Cahaya Cinta Untuk Seroja

Cahaya Cinta Untuk Seroja
CCUS 85 : Pemakaman


__ADS_3


Seroja terduduk lemas di samping gundukan tanah pemakaman yang masih terlihat basah. Lily, Mukhlas, dan Randy juga terlihat berdiri di sekitar gundukan tanah itu. Sedangkan Hakim dan Ana telah kembali ke kediaman Seroja terlebih dahulu mengingat Alamanda yang masih terlihat begitu terpukul akan kepergian sang ibu dan sedari tadi hanya bisa menangis tergugu. Gadis kecil itu nampak terlihat begitu terguncang kala mengingat saat ini ia hidup sebagai seorang anak yatim piatu.


Beberapa saat yang lalu, jenazah Dahlia dikebumikan. Dan saat ini hanya terlihat taburan bunga di atas tanah dengan sebuah papan dari kayu yang menjadi tanda kepemilikan makam itu. Sebuah siklus kehidupan yang harus dilalui oleh manusia sebelum ia tinggal di kehidupan yang abadi yakni kehidupan di akhirat nanti. Dunia memanglah tempat pemberhentian sementara di mana manusia mengumpulkan bekal untuk kehidupan yang kekal.


"Ibu?!" ucap Seroja lirih. Matanya terlihat sangat sembab, karena dari semalam, ia menangisi kepergian Dahlia. Meski Dahlia bukanlah ibu kandungnya, namun wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu begitu mencintai Dahlia dan benar-benar merasakan kehilangan di kala Dahlia pergi untuk selamanya.


Lily yang berdiri di belakang punggung Seroja, menggeser tubuhnya dan ikut berjongkok di sisi sang putri. Ia raih tubuh Seroja untuk ia bawa ke dalam dekapannya.


"Ikhlaskan kepergian bibimu ya Nak. InshaAllah bibi Dahlia sudah tenang di alam sana," ucap Lily sembari sambil mengusap-usap punggung Seroja.


Seroja mengangguk samar. Gemuruh dalam dadanya seakan tidak bisa dikendalikan. Memori-memori di masa yang telah lalu, layaknya sebuah puzzle yang jika tersusun sempurna, hanya menyisakan kegetiran semata.


"Seroja sudah ikhlas memaafkan ibu Dahlia, Bu. Seroja sudah ikhlas. Semoga Allah senantiasa memberikan ampunan untuk ibu Dahlia dan di tempatkan di tempat yang terbaik di sana."


Lily menganggukkan kepalanya. "InshaAllah Sayang. InshaAllah Allah akan mendengar semua doa dan pintamu. Dan InshaAllah, doa darimu itulah yang akan menjadi lentera bagi bibi Dahlia di alam kuburnya."

__ADS_1


Seroja berupaya mati-matian untuk menepis dan membuang jauh segala ingatan yang tetiba datang menyerang. Ingatan akan peristiwa yang telah lalu yang tetiba berkeliaran di dalam otaknya. Peristiwa-peristiwa yang terasa begitu pahit bak menelan empedu dan hanya menyisakan puing-puing luka yang masih menganga lebar.


"Astaghfirullah hal 'adziim .... jauhkan aku dari berbagai macam pikiran buruk yang dapat mengikis keikhlasan hatiku untuk memaafkan ibu Dahlia ya Rabbi. Aku tidak ingin memberatkan kepergian ibu Dahlia hanya karena di dalam benakku masih terbesit hal-hal buruk yang telah lalu."


Meski lirih, namun ucapan Seroja masih dapat didengar oleh Lily, Mukhlas dan Randy. Ketiga orang itu seakan paham dengan apa yang dirasakan oleh Seroja. Semua yang pernah dilakukan oleh Dahlia terhadap wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu seakan tidak mudah untuk terhapus oleh masa. Karena sejatinya, apa yang telah dilakukan oleh Dahlia di masa lalu tetap meninggalkan jejak luka yang mungkin tidak akan pernah bisa hilang. Ikhlas, satu kata yang terdengar begitu sederhana dan simpel namun begitu sulit untuk dijalankan.


Air mata Seroja kembali menetes menyusuri bingkai wajah cantiknya. Hal itu tidak luput dari pandangan Lily. Wanita paruh baya itupun mencoba untuk menguatkan sang putri.


