Cahaya Cinta Untuk Seroja

Cahaya Cinta Untuk Seroja
CCUS 94 : Janji Seroja


__ADS_3


"Jadi bagaimana tanggapan ustadz Hakim dengan berita yang beredar bahwa adik ustadz Hakim dahulunya tinggal di sebuah lokalisasi dan sempat menjadi seorang wanita penghibur?"


Di kediaman Mukhlas, siang ini nampak begitu ramai dengan kehadiran para pemburu berita yang tengah berkumpul di halaman rumah. Berkumpul untuk mendengar sebuah klarifikasi langsung dari sang ustadz, akan sebuah berita yang beredar di masayarakat luas. Sebuah berita panas yang jika dikupas pasti akan mendapatkan sebuah respon yang bagus dari masyarakat. Dengan begitu, jika berita ini dijadikan konsumsi publik, dengan seketika ratting sebuah stasiun televisi langsung akan naik drastis. Dan pastinya akan menjadi sebuah keuntungan besar bagi para pemilik stasiun televisi sendiri. Hal itulah yang membuat para pemburu berita itu rela berdesak-desakan di depan kediaman Mukhlas untuk mendapatkan sebuah klarifikasi langsung dari sumbernya.


Sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa semakin tinggi pohon, semakin lebat buahnya dan semakin kencang angin menerpanya, mungkin saat ini sangat cocok disematkan untuk keluarga besar Mukhlas. Lima bulan setelah ia dan sang istri berhasil mengantarkan kedua anak mereka di gerbang pernikahan, kehidupan kedua anaknya ini senantiasa berada di dalam kebahagiaan bahkan jalan rezeki bagi keduanya datang dari arah manapun. Namun sepertinya saat ini ungkapan itu sangat pas dengan apa yang tengah menimpa keluarganya.


Ungkapan itu seperti kehidupan yang mungkin pernah dirasakan oleh semua orang. Semakin seseorang tumbuh dewasa, maka akan semakin banyak pelajaran dan pengalaman yang didapatkan. Serta akan semakin banyak pula ujian yang menerpa dan banyak diuji dengan berbagai macam cobaan. Ketika akar yang dimiliki kuat, pastinya pohon itu akan tetap berdiri tegap tidak akan pernah goyah sekuat apapun badai itu menerjang.


Hakim yang tengah berdiri di depan teras hanya mengulas sedikit senyumnya. Ia yang baru saja akan berangkat meninjau pabrik kecimpring milik sang ayah, ia urungkan niatnya kala melihat beberapa pemburu berita sudah berbondong-bondong datang ke kediamannya. Meski begitu terkejut namun ustadz muda itu mencoba untuk tetap tenang dalam bersikap.


"Mas, Mbak semua, sebelum saya memberikan sebuah klarifikasi, ada baiknya Mas-mas dan Mbak-mbak masuk ke sini terlebih dahulu. Sepertinya sangat tidak nyaman jika berdiri di halaman rumah. Mari silakan masuk terlebih dahulu!"


Hakim mendaratkan bokongnya di sebuah kursi kecil dengan meja yang ada di hadapannya. Tentang rentetan pertanyaan yang sempat terlontar dari salah satu wartawan ini sudah dapat dipastikan bahwa asal usul sang adik sudah terendus oleh media. Sebagai salah satu ustadz muda yang tengah naik daun, tidak mengherankan jika mereka ingin tahu perihal kehidupan keluarga besarnya yang mungkin akan menjadi sebuah sumber berita yang akan sangat mengasyikkan untuk dikupas.


"Jadi bagaimana tanggapan ustadz Hakim mengenai kabar yang tengah beredar di masyarakat saat ini? Apakah benar, adik kandung ustadz Hakim tinggal di lokalisasi dan pernah menjadi wanita penghibur?"


