Cahaya Cinta Untuk Seroja

Cahaya Cinta Untuk Seroja
CCUS 70 : Membuka Tabir


__ADS_3


Masa Sekarang...


Tubuh Lily yang berdiri di ambang pintu kamar yang ditempati oleh Dahlia itu bergetar hebat. Kedua bola matanya terbelalak dan membulat sempurna. Kedua telapak tangannya ia gunakan untuk menutupi bibirnya yang menganga lebar. Seakan semakin mempertegas bahwa saat ini, ia benar-benar terkejut setengah mati.


Setelah dua puluh tujuh tahun diombang-ambingkan oleh keadaan yang menyeretnya ke dalam arus pesimistis akan keberadaan sang kakak, pada akhirnya, malam ini ia bisa bertatap netra secara langsung dengan Dahlia. Semua rasa bercampur menjadi satu, kala kepingan-kepingan memori itu kembali berkeliaran di dalam otaknya.


Kepingan-kepingan memori yang menjadi awal dari gelombang ujian terhebat yang pernah menyapa kehidupannya. Bulir-bulir bening itu mengalir deras dari pelupuk mata Lily yang sudah nampak sedikit berkeriput. Tulang-tulang tubuhnya seakan melemas seketika. Antara percaya dan tidak percaya karena pada akhirnya ia dan sang kakak bisa kembali berjumpa.


Perlahan, Lily mengayunkan langkah kakinya. Bergerak, mendekat, dan merapatkan tubuhnya ke arah raga yang tengah terbaring di atas ranjang. Lily menatap nanar wajah wanita yang tak lain tak bukan adalah kakaknya ini. Ada sebentuk amarah yang membelenggu jiwa jika mengingat apa yang telah sang kakak lakukan terhadapnya. Namun, amarah itu seakan sirna saat wajah pucat pasi yang dipenuhi oleh keriput-keriput itu menghiasi bingkai wajahnya yang sudah tidak lagi muda.


Dada Lily terasa semakin kian bergemuruh. Saat ia mencoba untuk melepaskan lilitan-lilitan amarah itu dari dalam bilik jantungnya. Mencoba mengurai, dan ia ganti dengan keikhlasan. Sudah tidak kuasa lagi menahan gejolak-gejolak rasa dalam dada, pada akhirnya Lily meluruhkan tubuhnya di atas lantai dan terduduk di samping ranjang Dahlia. Wanita yang suda memasuki usia paruh baya itu menangis di sana. Suara tangis itu terdengar begitu lirih, namun tetap saja memilukan hati.


Sorot mata Dahlia menatap tajam wanita yang saat ini tengah terduduk lunglai di atas lantai ini. Lama ia menatap wajah Lily dengan dahi sedikit mengerut. Ia seperti sedang mencona mengingat-ingat sesuatu.


"Li-Ly..."


Pada akhirnya nama itu lolos dari bibir Dahlia. Getaran lirih suara Dahlia, sukses memaksa Lily untuk menoleh ke arah sumber suara. Ia pun menyeka derai air mata yang masih saja bergelayut manja di tulang-tulang pipinya.


"Kak Dahlia ... mengapa kamu tega melakukan ini semua ini terhadapku? Mengapa kamu tega membawa pergi putriku? Mengapa Kak? Mengapa?"


Sudah tidak tahan dengan dorongan-dorongan rasa ingin tahu akan alasan apa yang membuat Dahlia tega memisahkannya dengan sang putri, Lily memberondong Dahlia dengan pertanyaan yang dipenuhi oleh intimidasi. Tanpa ia tahu bahwa saat ini sang kakak tengah mengalami gangguan kejiwaan dan tidak mudah untuk berkomunikasi dengan orang lain.


Dahlia masih tetap tak bergeming sedikitpun. Hanya sorot netra nya lah yang berbahasa jika ia tengah berada di dalam kubangan rasa sesal.


"Katakan kepadaku Kak! Katakan kepadaku! Di mana putriku? Dan jangan membisu seperti ini!"


Melihat Dahlia tanpa menampakkan ekspresi wajah sedikitpun membuat Lily semakin tiada terkendali. Ia mengguncang-guncang tubuh sang kakak agar segera menjawab apa yang ia tanyakan.


Hening. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Dahlia. Ia masih menatap lekat kedua bola mata Lily dengan tatapan sulit terbaca. Namun tak selang lama, setetes kristal bening dari pelupuk mata Dahlia terjun bebas.

__ADS_1


"S-Seroja ... "


Lily terkesiap. "Seroja? Siapa Seroja Kak? Katakan kepadaku siapa Seroja? Katakan!"


"Seroja..."


"Apakah Seroja adalah putriku yang telah kamu ambil? Apakah Seroja adalah anak yang sejak dua puluh tujuh tahun yang lalu kamu bawa lari? Katakan kepadaku kak Lia! Katakan kepadaku!"


Tanpa Lily sadari, teriakannya menggema memenuhi langit-langit rumah yang sempit ini. Hal itulah yang membuat orang-orang yang berada di ruang depan saling melempar pandangan. Terlebih Lily yang sebelumnya izin untuk ke kamar mandi tak kunjung kembali.


"Yah, itu seperti suara Ibu. Ada apa ya Yah?"


Hakim yang paham betul dengan suara sang ibu, mendadak dibuat terkejut akan teriakan yang terdengar dari salah satu kamar yang berada di rumah ini. Hatinya diliputi oleh rasa cemas yang tetiba menyerang dan menyergap. Hal itu nampak dari raut wajahnya yang memancarkan aura kecemasan. Sedangkan Seroja dan Ana juga hanya bisa saling bertatap netra.


