Cahaya Cinta Untuk Seroja

Cahaya Cinta Untuk Seroja
CCUS 27 : Takut


__ADS_3


"Aaaaaaaa!!!!"


Teriakan Seroja terdengar memenuhi langit-langit apartemen kala manik mata wanita itu membaca tulisan di sebuah cermin yang berada di depan pintu kamar mandi.


Niat untuk membersihkan diri akibat rasa gerah yang membuat lengket tubuhnya, sejenak ia urungkan dan justru berdiri terpaku di depan cermin. Dengan perasaan sedikit takut, Seroja mengayunkan langkah kakinya untuk bisa mendekat ke arah tulisan itu.


'Pelac*ur!! Nikmati detik-detik terakhirmu di dunia ini!'


Kata itulah yang tertulis di cermin yang berada di depan kamar mandi. Sebuah tulisan tangan menggunakan lipstick berwarna merah yang nampak begitu kontras dengan warna bening cermin ini.


Bulu kuduk Seroja seketika meremang. Ia bergidik ngeri dengan apa yang ia temukan setelah berkunjung ke rumah sang ibu. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, bertanya-tanya dalam hati siapa gerangan yang melakukan semua ini.


Ia raih sebuah kain yang ia basahi dengan air. Perlahan, ia bersihkan tulisan yang berada di dalam cermin itu. Pikirannya kembali berkelana tentang siapa yang bisa memasuki apartemen yang ia tempati ini. Sedangkan pemegang access card apartemen ini hanya dia dan Randy seorang.


Wanita itu berusaha mati-matian untuk mebuang jauh rasa penasarannya. Namun semakin ia mencoba menepis segala rasa penasaran itu justru semakin dibuat bertanya-tanya akan siapa yang melakukan ini semua.


Mungkinkah Randy? Jika memang Randy, apa maksud lelaki itu melakukannya? Ataukah mungkin ada seseorang yang diam-diam mengintainya? Dan bisa mendapatkan kartu akses memasuki kamar ini?


Seroja menggeleng-gelengkan kepala, berupaya untuk menghalau segala rasa takut yang mulai menjalar ke dalam tubuhnya. Ia berbalik badan. Melenggang menuju almari bermaksud untuk mengambil bathrobe yang lupa belum ia bawa ke kamar mandi.


"Aaaaaaaaa!!!!"


Lagi-lagi Seroja berteriak histeris. Tubuh yang sebelumnya berada di depan almari, kini mendadak berada di atas ranjang. Wanita itu terkejut setengah mati dan memilih untuk duduk meringkuk di depan head board ranjang sembari menutup wajahnya.


Bangkai burung dara dengan darah yang telah mengering tergantung di dalam almari pakaian Seroja. Hal itulah yang membuat wanita itu semakin ketakutan.


Rasa takut kian menjalar memenuhi aliran darahnya. Dua teror yang baru saja ia dapatkan semakin membuatnya yakin bahwa ada seseorang yang merencanakan semua ini.


Jantungnya kembali berdegup kencang. Bulu kuduknya semakin meremang. Ia edarkan pandangan matanya ke arah sekitar dan tidak ada kesan yang tertinggal selain kesan horror semata. Ia yang sebelumnya sedikitpun tidak merasa takut tinggal sendirian di apartemen ini, kini mendadak merasakan sebuah ketakutan yang tidak dapat ia kendalikan sama sekali.


Sorot matanya tak lepas dari keadaan sekeliling, tangan wanita itu meraih ponsel yang masih tersimpan di dalam tas. Gegas, ia menghubungi seseorang.


Panggilan via handphone...

__ADS_1


"Iya Sayang? Tumben jam segini kamu telepon?"


"Mas ... bisakah kamu datang ke apartemen? Aku takut Mas, aku takut!"


Dengan suara lirih dan sedikit bergetar, Seroja menghubungi Randy dan mencoba untuk mencurahkan segala rasa takutnya. Kedua bola mata wanita itu masih mengedar ke seluruh penjuru ruangan. Khawatir, jika peneror itu tiba-tiba masuk ke dalam apartemen ini.


"Takut? Takut apa Sayang? Ini masih sore lho Sayang. Dan biasanya kamu juga tidak pernah takut jika berada di apartemen bukan? Tapi mengapa saat ini kamu seperti ketakutan seperti itu?"


"Aku benar-benar takut Mas ... aku takut!"


