
Sementara itu, di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda, nampak seorang laki-laki tengah berdiri di depan jendela kamar sembari menikmati rinai air hujan yang turun dari langit. Hawa dingin yang dihadirkan oleh suasana malam ini seakan kian erat memeluk tubuh si lelaki, yang pada akhirnya hanya menyisakan sebuah sensasi rasa dingin yang terasa begitu menusuk-nusuk kulit.
Tangannya terulur untuk meraih secangkir cokelat panas yang ada di atas nakas. Dalam sekali sesapan, lelaki itu bisa merasakan tubuhnya yang sedikit lebih rileks. Harum aroma bijih kakao, seakan menjadi obat paling mujarab untuk menghalau segala kepenatan yang ia rasakan akhir-akhir ini.
Dia adalah Randy. Sudah sejak satu minggu belakangan, ia memutuskan untuk pulang ke rumah besar yang dulu ia tempati bersama ibu dan juga sang kakak. Sebelumnya ia tinggal di apartemen yang pernah menjadi tempat tinggalnya bersama sang pujaan hati. Namun, apartement itu seakan kian menenggelamkan tubuhnya ke dalam palung rindu. Rindu yang begitu hebat hanya kepada satu nama wanita, yaitu Seroja. Oleh karenanya, ia memutuskan untuk kembali ke rumah besar.
"Nak, kamu belum tidur?"
Gelombang suara seorang wanita yang tiba-tiba masuk ke kamar milik Randy, sukses membuyarkan pikiran lelaki itu yang entah sedang berkelana ke mana. Ia membalikkan badan, dan terlihat sang ibu yang masih setia berada di atas kursi roda, di dorong oleh seorang perawat, memasuki kamarnya.
"Belum, Bu. Randy belum mengantuk," ucapnya sembari mendekat ke arah sang ibu.
Wanita paruh baya itu mengulas sedikit senyumnya. "Sus, Suster boleh kembali ke kamar. Aku masih ingin berada di sini. Nanti, biarkan Randy yang mengantarkanku ke kamar."
Suster itu mengangguk patuh akan instruksi yang diucapkan oleh ibunda Randy. "Baik Bu, saya permisi."
Perawat itu mengayunkan langkah kakinya untuk meninggalkan kamar Randy. Dan kini, hanya tersisa Randy dan sang ibu.
"Nak, bisa bawa Ibu ke dekat jendela? Ibu ingin melihat hujan dari balik jendela."
Tanpa berucap sepatah katapun, Randy mulai mendorong kursi roda yang masih menjadi teman setia sang ibu yang sudah memasuki usia paruh baya ini. Ia dekatkan kursi roda sang ibu di dekat jendela lebar yang ada di dalam kamarnya.
"Seperti ini Bu?" ucap Randy sembari meminta pendapat sang ibu agar sesuai dengan apa yang ia inginkan.
Wanita paruh baya itu menganggukkan kepala. "Iya Ran, seperti ini sudah cukup bagi Ibu untuk bisa melihat rinai air hujan yang jatuh dari langit."
__ADS_1
Ibunda Randy menatap lekat air hujan yang kian deras menjatuhkan tubuh mereka di bumi manusia. Sesekali, ia hirup aroma tanah basah yang terasa begitu menyegarkan. Ia hembuskan nafas perlahan, dan seketika kesejukan terasa mengaliri aliran dalam darahnya.
"Ibu minta maaf kepadamu Nak. Karena selama ini, secara tidak langsung, Ibu telah merenggut apa yang menjadi kebahagiaanmu."
Dahi Randy sedikit mengerut, tidak paham dengan apa yang diucapkan oleh ibundanya ini. Masih sambil berdiri tegap di sisi sang ibu, lelaki itu pun memasang wajah penuh tanda tanya di hadapan wanita yang melahirkannya ini. "Ibu bicara apa? Randy sungguh tidak paham."
Masih sembari menatap air langit yang turun dengan deras, pandangan wanita paruh baya itu terlihat sedikit menerawang. "Maafkan Ibu karena telah memaksamu untuk menikahi Rosmala, Nak. Ibu benar-benar bersalah kepadamu."
Ibunda Randy menyeka bulir-bulir bening yang mulai berjatuhan dari pelupuk matanya. Hatinya seakan kian berdenyut nyeri saat membayangkan bagaimana tersiksanya hati sang putra ketika menjalani sebuah pernikahan yang dipaksakan. Tanpa ada cinta, dan tanpa saling mengenal satu sama lain sebelumnya. Dan yang lebih menyesakkan lagi, putranya ini berkorban demi menjaga nama baik keluarga besar. Wanita paruh baya itu semakin merasa bersalah karena telah merenggut kebahagiaan sang putra.
