu tentang masa lalu Seroja.... Lalu seandainya dia tahu bagaimana yaaa??? hehehe heeeπŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†


__ADS_2