Hakim hanya mengulas sedikit senyumnya. Sejatinya, ia ingin mengubur dalam-dalam akan cerita hidup yang pernah dilalui oleh adik kandungnya. Namun sepertinya ia harus memberikan sebuah klarifikasi agar berita yang terdengar di telinga masyarakat menjadi sebuah berita layaknya bola salju yang terus menggelinding tiada henti.


"Saya tidak akan banyak ber-statmen di sini. Perihal adik saya pernah tinggal di lokalisasi memanglah benar adanya. Namun perihal adik saya pernah manjadi wanita penghibur yang dalam artian menjajakan tubuhnya kepada banyak laki-laki, saya tegaskan bahwa berita itu tidaklah benar."


"Lalu bagaimana ustadz Hakim menghadapi berita-berita yang belakangan ini begitu santer terdengar? Apakah ustadz Hakim tidak khawatir jika berita ini justru membuat ketenaran ustadz Hakim meredup dan membuat orang-orang di luar berpikiran buruk terhadap ustadz Hakim?"


Hakim terkekeh lirih mendengar pertanyaan salah satu pemburi berita ini. Masih dengan tenang, ia mencoba untuk menjawab pertanyaan ini.


"Tidak ada hal-hal khusus yang saya lakukan untuk menghadapi berita yang semakin bergulir ini. Saya hanya akan memberikan sebuah klarifikasi yang memang harus saya berikan, pastinya tidak seluruhnya. Karena memang pada dasarnya ada privasi-privasi yang tidak harus saya buka di depan publik."


Hakim menjeda sejenak ucapannya. Berupaya meraup udara dalam-dalam untuk mengisi rongga-rongga dadanya dengan oksigen.


"Perihal ketenaran, sungguh itu semua hanya titipan dari Allah. Dan jika memang Allah ingin mengambilnya kembali, akan saya kembalikan dengan penuh keikhasan dan hati yang lapang."


"Lalu, bagaimana dengan hubungan ustadz Hakim sendiri dengan sang adik? Apakah semua baik-baik saja?"


"Itu sudah pasti. Hubungan saya dengan adik saya begitu baik. Dan akan selamanya baik-baik saja. Sudah menjadi tugas dan kewajiban kami sebagai kekuarga, mendekapnya erat di dalam pelukan penuh cinta dan kasih sayang. Apa yang menjadi masa lalu adik saya biarlah menjadi sesuatu yang sudah berlalu, tanpa perlu diungkit-ungkit lagi."


Sedangkan dua orang yang berada di dalam mobil hanya bisa menatap semua yang tersaji di depan mata mereka dengan tatapan nanar. Sepasang suami istri yang sudah sejak tadi melihat dan mendengar apa yang dialami oleh ustadz muda itu. Tanpa terasa kristal-kristal bening berjatuhan satu persatu dari jendela hati milik sang istri.


"Aku tidak menyangka jika masa laluku akan membawa dampak yang tidak baik untuk kakakku sendiri Mas. Aku benar-benar merasa bersalah dengan kak Hakim."

__ADS_1


Randy yang turut merasakan apa yang dirasakan oleh istrinya ini hanya dapat menggenggam jemari sang istri dengan erat. Ia tarik tubuh istri tercintanya ini untuk ia bawa ke dalam dekapan.


"Aku juga turut menjadi salah bagian dari kelamnya masa lalumu Sayang. Maaf karena aku juga ikut menjerumuskanmu ke dalam kubangan dosa itu. Namun kita bisa apa? Kita tidak bisa mengubah masa lalu. Yang bisa kita lakukan hanya memperbaiki masa depan kita Sayang."


Randy mengurai sedikit pelukannya. Ia menangkupkan telapak tangannya di pipi istri tercintanya ini. Dengan lembut, ia berikan sebuah kecupan di bibir kekasih halalnya ini.


