Cahaya Cinta Untuk Seroja

Cahaya Cinta Untuk Seroja
CCUS 74 : Terjebak


__ADS_3


Hujan masih turun dengan derasnya. Air langit itu seakan menunjukkan keberadaan mereka dengan cara membabi buta membasahi bumi manusia. Ditambah dengan sang bayu yang berhembus kencang, membuat pohon-pohon yang berada di sisi kanan kiri jalan, bergoyang dengan suara ranting dan dedaunan yang terdengar begitu memekakkan. Suasana seakan kian bertambah suram dan mencekam kala aliran-aliran arus listrik tidak terjangkau di tempat ini. Siapapun yang tengah melintas di sekitar tempat ini seketika pastilah akan bergidik ngeri.


Menggunakan mobil yang ia kendarai, Fakhru masih berusaha sekuat tenaga mungkin untuk dapat melintasi daerah ini. Jalanan yang berada di kawasan pegunungan, di mana medannya begitu sulit untuk ia taklukkan. Namun ia belum menyerah, ia masih berupaya untuk dapat menaklukkan jalanan yang ia lintasi ini.


Beberapa jam yang lalu, Fakhru baru saja pulang dari kediaman saudara Adiba yang tinggal di pelosok daerah. Dan kini, ketika masih berada di perjalanan, ia terjebak di dalam kondisi hujan lebat dengan sedikit badai. Suasana sekitar pun juga terasa begitu mencekam. Begitu gelap, karena aliran listrik di kawasan ini padam. Lelaki itupun harus ekstra hati-hati dalam mengemudikan mobil yang ia kendarai. Khawatir jika mungkin akan ada pohon yang tiba-tiba tumbang dan menghalangi laju kendaraannya.


Sekilas, Fakhru melirik ke arah samping di mana terlihat seorang gadis yang tengah lelap dalam buaian mimpinya. Gadis itu nampak begitu nyenyak dalam tidurnya, seakan tidak terpengaruh dengan medan yang dilalui oleh mobil ini. Di mana jalanan ini memperlihatkan kontur yang sedikit rusak karena banyak lubang yang menghiasinya, becek, dan licin akibat hujan deras yang mengguyur kawasan ini. Pemuda itupun hanya bisa melukiskan seutas senyum di bibirnya. Ia merasa ikut nyaman melihat wajah sang gadis yang juga terlihat begitu nyaman dan tanpa beban itu.


Setelah memandang paras gadis cantik yang tengah tertidur ini, pemuda itu kembali fokus ke arah depan untuk melanjutkan perjalannya.


Ckiiitttt....


"Astaghfirullahalazim..."


Decitan suara rem mobil yang diinjak secara mendadak, terdengar memekak telinga. Injakan pedal rem secara mendadak itu sukses membuat mobil sedikit berguncang. Bersyukur, tidak ada hal serius yang dialami oleh orang-orang yang berada di dalam mobil.


Merasakan ada sebuah guncangan, membuat Adiba yang masih berada di dalam mode terlelap itu sedikit terperanjat. Kelopak mata yang sebelumnya terpejam, kini perlahan mulai terbuka. Ia mengerjapkan mata, berupaya untuk meraih kesadarannya.


"Ada apa A'?" Ucap Adiba sembari membenahi posisi duduknya dan merapikan kerudung yang ia kenakan dan mengarahkan pandangan matanya ke arah Fakhru.


"Ada pohon tumbang yang menghalangi laju mobil yang kita kendarai ini, Diba!" Fakhru menjawab masih dengan lekat menatap keadaan di depannya.


Adiba menggeser sorot matanya ke titik yang ditatap lekat oleh Fakhru. Benar saja, sebatang pohon besar berkayu keras terlihat melintang menghalangi akses jalan ini.


"Astaghfirullahalazim .... jika seperti ini, tidak mungkin kita bisa melanjutkan perjalanan kita A'."


Dengan raut wajah yang dipenuhi oleh kekalutan, Adiba juga nampak begitu gusar. Tidak ia sangka, jika di tengah perjalanannya pulang, ia mengalami sebuah halangan seperti ini.


