
"Pak tunggu!"
Seorang laki-laki yang tengah melintas di sebuah trotoar sedikit terhenyak kala getaran gelombang suara seorang wanita tiba-tiba merembet masuk ke dalam indera pendengarannya. Ia yang berusaha secepat mungkin bisa menjauh dari tempat ini, justru langkah kakinya dipaksa berhenti karena suara wanita di balik punggungnya itu. Bunyi heels yang beradu dengan kontruksi trotoar ini terdengar semakin mendekat dan merapat ke arah lelaki itu.
Lelaki itu menghentikan derap langkah kakinya. Masih dalam posisi membelakangi Seroja, ia mencoba mengingat-ingat suara siapa yang ada di belakangnya ini. Namun, semakin ia berupaya keras untuk mengingat, justru kebuntuan yang ia dapatkan.
"Mengapa tergesa-gesa Pak? Sedari tadi, saya mencoba untuk memanggil Bapak, namun mengapa Bapak seolah tidak mendengar teriakan saya."
Seroja sedikit membungkukkan badannya. Telapak tangannya memegangi kedua lutut seakan didera oleh rasa pegal di kedua kakinya. Dadanya terlihat naik turun dengan alunan nafas yang tidak beraturan, sebagai pertanda bahwa ia benar-benar bekerja keras untuk bisa menyamakan langkah kakinya dengan lelaki yang kini tengah berdiri membelakanginya itu.
Perlahan, lelaki paruh baya itu membalikkan badan. Kedua bola matanya terbelalak dan membulat sempurna kala melihat siapa gerangan yang memanggilnya. Seorang wanita yang berusaha ia hindari mati-matian, saat ini justru berdiri di hadapannya.
Mati aku. Jika sudah bertemu dengan wanita ini, pasti aku akan diinterogasi. Haduh, alamat terbongkar semua rahasia pak Randy.
"Eh, mbak Seroja ya?"
Dengan kikuk, lelaki yang tak lain merupakan pemilik ruko yang ditempati oleh Seroja itu mencoba untuk mengawali pembicaraan.
Seroja mengulas senyum sembari mengangguk lirih. "Iya Pak, saya Seroja. Saya rasa belum lama kita berjumpa, jadi saya yakin Bapak masih mengingat saya."
Pemilik ruko itu tegelak lirih untuk menyembunyikan rasa gugup yang tiba-tiba menyerangnya. Gugup, karena bisa dipastikan setelah ini, apa yang ia sembunyikan pasti akan terbongkar.
"Mohon maaf ya Mbak, usia saya ini hampir memasuki separuh abad, jadi daya ingat saya sudah mulai menurun."
Penuturan pemilik ruko berhasil membuat Seroja terkekeh geli. "Mohon maaf Pak, saya sungguh tidak tahu jika usia Bapak hampir memasuki usia paruh baya. Namun, saya rasa Bapak masih bisa mengingat dengan jelas tentang semua kejadian tidak terduga yang saya alami belakangan ini. Tepatnya semenjak Bapak mengizinkan saya untuk menempati ruko milik Bapak."
Kan, kan, kan, benar bukan jika mbak Seroja ini bertanya perihal ruko. Jika sudah seperti ini aku harus bagaimana ya Allah? Ah sudahlah, lebih baik aku menceritakan semua saja perihal pak Randy. Lagipula, bukan hal yang baik menutup-nutupi semua ini.
Pemilik ruko itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kali ini ia benar-benar merasakan kegugupan yang luar biasa. "Tentu saja saya masih mengingatnya Mbak. Apakah ada sesuatu yang yang ingin mbak Seroja tanyakan?"
"Betul sekali Pak, ada banyak pertanyaan yang ingin saya tanyakan. Semoga Bapak dapat menjawabnya dengan jujur, tanpa ada yang ditutup-tutupi."
Ah, maafkan aku pak Randy, aku benar-benar tidak bermaksud untuk membongkar semua rahasia Bapak, namun ini harus aku lakukan.
"Baik Mbak, apa yang ingin Mbak Seroja tanyakan?"