"Jangan terlalu memforsir pikiranmu dengan hal-hal yang dapat mengganggu psikismu ya Sayang. Ingat, di dalam rahimmu sedang bertumbuh calon buah hati kita. Jangan sampai apa yang menjadi beban pikiranmu berpengaruh kurang baik untuk tumbuh kembang calon buah hati kita."


Seroja hanya mengangguk lirih. Ia sependapat dengan apa yang diucapkan oleh suaminya ini. Bahwa pikiran-pikiran buruk yang ada di dalam benaknya bisa berdampak buruk dengan janin yang sedang bertumbuh di dalam rahimnya.


Lima bulan menjalani kehidupan berumah tangga bersama Randy, selama itu pulalah Seroja mengandung buah cinta mereka. Allah Maha Baik, tanpa memberikan jeda, Dia telah menitipkan anugerah terindah bagi sepasang suami-istri itu.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Kak, Seroja benar-benar minta maaf atas apa yang menimpa kak Hakim. Apa yang kak Hakim alami tidak lain juga karena masa lalu Seroja."


Dengan erat, Seroja memeluk tubuh kakak kandungnya ini. Menumpahkan segala kerisauan yang begitu mengusik ketentraman jiwanya. Setelah melihat para pemburu berita memberondong sang kakak dengan pertanyaan-pertanyaan perihal masa lalunya, membuat wanita yang tengah hamil lima bulan itu dilanda oleh rasa bersalah yang begitu mendera. Bersalah, karena bisa jadi setelah ini, karir yang dibangun oleh sang kakak dengan menjadi seorang ustadz muda yang digandrungi oleh para jamaah akan berakhir sampai di sini akibat masa lalu salah satu anggota keluarganya.


Hakim hanya mengulas senyum termanis yang ia punya. Ia paham betul dengan apa yang menjadi kerisauan hati adik kandungnya ini. Ia pun hanya bisa mengusap-usap punggung sang adik untuk mentransfer ketenangan dalam hatinya.


"Dek, mengapa kamu meminta maaf? Ini bukanlah kesalahan siapapun. Karena ini sudah menjadi salah satu ketetapan Allah. Jadi kamu tidak perlu meminta maaf."


Hakim menggelengkan kepala sebagai isyarat bahwa ia kurang sependapat dengan apa yang dikatakan oleh adiknya ini. Ia renggangkan pelukannya dari tubuh sang adik dan ia tatap lekat kedua manik mata wanita yang ada di hadapannya ini.


"Dek, bahkan semut pun rezekinya sudah dijamin oleh Allah apalagi kita sebagai manusia yang diberikan akal dan pikiran. Jadi kita tidak perlu khawatir dengan rezeki yang akan kita dapatkan. Yang paling penting, kita berihtiar untuk menjemput rezeki itu sendiri."


"Betul apa yang dikatakan oleh kakakmu, Nak. Kita tidak boleh mengkhawatirkan akan rezeki yang diberikan oleh Allah. Karena pada dasarnya, semua sudah dijamin oleh Allah sendiri," sambung Mukhlas yang turut menenangkan kerisauan hati sang anak.


"Jika kamu khawatir Kakak tidak mendapatkan rezeki dari ceramah-ceramah kak Hakim, bukankah masih ada pabrik kecimpring milik ayah? Kak Hakim bisa melanjutkan pabrik itu, Dek. Dan pabrik itu juga bisa menjadi sumber rezeki untukmu Dek, karena kamu juga menjadi salah satu pewaris pabrik kecimpring milik ayah."


Seroja hanya bisa tersenyum tipis. Meski seluruh anggota keluarganya tidak menyalahkannya namun tetap saja, jauh di lubuk hati paling dalam, perasaan bersalah itu tetap saja bergelayut manja.


"Perihal pabrik, Seroja serahkan sepenuhnya untuk kak Hakim. Seroja tidak akan pernah meminta hak Seroja dari pabrik itu Kak."


