
Senyum manis tiada henti merekah di bibir seorang laki-laki yang kini tengah duduk di kursi kebesaran sembari memainkan jemari tangan di atas papan keyboard laptop yang berada di hadapan. Meski pikirannya harus terbelah antara pekerjaan dan sosok seorang wanita yang begitu ia cinta, namun suasana hati miliknya saat ini sedang begitu bahagia. Sehingga apabila ia harus membagi pikirannya dengan berbagai permasalahan hidup yang ia lalui pastinya sama sekali tidak akan mempengaruhi konsentrasinya. Ya, buncahan-buncahan kebahagiaan itu nampak tergambar jelas di gurat wajah tampan nan rupawan yang ia miliki.
Jika kamu memang memiliki niat baik untuk kembali merengkuhku ke dalam pelukanmu, silakan bertemu secara langsung dengan kedua orangtuaku, Mas. Mintalah izin kepada mereka. Jika mereka memberikan izin dan memberikan restu, inshaAllah aku akan menyambut niat baikmu. Semoga Allah senantiasa memberikan yang terbaik untuk kita.
Satu minggu setelah pertemuannya kembali dengan sang kekasih hati, pagi tadi Seroja bertandang ke kantor miliknya. Ia berpikir jika Seroja akan segera memberikan kepastian dan jawaban, namun ternyata ia memintanya secara langsung untuk bertemu dengan kedua orang tuanya.
"Jujur saat ini aku benar-benar merasa gugup Sayang. Aku memang bahagia namun tidak bisa aku ingkari bahwa aku gugup untuk bertemu secara langsung dengan kedua orang tuamu. Dan ahh, masih banyak pertanyaan yang ada di dalam kepalaku. Selama ini yang aku tahu, kamu hanya tinggal bersama ibu, adik, dan juga suster Ana. Namun mengapa tiba-tiba kamu mengatakan bahwa kamu memiliki kedua orang tua? Sebenarnya apa yang terjadi kepadamu Sayang?"
Randy sibuk bermonolog lirih. Baru satu bulan ia terpisah dari sang mantan istri, rupa-rupanya ada banyak hal yang terjadi dengan mantan istrinya itu. Namun setelah ini, Randy yakin bahwa ia akan mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi.
Randy menghentikan aktivitas jemarinya di atas papan keyboard. Sedikit ia geser tangannya untuk membuka laci meja kerjanya. Tangannya terulur untuk mengambil sesuatu dari dalam laci itu dan nampak sebuah kotak beludru berwarna merah ada di dalam genggaman tangannya. Perlahan, ia buka kotak itu, dan nampak dua cincin emas putih berada di dalam sana.
Seutas senyum manis kembali terbit di bibir Randy. Kehadiran Seroja benar-benar telah bisa mengubah dunianya. Ia benar-benar bersyukur karena bisa kembali merasakan apa itu bahagia.
Ia pandang lekat cincin itu. "Semoga kehadiranku bisa diterima baik oleh keluargamu, Sayang. Aku sungguh sudah tidak sabar untuk menunggu datangnya nanti malam. Nanti malam, aku akan datang ke rumahmu. Untuk memintamu menjadi pendamping hidupku secara langsung di depan ibu dan ayahmu. Aku hanya bisa berdoa semoga Allah senantiasa memberikan jalan yang mudah untuk kita berdua."
Tok.. Tok... Tok...
Suara ketukan pintu seketika membuyarkan pikiran Randy yang tengah berkelana. Matanya sedikit mengerjab berupaya untuk meraih kesadarannya. Sedikit, ia benahi posisi duduknya.
"Ya, masuk!"
Pintu ruangan terbuka, dan terlihat sang sekretaris memasuki ruangan Randy.
"Hanya sekedar mengingatkan, selepas jam makan siang pak Randy ada agenda bertemu dengan relasi di rumah makan 'embun pagi'. Setelah itu, agenda pak Randy free sampai malam hari. Dan di jam delapan malam, pak Randy ada undangan untuk menghadiri resepsi pernikahan putra bapak Adam di hotel 'Merona'.
"Baiklah Wen, selepas dzuhur aku akan bersiap-siap. Namun untuk nanti malam, tolong datang ke resepsi pernikahan putra bapak Adam, gantikan aku. Malam ini, aku ada acara yang sangat penting sehingga tidak bisa menghadiri undangan pak Adam."
Sang sekretaris mengangguk patuh. "Baik Pak, nanti malam saya akan datang untuk menggantikan pak Randy. Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu."
__ADS_1
Sang sekretaris memutar tumit untuk bersegera meninggalkan ruangan Randy. Namun baru beberapa langkah ia mengayunkan kakinya....
"Wen tunggu!"
Weni membalikkan badan. "Ya Pak? Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Tolong pesankan makanan yang paling enak di sekitar sini."
Weni mengerutkan keningnya. "Pesan makanan untuk apa Pak?"