Seroja menghela nafas dalam-dalam dan perlahan ia hembuskan. Rasanya, ia sudah sangat tidak sabar untuk segera mengetahui siapa orang baik yang berada di balik segala kenikmatan yang ia dapatkan ini. "Siapa yang bekerja sama dengan Bapak yang memberikan segala fasilitas yang saat ini saya nikmati. Mulai dari ruko, mesin-mesin jahit dan semua yang ada di dalam ruko itu?"
Pemilik ruko itu terhenyak seketika. Merasa posisinya sudah sama-sama tidak aman, ia pun memilih untuk mengatakan yang sebenarnya. "D-Dia adalah ... "
🍁🍁🍁🍁
"Apa Kak? Jadi mbak Seroja itu adik kak Hakim yang hilang di dua puluh tujuh tahun yang lalu?"
Di teras kediaman Adiba, Hakim, Fakhru, Abdul, Aisyah dan pastinya Adiba sendiri terlihat tengah berbincang-bincang sembari menikmati secangkir teh hangat yang telah tersaji. Baru saja, ketiga orang itu tiba di kediaman Abdul setelah keluar dari sebuah desa yang membuat Fakhru dan Adiba tidak pulang semalaman. Dan pastinya sebuah desa yang sebagian penduduknya hampir saja mengarak keduanya mengelilingi kampung akibat kesalahpahaman yang sempat terjadi.
__ADS_1
Hakim mengangguk pelan. "Betul Diba, Seroja adalah adik Kakak. Selama ini ia dibawa oleh bibi Dahlia."
"MashaAllah, ternyata aku dan mbak Seroja itu saudara sepupu. Sungguh takdir Allah yang tidak terduga sama sekali," ucap Adiba dengan raut wajah yang berbinar.
Semenjak pertama bertemu dengan Seroja, Adiba memang merasakan sesuatu yang berbeda. Di mata Adiba sendiri, Seroja memanglah seorang wanita yang baik. Sosok wanita yang penuh kelembutan dan siapapun yang berinteraksi secara langsung dengan wanita itu pastilah akan merasakan sebuah kenyamanan.
"Iya, Diba. Kak Hakim juga tidak pernah menyangka jika ternyata kami akan dipertemukan kembali setelah dua puluh tujuh tahun tidak bersama. Kebahagiaan yang kak Hakim rasakan bertambah berkali-kali lipat lagi di saat penantian ayah dan ibu berakhir indah seperti ini. Sungguh rencana Allah yang begitu indah."
"Rupa-rupanya keberadaan ustadz Hakim di tempat tinggal Seroja banyak membawa berkah untuk semuanya. Termasuk jalan bagi ustadz Hakim untuk bertemu dengan adik kandung ustadz Hakim sendiri," timpal Fakhru yang juga ikut berbahagia mendengar kabar ini.
Hakim menganggukkan kepalanya. "Alhamdulillah Fakhru, Allah memberikan bermacam-macam kenikmatan hidup seperti ini. Ini semua takdir indah yang telah dipersiapkan oleh Allah untuk keluarga ana."
"Aamiin ... semoga ustadz Hakim dan keluarga senantiasa berbahagia."
"Aamiin ya Rabbal alamiin ..."
"Tapi Kim, Dahlia selama ini memperlakukan Seroja dengan baik bukan? Dia merawat Seroja dengan penuh kasih sayang bukan? Paman benar-benar khawatir jika Dahlia tidak memperlakukan adikmu dengan baik. Karena sepertinya, Dahlia memiliki dendam pribadi terhadap ibu dan juga ayahmu."
Mendengar cerita Hakim, membuat memori otak Abdul berkelana di masa-masa yang telah lalu. Lelaki paruh baya itu paham betul dengan bagaimana cerita di masa lalu sang kakak dengan Dahlia. Tidak heran jika ia merasa khawatir jika Dahlia memperlakukan sang keponakan dengan tidak baik.
Hakim tersenyum getir. Karena pada kenyataannya selama ini Seroja diperlukan dengan tidak baik oleh sang bibi. Jika teringat akan kepelikan hidup yang dialami oleh Seroja, membuat jantungnya dihunus oleh sebilah pedang. "Tidak Paman. Selama ini Seroja diperlukan tidak baik oleh bibi Dahlia. Ada banyak kepelikan hidup yang dialami oleh Seroja. Namun alhamdulillah Seroja adalah wanita yang tangguh, sehingga ia bisa melewati ini semua dengan hati yang lapang."
