Cahaya Cinta Untuk Seroja

Cahaya Cinta Untuk Seroja
CCUS 42 : Kumandang Suara Adzan


__ADS_3


Allahu akbar Allahu akbar... Laa illaha illaallah..


Suara Fakhru terdengar lirih menyerukan iqomah untuk bersegera menunaikan ibadah shalat maghrib. Setelah ia dan Hakim membersihkan surau ini dengan peralatan kebersihan seadanya (sapu) dan menggelar tikar yang sedikit koyak karena tidak pernah dipakai, dua pemuda itu gegas menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Dan tiga rakaat telah mereka tunaikan, dilanjutkan dengan dzikir dan doa yang dipandu oleh Hakim.


"Mengapa ada tempat ibadah yang sampai terbengkalai seperti ini ya Tadz?"


Seusai menunaikan shalat maghrib, Fakhru mengelilingi area surau ini sembari menatap lekat tiap benda yang ada di dalam sana. Mulai dari mimbar, meja-meja kecil, dan rak mukena dan sarung yang benar-benar telah terlihat rusak.


"Sebuah hal yang wajar jika surau ini terbengkalai Ru. Area ini merupakan lokalisasi, jadi memang tidak ada tangan-tangan yang merawatnya. Jangankan merawat, meliriknya pun sepertinya tidak."


Tangan Hakim terulur untuk meraih Al-Qur'an dan iqra' yang sudah terlihat usang. Jika melihat semua fasilitas yang ada di surau ini, ia berpikir jika tempat ini dahulunya memang pernah diadakan kegiatan keagamaan, seperti mengaji dan juga shalat berjamaah. Namun jika memang kegiatan keagamaan seperti itu tidak pernah diadakan di surau ini, mungkin semua barang yang ada di sini hanya merupakan salah satu donasi dari mahasiswa yang mengambil kerja praktek lapangan di tempat ini.


"Jika ustadz Hakim berniat untuk berdakwah di tempat ini, nampaknya harus banyak yang dibenahi. Lihatlah, atap dan plafon surau ini rusak parah."


Fakhru menunjuk ke bagian atap dan plafon yang hampir runtuh. Sungguh sangat berbahaya jika tempat ini digunakan sebelum diperbaiki. Dibarengi dengan Hakim yang ikut mendongakkan kepala, ustadz muda itu nampak berpikir keras untuk memikirkan apa yang harus ia lakukan.


"Sepertinya kita memang harus banyak berbenah Ru." Hakim menautkan pandangannya ke arah pemuda yang ada di sampingnya ini. "Apakah antum bersedia membantu ana untuk kembali memakmurkan surau ini?"


"Mengapa ustadz Hakim begitu ingin berdakwah di tempat ini? Apa ustadz Hakim tidak khawatir dengan persepsi orang-orang di luar sana? Ustadz Hakim adalah seorang ustadz, namun keluar masuk di lokalisasi seperti ini?"


Sejak Fakhru mendengar Hakim ingin berdakwah di area lokalisasi ini, ia begitu penasaran dengan apa yang mendasari ustadz muda ini memiliki niatan itu. Seorang ustadz yang di mata orang banyak kesehariannya selalu berada di bawah kata taqwa namun ustadz muda ini seakan tidak memikirkan segala persepsi dan spekulasi yang akan muncul jika ia berkeliaran di tempat ini.


Hakim hanya mengulas sedikit senyum di bibirnya. Ia sendiri pun sejatinya tidak mengetahui apa yang membuatnya begitu ingin berdakwah di tempat ini.


"Ana sendiri juga tidak tahu, Ru. Namun ana berpikir, jika orang-orang yang paham agama tidak pernah menjamah tempat seperti ini untuk berdakwah, karena menganggap tempat ini kotor dan banyak praktek maksiat di dalamnya, lalu siapa lagi yang akan menyampaikan perintah-perintah Allah dan ajaran-ajaran Rasulullah di tempat ini?"


"Apakah ustadz tidak khawatir dengan persepsi orang-orang di luar sana? Terlebih para jamaah yang begitu mengidolakan ustadz Hakim?"