"Ibu percaya bahwa putri Ibu ini memiliki hati seluas samudera. Perilaku buruk apapun yang pernah bibi Dahlia lakukan terhadapmu, pastinya sudah engkau maafkan. Saat ini sudah bukan lagi waktunya untuk mengingat-ingat hal buruk yang pernah dilakukan oleh bibi Dahlia, Sayang. Saat ini waktunya untuk engkau ikhlas memaafkannya."


"Betul sekali apa yang diucapkan oleh ibumu, Nak. Jika kenangan-kenangan buruk itu masih saja kamu ingat, maka sungguh hanya akan membuatmu jauh dari kata ikhlas. Dan pastinya hal itu akan memberatkan bibimu, ketika menghadap sang Ilahi," sambung Mukhlas sependapat dengan ucapan sang istri.


Perlahan, kanvas langit mulai gelap. Sebelumnya, hari yang dihiasi oleh terik matahari, kini berganti barisan awan mendung yang mulai mendominasi. Dapat dipastikan, jika sebentar lagi rintik air hujan akan turun dari langit dan membasahi bumi.


Kepala Randy mendongak. Benar saja, goresan tinta langit terlihat semakin pekat. "Seroja, mari kita pulang. Lihatlah, sebentar lagi hujan akan turun dan pastinya akan membuat kamu sakit jika kamu sampai kehujanan."


Lelaki itu masih saja mencemaskan wanitanya jika sampai hal-hal buruk terjadi kepadanya. Semenjak dengan mata kepalanya sendiri ia melihat Seroja disakiti oleh Rosmala dengan membabi buta, ia berjanji pada dirinya sendiri akan senantiasa menjaga Seroja baik lahir maupun batinnya.

__ADS_1


Mukhlas dan Lily juga ikut mendongakkan wajahnya. Kedua paruh baya itu setuju dengan ucapan Randy, bahwa memang akan segera turun hujan. Lily mulai bangkit dari posisi jongkoknya.


"Benar apa yang dikatakan oleh nak Randy, Sayang. Hari juga semakin sore. Mari kita pulang. Besok, kamu bisa bertandang lagi ke sini," ucap Lily yang juga ikut memberikan sebuah pemahaman.


Seroja menurut. Ia bangkit dari posisi sebelumnya dan berdiri di samping Mukhlas dan Randy. Disusul Lily, kini keempat orang itu sudah bersiap untuk pulang. Langkah kaki mereka terayun, pastinya untuk bersegera meninggalkan tempat ini. Perlahan, keempat orang itu mulai meninggalkan gundukan tanah Dahlia. Sebelum Seroja keluar dari area pemakaman, ia sedikit membalikkan badannya dan kembali menatap makam Dahlia dengan tatapan tak terbaca.


Selamat beristirahat Bu... semoga Allah mengampuni dosa dan kesalahan yang telah ibu lakukan. Beristirahatlah dengan tenang, Ibu. Terima kasih atas semua yang telah ibu berikan kepadaku. Terima kasih, karena setidaknya di akhir usia ibu, aku masih bisa mendampingi ibu. Dan terima kasih pula untuk sebuah nama yang begitu indah ini. Maafkan jika aku banyak melakukan kesalahan selama menjadi putri Ibu. Kini, aku hanya bisa mengatakan selamat jalan ibu.


Dan, pada akhirnya keempat orang itu meninggalkan area pemakaman dan kembali ke rumah. Benar saja, saat memasuki mobil, air langit mulai turun. Rintik gerimis perlahan berubah menjadi hujan yang sedikit lebat dan tidak perlu menunggu waktu lama, air langit itu seakan tumpah ruah mengguyur bumi.


Ya seperti inilah sebuah roda kehidupan. Kita yang masih hidup, sejatinya hanya sedang menunggu giliran untuk kembali dipanggil ke pangkuanNya. Kelak di tempat yang begitu sepi seperti ini kita ditinggal sendirian. Tidak ada teman sama sekali. Dan siapa yang akan menemani jasad kita jika bukan amal kebaikan?


Innalillahi wa inna ilaihi roji'un....


Sungguh, apa-apa yang ada di dunia ini adalah milik Allah, dan hanya kepada-Nya lah kita kembali. Dan sesungguhnya sesuatu yang paling dekat dengan kita adalah kematian.


🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Mohon maaf jika terlalu pendek ya Kak... Setelah ini, kita akan melihat kehidupan Seroja-Randy, Hakim-Ana dan Fakhru-Adiba. 🥰🥰🥰


Salam love, love, love❤️❤️❤️


__ADS_2