
Lily PoV
Tahun ini merupakan tahun ketiga aku menjalani kehidupanku bersama seorang laki-laki bernama Mukhlas Al-Huda. Sosok seorang imam yang benar-benar sempurna dalam hidupku, yang selalu bisa membimbingku untuk menjadi sosok wanita yang bergelar sebagai istri dan ibu yang baik untuk keluarga kecil ini.
Aku benar-benar bersyukur mendapatkan seorang suami seperti mas Mukhlas. Sebagai seorang istri, aku sama sekali tidak pernah merasakan kekurangan cinta dan kasih sayang darinya. Setiap hari laki-laki itu selalu mencurahiku dengan cinta dan kasih sayang yang tiada pernah habis. Bahkan semakin hari curahan rasa cinta itu terasa semakin terasa begitu besar.
Tahun demi tahun, aku lalui dengan penuh kebahagiaan. Sudah banyak hal yang aku dan mas Mukhlas lalui dalam menjalankan peran kami sebagai suami istri. Kerikil-kerikil kecil yang acap kali menghalangi dan menghambat langkah kaki kami, pada akhirnya justru bisa menjadi penguat pijakan kaki kami. Ditambah dengan kesabaran dan luasnya hati mas Mukhlas, seakan menjadi alasan agar aku senantiasa bersyukur dipilih oleh lelaki itu untuk menjadi pendamping hidupnya.
Begitu maha pemurahnya Allah SWT. Diusia pernikahanku kala itu yang masih menginjak dua bulan, Allah menghadirkan sosok malaikat kecil yang tumbuh di dalam rahimku. Malaikat kecil yang nantinya akan menjadi generasi penerus keturunanku dan juga mas Mukhlas. Tidak mudah menjalani masa-masa pertama menjadi seorang calon ibu. Hingga usia kandunganku yang menginjak empat bulan, aku masih mengalami apa itu morning sickness. Setiap hari, mual dan muntah menjadi teman setiaku namun sosok suami yang yang ada di sisi selalu saja sabar dan begitu telaten mendampingi. Sampai pada akhirnya, malaikat kecil itu lahir ke dunia.
Hakim Ar-Rasyid, nama itulah yang mas Mukhlas pilihkan untuk putra pertama kami. Bayi laki-laki tampan yang wajahnya sangat mirip dengan wajah sang ayah. Menjadi cucu pertama dari keluargaku dan juga keluarga mas Mukhlas, menjadikan Hakim sebagai cucu kesayangan keluarga besar kami.
Hakim tumbuh menjadi sosok seorang anak yang sehat, ceria dan cerdas. Karena sejak di dalam kandungan, ia sering diperdengarkan ayat-ayat suci Al-Quran, membuat putraku itu begitu cepat dalam menghafal surat-surat pendek yang ada di dalam kitab suci. Tidak heran, jika putraku sudah dapat menghafal hampir tiga perempat surat-surat yang berada di juz tiga puluh.
Tiga tahun setelah kelahiran Hakim, ternyata Allah kembali memberikan anugerah kepada keluarga kecilku. Ya, aku kembali mengandung. Itu artinya Hakim akan segera memiliki seorang adik. Dan, taukah kalian apa yang membuatku bahagia? Allah memberikanku anugerah calon anak perempuan yang sedang tumbuh di dalam rahimku. Hal itulah yang semakin menjadikan keluarga kecil kami bahagia. Setiap hari, tepatnya seusai menunaikan shalat tahajjud, mas Mukhlas selalu membaca Al-Quran di dekat perutku yang semakin hari semakin membuncit ini. Doa dan harapan kami sebagai orang tua, sama. Yakni berharap dan berdoa semoga kelak putri kami ini bisa tumbuh menjadi anak yang shalihah, memiliki keteguhan iman dan Islam serta dapat memberikan manfaat bagi agama dan sesama.
"Sayang, masuk yuk. Udara di luar dingin sekali, nanti kamu masuk angin."
