
"Mbak Seroja!"
Wajah yang dipenuhi oleh binar kebahagiaan tersirat jelas di wajah suster Ana kala melihat siapa yang berkunjung di siang hari ini. Selepas bertemu dengan Rosmala, Seroja mengayunkan langkah kakinya untuk bertandang ke rumah sang ibu. Meski ia tahu pada saat tiba di sana hanya ada sebuah penolakan yang ditampakkan oleh Dahlia, namun wanita itu tetap tidak pernah absen untuk berkunjung.
"Bagaimana kabar suster Ana, ibu dan juga Alamanda?"
Mengulurkan tiga eco bag berisi semua kebutuhan dapur ke arah Ana, Seroja juga mulai mendaratkan bokongnya di atas lincak yang berada di beranda.
Ana menyunggingkan senyumnya seraya menerima pemberian dari Seroja. "Alhamdulillah kami semua baik, Mbak. Mbak Seroja sendiri bagaimana? Baik juga bukan?"
"Aku juga baik, Sus." Seroja mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Alamanda di mana Sus? Biasanya siang hari seperti ini ia selalu duduk teras?"
"Alamanda sedang di kamar, Mbak. Akhir-akhir ini ia sedang semangat-semangatnya belajar menghafal surat-surat pendek. Setelah berhasil menghafal seluruh bacaan shalat, kini ia mulai belajar menghafal surat-surat pendek."
Ada sebuah kesejukan yang tetiba menyelinap masuk ke dalam relung hati Seroja kala indera pendengarannya mendengar rangkaian kalimat yang diucapkan oleh Ana. Meski selama ini ia tidak dekat dengan Tuhannya, namun mendengar sang adik bersemangat belajar ilmu agama, hatinya ikut menghangat. Sebuah hal yang manusiawi dan wajar. Seburuk-buruknya ia menjadi manusia, ia tidak ingin jika sang adik mengikuti jejaknya.
"Benarkah seperti itu Sus? Apakah suster Ana memerlukan sesuatu untuk bisa memudahkan Suster dalam mengajari Alamanda?"
Ana hanya menggelengkan kepala. "Tidak Mbak. Alhamdulillah Alamanda salah seorang anak yang pintar dan mudah mengingat. Jadi setiap hari hanya mendengar murrotal dari handphone menggunakan earphone saja ia sudah bisa menghafal semua."
Senyum manis tersungging di bibir Seroja. Bertemu dengan suster Ana, sungguh bisa memperingan bebannya dalam merawat dan menghidupi ibu dan juga adiknya.
Seroja meraih telapak tangan Ana yang masih menggenggam eco bag. "Terima kasih banyak Sus. Entah bagaimana caranya aku bisa membalas semua kebaikan suster Ana."
"Sama-sama Mbak. Mbak Seroja tidak perlu repot-repot membalas, saya ikhlas melakukannya."
"Tapi tugas suster Ana hanya merawat dan menjaga ibu dan juga Alamanda."
Suster Ana tergelak lirih. "Mengajari Alamanda tentang ilmu agama juga termasuk di dalam menjaga dan merawat Mbak. Jadi saya ikhlas melakukannya." Ana menggeser pandangan matanya ke arah jalan sempit di depan rumah dengan tatapan menerawang. "Ini adalah salah satu cara bagi saya untuk mendapatkan apa itu amal jariyah, Mbak."
__ADS_1
Seroja mengernyitkan dahi. Kosa kata asing yang baru sekali ia dengar. "Amal jariyah? Itu apa Sus?"
"Salah satu amal yang tidak akan terputus meski kita sudah meninggal, Mbak."
Sungguh tidak dapat dipahami, saat ini rasa ingin tahu dalam diri Seroja seakan muncul begitu saja. "Sus, bisa suster Ana jelaskan lebih detail?"
Masih sembari menatap jalan kecil yang berada di depan rumah, Ana menganggukkan kepala. "Ketika seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara yaitu, sedekahΒ jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, dan anak shalih yang selalu mendoakan orang tuanya."
Seroja masih terdiam, mencoba memahami apa yang diucapkan oleh Ana.
Suster Ana membuang nafas sedikit kasar dan raut mendung tiba-tiba menghiasi wajahnya. "Alamanda lah satu-satunya harapan bagi saya untuk memperoleh amal jariyah itu Mbak."
Seroja terkesiap. Dari ketiga perkara yang diucapkan oleh Ana sebelumnya, apa hubungannya dengan Alamanda. "Maksud suster bagaimana? Aku sungguh tidak paham."