"Astaghfirullah hal 'adziim ... Paman turut prihatin mendengarnya Kim. Semoga setelah ini, hanya ada kebahagiaan yang mengiringi langkah kaki Seroja."
"Aamiin Paman. InshaAllah setelah ini hanya ada kebahagiaan yang mengiringi langkah kaki Seroja."
🍁🍁🍁🍁
Mohon maaf mbak Seroja, saya tidak bisa memberitahu siapa nama orang baik itu. Namun saya akan memberikan sebuah alamat di mana orang baik itu berada. Dan jika mbak Seroja sudah tiba di sana, langsung bilang saja ingin bertemu dengan pimpinan perusahaan. Dengan begitu mbak Seroja akan tahu siapa orang baik yang telah membeli ruko milik saya untuk mbak Seroja dan yang membeli mesin-mesin jahit itu.
Ucapan pemilik ruko kembali terngiang-ngiang di telinga Seroja. Sebenarnya siapa orang baik itu sampai-sampai membuat pemilik ruko itu tetap merahasiakan namanya. Terlalu larut dalam pikirannya sendiri, sampai membuat Seroja tidak sadar jika sudah sampai di depan meja resepsionis.
"Selamat siang Kak. Selamat datang di PT. Giri Raga, ada yang bisa saya bantu?"
Seroja sedikit tersentak. Sapaan dari sang resepsionis membuat kesadarannya seakan ditarik paksa. "Siang Mbak. Maaf, bisakah saya bertemu dengan pimpinan perusahaan ini?"
"Apakah sudah ada janji, Kak?"
Seroja menggelengkan kepala. "Belum Mbak. Saya sama sekali belum memiliki janji. Apakah harus janjian terlebih dahulu?"
Resepsionis itu tersenyum manis. "Memang biasanya seperti itu Kak. Namun coba tunggu sebentar biar saya hubungi sekretaris yang berada di depan ruangan pak pimpinan. Barangkali beliau memang sedang tidak ada agenda apapun." Sang resepsionis memencet tombol telepon yang langsung terhubung langsung dengan sekretaris pimpinan. "Maaf, dengan Kak siapa?"
"Saya Seroja, Mbak. Seroja Ayu Anjani."
Resepsionis itu terlihat tengah berbincang dengan seseorang yang berada di seberang telepon kantor itu. Dan tak lama kemudian, ia pun mengakhiri panggilannya.
"Mbak Seroja silakan langsung naik ke lantai tiga ya. Bapak pimpinan sedang tidak ada agenda apapun, jadi mbak Seroja bisa langsung menemui beliau."
__ADS_1
"Baik Mbak. Terima kasih."
Dengan langkah lebar, Seroja mulai melangkahkan kakinya menuju sebuah lift yang akan mengantarkannya ke lantai tiga. Entah mengapa jantungnya berdegup kencang saat akan bertemu dengan orang baik yang selama ini telah diam-diam membantunya. Wanita itu sampai kebingungan bagaimana caranya untuk dia mengucapkan rasa terima kasihnya.
Lift itu berhenti tepat di lantai tidak. Seroja mulai menyusuri tiap-tiap lorong yang ada di lantai ini, hingga langkah kakinya berpijak di sebuah ruangan yang ia yakini sebagai ruangan pimpinan perusahaan.
"Mbak Seroja ya?"
Seroja menoleh ke arah sumber suara. Terlihat seorang wanita cantik dengan pakaian muslimah menyapanya.
"Iya Mbak, saya Seroja."
Sekretaris itu tersenyum simpul. "Silakan masuk, Mbak. Bapak pimpinan sudah menunggu mbak Seroja di dalam."
"Baik Mbak. Terima kasih."
Seroja memutar tumitnya untuk bisa memasuki ruangan pimpinan perusahaan ini. Perlahan, tangannya menarik tuas pintu dan tak memerlukan waktu lama, pintu itu terbuka. Dengan penuh kehati-hatian Seroja mulai memasuki ruangan ini. Sebuah ruangan yang terasa jauh lebih sejuk dan dingin daripada area luar. Dan sebuah ruangan yang didominasi oleh warna hitam dan abu-abu.
