
Hakim, Lily, dan Mukhlas duduk di lantai yang sudah beralaskan sebuah karpet berwarna merah. Di hadapan mereka juga sudah tersedia berbagai macam kudapan dan juga air mineral. Meski nampak begitu sederhana, namun sama sekali tidak mengurangi makna yang ada. Sebuah proses awal, di mana seorang laki-laki secara jantan datang meminang sang kekasih hati untuk bisa ia bawa ke jenjang pernikahan.
Jika sebelumnya, ustadz muda itu nampak begitu percaya diri bertandang ke rumah ini. Namun, setelah ia memasuki tempat ini, membuat debaran jantungnya sulit untuk ia kendalikan. Nampaknya, lelaki itu diserang oleh rasa gugup. Gugup, akan kembali bertemu dengan Ana, setelah hampir satu minggu lebih lamanya ia tidak bersua dengan wanita itu.
Tak selang lama, Ana hadir di tengah-tengah Hakim dan keluarga. Dengan balutan gamis modern berwarna silver, persis dengan yang dikenakan oleh Seroja, Ana berjalan anggun diapit oleh Seroja dan Manda. Meski Manda tidak dapat melihat keadaan sekitar, namun gadis kecil itu sudah begitu hafal dengan medan yang ia lewati. Dan kehadiran tiga orang itu membuat Hakim dan keluarganya semakin dipenuhi oleh rasa takjub akan makhluk bernama wanita yang terlihat begitu cantik-cantik ini.
Perlahan, Ana mendaratkan bokongnya di hadapan Mukhlas dan Lily. Wanita itupun hanya bisa menundukkan wajahnya karena malu dan gugup. Sedangkan Hakim, sedikit ia mencuri pandang ke arah Ana diseretai sebuah senyum manis di bibirnya. Sebagai sebuah isyarat jika ia benar-benar terkesima dengan paras cantik calon pendamping hidupnya ini.
Mukhlas dan Lily saling bertatap netra. Senyum penuh kebahagiaan juga nampak tergambar jelas di raut wajah kedua paruh baya itu. Mungkin dalam hati, mereka sama-sama bersyukur karena wanita pilihan sang putra memanglah sosok wanita yang anggun dan terpancar aura ke shalihannya.
Ehemmm..!!
Suara deheman dari Mukhlas, memecah keheningan yang sebelumnya sempat tercipta. Rupanya lelaki paruh baya itu tidak ingin berlama-lama lagi untuk bisa memasuki acara inti malam hari ini, yakni melamar Ana untuk sang putra.
"Assalamu'alaikum calon menantu Bapak, Firda Ana Syafira!"
Hakim terkesiap. Ia yang sebelumnya menundukkan wajahnya kini mulai sedikit ia tegakkan. Ia menggeser pandangan matanya ke arah sang ayah. "Ayah, bahkan Ayah belum melamar Ana, tapi mengapa Ayah sudah memanggil Ana dengan sebutan calon menantu? Dan Ana pun juga belum menjawab apapun!"
Mukhlas tergelak lirih. Ternyata candaannya ini membuat sang putra sedikit protes. "Ah iya, Ayah sampai lupa jika Ayah belum melamar nak Ana. Ayah kira nak Ana ini sudah benar-benar akan menjadi calon menantu Ayah meski belum Ayah lamar."
Lily mencubit pinggang sang suami. "Ayah, jangan bercanda melulu lah. Ini putra kita sudah tidak sabar untuk mendengar jawaban nak Ana."
"Iya Bu, sabar. Yang tidak sabar Hakim atau Ibu?"
Lily sedikit membelalakkan mata. "Ayah!"
Mukhlas nampak tergelak lirih. Lelaki paruh baya itu mengusap-usap kepala sang istri layaknya pasangan muda yang tengah jatuh cinta. "Iya Bu, iya."
