
"Sayang, jalannya pelan-pelan. Kamu sedang mengandung Sayang!"
Raut penuh ke khawatiran terlukis jelas di wajah Randy. Jantung lelaki itu berdesir kencang kala melihat polah tingkah sang istri. Istrinya ini nampak begitu bersemangat menyusuri jalanan berpaving block yang akan membawanya ke panti. Panti sosial karya wanita yang selama ini hanya menjadi mimpi, kini nyata terjadi. Menempati bekas tempat yang ia tinggali di masa kecil hingga berusia dua puluh tujuh tahun, kini bangunan itu tegak berdiri, menjadi sebuah panti sosial yang pastinya memiliki banyak manfaat untuk wanita-wanita yang tinggal di sekitar tempat ini. Sebutan lokalisasi yang sebelumnya melekat di kawasan ini, kini beralih menjadi kawasan berbalut nuansa religi.
Tidak hanya panti sosial karya wanita saja. Sebuah bangunan rumah singgah juga nampak kokoh berdiri. Rumah singgah yang digagas oleh Hakim untuk menampung para tuna wisma yang sama sekali tidak memiliki tempat tinggal. Di rumah singgah ini juga diadakan berbagai macam kegiatan untuk mengasah keterampilan yang mereka miliki. Tidak lupa, ilmu agama pun juga diselipkan di tempat ini. Setiap hari selepas shalat Isya dan shalat subuh, Hakim senantiasa menyempatkan diri mengisi kajian di tempat ini.
Kawasan yang sebelumnya dihiasi oleh gemerlap kesenangan dunia, kini berubah seratus delapan puluh derajat. Menjadikannya kawasan yang cenderung lebih mengingatkan mereka akan kehidupan di alam akhirat. Menuntun langkah kaki orang-orang yang berada di sekitar tempat ini ke jalan lurus yang sebelumnya tiada terarah dan tersesat.
"Cepat Mas, aku sungguh sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan mereka."
Angin yang berhembus kencang, mengayunkan balutan hijab lebar yang dikenakan oleh Seroja. Membuatnya berkibar seiring dengan belaian sang bayu. Daun-daun kering pun tak lagi mampu mengeratkan pelukannya dari sang ranting, hingga membuat mereka terbang terbawa angin.
Hap!!
Randy memeluk tubuh Seroja dari belakang. Dengan seperti itu, ia yakin bisa sedikit memelankan langkah kaki istrinya ini. Tidak ada hal lain yang membuat hati Randy cemas setengah mati selain keselamatan sang istri dan anak yang dikandungnya ini.
Seroja terkesiap. Kedua bola matanya membulat penuh kala merasakan tubuhnya terkunci oleh pelukan Randy. Bahkan ia teramat malu jika sampai ada orang lain yang melihat apa yang dilakukan oleh suaminya ini.
"Mas lepaskan, jangan seperti ini. Malu jika sampai dilihat oleh banyak orang."
Seroja sesekali mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Benar saja, orang-orang yang berlalu lalang di sekitar tempat ini hanya menatapnya dengan raut wajah yang sulit diartikan. Namun mereka nampak tersenyum-senyum seakan begitu memuji akan kemesraan yang terlihat di depan mata mereka ini.
"Tidak Sayang. Aku tidak akan melepaskanmu jika kamu masih berjalan cepat seperti ini. Aku baru akan melepaskanmu jika kamu berjalan pelan sambil aku gandeng."
Randy merasa harus bernegosiasi dengan istrinya ini. Jika tidak seperti itu, ia yakin jika Seroja akan melangkahkan kaki lebar dan tergesa-gesa seperti seorang wanita yang tidak sedang mengandung.
__ADS_1
Pada akhirnya, Seroja menganggukkan kepala. Ia merasa bahwa apa yang diucapkan oleh suaminya ini benar adanya. "Baiklah Mas. Aku tidak akan berlarian lagi."
Randy tersenyum simpul. Perlahan, ia lepaskan lilitan tubuhnya di tubuh Seroja. Meraih telapak tangan sang istri, dan menggenggam jemarinya dengan erat.
"Nah, kalau seperti ini kan manis dan pastinya bisa membuatku lebih tenang."
"Kamu ini bisa saja mencari alasan Mas. Katakan saja bila ingin aku gandeng."
"Hahaha itu memang benar Sayang. Aku harus menggandeng tanganmu, untuk memastikan keselamatanmu."
"Hmmm ... kamu ini terlalu banyak beralasan Mas."
Sepasang suami-istri itupun saling bergandengan tangan. Menyusuri jalanan yang akan mengantarkan mereka ke panti sosial karya wanita.
"Assalamu'alaikum semua, maaf atas keterlambatan saya ya."
"Waalaikumsalam mbak Seroja. Tidak apa-apa Mbak, kami juga baru saja tiba."
"Lalu, apa yang harus saya lakukan? Dan saya harus bagaimana ini? Saya merasa tidak pantas untuk berdiri di depan kamera seperti ini."