Hakim nampak tergelak mendengarkan pertanyaan Fakhru. Entah mengapa ucapan Fakhru ini terdengar begitu menggelitik telinganya. "Memiliki banyak penggemar atau yang bahasa kekiniannya fans, hanya merupakan bonus yang Allah berikan untuk Ana. Sedangkan niat Ana ya lillahi ta'alla berdakwah saja. Jadi Ana tidak terlalu mengambil pusing dengan segala persepsi yang akan muncul ketika Ana memilih untuk berdakwah di tempat ini." Hakim menghela nafas dalam kemudian ia hembuskan perlahan. Pandangan matanya sedikit menerawang. "Lokalisasi juga merupakan salah satu tempat yang berada di bumi Allah. Ana yakin tempat ini juga berhak untuk mendapatkan hidayah dari Allah. Hidayah untuk memperbaiki dan berbenah akan praktek-praktek yang ada di dalamnya."


Fakhru terlihat menimbang-nimbang apa yang diucapkan oleh Hakim. Nampaknya begitu sulit untuk berdakwah di tempat ini, namun pada akhirnya pemuda itu mengangguk jua. Ia semakin yakin untuk menemani Hakim untuk melaksanakan niatnya.


"InshaAllah, saya akan membantu ustadz Hakim. Besok, kita mulai untuk memperbaiki surau ini terlebih dahulu. Terlebih konstruksi bangunan ini. Harus kita perbaiki agar tidak berbahaya jika dipergunakan."


"Apakah Antum tidak keberatan jika kita menggunakan uang pribadi milik kita masing-masing untuk memperbaiki surau ini?"


Fakhru menggeleng pelan. "InshaAllah saya tidak keberatan Tadz. Semoga ini semua bisa menjadi tabungan amal saya di akhirat nanti."


Hakim mengulas senyumnya. Ia menepuk-nepuk bahu pemuda tampan ini. "Alhamdulillah ... ana benar-benar bersyukur pernah mengenal seorang pemuda yang begitu baik seperti antum. Kelak, istrimu pasti akan sangat berbahagia memiliki seorang imam seperti antum ini."


Fakhru hanya tersenyum getir mendengarkan penuturan Hakim. Meski di mata kebanyakan orang ia adalah salah satu wujud lelaki yang sempurna, entah mengapa dalam hal jodoh ia selalu saja tidak bernasib baik. Tiga kali, ia gagal menikah. Hingga membuatnya sedikit merasakan trauma akan sebuah kegagalan.

__ADS_1


Hakim terkekeh melihat ekspresi wajah Fakhru. Ia paham betul dengan apa yang sedang dirasakan oleh pemuda ini. Kembali ia menepuk-nepuk bahu Fakhru. "Percayalah bahwa Allah akan mempertemukan antum dengan jodoh antum di waktu yang tepat."


Fakhru mengangguk samar. "Aamiin. Semoga memang seperti itu Tadz."


🍁🍁🍁🍁


"MashaAllah ... mbak Seroja terlihat cantik sekali!"


Ana begitu terkesima melihat penampilan Seroja yang nampak berbeda ini. Selepas melaksanakan ibadah shalat maghrib, Seroja menyampaikan maksudnya untuk meminjam kerudung kepada Ana. Ana sedikit keheranan dengan apa yang menjadi keinginan wanita ini. Namun saat ini ia paham dengan maksud Seroja. Ternyata, wanita ini ingin belajar memakai kerudung.


"Terlihat aneh ya Sus?"


Seroja masih terlihat sibuk sendiri di depan cermin kala menyematkan jarum di bawah dagunya. Setelah jarum itu tersemat, ia pun merapikan bagian kerudung yang ada di atas keningnya.


Ana menggelengkan kepalanya. "Sama sekali tidak Mbak. Mbak Seroja justru terlihat semakin cantik."


Seroja menatap bayangan wajahnya yang terpantul melalui pantulan di cermin ini. "Apakah aku pantas mengenakan kerudung ini Sus? Apa nanti kata orang jika melihat aku mengenakan kerudung ini? Apakah mereka akan berpikir bahwa aku adalah orang munafik yang mencoba menyembunyikan keburukan yang pernah aku lakukan di balik kerudung ini?"


Ana yang sebelumnya berjarak sedikit jauh dengan tubuh Seroja, ia geser tubuhnya untuk lebih dekat dengan wanita ini. Ia berdiri di samping Seroja dan ikut menatap bayangan wajah Seroja melalui pantulan cermin ini.


"Mbak, berhijab merupakan salah satu bentuk ketaatan kita terhadap perintah Allah. Seperti yang ada di dalam Al-Qur'an surah Al-Ahzab ayat 59."


"Lalu bagaimana dengan orang-orang yang berhijab tapi masih sering melakukan hal-hal buruk Sus? Apakah itu sama saja mempermalukan agama?"


"Jadi, aku boleh untuk mulai berhijab Sus?"