Tidak Hanya Hakim, Lily pun ikut protes dengan apa yang dilakukan oleh sang suami. Hakim yang mendengar perdebatan kecil kedua paruh baya itu hanya bisa terkikik geli. Ya, seperti inilah ayahnya. Sosok seorang ayah yang memiliki selera humor yang lumayan tinggi. Dan hal itulah yang selalu membuat Mukhlas begitu dicintai oleh sang ibu dan disegani oleh para tetangga. Perangainya yang santun dan supel, membuat Mukhlas menjadi sosok seorang laki-laki yang begitu dihormati oleh orang-orang yang berada di sekitarnya.
Seroja dan Ana yang melihat kemesraan dari dua orang paruh baya ini hanya bisa tersenyum simpul. Sepasang suami istri yang masih nampak begitu hangat di usia pernikahan mereka yang sudah tak lagi muda itu.
Mukhlas menghela nafas sedikit dalam dan perlahan ia hembuskan. "Nak, Ana. Maksud dan tujuan Bapak berkunjung ke rumah ini di malam hari ini yang pertama adalah untuk silaturahmi. Sebagai sesama muslim, kita diwajibkan untuk menjalin tali silaturahmi bukan? Oleh karena itu, nak Ana bisa menganggap kedatangan Bapak dan keluarga untuk menjalin tali silaturahmi dengan nak Ana."
__ADS_1
Ana menganggukkan kepalanya. "Saya terima dengan tangan terbuka kedatangan pak Mukhlas bersama keluarga di kediaman kami ini. Mohon maaf jika keadaan tempat tinggal kami seperti ini. Yang mungkin banyak kekurangannya."
Mukhlas menyunggingkan seutas senyum tipis di bibirnya. "Tidak mengapa Nak. Rumah Bapak dan ibu pun juga sama. Tidak masalah tempat tinggal kita di dunia seperti ini, yang terpenting rumah kita di akhirat nanti yang terlihat begitu megah, pastinya dengan amal kebaikan yang kita lakukan."
"Aamiin... " ucap semua orang yang berada di ruangan ini, mengaamiinkan ucapan Mukhlas.
"Nah nak Ana, maksud dan tujuan kedua Bapak dan keluarga datang kemari adalah untuk melamar nak Ana untuk menjadi calon istri putra Bapak yang bernama Hakim Ar-Rasyid." Mukhlas menjeda sejenak ucapannya dan kemudian ia lanjutkan. "Putra Bapak ini menaruh hati kepada nak Ana. Setelah meminta petunjuk kepada Allah SWT, ternyata ia diberikan kemantapan hati oleh Allah untuk bisa meraih tangan nak Ana untuk ia rengkuh menuju sebuah ikatan suci pernikahan, dan hidup bersama di bawah naungan cinta dari sang Maha pemilik cinta. Bagaimana? Apakah nak Ana menerimanya?"
Setetes kristal bening lolos begitu saja dari pelupuk mata Ana kala mendengar kata demi kata yang diucapkan oleh Mukhlas. Hatinya begitu tersentuh dengan apa yang terucap dari bibir lelaki paru baya ini. Rasa bahagia terasa begitu membuncah di dalam dadanya. Namun di samping itu ada sebuah rasa sesak yang terasa begitu menghujam jantung, kala ia teringat akan kekurangan yang ada pada dirinya.
Ana menghela nafas sedikit dalam dan pelan, ia hembuskan. Sekilas, ia menyeka air mata yang jatuh membasahi pipi. "MashaAllah ... saya benar-benar bahagia mendengar maksud dan tujuan Bapak dan keluarga untuk melamar saya. Wanita mana yang tidak bahagia dipersunting oleh lelaki sempurna seperti ustadz Hakim ini, Pak. Itulah yang saat ini saya rasakan. Bahagia karena menjadi wanita yang telah dipilih oleh ustadz Hakim."