Sorot mata Seroja terhenti pada sesosok laki-laki yang tengah berdiri di depan jendela lebar yang saat ini posisi lelaki itu memunggungi Seroja. Seroja sedikit terhenyak kala melihat punggung lelaki itu. Di matanya, punggung itu nampak tidak asing.
"Assalamu'alaikum Pak. Saya Seroja. Maaf jika kedatangan saya mengganggu waktu yang Bapak miliki."
Lelaki itu tak bergeming sama sekali, ia tetap dalam posisinya. Tidak menggeser tubuhnya, ataupun menjawab salam yang diucapkan oleh Seroja. Hal itulah yang semakin membuat Seroja salah tingkah.
Seroja menghela nafas dalam. Berupaya untuk menghalau segala kegugupannya. "Saya di sini ingin mengucapkan terima kasih atas semua kebaikan yang telah Bapak berikan untuk saya melalui ruko dan mesin-mesin jahit yang bisa saya gunakan untuk membuka usaha konveksi. Sungguh, saya tidak tahu harus bagaimana untuk membalas semua kebaikan Bapak."
Hening, suasana ruangan ini masih saja terasa hening. Sang lelaki sama sekali tidak merubah posisinya. Ia masih mematung. Tak bergerak sedikitpun.
MashaAllah Sayang ... Aku sungguh-sungguh merindukanmu. Merindukan semua yang ada dalam dirimu. Bahkan saat ini aku masih belum siap untuk menampakkan wajahku di hadapanmu.
Keadaan inilah yang membuat Seroja semakin tersudut. Ia merasa kehadirannya mengganggu pimpinan perusahaan ini. Maka dari itu ia pun memutuskan untuk segera berpamitan.
"Sekali lagi saya ucapkan banyak terima kasih kepada Bapak atas semua kebaikan yang telah Bapak berikan untuk saya. Semoga Allah memberikan pahala yang berkali-kali lipat untuk Bapak. Sekali lagi saya mohonaaf jika kedatangan saya kemari mengganggu waktu yang Bapak miliki. Saya pamit terlebih dahulu."
Merasakan tidak mendapatkan respon yang baik dari sang pemilik perusahaan. Pada akhirnya Seroja memilih untuk berbalik badan. Perlahan, ia ayunkan kakinya untuk bisa keluar dari ruangan ini. Saat telapak tangannya hampir menyentuh tuas pintu....
"Sayang, tetaplah di sini! Jangan pergi!"
Jantung Seroja berdegup kencang kala suara lelaki itu merembet masuk ke dalam indera pendengarannya. Suara yang begitu familiar di telinganya karena selama satu tahun suara itulah yang menemani hari-harinya. Suara yang selalu mengeluarkan kata-kata cinta dan penuh kasih sayang yang membuatnya merasakan bagaimana dicintai.
Setetes kristal bening meluncur bebas dari jendela hati milik Seroja. Tidak salah lagi, suara itu merupakan suara seorang laki-laki yang begitu ia cintai. Seorang laki-laki yang sampai saat ini masih bertahta di dalam hati. Dan seorang laki-laki yang sampai kapanpun akan terus bersemayam di dalam hati.
Dengan perasaan bercampur aduk, Seroja memberanikan diri untuk membalikkan badan. Kepalanya masih menunduk, seakan belum siap untuk kembali menatap netra lelaki yang ada di hadapannya ini. Namun perlahan, ia mendongakkan kepala. Dan sosok lelaki tampan berdiri di depannya.
Bibir Seroja bergetar. Tidak hanya bibirnya saja. Kakinya pun juga bergetar hebat. Sungguh sebuah pertemuan dengan sang mantan suami yang benar-benar bisa memporak-porandakan hatinya. Selama ini, ia berupaya untuk melupakan Randy dan berusaha menghempas segala rasa yang masih ia miliki. Namun sungguh tak terduga, ternyata takdir mempertemukannya kembali dengan sosok laki-laki yang bahkan sampai saat ini masih bertahta merajai hati.
"M-Mas Randy...?"
__ADS_1
Randy menganggukkan kepalanya. "Assalamu'alaikum Seroja!"
🍁🍁🍁🍁🍁🍁