Cahaya Cinta Untuk Seroja

Cahaya Cinta Untuk Seroja
CCUS 43 : Apa Kabar Seroja?


__ADS_3


Seroja, Ana dan Alamanda mengayunkan kaki mereka menuju surau yang mereka yakini sebagai tempat asal suara adzan itu. Meski ditemani oleh hawa dingin yang terasa begitu menusuk tulang, namun tidak menyurutkan langkah kaki mereka untuk bisa segera sampai di surau itu. Selain untuk menunaikan kewajiban mereka sebagai seorang muslim, mereka juga begitu penasaran, apakah surau yang sebelumnya terbengkalai itu difungsikan kembali? Lalu siapa yang menjadi pelopornya? Dan siapa gerangan yang hatinya tergerak untuk kembali memakmurkan surau itu? Mungkin pertanyaan-pertanyaan itu masih berkeliaran di benak Seroja dan Ana, dan tidak akan pernah mereka temui jawabannya sebelum mereka benar-benar tiba di surau itu.


Di perjalanan yang mereka tempuh, terlihat para tetangga juga keluar rumah. Mungkin sama seperti yang dirasakan oleh Seroja dan Ana, mereka keheranan, siapa yang mengumandangkan adzan subuh di surau itu.


"Kalian mau ke surau?"


Seorang pria paruh baya dengan setelan singlet warna putih dan celana kolor warna hitam mencoba menyapa Seroja dan juga Ana.


"Iya Pak, kami mau ke surau. Bapak apakah mau ke surau juga?"


Sejatinya Ana tidak perlu menanyakan hal itu karena jawaban yang akan diberi pasti kata tidak. Namun Ana berpikir, tidak ada salahnya ia mencoba menanyakan hal itu. Barangkali, suara adzan dari surau itu membuat bapak paruh baya di depannya ini juga berkeinginan untuk shalat di sana.


Lelaki paruh baya itu menggeleng pelan. "Tidak, aku tidak mau ke sana. Tidak biasanya suara adzan dikumandangkan di surau itu. Tapi ini mengapa tiba-tiba ada yang adzan? Apakah kalian tidak mencurigai sesuatu?"


Seroja dan Ana saling berpandangan. Tidak terlalu paham dengan apa yang dikatakan oleh bapak paruh baya ini.


"Maksud Bapak mencurigai sesuatu perihal apa?"


"Ya curiga bahwa yang adzan itu salah satu jelmaan jin. Kalian tahu bukan kalau surau itu sudah lama terbengkalai? Jadi bisa saja menjadi sarang berkumpulnya para makhluk tak kasat mata. Dan saat ini makhluk itu mengumandangkan adzan."


Seroja dan Ana hanya terperangah mendengar ucapan lelaki paruh baya ini. Mereka berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepala, karena perkataan lelaki ini sungguh kurang bisa diterima secara logika.


"Kalau begitu kami duluan Pak, mari."


Tidak ingin terlalu jauh menanggapi ucapan pria paruh baya itu, Seroja, Ana dan Alamnda kembali melangkahkan kaki. Melanjutkan perjalanan mereka untuk menuju surau yang hanya berjarak tujuh rumah saja dari tempat tinggalnya. Dan pada akhirnya, merka sampai di depan surau ini.


Ana dan Seroja terlihat begitu lekat memperhatikan bangunan yang ada di hadapan mereka. Sangat sepi, karena memang bisa dipastikan tidak ada yang berbondong-bondong mendatangi surau ini meskipun sudah ada kumandang suara adzan. Bahkan suasana dalam surau pun nampak temaram karena pijar lampu yang terpasang tidak terlalu terang.


"Kak Seroja, suster Ana, apakah kita sudah sampai?" tanya gadis kecil itu seakan sudah tidak sabar untuk bersegera masuk ke dalam surau.


"Iya Sayang, kita sudah sampai. Kita ambil wudhu terlebih dahulu yuk." Dengan menuntun Manda, Seroja mulai menggiring tubuh sang adik untuk memasuki area wudhu.