Ana menjeda sejenak ucapannya. Berusaha mengumpulkan keberanian untuk memberitahukan keadaan yang sebenarnya. "Namun sebelum saya memberikan jawaban, saya ingin mengatakan beberapa hal tentang keadaan saya kepada ustadz Hakim dan juga Bapak dan ibu. Agar nantinya tidak menjadi sebuah beban."
Mukhlas, Lily dan Hakim saling melempar pandangan. Seakan bertanya-tanya tentang apa yang menjadi maksud Ana ini.
"Apa itu Nak? Coba bicarakan kepada kami. Benar apa katamu, jika kamu menceritakan semua dari awal, tidak akan menjadi beban di masa yang akan datang."
Ana sedikit mengulas senyum di bibirnya, hatinya sedikit lapang untuk menerima apapun yang akan menjadi keputusan Hakim setelah ia menceritakan semuanya. "Yang pertama, saya ingin mengatakan bahwa saya ini seorang yatim piatu. Sejak saya menginjak usia delapan tahun, kedua orang tua saya sudah menghadap Allah akibat kecelakaan bus yang kami tumpangi saat itu." Kristal-kristal bening itu meluncur bebas dari pelupuk mata Ana. Dan perlahan, ia menyekanya. "Setelah kejadian itu, saya tinggal di panti yang berada salah satu kota di Jawa Tengah."
"Innalillahi wa innailaihi rojiun. Sungguh apa yang berada di dunia ini adalah milik Allah. Dan kepadaNya lah kita akan kembali. Semoga kamu senantiasa diberikan kekuatan oleh Allah ya Nak," ucap Mukhlas dengan menahan rasa sesak dalam dadanya.
Ana mengangguk lirih. "Aamiin, inshaAllah saya senantiasa kuat, tabah dan ikhlas di dalam menjalaninya Pak."
"Aamiin..."
Ana kembali meraup udara dalam-dalam dan ia hembuskan perlahan. Kali ini, ia akan berterus terang akan kekurangan yang ada padanya.
"Yang kedua, saya ingin mengatakan sesuatu kepada ustadz Hakim dan keluarga. Setelah ustadz Hakim dan keluarga tahu akan keadaan saya ini, saya persilakan jika ustadz Hakim dan keluarga membatalkan acara lamaran ini."
Hakim dan keluarga semakin dibuat bertanya-tanya tentang apa yang disampaikan oleh Ana. Ketiga orang itu kembali melempar pandangan dengan ekspresi wajah yang dipenuhi oleh tanda tanya besar.
"Maksud nak Ana bagaimana? Mengapa nak Ana mengatakan hal seperti itu?"
Ana tersenyum getir. Seharusnya malam ini adalah malam yang membahagiakan baginya karena akan segera melepas masa lajangnya. Namun, rasa-rasanya sebelum kebahagiaan itu menyapanya, ia akan menjauh dan bahkan menghilang dari hadapannya. Untuk saat ini laki-laki mana yang bisa menerima sebuah keadaan bahwa calon istrinya tidak akan pernah bisa memberikan keturunan? Mereka pasti akan mundur teratur dan membatalkan apa yang sudah menjadi rencananya.
__ADS_1
"Apakah ustadz Hakim dan keluarga bisa menerima saya jika selamanya saya tidak akan pernah bisa memberikan keturunan?"
Netra Hakim, Mukhlas dan Lily sama-sama terbelalak dan membulat sempurna kala mendengar penuturan Ana. Ucapan Ana sukses ikut menghujam jantung ketiga orang itu. Ketiganya saling menautkan pandangan dengan tatapan sulit terbaca.
"A-apa yang sebenarnya terjadi kepadamu Nak? Mengapa kamu bisa mengatakan hal itu?"
Berusaha mengurai segala rasa ingin tahu yang melilit di dalam otak, Mukhlas mencoba untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada Ana. Apa yang sebenarnya telah menimpa wanita yang menjadi pilihan putranya ini.
