
"Biar aku yang bawa, Diba!"
Diba nampak keberatan membawa sebuah karton besar berisikan jus-ama, al-qur'an, iqro' dan beberapa hadist yang ia turunkan dari mobil. Abdul, sang ayah, memberikan itu sebagai salah satu bentuk sumbangan untuk surau yang berada di lokalisasi. Ia berharap bisa sedikit membantu salah satu program cinta al-qur'an untuk para generasi muda.
Baru saja Diba akan melangkahkan kaki untuk memasuki gang kecil ini, Fakhru sudah menyambut kedatangannya. Ia tersenyum lebar kala wajah tampan nan rupawan Fakhru sudah berada di hadapannya.
"Terimakasih ya A'."
"Iya Diba, sama-sama."
Karton besar itu diambil alih oleh Fakhru, dan ia pun mulai mengayunkan kakinya untuk menuju surau. Sedangkan Diba, ia kembali membuka pintu mobil, ia ambil rantang yang berisikan menu untuk sarapan pagi, tentunya menu sarapan pagi khusus untuk pemuda tampan nan shaleh itu. Setelahnya, gegas ia melangkahkan kakinya, menyusul Fakhru yang sudah beberapa langkah berada di depannya.
"Aku dengar dari mbak Seroja, orang-orang di sekitar sini sudah mulai banyak yang datang ke surau untuk shalat berjamaah ya A'?"
Duduk di serambi surau dan meletakkan rantang yang ia bawa, Diba mulai membuka obrolannya dengan Fakhru. Seperti biasa, hati gadis muda itu selalu dipenuhi oleh kegugupan yang luar biasa kala berhadapan langsung dengan Fakhru.
Karton besar itu diletakkan di depan sebuah rak buku yang terbuat dari kaca, dan mulai ia susun apa yang dibawa oleh Diba ke dalam rak itu.
"Alhamdulillah, orang-orang di sini sudah mulai berdatangan ke surau untuk shalat berjamaah, Diba. Dan anak-anak kecil juga mulai berdatangan kemari setiap sore untuk mengaji. Aku minta maaf, karena jadi jarang mengunjungi panti milik ayahmu. Ustadz Hakim juga kebetulan ada agenda di luar, jadi aku yang fokus di sini."
Diba mengulas sedikit senyumnya. Memang ada yang berbeda kala pemuda tampan nan shaleh itu menjadi jarang berkunjung ke panti. Rasa-rasanya memang sedikit berbeda. Namun ia bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk bisa berinteraksi dengan pemuda ini. Tentunya di kala ia mendatangi kawasan lokalisasi ini.
"Alhamdulillah, aku ikut senang mendengarnya, A'. Oh iya, aa' Fakhru sarapan dulu ya. Tadi umi memasak sup ayam untuk Aa'. Mumpung masih hangat, tidak ada salahnya jika aa' Fakhru makan terlebih dahulu."
Diba mulai membuka susunan rantang yang ia bawa dari kediamannya. Dengan telaten, gadis cantik itu mempersiapkan sarapan untuk pemuda tampan ini.
"Masakan umi atau masakan kamu Diba?"
Dengan sedikit tergelak, Fakhru menanggapi ucapan Diba. Nampaknya perkataan gadis itu sedikit menggelitik telinganya. Karena gadis itu selalu mengatakan bahwa makanan yang ia bawa merupakan hasil masakan sang umi. Ia pun mengambil posisi duduk di depan Adiba.
Diba terkesiap. Ekspresi wajahnya nampak sedikit kikuk. Ia sungguh merasa gugup jika sampai rasa masakannya tidak sesuai dengan selera Fakhru.
"Eh, itu anu... "
"Tidak perlu bersembunyi di balik kata masakan umi, Diba. Mengapa kamu tidak langsung mengatakan bahwa ini merupakan hasil masakanmu?"
Meraih rantang yang ada di hadapannya. Menyendok menu nasi, sayur sup dan juga tempe goreng, Fakhru mulai menikmati menu sarapan paginya ini. Seperti biasa, masakan Adiba memang terasa begitu nikmat.
