
Di hamparan rumput nan menghijau yang di sekelilingnya terdapat pohon-pohon besar, terlihat Fakhru bersama anak-anak panti sedang belajar membaca dan menulis Al-Qur'an. Fakhru sengaja mengajak anak-anak panti untuk belajar di alam terbuka seperti ini, dengan tujuan agar mereka tidak terlalu bosan selalu berada di dalam ruangan. Dan pastinya dengan belajar di alam terbuka seperti ini, mereka bisa sekaligus mengenal ciptaan-ciptaan Allah yang berada di alam semesta ini.
Setelah selesai belajar membaca dan menulis Al-Qur'an, mereka dipersilahkan oleh Fakhru untuk bermain-main di hamparan rumput ini. Sedangkan pemuda itu mengawasi pergerakan mereka dari tempatnya terduduk saat ini. Di bawah pohon beringin.
Senyum manis itu terlukis jelas di bibir Fakhru kala kedua bola matanya menangkap bayangan anak-anak kecil yang terlihat begitu gembira menikmati hari-harinya. Seakan tidak ada beban hidup yang harus mereka tanggung. Mereka berlarian sambil tertawa lepas seakan memberitahu kepada dunia bahwa mereka benar-benar bahagia.
Namun seketika perhatiannya terpusat pada tiga orang anak kecil yang sepertinya sedang berseteru. Dari gestur tubuh mereka begitu nampak nyata jika salah seorang dari anak itu terlihat sedang tidak baik-baik saja. Ia menangis sesenggukan. Fakhru berdiri dari posisi duduknya dan ia ayunkan langkah kakinya untuk mendekat ke arah tiga anak itu.
"Loh, loh, loh ini mengapa ada yang menangis Sayang? Bukankah kalian sedang bermain bersama?"
"Doni dan Raka mengejek Arka pak ustadz. Mereka mengatakan kalau Arka ini gendut dan tidak boleh ikut bermain bersama mereka," adu seorang anak yang bernama Arka sembari mencoba menahan isak tangisnya. Sedangkan dua anak lain yang bernama Doni dan Raka itu hanya menundukkan kepala. Sama sekali tidak berani menatap wajah Fakhru.
Fakhru menyunggingkan sedikit senyumnya. Ia pegang pundak masing-masing anak kecil ini secara bergantian. "Sesama teman jangan saling mengejek ya Sayang. Apalagi mengejek bentuk tubuh salah seorang teman kalian."
"Tapi Arka memang gendut pak ustadz, berbeda denganku dan teman-teman yang lain. Benar begitu kan Don?" ucap Raka sembari meminta dukungan terhadap temannya yang bernama Doni ini.
"Iya itu betul pak ustadz, kami tidak mau bermain bersama anak yang gendut. Nanti kami bisa tertular gendut," ucap Doni seolah sependapat dengan Raka.
Fakhru hanya menggelengkan kepala sembari tersenyum tipis. "Sayang, kita semua adalah ciptaan Allah. Semua yang ada di badan kita adalah pemberian Allah yang paling baik untuk hambaNya. Jadi seharusnya Raka dan Doni tidak boleh mengejek Arka. Karena, jika Raka dan Doni mengejek Arka itu sama saja kalian mengejek ciptaan Allah. Paham, Sayang?"
Raka dan Doni hanya mengangguk pelan sembari menundukkan wajah. Sepertinya dua anak itu mulai mengerti di mana letak kesalahan mereka.
"Ya sudah, sekarang Doni dan juga Raka minta maaf kepada Arka ya. Dan ingat apa kata Kakak, jangan saling mengejek dan mengolok-olok lagi. Karena kalian semua adalah teman. Dan sesama teman tidak boleh untuk saling mengejek."
Doni dan Raka mengulurkan tangan, bermaksud untuk meminta maaf kepada Arka. "Maafkan kami ya Arka. Kami tidak akan mengejek kamu lagi."
Arka hanya mengangguk pelan sembari menyeka air matanya. Ia ulurkan pula tangannya sebagai isyarat bahwa ia telah memaafkan Raka dan Doni. "Iya, aku sudah memaafkan kalian."
Fakhru hanya tersenyum simpul melihat anak-anak ini. "Ya sudah sekarang kalian main bersama-sama lagi ya dan jangan saling mengejek lagi, oke?"
__ADS_1
"Oke pak ustadz!"
