
"An, berhentilah! Sedari tadi aku melihatmu sibuk ke sana kemari untuk membersihkan dan merapikan rumah!"
Hakim memberikan sebuah instruksi kepada Ana agar calon istrinya itu berhenti melakukan sesuatu yang membuatnya sibuk sendiri. Sembari memangku tubuh kecil Alamanda yang tengah tertidur ustadz muda itu nampak begitu keheranan karena sedari tadi pekerjaan calon istrinya ini tak kunjung selesai. Mulai dari mencuci, menyapu, mengepel dan memasak. Dan entah apa juga yang terjadi kepada Alamanda, tidak biasanya gadis kecil itu tertidur di pagi hari seperti ini. Dan kini malah terlihat pulas.
Sembari menjemur pakaian di samping rumah, wanita yang sebentar lagi akan menjadi nyonya Hakim itu hanya tergelak lirih. "Tinggal ini saja Tadz. Setelah ini semua pekerjaan saya telah selesai. Jadi tanggung kalau saya hentikan sampai di sini."
Hakim berdecak lirih. "Untung kamu belum menjadi istriku An!"
Ana terperangah. Pandangan mata yang sebelumnya tertuju pada selimut yang ia jemur, kini ia geser ke arah Hakim yang tengah duduk di teras. "Maksud ustadz Hakim bagaimana? Saya tidak paham."
"Setelah kamu resmi menjadi istriku, ketika aku memintamu untuk menghentikan aktivitasmu, harus segera kamu lakukan An. Tidak boleh untuk membantahnya."
Ana terkekeh geli. Bisa-bisanya ustadz muda itu membahas perihal itu. "Kalau tanggung, lebih baik diselesaikan terlebih dahulu kan Tadz?"
"Tidak ada yang lebih baik bagi seorang istri daripada sesegera mungkin mendatangi sang suami ketika dipanggil, An. Dan menghentikan aktivitasnya ketika sang suami memintanya."
Ana hanya mengangguk pelan. "Baiklah Ustadz. Besok saya akan patuh terhadap apa yang menjadi perintah ustadz Hakim."
"Nah, itu jauh lebih baik An. Ah iya, apakah aku boleh meminta sesuatu kepadamu?"
"Apa itu Tadz? Jika mampu saya, akan saya berikan."
"Aku yakin kamu pasti bisa melakukannya An."
"Apa itu Ustadz?"
"Bisakah kamu tidak memanggilku dengan sebutan 'ustadz'?"
Permintaan Hakim sukses memaksa Ana untuk menautkan pandangannya ke arah Hakim. "Maksud ustadz Hakim bagaimana? Jika saya tidak memanggil dengan panggilan ustadz, lalu saya harus memanggil apa?"
Hakim hanya menghela nafas dalam sembari berdecak pelan. "Bukankah masih banyak panggilan-panggilan lain selain ustadz? Mas, Bang, Kakanda, Kangmas atau mungkin Ayang bebeb seperti kaum-kaum muda memanggil kekasihnya?"
__ADS_1
Sejenak, Ana mencoba untuk mencerna apa yang dikatakan oleh Hakim. Dan seketika membuatnya terbahak kala mencoba mencerna kata-kata ayang bebeb yang dilontarkan oleh Hakim.
"Ya Allah, Ustadz ini ada-ada saja. Masa iya saya memanggil Ustadz dengan ayang bebeb? Nampaknya terlalu berlebihan."
"An, seperti yang aku ucapkan, masih banyak bukan panggilan selain ustadz? Ayolah, anggap saja ini sebuah perintah dari suamimu. Dan kamu sebagai istri harus belajar untuk mematuhinya."
Mendengar kata 'suami-istri' membuat wajah Ana semakin memerah karena tersipu malu. "Baiklah, mulai hari ini saya akan memanggil ustadz Hakim dengan embel-embel 'mas'."
"Nah, seperti itu jauh lebih baik An. Dan aku juga minta satu hal lagi. Jika sedang berbicara denganku jangan memakai bahasa formal. Kata aku bisa kamu ganti dengan saya. Bagaimana? Deal ya?"
Ana pun hanya bisa mengangguk lirih. "Hmmm baiklah mas Hakim. Mulai hari ini, aku akan memanggil mas Hakim dan mengganti kata saya dengan aku."
"MashaAllah, sungguh terdengar begitu manis."
Ana hanya menggeleng-gelengkan kepala. Ternyata permintaan Hakim begitu sederhana seperti ini dan pastinya bisa untuk ia penuhi.
"Oh iya Mas, setelah kita menikah, kita akan tinggal di mana?"
"Kita tinggal di rumah ayah dan juga ibu ya. Alamanda ikut bersama kita."
Ana mengangguk bahagia karena Alamanda akan ikut tinggal bersamanya. Namun ada satu hal yang menjadi tanda tanya besar dalam benaknya. "Jika aku kita tinggal bersama ayah dan ibu, dan mbak Seroja ikut mas Randy, lalu rumah ini bagaimana Mas? Apa akan dibiarkan kosong begitu saja?"
Hakim mengulas senyum di bibirnya. Sebelumnya, ia dan juga Seroja sudah membicarakan akan hal ini. Dan keduanya sudah menyepakati satu hal. "Setelah kita semua menikah, Seroja berniat menjadikan rumah ini sebagai salah satu PSKW."