"Ibu mendengar kabar bahwa kamu sudah menceraikan Rosmala. Kini, Ibu serahkan sepenuhnya kepadamu Nak. Carilah kembali wanita yang kamu cintai dan segeralah pertemukan Ibu dengannya!"
Randy semakin terperangah. Jika mencerna kalimat demi kalimat yang terucap dari bibir sang ibu, beliau sudah mengetahui bahwa ia memang sudah memiliki seorang wanita yang begitu ia cinta.
Randy menggeser sedikit tubuhnya. Kini, ia mengambil posisi berjongkok di hadapan sang ibu dengan menggunakan lutut sebagai tumpuannya. "Ibu, apakah Ibu sudah mengetahui bahwa ...."
Tubuh Randy seakan kian terperanjat. Ia benar-benar tidak mengerti bagaimana caranya sang Ibu mengetahui perihal pernikahan sirinya dengan Seroja. Karena sejatinya, anggota keluarganya tidak ada yang mengetahui perihal itu. "B-bagaimana Ibu bisa mengetahui akan hal itu?"
Ibunda Randy hanya mengulas sedikit senyum tipis di bibirnya. "Ibu sengaja menyuruh seseorang untuk tinggal di sebelah apartement milikmu. Sampai pada suatu saat, tepatnya malam itu, ketika kamu, Rosmala dan seorang wanita cantik terlibat dalam sebuah pertengkaran, ia mendapatkan informasi bahwa kamu memiliki istri siri. Hal itulah yang ia sampaikan kepada Ibu."
"Ibu..."
Suara Randy tercekat di dalam tenggorokan. Ia benar-benar tidak tahu harus berkata apa.
Ibunda Randy mengecup kening sang putra dengan intens. "Bawa kembali wanita yang kamu cintai itu Nak. Dan perkenalkan kepada Ibu. Ibu ingin tahu, wanita seperti apa yang berhasil membuat putra ibu ini jatuh hati untuk pertama kali."
Setetes bulir bening terjun bebas dari pelupuk mata Randy. Hatinya tetiba diserang oleh gejolak rasa yang sungguh sangat sulit untuk ia jabarkan. "Dia wanita yang sangat cantik, Ibu. Hatinya pun juga begitu mulia. Dia, adalah wanita paling sempurna yang pernah Randy temukan. Dan sepertinya sampai kapanpun akan tetap menjadi ratu di istana hati Randy."
__ADS_1
"Segeralah bawa kemari Nak. Ibu benar-benar ingin segera bertemu dengannya!"
Randy menggeleng samar sembari menundukkan kepalanya. "Mungkin akan sangat sulit, Bu. Saat ini Randy tengah berbenah untuk bisa menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi. Randy ingin memantaskan diri terlebih dahulu sebelum Randy memintanya untuk kembali ke hidup Randy. Semoga Allah masih memberikan kesempatan itu."
Dahi ibunda Randy sedikit mengerut. "Jika kamu tidak mendekatinya, lalu bagaimana mungkin kamu bisa kembali merengkuhnya untuk berada di dalam dekapanmu Nak? Dan bagaimana caranya kalian bisa kembali bersama?"
Randy mendongakkan kepala. Ia kecup buku-buku jemari sang ibu dengan lekat. "Randy hanya mencoba percaya pada sebuah ungkapan, jika dua manusia ditakdirkan untuk berjodoh, sejauh apapun jarak diantara keduanya, pasti suatu saat takdir akan mempertemukan mereka kembali. Namun, jika dua manusia ditakdirkan tidak berjodoh, sedekat apapun mereka, pasti akan berpisah jua. Saat ini Randy hanya bisa terus berdoa semoga Randy masih berjodoh dengan wanita itu."
Ibunda Randy menepuk-nepuk pundak sang putra dengan lembut. "Ibu akan senantiasa berdoa untuk kebahagiaanmu, Nak."
"Terima kasih, Ibu!"
Wanita paruh baya itu menyunggingkan sedikit senyumnya. "Lalu, siapa nama wanita yang begitu kamu cintai itu?"
"Namanya, Seroja Ayu Anjani, Ibu!"
"Sungguh sebuah nama yang begitu cantik. Paras wanita bernama Seroja itu, pastinya juga cantik pula."
Randy menganggukkan kepala dengan binar kebahagiaan yang terlihat begitu kentara. "Itu sudah pasti, Bu. Seperti namanya, Seroja bak sekuntum bunga yang benar-benar telah berhasil menarik perhatian dan kasih sayang yang Randy miliki."
.
.
🍁🍁🍁
Hihihihi hihihi segini dulu ya Kak... Mohon maaf jika banyak typo yang bertebaran... 😘😘😘
__ADS_1