Hakim terkesiap kala mendengar penuturan adiknya ini. "Tapi Dek, kamu masih memiliki hak dari pabrik itu karena kita adalah putra putri ayah, yang nantinya akan menjadi ahli waris dari ayah." Hakim menoleh ke arah kedua orang tuanya. "Bukan begitu Yah, Bu?"


Mukhlas dan Lily menganggukkan kepala bersamaan. "Itu betul sekali Nak. Kamu masih memiliki hak dari pabrik yang sudah Ayah kelola puluhan tahun. Jadi kamu berhak menerimanya."


Seroja tersenyum simpul dan kembali berucap. "Allah sudah memberikan begitu banyak rezeki dan kenikmatan untuk Seroja, Kak, Yah. Melalui pabrik konveksi yang Seroja miliki, dan juga melalui kehadiran mas Randy. Jika kak Hakim tetap meminta Seroja untuk menerima hak dari pabrik milik ayah, saat ini juga di depan kak Hakim, kak Ana, ayah, ibu, Alamanda, dan suami Seroja sendiri, Seroja putuskan untuk menghibahkan hak waris yang Seroja miliki kepada kak Hakim sepenuhnya."

__ADS_1


Semua yang ada di ruangan ini terkesiap akan apa yang diputuskan oleh Seroja. Mereka hanya saling melempar pandangan satu sama lain.


"Tapi Nak?"


"Ayah, anggap saja ini adalah permintaan Seroja. Seroja ikhlas lillahi ta'ala menghibahkan hak milik Seroja untuk kak Hakim dan keluarga."


Entah apa yang terjadi, kata demi kata yang terucap dari bibir Seroja ini terdengar sedikit berbeda dari biasanya. Ucapan Seroja seperti sebuah pesan terakhir yang diucapkan oleh wanita yang kini berusia dua puluh delapan tahun ini. Hal itulah yang membuat Lily, Mukhlas, Hakim, Ana dan Randy merasa terenyuh seketika. Sedangkan Seroja hanya bisa tersenyum karena setidaknya kehadirannya bisa memberikan sedikit manfaat untuk orang-orang yang berada di sekelilingnya.


Sekilas, Seroja melirik ke arah Alamanda yang saat ini tengah duduk diapit oleh Ana dan juga sang ibu.


Kakak berjanji, akan berupaya untuk mencarikan pendonor mata untukmu Dek. Kakak ingin jendela hatimu kembali terbuka agar kamu bisa kembali melihat keindahan dunia ini.


.


.


bersambung....


Maafkan, maafkan, maafkan atas keterlambatan ini. Gegara oleng ke bang Wisnu membuat Oja terbengkalai... hihihihi sekali lagi saya minta maaf ya Kak..☺☺ Semoga mulai hari ini saya bisa kembali rutin untuk melanjutkan cerita ini yang inshaAllah tinggal beberapa part lagi menuju ending...


Dan untuk give away yang saya janjikan... Langsung saya pilih saja ya... Seperti janji saya, akan saya pilih 5 orang pembaca yang memberikan kontribusi terbanyak berupa poin ataupun vote untuk novel ini.



Di urutan ke 1 ada kak Novi Aryani


Di urutan ke 2 ada kak Heni Rosmayati


Di urutan ke 3 karena saya sendiri maka kak Feni mom syahwa yang naik ke posisi itu


Di urutan ke 4 ada kak Dina Mardhiana


Dan di urutan ke 5 ada kak Dyandra


Mohon kak Novi, kak Heni, kak Feni, kak Dina dan kak Dyandra mengirimkan alamat rumah via DM Ig yulia_rasti ya... Ada sesuatu yang ingin saya berikan sebagai salah satu ucapan terimakasih dari saya.


Selain itu bagi seluruh pembaca yang turut mendukung karya ini, juga saya ucapkan terimakasih banyak. Semoga kebaikan-kebaikan kakak-kakak semua mendapatkan pahala yang berlipat dari Allah SWT.


Salam love, love, love❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2