Dahi Ana sedikit mengerut. "PSKW? Apa itu Mas?"
"PSKW merupakan kependekan dari Panti Sosial Karya Wanita. Nah, Seroja berencana untuk menggandeng dinas sosial yang ada di wilayah ini untuk mengelola PSKW ini. Nantinya, PSKW yang direncanakan oleh Seroja akan memberikan pelatihan-pelatihan kepada kaum wanita yang membutuhkan wadah untuk memberdayakan apa yang menjadi kemampuan mereka. Seperti di bidang tata busana, tata boga, tata rias dan apapun itu yang terpenting bisa menjadi salah satu wadah bagi para wanita untuk dapat mengasah kemampuan mereka."
"MashaAllah, apakah ini merupakan ide dari mbak Seroja, Mas?"
Hakim mengangguk. "Ya, ini merupakan salah satu mimpi dan cita-cita yang ingin direalisasikan oleh Seroja. Jika ditanya mengapa ia begitu ingin mendirikan PSKW ini, ia hanya menjawab bahwa ia tidak ingin melihat kaum-kaum wanita sampai menekuni sebuah pekerjaan yang memang seharusnya tidak mereka kerjakan. Kamu bisa memahaminya kan An?"
"Iya Mas, aku bisa memahami itu. Mungkin masa lalu mbak Seroja sendirilah yang membuatnya memiliki mimpi dan cita-cita seperti itu. Bahwa wanita itu adalah makhluk mulia, dan sudah selayaknya mereka mendapatkan pekerjaan yang mulia pula."
__ADS_1
Hakim hanya mengulas senyum di bibirnya.
Semoga, kebaikan-kebaikan yang telah kamu tanamkan dan doa-doa tulus dari orang-orang yang mendoakanmu, bisa membawamu kepada kebahagiaan yang hakiki, Seroja. Yaitu surga Allah.
ππππ
"Mas, bisakah kamu berhenti menatapku seperti itu?"
Seroja yang sedang mengawasi para karyawan dalam melakukan pekerjaan mereka di ruang produksi, tetiba diusik dengan tatapan Randy yang terasa begitu menikam jantungnya. Meski jarak antara dirinya dengan Randy cukup jauh, namun wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu bisa merasakan tatapan Randy. Yang seketika membuat jantungnya berdegup kencang tiada beraturan dan hanya menyisakan kegugupan semata.
Randy tergelak lirih. Ia mendekat ke arah Seroja, berusaha memangkas jarak yang ada. "Memang ada yang salah jika aku menatap intens calon istriku sendiri Sayang?"
"Ya, tidak ada yang salah Mas, namun tatapan kamu itu loh seperti... "
Seroja sengaja menjeda ucapannya dan berhasil membuat Randy bertanya-tanya. "Seperti apa Sayang?"
"Seperti hantu. Yang membuatku merinding dan bulu kudukku meremang seketika!"
Randy semakin mengeraskan tawanya dan sukses membuat karyawan yang ada di ruangan ini ikut menoleh ke arah Randy. Dan mereka pun juga ikut tersenyum melihat bu bos yang nampak bahagia tatkala bersama Randy.
"Kamu harus membiasakan diri, Sayang. Karena aku akan selamanya menjadi hantu yang akan selalu mengusik ketentraman batinmu. Dan membuatmu tidak akan pernah terlepas dari jeratan cintaku."
Seroja hanya terperangah. "Mas Randy!!"
Randy tergelak seketika. Entah mengapa menggoda calon istrinya ini merupakan hal yang membahagiakan untuknya. "Hahahaha... Love you Sayang!"
πππππ
Sekelumit cerita saya masukkan PSKW di novel ini. Kala itu misua lah yang praktek lapangan di PSKW seperti ini. Mengambil jurusan ilmu sosial sehingga membuatnya sering berjibaku dengan hal-hal seperti ini. Panti rehabilitasi bagi para mantan pemakai obat-obat terlarang, PSKW (panti sosial karya wanita) dan juga panti rehabilitas penyandang difabilitas seringkali dikunjungi oleh misua. Kala itu saya sempat diajak untuk mengunjungi panti rehabilitas yang ada di Bantul (khusus difabel) dan rasanya waow sekaliβΊβΊ
Mengapa bukan pengalaman kamu sendiri Thor? Hihihi hihihi saya hanya lulusan SMA jadi jika tentang hal seperti ini saya konsultasi langsung dengan beliau. Bukan hanya perihal panti-panti itu saja. Perihal kafe yang sering saya masukkan ke dalam novel-novel saya juga merupakan kehidupan nyata yang dijalani oleh misua. Kuliah di jurusan ilmu sosial, namun setelah lulus malah intens ikut menjalani bisnis per kafe-an bersama teman-temannya. Memang sedikit tidak nyambung, tapi tidak apa-apalah yang penting bisa menjadi sumber rezeki untuk menghidupi keluarganya. Dan alhamdulillah rezekinya memang di dunia per kafe-anβΊβΊβΊ
Yang bertanya Alamanda akan ikut siapa terjawab di part ini ya Kak... Dan yang bertanya apakah Alamanda akan bisa kembali melihat? Jawabannya ada di...... hihihi hihihi hihihi tetap ikuti cerita ini hingga tamat ya kakak-kakak tersayang πππ
__ADS_1