"Aku takut jika rasa masakannya tidak enak A'. Aku merasa tidak percaya diri."
"Kamu tidak perlu merasa tidak percaya diri. Masakanmu enak kok. Sama seperti masakan mama dan nenekku. InshaAllah jika Allah memberikan izin, kapan-kapan aku kenalkan kamu kepada mereka."
__ADS_1
Ucapan Fakhru sukses membuat kedua bola mata Diba membulat sempurna. "D-dikenalkan dengan mama dan nenek Aa'?"
Fakhru menganggukkan kepala. "Iya, aku kenalkan kamu kepada mereka. Bagaimana? Apa kamu bersedia?"
Jantung Diba berdetak tiada beraturan. Gadis tetiba merasakan kegugupan setengah mati. Namun, anggukan kecil kepalanya sudah cukup memberikan isyarat bahwa ia menyetujuinya. "InshaAllah aku bersedia, A'."
"Alhamdulillah kalau begitu. InshaAllah dalam waktu dekat mama dan juga papa akan datang ke Bandung."
Ya Allah ... aa' Fakhru akan mengenalkan aku kepada orang tuanya? Apakah mungkin ini sebagai pertanda bahwa aa' Fakhru akan.... Ya Allah, aku benar-benar gugup.
Fakhru memandang teduh netra milik Diba, dan sedikit mengulas senyumnya.
Aku akan mencoba untuk membuka hati. Benar apa yang dikatakan oleh Seroja, aku hanya terjebak pada sebuah rasa sayang terhadap seorang sahabat, di mana ia ingin selalu melindungi sahabatnya. Allah ... aku berpasrah akan segala ketetapanMu. Jika memang Adiba adalah sosok wanita yang telah Engkau persiapkan untukku, aku akan menyambut kehadirannya dengan penuh rasa syukur.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Apa Pak? Bapak jadi menyewakan ruko itu?"
Melalui sambungan telepon, Seroja sedikit terkejut kala pemilik ruko yang kemarin ia datangi kembali menghubunginya. Setelah kemarin ia sempat diolok-olok karena tidak sanggup membayar uang sewa seperti yang ditawarkan, hari ini pemilik ruko itu menghubunginya dan mengatakan bahwa ia jadi menyewakan ruko itu. Sungguh sebuah kabar yang begitu mengejutkan.
"Iya Mbak, saya mohon maaf atas sikap saya yang kemarin. Saya harap mbaknya belum mendapatkan tempat baru dan bisa menempati ruko ini."
Wajah Seroja nampak berbinar kala mendengar perkataan dari pemilik ruko itu. Akhirnya, salah keinginannya untuk memiliki tempat produksi yang jauh lebih luas dapat segera terealisasi.
"Untuk uang sewanya tidak perlu mbak pikirkan. Yang terpenting mbaknya segera menempati ruko ini saja. Untuk uang sewa bisa mbak bayar lain hari."
Dahi Seroja semakin mengerut. Ia yang dikejutkan dengan berubah pikirnya sang pemilik ruko yang tiba-tiba, kini pemilik ruko itu memintanya untuk membayar uang sewa di lain hari? Sungguh, ini merupakan hal yang sangat membingungkan.
"Loh Pak, ini maksudnya bagaimana? Saya tidak paham!"
"Sudah ya mbak, yang penting jam delapan ini mbaknya datang ke ruku. Saya tunggu di sana!"
"Baiklah kalau begitu Pak!"
Tuutt... Tuutt...
Seroja masih termangu dengan apa yang baru saja ia alami. Hal itulah yang membuat Ana yang kebetulan melintas di depan Seroja sedikit keheranan.
"Mbak Seroja kenapa? Kok seperti orang yang kebingungan seperti itu?"