Fakhru mengangguk samar. "Sepertinya memang begitu, Diba. Tidak mungkin aku ataupun kita bisa menyingkirkan pohon yang tumbang ini. Pohon ini begitu besar dan pastinya kita harus meminta bantuan kepada orang-orang sekitar."


Sebuah analisa yang cukup masuk akal. Tidaklah mungkin pohon sebesar ini digeser ataupun dipindah oleh dua orang saja. Terlebih, kondisi hujan masih turun dengan derasnya. Pastinya akan semakin membuat keduanya semakin kerepotan jika harus menggeser pohon yang tumbang ini.


"Maafkan aku ya A'. Seandainya aku tidak memiliki rencana untuk mendatangi saudaraku yang berada di sini, pastinya kita tidak akan terjebak dalam situasi seperti ini. Aku benar-benar merasa bersalah."


Seakan digelayuti oleh perasaan tidak enak hati dan juga perasaan cemas yang menggerogoti, Diba menundukkan pandangannya dan memasang wajah sendu. Gadis itu merasa sangat bersalah karena rencananya inilah yang membuat dirinya dan Fakhru mengalami halangan seperti ini di tengah jalan.


Fakhru hanya mengulas sedikit senyum manis di bibirnya. Ia paham dengan apa yang dirasakan oleh gadis ini. Namun, sejatinya ini semua bukan merupakan kesalahan siapapun. Ini semua adalah sebuah keadaan yang tidak dapat diprediksi sebelumya.


"Kamu tidak perlu merasa bersalah seperti itu, Diba. Ini bukanlah kesalahanmu. Ini merupakan kondisi alam yang memang sedang tidak bersahabat. Dan mungkin berada di luar prediksi kita."


"Tapi A', seandainya saja kita tidak jadi mengunjungi saudaraku, pasti hal ini tidak akan pernah kita alami A'," masih menampilkan raut wajah yang dipenuhi oleh kesenduan, Diba tetap saja menyalahkan dirinya sendiri.


"Ssssttt ... istighfar, Diba! Tidak seharusnya kamu berkata seperti itu. Sesuatu yang menimpa diri kita sudah terlebih dahulu ditakdirkan untuk kita. Jadi kita tidak boleh menggunakan kata seandainya, atau apapun itu. Karena jika kita mengatakan hal semacam itu, kita sama saja menyalahkan Allah." Fakhru menghela nafas sedikit dalam dan perlahan ia hembuskan. "Sudah ya, tenangkan hatimu. Semua pasti akan baik-baik saja."


"Astaghfirullahalazim ... maafkan aku ya Rabb." Diba mengusap wajahnya sedikit kasar, ia sadar bahwa tidak sepantasnya ia mengatakan hal seperti itu. Karena bagaimanapun juga, semua yang ia alami merupakan takdir yang telah digariskan untuknya.

__ADS_1


"Lalu, sekarang kita harus bagaimana A'? Apa kita tetap menunggu di dalam mobil seperti ini hingga tiba esok hari?" sambung Diba sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Suasana gelap masih mendominasi, yang seakan membuatnya semakin bergidik ngeri.


Tak jauh berbeda dengan Diba, Fakhru juga mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Sorot matanya terhenti di sebuah bangunan yang sedikit lebih jauh telah ia lewati. Bangunan itu terletak di sisi kanan belakang mobil yang ia kendarai.


"Sepertinya itu ada rumah. Barangkali di sana ada penghuninya, Diba. Dan kita bisa minta bantuan."


Fakhru berujar sembari menunjuk ke arah sebuah bangunan yang jika dilihat dari tempatnya berada, seperti bangunan rumah yang terlihat sangat sederhana. Diba pun mengikuti ke mana arah telunjuk Fakhru, dan benar saja, tertangkap bayangan sebuah rumah yang berdiri di sana.


"Kita coba saja, A'. Barangkali memang ada penghuninya."


Sependapat dengan saran yang dilayangkan oleh Fakhru, Diba pun menyetujui apa yang diucapkan oleh pemuda itu. Mereka mengambil tas dan jaket masing-masing. Kemudian turun dari mobil dan mulai mengayunkan kaki mereka ke arah rumah itu.