Dada Ana kembali terasa begitu bergemuruh hebat. Dan bulir-bulir bening itu kembali mengalir deras dari pelupuk mata. "Akibat kanker, rahim saya terpaksa diangkat. Dan itu artinya, saya tidak akan pernah bisa memberikan keturunan untuk ustadz Hakim dan memberikan cucu untuk Bapak dan juga Ibu."
Dengan suara bergetar, Ana menceritakan semua yang menimpanya. Kanker rahim, yang telah berhasil membuatnya menjadi seorang wanita yang tidak sempurna. Ada rasa sesak yang tertahan. Air matanya semakin tumpah ruah membasahi wajah. Ia condongkan tubuhnya ke arah Seroja, dan memeluk tubuh wanita itu. Seorang wanita yang saat ini menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki di kota ini. Dan hanya dengan Seroja lah, ia bisa mencurahkan segala kepelikan hidup yang ia rasakan.
Melihat Ana menangis tergugu di pelukannya, membuat Seroja juga ikut berurai air mata. Hatinya seakan juga ikut merasakan kepedihan yang Ana rasakan. Ternyata Allah memberikan ujian hidup kepada hambaNya dengan cara yang berbeda-beda. Ia pun hanya bisa menenangkan hati Ana, dengan cara mengusap-usap punggung wanita berhati malaikat itu.
Mendengar cerita hidup Ana, membuat tubuh ketiga orang itu ikut bergetar hebat. Lily sudah tidak lagi bisa menahan kesedihan yang membuncah dalam dada. Ia pun hanya bisa mengisakkan tangis di dalam pelukan sang suami. Mukhlas dan Hakim pun juga ikut meneteskan air mata. Tidak menyangka jika jalan hidup wanita berhati mulia ini begitu berat seperti ini. Tetiba, Lily teringat akan putrinya. Entah apa yang dialami oleh putrinya di luar sana.
Mukhlas mengusap-usap pundak sang istri, mencoba untuk menenangkannya. Lelaki itupun menautkan pandangannya ke arah Hakim. Dari sorot mata lelaki paruh baya itu tersirat sebuah makna, bahwa ia akan menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada Hakim.
Hakim terlihat sejenak berpikir. Namun pada akhirnya, ia tersenyum tipis di hadapan Ana. Lelaki itu menghela nafas sedikit dalam. "Apapun keadaan yang ada padamu, aku tetap pada pendirianku." Hakim menjeda sejenak ucapannya kemudian ia lanjutkan. "Bismillahirrahmanirrahim ... Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, Firda Ana Syafira, aku Hakim Ar-Rasyid melamarmu untuk menjadikanmu sebagai pendamping hidupku. Apakah engkau bersedia menerima pinanganku ini?"
Ana sedikit terkesiap. Sama sekali tidak menyangka jika Hakim tetap berada pada pendiriannya. Tetap melanjutkan lamaran ini. Ia sedikit mengurai pelukannya di tubuh Seroja dan mulai menautkan pandangan matanya ke arah ustadz muda ini.
"Ustadz ... Saya...."
Hakim mengulas sedikit semyum di bibirnya. "Aku ingin mendengar jawaban darimu malam ini juga, Ana. Dan aku ingin kamu menjawabnya dengan sesuatu yang aku bawa ini."
Telapak tangan Hakim merogoh ke dalam saku kemeja. Ia mengambil sesuatu dari dalam saku kemeja yang ia pakai itu. Sebuah kotak beludru warna merah, ia keluarkan dari dalam sakunya dan ia buka kotak itu. "Jika engkau bersedia menjadi makmumku, ambil cincin ini dan kenakan di jari manismu, Ana. Namun jika tidak, kamu bisa menutup kembali kotak ini!"
.
.
๐๐๐๐๐๐
Mohon dukungannya ya Kak.... Vote karya author remahan kulit kuaci ini agar saya bisa tambah semangat lagi๐๐๐ Vote nya pakai poin kok, hihihi... Terimakasihโค๏ธโค๏ธโค๏ธ
__ADS_1