"Ya ampun Sayang ... kamu itu sebenarnya kenapa? Apakah saat ini kamu merindukan aku dan menggunakan cara seperti ini untuk memintaku bermalam di apartemen? Kamu ini benar-benar menggemaskan, Sayang!"


Randy terdengar tergelak lirih. Nampaknya ia berpikir bahwa saat ini Seroja sedang berupaya untuk menggodanya. Menggoda dengan cara berpura-pura ketakutan agar bisa dikunjungi olehnya.


"Mas ... aku mohon, datanglah kemari Mas. Aku benar-benar takut sendirian. Ada orang yang menerorku Mas!"


"Apa? Menerormu? Maksud kamu apa Sayang?"


"Nanti kamu akan melihat secara langsung Mas. Yang jelas, malam ini temani aku di sini. Aku sungguh ketakutan Mas. Aku ketakutan."


"Oke, oke, oke. Aku akan segera ke apartemen, Sayang. Tunggu aku di sana ya!"


"Iya Sayang, iya. Aku siap-siap dulu."


Tuuttt... Tuuttt... Tuut...


🍁🍁🍁🍁


"Mau ke mana Mas?"


Rosmala yang tengah duduk santai di depan TV sedikit terkejut melihat sang suami yang tergesa-gesa menuruni anak tangga. Dahi wanita itu juga sedikit mengerut, karena sang suami telah berpakaian sedikit rapi di sore hari ini.


"Aku keluar dulu ya Ma. Ada urusan di luar sama teman lama." Randy celingak-celinguk ke arah sekitar. "Runa dan Roni kemana Ma? Mengapa mereka tidak terlihat?"


Cih ... bertemu teman lama? Teman lama atau teman tidur maksudmu Mas?

__ADS_1


Rosmala hanya mengulas sedikit senyumnya. "Oh ... anak-anak ada di rumah ibu, Mas. Mungkin besok baru akan di antar pulang oleh Jovan. Jadi malam ini mereka akan bermalam di sana."


Randy hanya mengangguk samar. "Baiklah kalau begitu Ma. Aku pergi dulu ya."


"Mas, tunggu!"


Baru tiga langkah Randy mengayunkan kaki, Rosmala memanggil nama sang suami. Randy berbalik badan namun tidak menggeser posisi tubuhnya.


"Ya Ma? Ada apa?"


Giliran Rosmala yang melangkahkan kakinya untuk bisa lebih dekat dengan sang suami. "Aku ikut ya Mas. Mumpung anak-anak bermalam di rumah ibu, kita bisa gunakan saat ini untuk quality time. Sudah lama sekali rasanya kita tidak jalan berdua Mas."


Rosmala mengampit lengan tangan Randy dan bergelayut manja di sana. Ia letakkan kepalanya di pundak Randy.


Randy terkesiap. Ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Ada rasa gugup yang tiba-tiba menyerangnya. Namun, sebisa mungkin ia menyembunyikan kegugupannya itu.


"Ma ... lain kali saja ya kita quality time. Saat ini aku sungguh harus pergi sendiri. Tidak enak karena temanku juga datang sendirian, tidak membawa pasangannya."


Jelas tidak membawa pasangan Mas. Karena sejatinya kalian lah sepasang kekasih gelap itu.


"Tapi aku ingin sekali ikut Mas. Setelah bertemu dengan temanmu kita bisa jalan-jalan di pinggir kota. Dan setelah itu kita bisa booking kamar hotel untuk bermalam."


Rosmala masih kekeuh untuk ikut kemana Randy pergi. Namun tetap saja ditolak oleh Randy.


"Ma, besok bisa kita agendakan untuk bermalam di hotel. Namun untuk kali ini biarkan aku datang menemui temanku sendirian ya."


Bibir Rosmala mengerucut. Raut wajahnya memancarkan ekspresi kesal yang mendalam. "Ahhhh ya sudah kalau begitu Mas. Kamu pergi saja sendiri. Tapi ingat ya. Besok kita harus quality time."


Randy tersenyum penuh arti. "Iya Ma. Besok kita menginap di hotel."


Pada akhirnya, Randy berhasil membujuk Rosmala agar tidak mengikuti kemana ia pergi. Randy ayunkan langkah kakinya untuk meninggalkan ruangan ini. Perlahan, bayang tubuh lelaki itu hilang di balik pintu.


Nikmati malam-malammu bersama ja*lang itu Mas! Besok, terimalah kejutan dariku. Dan untukmu Seroja, aku pastikan kamu akan berakhir mengenaskan!


.

__ADS_1


.


🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2