Mukhlas bangkit dari posisi duduknya. "Nak Seroja, nak Ana, Bapak izin ke dalam ya. Bapak khawatir jika terjadi sesuatu kepada ibu."


"Tidak mengapa Pak. Silakan masuk saja!"


Dua lelaki berbeda generasi itu mulai menjejakkan langkah kaki mereka untuk menyusuri setiap ruang yang berada di dalam rumah ini. Hingga pada akhirnya di saat kedua orang itu sampai di depan sebuah kamar, teriakan Lily semakin jelas terdengar. Membuat Mukhlas dan Hakim pun semakin yakin bahwa wanita yang mereka cari berada di dalam kamar ini.


Perlahan, tangan Mukhlas menyibak kain gordyn yang menutupi kusen pintu di hadapan mereka ini. Betapa terkejutnya ia saat mendapati sang istri yang terduduk di atas lantai sembari sesenggukan menahan isak tangisnya.


Namun, sebelum Mukhlas lebih mendekat ke arah sang istri, pandangan matanya terhenti pada satu titik. Satu titik di mana ada seorang wanita yang tengah terbaring di atas ranjang. Sama seperti ekspresi wajah yang ditampakkan oleh sang istri, kedua bola mata Mukhlas pun ikut terbelalak dan membulat sempurna. Bibirnya juga menganga lebar kala mendapati sosok wanita yang ia cari selama dua puluh tujuh tahun, kini ada di depan matanya.


"Dahlia!"


🍁🍁🍁🍁🍁


Suasana yang sebelumnya dipenuhi oleh riuh tawa bahagia, kini berubah menjadi suasana yang dipenuhi oleh keharuan yang terasa begitu kentara. Lily berdiri di sudut kamar sembari memeluk tubuh Mukhlas dan menumpahkan titik-titik air yang mengalir dari telaga beningnya. Dengan penuh kasih dan cinta kasih, Mukhlas mengusap-usap punggung sang istri untuk bisa menenangkannya.


"Bapak, Ibu, ustadz Hakim, ini ada apa? Mengapa semua berkumpul di kamar ibu saya?"

__ADS_1


Seroja sedikit keheranan karena sejak Mukhlas dan Hakim meminta izin untuk menyusul Lily, mereka tidak kunjung kembali ke ruang tamu. Hingga membuat Seroja memutuskan untuk menyusul mereka.


Hati Lily sedikit tercubit kala mendengar ucapan Seroja yang mengatakan bahwa Dahlia adalah ibunya. Tanpa Seroja tahu, bahwa sejatinya ibu yang melahirkan ia ke dunia bukanlah Dahlia, namun dirinya.


"Mas ..."


Suara Lily seakan tercekat di dalam tenggorokan. Ia memberikan sebuah isyarat kepada Mukhlas untuk menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi di dua puluh tujuh tahun yang lalu. Namun, Mukhlas hanya bisa tersenyum simpul sembari mengusap-usap punggung sang istri, memberikan sebuah sugesti positif agar istrinya ini bisa lebih tenang.


"Nak Seroja, apakah Bapak boleh bertanya?"


Dahi Seroja mengerut. "Apa itu Pak?"


"Apakah selama ini ibumu selalu memperlakukanmu dengan baik?"


Pertanyaan Mukhlas membuat tubuh Seroja sedikit terperanjat. "S-saya ..."


Seroja tidak mampu berkata apapun. Sekilas bayang-bayang masa lalu tentang perlakuan Dahlia kepadanya kembali menari-nari di dalam otaknya. Bibirnya terkatup dan lidahnya terasa begitu kelu. Tak sanggup rasanya untuk ia melanjutkan kata-kata yang ia ucapkan.


Meski tidak melihat ekspresi wajah Seroja, namun dari nada bicara wanita itu sudah cukup membuat Lily dipenuhi oleh firasat-firasat yang buruk. Dari suara Seroja yang terdengar bergetar, ia yakin bahwa selama ini kehidupan sang putri berada jauh dari kata bahagia. Hal itu yang membuat Lily semakin mengeraskan tangisnya.


"Maaf Pak, ada maksud dan tujuan apa pak Mukhlas menanyakan hal itu. Dan apa sebenarnya yang telah terjadi di antara pak Mukhlas, ibu Lily dan ibu saya?"


Mukhlas menghirup udara dalam-dalam dan ia hembuskan perlahan. Ada rasa bahagia yang menyeruak dalam dada kala melihat wanita yang ia yakini sebagai putrinya yang telah hilang berdiri di hadapannya. Namun ada di sela rasa bahagia itu, ada sebuah ke khawatiran yang bergelayut manja jika sang putri tidak hidup di dalam rengkuhan kata bahagia. Sungguh, ia tidak sampai hati jika akan menerima sebuah kenyataan bahwa selama ini sang putri hidup di dalam penderitaan.


"Dahlia adalah kakak ipar Bapak. Dua puluh tujuh tahun yang lalu dia pergi dengan membawa putri Bapak yang baru saja lahir ke dunia." Mukhlas menautkan pandangan matanya ke arah Seroja dan menatap manik cokelat wanita di hadapannya ini dengan intens. "Nak, Bapak yakin kamu adalah putri Bapak yang dibawa oleh Dahlia di dua puluh tujuh tahun yang lalu!"


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2