Fakhru dan Diba menginjakkan kakinya tepat di bagian teras rumah ini. Sebuah bangunan yang nampak begitu sepi, sunyi dan terlihat gelap karena hanya ada bola lampu warna kuning yang berukuran 10 watt dan itupun dalam kondisi mati. Sebuah bangunan rumah yang sepertinya tidak berpenghuni karena kondisinya terlihat tidak terawat.


Tok... Tok... Tok....


"Assalamualaikum. Permisi, apakah ada orang di dalam?"


Tok... Tok... Tok....


"Assalamualaikum.....!"


Berkali-kali Fakhru dan Adiba mengetuk daun pintu yang ada di hadapan mereka ini. Namun sia-sia saja karena tidak ada seorang pun yang menjawab salam mereka. Tangan Fakhru terulur untuk menyentuh tuas pintu yang berbentuk bulat ini. Ia putar kenop pintu itu dan seketika pintu itu terbuka.


Fakhru dan Diba saling melempar pandangan. Seakan sama-sama terkejut karena pintu rumah ini sama sekali tidak terkunci.


Fakhru terlihat sejenak berpikir. Namun pada akhirnya, ia membuat sebuah keputusan. "Kita beristirahat di sini saja Diba. Coba kita masuk ke dalam, barangkali ada tempat untuk mengistirahatkan badanmu. Kasihan jika kamu beristirahat di dalam mobil."


Merasakan tubuhnya yang sudah teramat lelah dan disergap oleh rasa kantuk yang begitu mendera, tanpa berpikir panjang Diba pun menyetujui apa yang diusulkan oleh Fakhru. Lagipula, gadis itu sangat yakin jika Fakhru bisa menjaganya dan dirinya sendiri.


"Baiklah A', kita istirahat di dalam saja. Aku juga sudah sangat mengantuk."


Fakhru hanya mengulas sedikit senyumnya. Ia membuka tas yang ia bawa dan mengambil ponsel yang ada di dalam sana. Ia bermaksud untuk menghubungi Hakim dan orang tua Diba untuk memberi kabar bahwa saat ini ia masih terjebak di tempat ini.


"Ya Allah, ponselku mati. Rencananya aku ingin mengabari ustadz Hakim dan juga kedua orang tuamu, Diba. Agar mereka tahu bahwa saat ini kita ada di tempat ini."


"Coba pakai punyaku ya A'." Diba merogoh saku gamisnya bermaksud untuk mengambil ponsel yang ia simpan di sana. Dahi Diba mengerut kala di layar ponsel miliknya tidak ada signal yang terdeteksi.


"Ada apa Diba? Apakah ponsel kamu juga mati?" Fakhru bertanya dengan dahi yang sedikit mengernyit tatkala melihat perubahan raut wajah Diba yang seperti kebingungan.


"Hidup A', namun sama sekali tidak ada jaringan di tempat ini. Mungkin karena hujan badai seperti ini. Lalu, bagaimana bisa kita memberi kabar kepada keluarga kita?"


Fakhru kembali tersenyum simpul. "Ya sudah, tidak apa-apa Diba. Sekarang, lebih baik kamu beristirahat dulu. Semoga besok kita bisa minta tolong kepada orang-orang yang tinggal di sekitar sini."


"Baik A'."


Pada akhirnya, mereka membuka pintu yang tidak terkunci itu. Perlahan, mereka ayunkan langkah kaki mereka untuk memasuki bagian dalam rumah ini. Tidak ada apapun di dalam bangunan ini. Selain hanya, sebuah lincak yang berukuran sedikit lebih besar dan sebuah lincak yang berukuran hanya cukup untuk merebahkan satu orang.

__ADS_1


"Istirahatlah di lincak yang berukuran besar itu, Diba. Dan aku, akan beristirahat di lincak ini."


Fakhru memberikan sebuah instruksi kepada Diba sembari mendaratkan bokongnya di atas lincak yang berukuran lebih kecil.


"Baik A'."


Mengayunkan kakinya ke arah lincak yang berukuran lebih besar, Diba turut mendaratkan bokongnya di sana. Ia meletakkan tas yang ia bawa untuk ia jadikan bantal, dan gadis itupun mulai merebahkan tubuhnya di sana. Akibat diserang oleh rasa kantuk yang begitu mendera dan badan yang terasa begitu lelah, akhirnya gadis itu kembali terlelap dalam lautan mimpinya.