Ketiga anak lelaki kecil itu kembali bermain bersama, sedangkan Fakhru kembali duduk di tempat semula. Angin sore yang berhembus membuat rasa sejuk kembali membelai wajahnya. Kedua netranya tidak lepas dari anak-anak yang tengah berlarian sembari tertawa-tawa itu.
Kedua dahi Fakhru tiba-tiba mengerut kala memory otaknya menangkap sebuah siluet kenangan masa-masa yang telah lalu. Apa yang terjadi kepada Arka sukses memuat ingatannya tertuju pada sosok gadis kecil yang pernah ada di masa kecilnya.
"Seroja... "
Lirih, Fakhru menyebut nama Seroja yang tak lain adalah teman masa kecilnya. Seorang teman yang sudah dua puluh tahun lebih tidak ia dengar kabar beritanya dan salah satu teman kecilnya yang saat ini entah berada di mana.
"Aahhh ... mengapa tiba-tiba aku teringat dengan Seroja? Di mana ia sekarang? Sejak malam itu aku sama sekali sudah tidak pernah mendengar kabar beritanya."
Pandangan Fakhru tetiba menerawang jauh. Tepatnya saat-saat di mana ia sering menghabiskan waktu bersama teman kecilnya itu. Dan apa yang baru saja dialami oleh Doni, sama persis dengan apa yang menimpa Seroja dulu.
"Semoga kamu senantiasa berada di dalam perlindungan Allah, Seroja..."
"Assalamu'alaikum a' Fakhru!"
"Waalaikumsalam Diba."
Adiba mengambil posisi yang tidak terlalu dekat dengan Fakhru dan ia daratkan bokongnya di sana. Sekilas, ia tersenyum ke arah pemuda itu kemudian ia tundukkan pandangannya. "Apakah kedatangan saya mengganggu a' Fakhru?"
"Tentu tidak Diba. Oh iya ada keperluan apa kamu menyusulku kemari?"
Dengan raut wajah yang dipenuhi oleh rona malu-malu, Diba mengulurkan rantang yang ia bawa ke arah pemuda tampan ini. "Diba membawa titipan Abi dan Umi untuk a' Fakhru."
Dahi Fakhru sedikit mengerut. "Ini apa Diba?"
"Gurameh bakar dengan sambal terasi, A'. Masakan Umi
untuk aa' Fakhru."
__ADS_1
"MashaAllah ... umi mengapa repot-repot memasak ini dan memintamu untuk mengantarkannya kemari? Bukankah nanti aku bisa ke panti untuk makan bersama anak-anak?"
Masih dengan kepala menunduk, Adiba terkekeh lirih. "Tidak apa-apa A', umi malah merasa senang jika a' Fakhru mau memakan masakan umi ini."
Fakhru ikut tergelak lirih. "Jadi sekarang, aku harus memakan masakan umi ini?"
Adiba menganggukkan kepalanya. "Iya A', memang seharusnya seperti itu."
"Baiklah jika memang ini merupakan salah satu perintah umi. Karena tidak elok jika aku tidak patuh kepada perintah orang tua, apalagi seorang ibu."
Adiba kembali terkekeh kecil. Ia meraih rantang yang telah berada di hadapan Fakhru, bermaksud untuk membuka rantang itu. Namun, buru-buru Fakhru mencegahnya.
"Biar aku saja, Diba. Aku sungguh merasa tidak enak hati jika kamu juga yang harus membuka rantang ini. Sudah dimasakkan oleh umi, diantarkan kemari, masa saat ini kamu juga yang harus membuka rantang ini."
Satu persatu susunan rantang itu dibuka oleh Fakhru. Dan ia pun mulai menikmati masakan ini. Sedangkan Adiba hanya bisa mencuri-curi pandang ke arah Fakhru dengan perasaan yang begitu bahagia melihat pemuda ini begitu lahap menyantap menu masakan ini.
"MashaAllah ... masakan Umi sungguh nikmat. Sama persis dengan masakan mama di rumah. Jika seperti ini, rasa rinduku kepada mama bisa terobati."
"Alhamdulillah jika seperti itu A'."
Suapan demi suapan masuk ke dalam indera pengecap Fakhru. Tidak ada kesan yang tertinggal di lidahnya selain hanya rasa nikmat tiada tara.
Dalam diamnya Adiba benar-benar merasa bahagia melihat ekspresi wajah pemuda ini.
Alhamdulillah jika kamu menyukai masakan ini A'. Karena sesungguhnya masakan ini merupakan hasil masakanku sendiri.
.
.
🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1