
"MashaAllah ... mengapa pakai acara membawakan martabak manis sih Nak?"
Sebuah kantong plastik putih berisikan martabak manis diulurkan oleh Randy di hadapan Lili. Seperti biasa, menjelang Maghrib, tepatnya setelah ia pulang dari kantor, ia selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah Mukhlas. Menunaikan ibadah shalat maghrib bersama keluarga lelaki paruh baya itu. Setelah itu ia lanjutkan untuk belajar mengaji. Selain mengaji, ia juga belajar banyak tentang kehidupan dengan lelaki paruh baya itu. Dari Mukhlas lah, ia banyak mendapatkan petuah-petuah yang bisa ia jadikan pedoman dalam menjalani hidupnya.
Randy mengulas sedikit senyum sembari mendaratkan bokongnya di atas lincak setelah dipersilakan oleh Lili. "Tidak ada yang repot Bu. Kebetulan, tadi saya lewat di depan penjual martabak. Maka dari itu saya membeli sekalian."
Sama halnya yang dilakukan oleh Randy, Lili juga turut tersenyum simpul. Sering didatangi oleh Randy, membuatnya terbiasa dengan kehadiran lelaki ini. Bahkan kehadiran lelaki itu berhasil membunuh sepi kala sang putra jarang pulang. Bagi Lili, Randy sudah ia anggap sebagai putranya sendiri.
"Bapak masih menghadiri acara kenduri di rumah tetangga, Nak. Di tunggu ya, inshaAllah sebentar lagi Bapak pulang."
Randy mengangguk pelan. "Iya Bu, tidak apa-apa."
Dua orang berbeda generasi itu larut dalam sebuah obrolan yang terlihat begitu hangat. Lili, wanita paruh baya itu sesekali terlihat tergelak mendengarkan celotehan-celotehan lelaki yang baru beberapa saat ia kenal. Entah apa yang diceritakan oleh lelaki itu, namun dari kejauhan mereka nampak begitu dekat.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Randy. Entah perasaan apa yang menggelayuti hatinya. Bercengkerama dengan wanita paruh baya ini seakan kembali mengulang memori yang pernah terjadi antara ia dengan sang mantan istri. Saat ia menatap lekat bingkai wajah wanita paruh baya ini, entah mengapa jejak raut wajah yang ditinggalkan oleh sang mantan nampak jelas di wajah wanita bernama Lili ini. Bentuk mata, hidung dan juga bibirnya sama persis dengan milik Seroja.
Obrolan hangat Randy dan Lili terpangkas kala mendengar suara mesin motor matic yang memasuki halaman rumah Lili. Tak selang lama motor itu berhenti tepat di bawah pohon rambutan yang mulai berbuah. Pengendara motor itu melepas helm yang ia pakai dan mulai mengayunkan kaki ke arah teras.
Binar-binar kebahagiaan nampak jelas di wajah Lili ketika melihat siapa gerangan yang datang. Ia bangkit dari posisi duduknya dan mendekat ke arah lelaki pengendara motor itu.
"Assalamu'alaikum Bu ... "
Hakim meraih telapak tangan Lili. Dengan sedikit membungkuk, ia cium punggung tangan sang Ibu.
"Waalaikumsalam Hakim putra Ibu ... apa kabar kamu Nak?"
Lili menegakkan bahu sang anak. Ia peluk tubuh putra sulungnya ini dengan erat dan menciumi pipinya. Sungguh, kedatangan Hakim benar-benar membuatnya terenyuh seketika.
__ADS_1
"Alhamdulillah Hakim sehat, Bu. Ibu sendiri bagaimana? Sehat juga bukan? Hakim minta maaf ya Bu. Karena sejak Hakim tiba di kota ini, Hakim langsung fokus di tempat paman Abdul. Dan setelah itu Hakim fokus di suatu tempat."
Ada rasa sedikit bersalah yang bergelayut manja di hati Hakim. Pasalnya, sejak ia tiba di kota ini, ia belum sempat untuk pulang ke rumah. Karena pada dasarnya ia disibukkan dengan beberapa undangan ceramah oleh orang-orang yang berada di sekitar panti milik Abdul, sang paman.
Lili hanya tersenyum simpul. Ia menepuk-nepuk bahu sang putra sebagai sebuah isyarat bahwa semua baik-baik saja.
"Tidak apa-apa Nak. Yang paling penting kamu ingat jalan pulang dan ingat rumah. Ibu sudah sangat bahagia sekali. Beruntung ada nak Randy, jadi membuat Ibu tidak merasa kesepian."
Dahi Hakim sedikit mengerut kala mendengar sebuah nama yang terdengar asing di telinganya. "Randy? Randy siapa Bu?"
