Cahaya Cinta Untuk Seroja

Cahaya Cinta Untuk Seroja
CCUS 46 : Nama Saya...


__ADS_3


"Innalillah ... ayo Bapak-bapak, kita bantu lelaki ini keluar dari mobil!"


Suara decitan rem mobil dan dilanjutkan dengan mobil itu kehilangan kendali kemudian menabrak pohon beringin di bahu jalan, membuat kumpulan bapak-bapak yang tengah ngopi di warung kopi yang berada di dekat tempat kejadian, berbondong-bondong untuk mengerumuni mobil itu. Dan terlihat sosok lelaki dengan darah segar yang perlahan mulai merembes di pori pelipisnya sudah tidak sadarkan diri.


"Kita bawa ke mana lelaki ini pak Mukhlas?" ucap salah seorang bapak yang ikut mengeluarkan pria itu dari dalam mobil.


"Bawa ke rumah saya dulu saja Pak, yang lain tolong panggilkan dokter Fakhri yang rumahnya tidak jauh dari sini. Saya rasa beliau belum berangkat ke rumah sakit."


"Baik Pak!"


Kumpulan bapak-bapak itu membawa lelaki yang baru saja mengalami kecelakaan ke rumah pak Mukhlas yang letak rumahnya tidak jauh dari lokasi kejadian. Di sebuah lincak yang berada di beranda, lelaki itu dibaringkan sembari menunggu kedatangan dokter Fakhri.


"Astaghfirullahal 'adziim... Pak, ini siapa?"


Wanita paruh baya yang sebelumnya berada di dalam rumah, ikut keluar kala mendengar suasana ramai di depan teras. Wanita itu sedikit memekik dan terkejut melihat seorang pria dengan darah yang mengalir di pelipisnya dan tak sadarkan diri.


"Ini korban kecelakaan tunggal di jalan depan, Bu. Entah apa yang terjadi, kemudi mobil lelaki ini tiba-tiba tidak terkendali dan kemudian menabrak pohon beringin itu," terang salah seorang warga yang melihat dengan jelas seperti apa kronologisnya.


"Ya Allah ... kasihan sekali lelaki ini."


Mukhlas yang tengah sibuk memeriksa pergelangan tangan lelaki ini kemudian menautkan pandangannya ke arah warga yang tengah berkumpul di teras rumahnya. "Bapak-bapak jika ingin meninggalkan tempat ini tidak apa-apa. Barangkali ada pekerjaan yang memang harus diselesaikan. Takutnya malah jadi terbengkalai karena kejadian ini."


"Tapi bagaimana dengan lelaki ini Pak? Sepertinya dia terluka parah? Lalu siapa yang akan menanggung pengobatannya?"


Lelaki bernama Mukhlas itu mengulas sedikit senyumnya, seakan memberikan sebuah isyarat agar yang lainnya tidak terlalu cemas. "Tidak perlu cemas Pak, saya yang akan menanggung biaya pengobatan lelaki ini. InshaAllah lelaki ini baik-baik saja."


Kumpulan bapak-bapak itu saling melempar pandangan sembari berbisik memimbang-nimbang ucapan Mukhlas. Pada akhirnya mereka menyetujui saran dari Mukhlas untuk meninggalkan tempat ini. Mereka percaya bahwa Mukhlas memang orang baik yang akan menolong lelaki yang tengah tak sadarkan diri ini.


"Baiklah kalau begitu pak Mukhlas, bu Lili, kami pamit terlebih dahulu. Tadi sudah ada beberapa pemuda yang memanggil dokter Fakhri, jadi tinggal menunggu saja," ucap salah seorang bapak sembari berpamitan.


"Terimakasih banyak untuk bantuannya, Pak!"

__ADS_1


Pada akhirnya, kumpulan bapak-bapak itu membubarkan diri, meninggalkan kediaman Mukhlas. Sedangkan Mukhlas dan sang istri, Lili masih setia duduk di sebuah kursi kayu menanti kedatangan dokter Fakhri.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Antum dari mana saja? Perasaan tadi antum hanya berpamitan untuk membeli air mineral, tapi mengapa lama sekali?"


Hakim berdiri di depan surau sembari memperhatikan para pekerja yang tengah membenahi atap surau yang terlihat sudah hampir runtuh. Atap yang sebelumnya menggunakan bahan kayu, kini ia ganti dengan menggunakan rangka baja ringan, yang ia yakini jauh lebih aman.


Hakim nampaknya harus banyak-banyak bersyukur karena niat baiknya untuk memperbaiki surau ini mendapatkan jalan yang mudah dari Allah. Setelah sebelumnya ia meminta izin kepada ketua Rt setempat untuk membenahi surau, pada akhirnya dari pihak ketua Rt yang mengerahkan sebagian warganya untuk membantu Hakim dan Fakhru. Dan ia rasa, dalam waktu sehari, proses perbaikan atap surau ini bisa selesai.


"Saya memang membeli air mineral kan Tadz? Itu buktinya," ucap Fakhru sembari menunjuk ke arah satu karton air mineral berukuran 600 mililiter.


Hakim hanya menggeleng-gelengkan kepala sembari berdecak. "Pasti mampir dulu ke rumah Seroja!"