Baru sekali kedatangan tamu para awak media, membuat Seroja dilanda oleh kegugupan yang luar biasa. Bahkan tangannya terasa begitu dingin akibat kegugupan yang ia rasakan. Sedangkan Randy hanya berupaya tetap menggenggam erat jemari tangan sang istri. Mencoba untuk menghalau segala rasa rendah diri yang mungkin saja bersemayam di hati.
Salah satu pemburu berita yang kepalanya berbalut hijab itu hanya tersenyum tipis. "Mbak Seroja tinggal duduk di sana dan menjawab semua pertanyaan yang akan kami ajukan. Dan jika semisal ada pertanyaan dari kami yang sifatnya privasi, mbak Seroja tidak harus menjawabnya. Begitu ya Mbak."
Entah bagaimana ceritanya keberadaan panti ini terekspos oleh media. Padahal sejauh ini hanya ada pihak keluarga yang mengetahui siapa penggagas panti sosial karya wanita ini. Namun entah bagaimana ceritanya saat ini menjadi bahan berita yang cukup viral di media sosial.
"Baiklah, bisa kita mulai sekarang."
__ADS_1
Didampingi oleh Randy, Seroja duduk di sebuah kursi panjang yang terbuat dari kayu. Tak selang lama, wanita itu melakukan sesi wawancara dengan para pemburu berita yang akan disiarkan secara langsung di salah satu stasiun televisi.
🍁🍁🍁🍁
Bulir-bulir bening yang sebelumnya berkumpul di pelupuk mata Lily berjatuhan tiada henti kala jendela hatinya itu menatap layar kaca yang berada di hadapannya. Di dalam layar kaca itu terlihat dengan jelas wajah sang anak yang tengah berinteraksi secara langsung bersama pemburu berita.
"Yah, Ibu tidak menyangka jika putri kita akan sukses seperti saat ini. Seorang anak yang selama dua puluh tujuh tahun hidup terpisah dari kedua orang tuannya dan hidupnya dipenuhi oleh kepelikan, kini diburu oleh awak media akan keberadaannya yang menginspirasi."
Mukhlas yang duduk di samping sang istri juga tiada henti menerbitkan senyum termanis yang ia miliki. Hati lelaki paruh baya itu juga turut menghangat bisa melihat sang putri yang saat ini kehidupannya telah diliputi oleh kebahagiaan. Suami yang begitu mencintainya, dekapan hangat keluarga, dan juga kesuksesan dalam berkarya.
"Semua sudah menjadi skenario kehidupan dari Allah SWT, Bu. Kita tidak pernah tahu, akan apa yang terjadi kepada diri kita. Namun satu hal yang harus Ayah syukuri bahwa Allah memberikan hidayahNya untuk Seroja. Atas hidayah Allah itulah yang membuat putri kita sampai pada titik ini."
Lily menganggukkan kepala. Ia sependapat dengan apa yang diucapkan oleh suaminya ini. "Iya Yah, Ibu juga percaya bahwa apa yang saat ini terjadi pada Seroja merupakan salah satu cahaya cinta yang diberikan oleh Allah kepadanya. Wanita yang sebelumnya dipenuhi oleh luka, kini menjadi wanita yang dipenuhi oleh kebahagiaan yang nampak tidak akan pernah habis ditelan oleh masa."
"Setiap insan yang ada di dunia sejatinya mendapatkan kesempatan yang sama untuk berbenah dan menjemput hidayah. Dan alhamdulillah Allah yang maha membolak-balikan hati manusia, mengulurkan tanganNya untuk bisa membuat Seroja berbenah diri dari kegelapan hidup yang sebelumnya ia jalani."
Di dalam hati, Mukhlas mengucap syukur tiada henti. Hidup sang putri yang sebelumnya berada di dalam kegelapan, kini kegelapan itu sirna dan terganti oleh cahaya yang begitu terang. Kehadiran sang putri saat ini benar-benar bisa menjadi sumber inspirasi bagi wanita-wanita di luar sana yang mungkin juga memiliki cerita hidup yang dipenuhi oleh kepelikan seperti Seroja.
Allah memiliki hak penuh atas siapa saja yang terpilih untuk menerima kasih sayang dan hidayah dari-Nya. Bahkan seorang wanita malam yang mungkin dipandang sebelah mata dan dipandang rendah pun juga senantiasa memiliki kesempatan untuk berbenah diri serta mendapatkan cahaya cinta dari Allah SWT.
.
.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Aaaaaa... mohon maaf sekali karena novel ini sempat terbengkalai lama ya Kak.. Astaghfirullah saking ngebetnya pengen famous sampai rela bikin novel banyak di saat novel ini masih belum tamat. Eh hasilnya malah sama saja... Ya Allah, maafkan saya... 😌😌😌
__ADS_1
Untuk novel Seroja ini, inshaAllah tinggal tiga atau empat part lagi. Semoga saya bisa update secara rutin ya Kak.. Terima kasih banyak bagi yang masih setia dengan novel ini. Berkah selalu untuk kakak semua.