🍁🍁🍁🍁🍁


Sabbihisma rabbikAl Alaa.


Alladzii khalaqa fa sawwaa.


Walladzii qaddara fa hadaa.


Walladzii akhrajal mar 'aa. 


Fa ja 'alahuu gusaa 'an ahwaa.


Sanuqri 'uka fa laa tansaa.


Illaa maa syaa 'allaah, innahuu ya' lamul jahra wa maa yakhfaa. 

__ADS_1


Wa nuyassiruka lil yusraa. 


Fa zakkir in nafa 'atiz zikraa. 


Sayazzakkaru may yakhsyaa.


........


Surah pendek yang dibacakan oleh Hakim di rakaat kedua, tiba-tiba terjeda. Hakim yang saat ini menjadi imam, nampaknya sedikit lupa dengan lanjutan ayat yang ia baca. Namun tiba-tiba...


Wa yatajannabuhal asyqaa.


Suara gadis kecil yang berdiri di shaf belakang terdengar menggema. Ia lanjutkan potongan ayat yang sempat terjeda. Hingga membuat Hakim kembali mengingat semua.


Alladzii yashlannaaral kubraa.


Summa laa yamuutu fhaa wa laa yahyaa.


Qad aflaa man tazakkaa.


Wa dzakarasma rabbihii fa shallaa.


Bal tu' siruunal hayaatad dun yaa.


Inna haazaa lafis shuhufil uulaa.


Allahu akbar....


Seluruh rangkaian shalat subuh telah selesai ditunaikan. Meski sang imam sempat lupa akan salah satu potongan ayat, namun itu semua tidak mempengaruhi kekhusyukan jamaah yang berada di surau ini. Dan setelah salam, mereka lanjutkan untuk berdzikir dan berdoa.


Seroja masih terlihat takzim membelai butiran-butiran tasbih pemberian teman masa kecilnya dulu. Berada di surau seperti ini, entah mengapa membuatnya merasakan sebuah atmosfer yang berbeda. Ia merasa lebih dekat dengan Rabb-nya. Ditambah dengan suara sang imam yang begitu merdu dalam membaca ayat-ayat Al-Qur'an dan juga dzikir, seakan semakin membuatnya lebih khusyuk dalam beribadah. Tanpa sadar, tetes-tetes kristal bening itu kembali lolos dari pelupuk mata Seroja.


Setelah selesai dengan ritual ibadah subuh pagi hari ini, Seroja, Ana, Alamanda kembali melipat mukena dan sajadah mereka kemudian bergegas untuk kembali ke rumah. Tatkala langkah kaki ketiga orang itu hampir menginjak bagian serambi, tiba-tiba...


"Mbak, tunggu!"


Langkah kaki Ana, Seroja dan Alamanda terhenti kala terdengar suara bariton yang memanggil mereka. Ketiga orang itu berbalik badan, terlihat dua pemuda tampan mendekat ke arah mereka.


"Assalamu'alaikum Mbak...," ucap Hakim mengucap salam kepada orang-orang yang ada di hadapannya ini.


"Waalaikumsalam, pak ustadz." Ana menjawab sembari menundukkan pandangannya. Begitu pula dengan Seroja. Wanita itu sepertinya sudah sedikit paham bahwa sejatinya antara dua orang yang bukan mahram itu saling menundukkan pandangan kala sedang berinteraksi.


"Maaf, apakah adik kecil ini yang tadi menyambung ayat yang saya baca?"


Ana hanya mengangguk pelan. "Iya pak Ustadz. Adik saya ini lah yang tadi menyambung ayat yang dibaca oleh pak ustadz."


Hakim menautkan pandangannya ke arah Alamanda. Wajah lelaki itu nampak berbinar. "MashaAllah ... ternyata adik ini sudah hafal surah Al-A'la?"


Masih sembari menatap ke sembarang arah, Alamanda menganggukkan kepala. "Iya pak ustadz, Manda sudah hafal surah Al-A'la."