Mendapat jawaban yang tepat dari sang ustadz, hanya membuat pemuda itu terkekeh pelan. "Sebelumnya tidak ada niatan mampir Tadz, tapi tadi di jalan saya tidak sengaja berpapasan dengan Seroja yang tengah membawa barang-barang belanjaan yang cukup berat. Jadi, saya membantunya terlebih dahulu."


"Baiklah Ana percaya bahwa memang secara tidak sengaja kalian bertemu. Apa mungkin antum berjodoh dengan Seroja? Karena tanpa sengaja kalian sering dipertemukan?" ucap Hakim dengan seringai bercanda.


Hakim mengedikkan bahu. "Jika memang Seroja adalah jodoh yang telah dipersiapkan oleh Allah untuk antum, ya mau bagaimana lagi? Iya kan?"


Fakhru kembali tergelak. Namun kali ini di wajahnya nampak binar-binar kebahagiaan yang begitu kentara. "Aamiin ... untuk kali ini saya pasrahkan saja semua pada Allah, Tadz. Pasrah, akan jalan hidup yang telah Dia pilihkan."


Hakim menoleh ke arah Fakhru sembari menepuk-nepuk pundaknya. "Ya, menurut ana, memang seperti itu jauh lebih baik." Hakim kembali menautkan pandangannya ke arah para pekerja. "Oh iya, jika ada waktu, apakah antum mau ana ajak ke rumah orang tua ana? Semalam ayah memberi kabar jika akan ada panen ikan nila dari kolam milik ayah, barangkali sebagian bisa kita bawa kemari untuk kita bagi-bagikan."


Fakhru terlihat sejenak berpikir. Namun pada akhirnya ia mengangguk juga. "Baiklah kalau begitu Tadz, bisa kita agendakan."


"Ru, apakah Seroja mengalami kendala dalam menjalankan usahanya?"


Fakhru semakin terkesiap dengan apa yang diucapkan oleh Hakim. Pertanyaan yang keluar dari bibir ustadz muda ini seakan mengisyaratkan bahwa lelaki itu begitu mengkhawatirkan kendala yang mungkin ditemui oleh Seroja. "Tadi dia hanya mengatakan bahwa usahanya saat ini terkendala tempat dan jumlah mesin Tadz. Hari ini dia mendapatkan pesanan dalam partai besar. Karena tempat yang ia pakai hanya sempit dan peralatan yang ia punya baru ada satu, maka ia memilih untuk mengerjakannya sendiri. Mengapa ustadz menanyakan hal itu?"


Lagi-lagi Hakim hanya mengendikkan bahu. "Entahlah, Ana juga tidak mengerti akan apa yang ana rasakan terhadap wanita itu. Ana merasa dekat saja dengan wanita itu dan rasa-rasanya tidak tega jika harus melihatnya menghadapi kendala dalam menjalankan usahanya."


"Apakah ustadz Hakim jatuh cinta dengan Seroja?"

__ADS_1


Gegas, Hakim menggelengkan kepalanya. "Bukan, bukan. Ana rasa perasaan yang muncul untuk wanita itu bukan perasaan cinta terhadap lawan jenis. Namun cendrung seperti.... "


Dahi Fakhru sedikit mengerut kala Hakim dengan sengaja menjeda ucapannya. "Seperti apa Tadz?"


Hakim menghela nafas sedikit panjang dan ia hembuskan perlahan. "Seperti seorang kakak terhadap adiknya!"


🍁🍁🍁🍁


"Alhamdulillah ... akhirnya kamu siuman juga Nak!"


Raut penuh kelegaan nampak tersirat jelas di wajah Mukhlas. Setelah dokter Fakhri mengatakan bahwa lelaki ini baik-baik saja dan hanya tinggal menunggu siuman, akhirnya lelaki ini benar-benar telah sadar dari pingsannya.


Mata lelaki itu sedikit memincing kala pancaran sinar lampu yang terasa begitu menusuk kornea matanya. Sebelumnya lelaki itu berada di teras, namun sebelum dokter Fakhri meninggalkan tempat ini, ia membantu Mukhlas untuk memindahkan lelaki ini di salah satu kamar yang berada di kediaman Mukhlas. Lelaki itu menggerakkan tubuhnya dan berupaya untuk menggeser posisinya untuk bersandar di head board ranjang.


"Mari saya bantu Nak!"


Mukhlas membantu lelaki itu untuk bersandar di head board ranjang. Setelah posisi tubuhnya sedikit lebih nyaman ia menyapu pandangannya ke arah sekeliling. Sebuah tempat yang begitu asing di penglihatannya.


"S-saya ada di mana Pak?"


Mukhlas mengulas sedikit senyumnya. "Kamu ada di rumah Bapak. Sebelumnya mobil kamu menabrak pohon yang ada di tepi jalan sana. Dan kemudian kamu tidak sadarkan diri."


Dahi lelaki itu mengernyit sembari meraba bagian pelipisnya. Benar saja, ada rasa nyeri yang terasa begitu mendera. Ia ingat sebelum mobilnya menabrak pohon, ia mencoba menghindar dari kumpulan bebek yang tiba-tiba menyebrang jalan. Dan pada akhirnya ia menabrak pohon itu.


Mukhlas hanya tersenyum simpul melihat ekspresi wajah lelaki ini yang masih terlihat kebingungan. "Oh iya, nama kamu siapa Nak?"


Lelaki itu menautkan pandangannya ke arah Mukhlas. "Nama saya Randy, Pak!"


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2