"Tentu saja boleh Mbak. Bahkan sangat boleh. Hijab ini juga sebagai pertanda bahwa mbak Seroja benar-benar telah berupaya untuk berbenah diri. Semoga selalu istiqomah ya Mbak."


Seroja tersenyum simpul sembari menoleh ke arah Ana. Nikmat mana lagi yang bisa ia dustakan jika Allah begitu baik menghadirkan sosok Ana di dalam hidupnya. Sosok manusia yang sungguh berjasa dalam hidupnya. Karena dari Ana lah ia bisa menjemput apa itu hidayah. "Aamiin, semoga aku benar-benar bisa istiqomah Sus."


🍁🍁🍁


Asshollatu khoirumminnanauum..


Asshollatu khoirumminnanauum..


Sayup-sayup terdengar suara adzan subuh bergema di seluruh penjuru kota Bandung, udara pagi yang masih terasa begitu dingin membuat beberapa orang yang tinggal di kota ini mungkin memilih untuk tetap berada di bawah selimut tebal, meringkuk mencari kehangatan. Ayam jantan mulai berkokok bersahutan, memecah keheningan pagi ini.


Seroja mengerjapkan matanya kala suara adzan itu terdengar jelas dari kamar tempat ia tertidur saat ini. Dahinya mengerut karena suara adzan ini terdengar begitu dekat dengan tempat tinggalnya. Ia menyibak selimut yang masih membungkus tubuhnya dan mulai turun dari ranjang. Sesekali ia terlihat menguap, menahan kantuk yang masih mendera. Ingin rasanya kembali menarik selimut, namun suara adzan subuh pagi ini benar-benar membuatnya bertanya-tanya.


"Loh, mbak Seroja juga ikut bangun?"


Ana yang juga baru keluar dari kamar terlihat keheranan karena melihat Seroja sudah berdiri di depan kamar miliknya. Wanita itu mengangguk. "Iya Sus. Aku heran, suara adzan itu berasal dari mana ya? Terdengar dekat sekali dengan rumah ini."

__ADS_1


"Saya juga merasa seperti itu Mbak. Tidak biasanya kumandang adzan terdengar jelas seperti ini. Apakah mungkin dari surau yang letaknya tidak jauh dari tempat ini ya Mbak?"


"Tapi bukankah surau itu terbengkalai ya Sus? Dan kondisinya pun rusak parah. Apa iya ada seseorang yang memakai surau itu?"


"Tapi sepertinya suara adzan ini memang berasal dari surau itu Mbak."


"Suster Ana kak Seroja, apakah kalian sudah bangun?"


Kedatangan Alamanda yang tiba-tiba, membuat kedua wanita itu sedikit terkejut. Rupa-rupanya gadis kecil ini juga ikut terbangun di waktu subuh seperti ini.


"Iya Sayang, Kakak dan suster Ana sudah bangun. Alamanda mengapa juga ikut bangun?"


Seroja mendekat ke arah Alamanda. Ia raih tangan gadis kecil itu dan ia giring untuk ia dudukkan di kursi kayu.


"Manda mendengar suara adzan tidak jauh dari rumah ini Kak. Apa mungkin suara adzan itu berasal dari surau yang ada di dekat rumah kita?"


Sama seperti yang dipikirkan oleh Ana dan Seroja. Alamanda pun ikut berpendapat bahwa suara adzan itu berasal dari surau.


"Sepertinya memang benar suara itu berasal dari surau Mbak. Karena memang terdengar jelas sekali."


"Kak Seroja, suster Ana! Manda ingin shalat di surau. Kita shalat di sana ya."


Seroja sedikit terkesiap. "Tapi Sayang... "


"Kita shalat di sana ya Kak. Manda ingin langkah-langkah kaki Manda ini dicatat sebagai pahala oleh malaikat karena menuju rumah Allah untuk beribadah."


Seroja dan Ana saling melempar pandangan. Namun pada akhirnya mereka sama-sama tersenyum dan mengangguk.


"Baiklah Sayang, kita ke surau sekarang!"


"Horeeee!!!!"


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁


Sabar... Sebentar lagi ya Kak... 🥰🥰 Keburu ada acara jadi pertemuan Fakhru dan Seroja saya undur di part selanjutnya... Sabar yah.. 😘😘😘


Terimakasih banyak untuk kakak-kakak yang masih setia mengikuti tulisan author remahan kulit kuaci ini. Dan yang memberikan dukungan dalam bentuk apapun. Semoga kakak-kakak semua dilimpahi oleh keberkahan ya.. Dan pastinya juga kesehatan.. 🤲🤲


Salam love, love, love❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2