__ADS_1


Dahui Hakim sedikit mengernyit. Ia terlalu heran karena sedari tadi gadis kecil di hadapannya ini menatap ke sembarang arah dan tidak fokus dengan objek yang ada di depannya. Sekilas, Hakim melirik ke arah Seroja dan Ana dengan raut wajah penuh pertanyaan. Seakan tahu maksud ustadz muda ini, Seroja dan Ana pun hanya mengangguk perlahan.


Hakim tersenyum getir. Ternyata ada hikmah di balik motor yang kemarin ia naiki mogok di tengah jalan dan membuatnya terdampar di tempat ini. Dari kejadian itu, ia menjadi tahu bahwa di tempat yang selalu dipandang sebelah mata oleh orang ini tersimpan salah satu generasi qur'ani di masa depan.


"MashaAllah ... ustadz benar-benar terharu mendengarnya. Apakah Manda ingin mengaji setiap hari? Agar bisa lebih banyak menghafal surah-surah dalam Al-Qur'an?"


Wajah Manda nampak berbinar. "Mau pak ustadz, mau, mau!!"


"MashaAllah. Kalau begitu mulai hari ini setiap sore Manda mengaji bersama ustadz ya."


"Iya pak ustadz. Hore!!"


Gadis kecil itu memekik kegirangan hingga membuat orang-orang yang berada di tempat ini seakan ikut merasakan kebahagiaan itu. Ustadz Hakim tiada henti melukiskan senyum manis di bibirnya. Melihat gadis kecil yang memiliki semangat tinggi untuk belajar mengaji seperti ini, entah mengapa hatinya juga dipenuhi oleh buncahan-buncahan kebahagiaan.


"Kalau begitu kami pamit terlebih dahulu pak ustadz. Assalamu'alaikum," ucap Ana mengakhiri pembicaraan dengan Hakim dan juga Fakhru yang sedari tadi hanya terdiam.


"Waalaikumsalam Mbak."


Seroja, Ana, dan Alamanda kembali berbalik badan untuk melanjutkan langkah kaki mereka yang sebelumnya terhenti.


Pluk....


Terlihat sesuatu jatuh dari dalam lipatan mukena dan sajadah yang dibawa oleh Seroja. Gegas, Fakhru mendekat ke arah benda yang terjatuh itu dan memungutnya.


Kedua bola mata Fakhru memincing dengan dahi yang mengernyit kala melihat dengan lekat sebuah tasbih yang terjatuh ini. Sebuah benda yang sepertinya tidak asing di penglihatannya. Ia lihat di ujung tasbih ini dan samar tercetak huruf F kecil di butiran tasbih itu.


Kepala Fakhru kembali mendongak, menatap lekat punggung wanita berhijab yang akan mengenakan alas kakinya. Dan...


"Seroja!"


Langkah kaki Seroja kembali terhenti kala mendengar suara seorang laki-laki yang memanggil namanya. Ia kembali berbalik badan. Dan memberanikan diri untuk menatap lelaki yang berada sedikit jauh dari tempatnya berdiri saat ini.


"Ya pak Ustadz?"


"Benarkah kamu Seroja? Seroja Ayu Anjani?" ucap Fakhru mencoba memastikan dengan mengucapkan nama panjang Seroja.


Dahi Seroja sedikit mengerut. Ia sungguh heran karena lelaki di hadapannya ini mengenalnya dan bahkan mengetahui nama panjangnya. Sepersekian menit, ia menatap lekat wajah lelaki ini. Dan tiba-tiba bibirnya menganga lebar dengan kedua bola mata yang membulat sempurna.


"F-Fakhru? Fakhru Miftahul Haq?"


Senyum manis terbit di bibir Fakhru. Hingga menampilkan lesung di tulang pipinya dan menampilkan gigi gingsulnya. "Apa kabar Seroja?"


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁


Haahhh.... Ternyata lewat tasbih yang membuat mereka kembali saling mengingat satu sama lain... Hehehe... 🥰

__ADS_1


__ADS_2