Tanpa terduga, setetes kristal bening terjun bebas dari pelupuk mata Ana. "Ketika berumur dua puluh enam tahun, saya di vonis terkena kanker rahim. Oleh karena itu, dokter menyarankan saya untuk melakukan operasi pengangkatan rahim."
Kedua bola mata Seroja membulat sempurna. Telapak tangannya menutup bibirnya yang menganga. Tidak menyangka jika wanita berhati malaikat seperti suster Ana mengalami hal seperti itu.
Ana menganggukkan kepala sembari tersenyum getir. "Iya Mbak, saya sudah tidak memiliki rahim. Dari ketiga perkara itu, saya berharap apa yang saya ajarkan kepada Alamanda bisa menjadi amal jariyah yang tidak akan pernah terputus meski saya sudah meninggal."
Ana kembali menghela nafas dalam. "Saya tidak cukup memiliki harta untuk bisa bersedekah. Saya pun juga tidak akan pernah memiliki anak yang kelak bisa mendoakan saya. Namun ketika saya mengajari Alamanda tentang ilmu agama, inshaAllah saya akan mendapatkan pahala itu dan bisa menjadi bekal di kehidupan yang kekal nanti."
Deg....
Ada sesuatu yang tiba-tiba hadir ke salah satu bilik jantung milik Seroja. Hingga membuatnya merasakan sensasi denyut nyeri yang menikam. Kehidupan kekal? Kehidupan seperti apa yang dimaksud oleh perawat ini?
"Sus ... aku sungguh tidak paham."
Ana kembali menautkan tatapan matanya ke arah Seroja. Wanita itu hanya bisa mengulas senyum yang ia punya. "Suatu saat mbak Seroja pasti akan paham dengan apa yang saya ucapkan. Pastinya setelah hati mbak Seroja mendapatkan apa itu cahaya cinta dari Allah SWT."
Seroja hanya tersenyum getir. Entah, apakah masih ada cahaya cinta dari Tuhan yang kelak akan menyapanya.
__ADS_1
"Oh iya, ibu sedang apa Sus?"
"Ibu sedang tidur Mbak. Alhamdulillah beberapa hari terakhir ini, setelah saya rutin membaca Al-Quran di dekat bu Dahlia, emosi beliau bisa lebih terkontrol. Beliau jadi jarang mengamuk."
"Apa aku boleh melihat ibu, Sus?"
Suster Ana mengangguk. "Tentu boleh Mbak."
Seroja beranjak dari posisinya. Ia ayunkan langkah kakinya untuk memasuki kamar sang ibu. Pastinya untuk melepas rindu kepada wanita yang paling ia cinta itu.
ππππ
"Bagaimana Fer? Apakah pekerjaanmu berjalan sempurna?"
Di sebuah kafe dengan nuansa milenial, Rosmala memesan sebuah meja untuk ia jadikan tempat untuk bertemu dengan seseorang. Selepas bertemu dengan Seroja di taman, ia menitipkan Runa dan juga Roni ke rumah sang ibu dan kini ia berada di kafe ini untuk bertemu dengan orang itu.
Lelaki bernama Ferdi yang tak lain orang suruhan Rosmala yang bertugas mengintai pergerakan Seroja itu pun mengangguk mantap. "Bu Rosmala tenang saja. Saya sudah menjalankan apa yang bu Rosmala perintahkan dengan sempurna."
Senyum seringai terbit di bibir istri Randy itu. "Bagus, mulai sekarang, kita beri pelajaran perebut lelaki orang itu agar dia jera. Perlahan, kita saksikan dia tersiksa dengan teror-teror yang akan kita berikan." Rosmala menatap wajah Ferdi dengan lekat. "Sudah kamu pastikan bahwa tidak ada yang melihat pergerakanmu bukan?"
"Bu Rosmala tenang saja, semua aman terkendali."
Rosmala tersenyum penuh arti. Kali ini, ia akan membuktikan bahwa perebut lelaki orang memang pantas terhempas dan hidupnya akan berakhir mengenaskan.
Kita lihat, seberapa kuat kamu bertahan menjadi perebut lelaki orang, Seroja! Dengan kartu akses apartemen yang kamu tempati yang aku ambil diam-diam dari tas mas Randy, bisa membuat Ferdi bebas keluar masuk tempat tinggalmu. Dari sanalah kamu akan mulai mendapatkan teror dariku.
.
.
πππππ
__ADS_1