Lili menoleh ke arah lelaki yang masih duduk anteng di lincak. "Nak Randy, sini! Kenalkan, ini adalah putra Ibu. Namanya Hakim."
Randy bangkit dari posisi duduknya dan mendekat ke arah Hakim. Tangannya terulur sebagai isyarat sebuah salam perkenalan dengan lelaki itu.
"Saya Randy, Mas!" ucap Randy memperkenalkan diri.
Hakim mengangguk dengan sedikit mengulas senyumnya. Sembari ikut mengulurkan tangan, menyambut uluran tangan Randy. "Saya Hakim, Mas. Anak sulung Ibu Lili."
Hakim sedikit penasaran tentang siapa lelaki ini. Pasalnya dari raut wajahnya, lelaki ini sudah seperti mengenal sang ibu dalam waktu yang lama. Dan sang ibu pun juga terlihat begitu dekat dengan lelaki ini. Hal itu dapat Hakim lihat dari cara sang ibu berinteraksi dengan Randy. Dua orang beda generasi itu terlihat begitu akrab.
"Nak Randy ini yang beberapa waktu lalu mengalami kecelakaan di depan rumah ini, Nak. Setelah kejadian itu kami malah semakin akrab. Karena setelah nak Randy pulang dari kantor, nak Randy selalu menyempatkan diri untuk datang kemari. Dan baru setelah isya' dia akan pulang."
Hakim mengangguk-anggukkan kepala, pertanda mengerti dengan apa yang diucapkan oleh sang ibu. Sekilas, ia melirik ke arah Randy dan memperhatikan lekat wajahnya.
Ibu mengapa seperti dekat sekali dengan lelaki ini? Wajah ibu juga nampak berbeda dari biasanya. Ibu jauh nampak lebih bahagia saat ini. Wajah yang selalu nampak murung, kini tidak lagi aku temui. Apakah kehadiran lelaki ini yang membuat kondisi ibu jauh lebih baik dari sebelumnya?
Hakim sibuk bermonolog di dalam hati. Tanpa ia sadari jika Randy pun ikut mencuri pandang ke arahnya.
Aku seperti tidak asing dengan putra Bu Lili ini. Aku seperti pernah bertemu dengannya atau melihatnya. Tapi di mana ya?
__ADS_1
Lili hanya terkekeh pelan melihat ekspresi wajah dua lelaki di hadapannya ini. Ia pun menepuk bahu sang putra.
"Nak, jangan keseringan melamun. Apalagi menjelang maghrib seperti ini, pamali!"
Hakim maupun Randy sama-sama terkesiap dan tersenyum kikuk. Keduanya sama-sama menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ah iya, maaf Bu."
Lili kembali menggeleng-gelengkan kepala dan kembali menatap lekat manik mata sang putra. "Bagaimana Nak? Apakah ada kabar bahagia yang kamu bawa untuk Ibu?"
Hingga detik ini, Lili masih bertahan pada pendiriannya. Ia percaya bahwa sang putri yang hilang di dua puluh tujuh tahun yang lalu masih hidup. Meski ia tidak tahu di mana sang putri berada namun hatinya selalu mengatakan bahwa putrinya masih dalam keadaan yang baik-baik saja.
Hakim menggeleng samar. Karena pada dasarnya, ia belum mengetahui keberadaan sang adik. "Maafkan Hakim Bu, karena Hakim belum berhasil menemukan adik."
Ada sedikit rasa bersalah yang bergelayut manja di dasar hatinya karena sampai saat ini keberadaan sang adik pun sama sekali belum bisa ia temukan titik terangnya. Namun ia selalu percaya bahwa suatu saat nanti ia pasti akan berhasil menemukan keberadaan sang adik.
Lili hanya bisa tersenyum getir mengangguk perlahan. "Tidak apa-apa Nak. Ibu selalu percaya jika suatu saat nanti, kita pasti akan bertemu dengannya."
Untuk menguatkan hati sang ibu, Hakim juga ikut tersenyum simpul. "Bu, Hakim ingin mengatakan sesuatu!"
Lili memindai ekspresi wajah Hakim yang nampak serius ini. "Apa itu Nak?"
"Hakim ingin minta tolong kepada Ibu dan juga ayah!"
Dahi Lili semakin mengerut dengan raut wajah yang dipenuhi oleh tanda tanya. "Minta tolong perihal apa Nak?"
Ustaz muda itu menghela nafas dalam dan perlahan ia hembuskan. "Tolong lamarkan seorang wanita untuk Hakim jadikan pendamping hidup Bu. Hakim ingin membawa ibu dan juga ayah untuk bertemu langsung dengan wanita yang ingin Hakim jadikan istri!"
.
__ADS_1
.
🍁🍁🍁🍁🍁