Sedangkan Fakhru, pemuda itu masih berupaya menahan rasa kantuknya. Meski tidak dapat ia pungkiri bahwa kedua kelopak matanya sudah terasa berat sekali. Berkali-kali pemuda itu menguap seakan menegaskan bahwa ia memang didera oleh rasa kantuk yang begitu hebat. Semilir angin yang berhembus dan menembus lubang-lubang ventilasi di rumah ini seakan kian membuat mata Fakhru terasa berat. Tak sanggup lagi untuk menahan rasa kantuknya, ia pun mulai merebahkan tubuhnya di atas lincak yang berbeda dengan lincak yang dipakai oleh Diba. Lelaki itupun, juga turut memeluk mimpi-mimpinya dan mencoba melepas letih yang ia rasa.


🍁🍁🍁🍁


"Ya Allah Bi, mengapa sampai sekarang Diba dan juga Fakhru belum juga tiba di rumah? Umi benar-benar khawatir Bi,"


Seakan diliputi oleh perasaan cemas dan khawatir yang terasa membelenggu jiwa, Aisyah berjalan mondar-mandir di depan teras rumah. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, namun sang anak belum juga tiba di rumah.


"Umi sudah mencoba menghubungi saudara Umi yang didatangi oleh Diba dan Fakhru?" ucap Abdul memastikan dan mencoba sedikit memangkas kecemasan yang dirasakan oleh sang istri.


Aisyah menganggukkan kepala. "Sudah Bi, katanya setelah shalat isya' mereka berpamitan untuk pulang. Namun empat jam lebih, mereka belum tiba juga Bi."


"Umi sudah mencoba menghubungi Fakhru atau Diba?"


Mencoba untuk mencari celah siapa yang bisa mereka hubungi, Abdul menanyakan perihal Diba ataupun Fakhru sendiri. Namun lagi-lagi sang istri hanya membuang nafas kasar dan menggelengkan kepala.


"Dua-duanya sudah Umi hubungi, Bi. Namun ponsel keduanya sama-sama tidak aktif. Bagaimana ini Bi? Umi benar-benar khawatir."


Abdul yang tengah duduk di kursi teras, mulai beranjak dari posisi duduknya. Ia mendekat ke arah sang istri dan memegang pundaknya. "Ibu yang tenang ya, jangan berpikir yang tidak-tidak. Hujan turun sangat lebat, bisa jadi Fakhru dan Diba sedang terjebak hujan. Ibu yang tenang ya."


Masih memasang raut wajah yang diliputi oleh kecemasan, Aisyah masih ingin menumpahkan kekhawatirannya. "T-Tapi Bi. Bagaimana kalau..."


"Ssstttt ... Umi jangan berbicara seperti itu. Ingat ya Mi, ucapan itu adalah doa. Jangan sampai segala keresahan yang dirasakan oleh Umi menjadi hal buruk yang terjadi kepada Diba dan Fakhru. Ada baiknya saat ini kita sama-sama berdoa, semoga Allah senantiasa melindungi anak-anak kita dari segala mara bahaya."


Mendengar semua kata-kata yang terlisan dari bibir sang suami, membuat Aisyah merasa sedikit lebih tenang. Ia pun hanya menganggukkan kepala lirih. Meski rasa cemas itu masih terasa begitu mendominasi namun ia berusaha untuk bisa sedikit lebih menenangkan diri.


"Ayo kita masuk, Bu. Kita tunggu Diba dan Fakhru di dalam. Semoga sebentar lagi mereka tiba di rumah."


Abdul menggandeng tangan Aisyah untuk ia giring masuk ke dalam rumah. Lelaki itu masih berupaya untuk menenangkan hati sang istri yang dilanda oleh kecemasan.


"Sudah, Ibu yang tenang ya. InshaAllah Fakhru dan Adiba akan kembali dalam keadaan selamat, tanpa kurang satu apapun. Setelah hujan reda, InshaAllah mereka akan tiba di rumah."


"Aamiin ya rabbal alamiin."


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2