"Bukan untuk apa-apa. Hanya untuk makan siang seluruh karyawan yang ada di sini. Ingat ya, semua yang ada di sini harus kebagian. Jangan sampai ada yang terlewat."
Eh, ada apa dengan pak Randy? Mengapa tiba-tiba ia ingin dipesankan makan siang untuk seluruh karyawan. Dan oh, aku lihat wajah pak Randy nampak berseri-seri. Ada apa gerangan?
Weni yang berdiri terpaku tak bergeming sedikitpun justru hanya menyisakan sebuah tanda tanya besar di dalam kepala Randy. Lelaki itu teramat penasaran dengan apa yang terjadi kepada sekretarisnya ini.
"Wen, Weni! Mengapa kamu malah melamun seperti itu? Apa yang sedang kamu pikirkan?"
Ucapan Randy sukses membuat Weni terkesiap. Ia pun menautkan pandangan matanya ke arah sang bos. "Ah, tidak apa-apa Pak. Saya hanya sedikit merasa heran melihat Pak Randy yang hari ini nampak begitu bahagia. Terlihat sangat jauh berbeda dari hari-hari biasanya."
Weni ikut tergelak lirih. "Aamiin, semoga pak Randy senantiasa berbahagia."
"Aamiin ya rabbal alamin."
🍁🍁🍁🍁
Malam bertabur bintang yang berkedip di kanvas langit. Dengan seberkas cahaya lembut sang rembulan, seakan menambah pesona keindahan langit malam ini. Mereka seakan saling bercengkerama satu sama lain, tidak ingin kalah dengan segala aktivitas di muka bumi.
"Nak, sebenarnya siapa lelaki itu? Mengapa sampai saat ini kamu sama sekali tidak memberitahu Ayah ataupun ibu perihal nama lelaki yang akan bertandang kemari?"
Mukhlas yang tengah duduk di sebuah kursi kayu di ruang tamu, benar-benar penasaran akan siapa lelaki yang berkali-kali diceritakan oleh sang putri. Meski Seroja bercerita sekilas tentang lelaki itu namun sampai saat ini, nama lelaki itu masih dirahasiakan oleh sang putri. Hal itulah yang membuatnya begitu penasaran.
__ADS_1
Dengan balutan gamis modern berbahan satin dan kain tile warna peach, Seroja hanya tersenyum simpul kala mendengar sang ayah memaksanya untuk memberitahu siapa nama lelaki yang akan datang kemari malam ini.
"Sabar ya Yah, sebentar lagi lelaki itu akan segera tiba. Jadi Ayah bisa langsung bertemu dengannya."
"Sama seperti ayahmu, Sayang, Ibu pun juga begitu penasaran. Apakah kamu tidak berniat untuk memberikan sedikit bocoran?" timpal Lily yang juga ikut memaksa Seroja untuk memberitahunya.
"Sabar ya Yah, Bu. InshaAllah sebentar lagi Ayah dan Ibu akan mengetahui tentang siapa lelaki itu."
"Kakak lihat, kamu begitu bahagia menyambut kedatangan lelaki itu Dek? Apakah kamu benar-benar mencintainya?" sambung Hakim yang juga tidak ingin kalah untuk ikut terlibat dalam obrolan ini.
Seroja hanya menunduk malu. "Seroja memang mencintai lelaki itu Kak, namun saat ini Seroja kembalikan kepada ayah, ibu dan juga kak Hakim. Jika semuanya memberikan restu dan ridho, Seroja akan sangat bersyukur sekali. Namun jika tidak, Seroja pun juga akan ikhlas untuk melepaskannya."
Mukhlas, Lily dan Hakim saling melempar pandangan. Mungkin dalam benak mereka memikirkan hal yang sama. Bagaimana mungkin Seroja menyerahkan sepenuhnya kepada orang lain, padahal yang akan menjalani kehidupan setelah ini adalah ia sendiri.
"Dek, jika memang kamu sudah memantapkan hati dan kamu merasa itu yang terbaik, kami hanya bisa memberikan restu untukmu. Asalkan lelaki itu memiliki akhlak yang baik, bertaqwa kepada Allah, dan bertanggung jawab, inshaAllah kak Hakim, ayah dan ibu akan merestuimu."
"InshaAllah Kak, inshaAllah lelaki yang akan datang kemari adalah lelaki yang seperti itu. Kami memang sedang berupaya untuk berbenah diri. Doakan agar kami dapat senantiasa istiqomah ya Kak."
"Aamiin ya Rabbal alamin."
Tok... Tok... Tok...
*Assalamualaikum..."
Terdengar suara pintu diketuk dan ucapan salam dari arah luar. Wajah Seroja kembali berbinar. Ia paham betul siapa pemilik suara bariton itu.
"Ayah, Ibu, kak Hakim, ia sudah datang. Mari kita ke sana!"
.
.
__ADS_1
. 🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Kira-kira Randy diterima oleh Mukhlas, Lily dan juga Hakim tidak ya??? Hihihihi hihihihi tunggu episode selanjutnya ya Kak❤️❤️