Seroja terkesiap dan sedikit mengerjakan mata. Ia menautkan pandangannya ke arah Ana. "Sus, aku benar-benar bingung dengan yang dilakukan oleh pemilik ruko yang kemarin aku datangi. Masa secara tiba-tiba ia memintaku untuk menempati rukonya."
Ana mengulas sedikit senyumnya. "Mengapa harus bingung Mbak? Bisa jadi pemilik ruko itu membutuhkan uang yang mendesak sehingga membuatnya melepas ruko itu kepada mbak Seroja dengan harga yang kemarin sudah mbak Seroja negosiasikan."
__ADS_1
"Tapi Sus, pemilik ruko ini justru memintaku untuk membayarnya di lain hari dan tidak sekarang. Apa coba yang sebenarnya yang menjadi tujuan pemilik ruko itu?"
Ana tergelak lirih. Apapun yang dianggap Seroja sebagai sesuatu yang membingungkan, ia hanya menganggap bahwa ini semua jalan dari Allah untuk memudahkan segala ikhtiar Seroja dalam mewujudkan mimpinya. "Tidak perlu bingung Mbak. InshaAllah ini merupakan berkah untuk mbak Seroja. Sekarang lebih baik mbak Seroja bersiap-siap saja. Bukankah mbak Seroja sudah ditunggu oleh pemilik ruko?"
Seroja membuang nafas sedikit kasar. Meski rasa bingung masih membelenggu hatinya, ia mencoba untuk tetap tenang dan berpikir positif.
"Baiklah Sus, aku siap-siap terlebih dahulu."
🍁🍁🍁🍁
Dengan langkah penuh semangat, sepasang telapak kaki Seroja yang berbalut flat shoes berwarna cokelat susu itu menyusuri bahu jalan yang di sisinya banyak berdiri ruko-ruko yang berjajar rapi. Kerudung yang ia kenakan berkibar, kalau belaian sang bayu mulai menerpanya. Senyum lebar juga nampak menghiasi wajah ayunya karena sebentar lagi mimpi-mimpinya untuk memiliki tempat usaha baru bisa segera terwujud.
Namun senyum lebar itu berubah seketika menjadi ekspresi wajah penuh keterkejutan kala melihat melihat beberapa mobil pick-up yang menurunkan beberapa mesin jahit tepat di depan ruko yang akan ia tempati. Dahinya mengerut dan perlahan, ia ayunkan kakinya untuk mendekat ke arah mobil pick-up itu.
"Permisi Pak, maaf, mengapa mesin-mesin jahit ini diturunkan di sini ya? Memang ini pesanan siapa?"
Sopir mobil pick-up itu mengambil sesuatu di dalam kantong celananya dan mulai membuka selembar kertas yang Seroja yakini sebagai kuitansi pembayaran.
"Mesin-mesin jahit ini pesanan atas nama mbak Seroja Ayu Anjani Mbak."
Tubuh Seroja terperanjat seketika. "Seroja Ayu Anjani?"
Sang sopir menganggukkan kepala. "Iya Mbak. Seroja Ayu Anjani."
"T-tapi saya tidak pernah memesan mesin jahit dalam jumlah banyak seperti ini Pak."
Sang sopir hanya tersenyum simpul. "Saya juga tidak paham Mbak. Namun di sini tertulis bahwa nama Seroja lah yang memesan. Saya dan tim tinggal mengirimnya saja."
"Tapi Pak, saya tidak memiliki cukup uang untuk membeli ini semua. Lebih baik bawa kembali saja mesin-mesin jahit ini."
"Mbak Seroja tenang saja. Semua mesin jahit ini sudah dibayar lunas. Jadi mbak Seroja tidak perlu membayarnya."
Lagi-lagi Seroja hanya bisa terperanjat dan terkejut setengah mati. Kedua bola matanya membulat sempurna dan bibirnya menganga lebar. "Apa???!!"
Bahagia selalu untukmu Sayang....
Ucap lirih seorang laki-laki yang berada di dalam mobil yang sedari tadi mengintai pergerakan Seroja.
.
.
. bersambung...
__ADS_1