Ucapan mas Mukhlas sukses membuat tubuhku sedikit terperanjat. Aku yang tengah duduk di beranda sembari menikmati udara malam seperti ini menoleh ke arah sumber suara. Dan terlihat mas Mukhlas mengayunkan kakinya untuk mendekat ke arahku.
"Sebentar, Mas. Aku masih merasa gerah. Duduk di luar seperti ini sungguh membuat tubuhku terasa lebih baik."
Memasuki usia sembilan bulan kehamilan, aku menjadi sering merasa gerah. Hampir setiap malam ketika berada di atas ranjang, mas Mukhlas membantuku untuk mengipasi tubuhku. Padahal sudah ada AC di dalam kamar, namun aku ingin mas Mukhlas mengipasi tubuhku menggunakan kipas seperti yang biasa dipakai oleh para penjual sate. Tak ayal hal itulah yang membuat mas Mukhlas tidak bisa mengistirahatkan tubuhnya dengan benar. Mungkin, di mata kebanyakan orang, aku termasuk seorang istri yang kurang ajar. Namun entah mengapa aku baru bisa merasa nyaman ketika mas Mukhlas yang mengipasiku.
Kulihat, mas Mukhlas hanya tersenyum simpul di hadapanku. Ia semakin mendekatkan tubuhnya ke arahku dan berjongkok di sisi tempatku terduduk.
"Putri Ayah sekarang masuk dulu ya. Kasihan Ibu jika berada di luar seperti ini. Kita masuk, biar Ayah yang mengipasi kalian ya."
Senyum penuh rasa syukur dan bahagia terlukis jelas di bibirku. Kurasakan mas Mukhlas mengelus-elus perutku yang sudah membuncit ini. Sesekali kulihat ia juga menghujani perutku dengan kecupan-kecupan intens. Hal itulah yang membuatku semakin merasa dicintai. Dan tidak ada hal lain yang aku rasakan selain hanya buncahan-buncahan bahagia yang ada di dalam dada.
Namun tak selang lama, aku merasakan sensasi rasa mulas di dalam perutku. "Mas ... "
Aku mencoba mengatur nafas. Kuhirup udara dalam-dalam dan perlahan aku hembuskan. Mas Mukhlas yang sebelumnya intens menatap lekat perutku, kini ia geser pandangan matanya untuk menatapku. Kulihat ia sedikit mengernyitkan dahi kala melihatku seperti tengah menahan sesuatu.
"S-sayang ... ada apa denganmu? Mengapa wajahmu memerah seperti ini? Seperti menahan rasa sakit?"
Aku hanya bisa tersenyum manis di depan suamiku. Aku tidak ingin membuatnya merasakan ke khawatiran yang berlebihan. "Tenang ya Mas."
"Tenang bagaimana Sayang? Kamu seperti seseorang yang sedang menahan rasa sakit. Ada apa Sayang? Katakan padaku ada apa?"
"Mas, tolong hubungi ayah dan juga ibu agar menemani Hakim. Setelah itu, kamu antarkan aku ke rumah sakit ya. Sepertinya putri kita ini akan segera lahir."
"Apa Sayang? Akan segera lahir? Lalu, apa yang harus aku persiapkan Sayang? Apa yang harus aku bawa ke rumah sakit?"
Aku hanya terkikik geli melihat ekspresi wajah suamiku yang tengah panik itu. "Kamu tidak perlu menyiapkan apapun Mas. Semua keperluan persalinanku sudah aku siapkan di tas yang berada di samping boks bayi. Kamu nanti tinggal membawa itu saja."
"Ya Allah Sayang, mengapa kamu tidak mengatakannya kepadaku? Sampai hal kecil seperti itupun kamu yang mengurusnya sendiri."
__ADS_1
"Tidak apa-apa Mas. Ayo kita siap-siap ke rumah sakit. Jangan lupa, hubungi ayah dan juga ibu agar mereka bisa menjaga Hakim di rumah."
Kulihat mas Mukhlas menganggukkan kepalanya. Dengan penuh sayang, ia mengecup pucuk kepalaku. "Kamu yang kuat ya Sayang. Persiapkan tenagamu, untuk proses kelahiran putra kita."
Aku menganggukkan kepala. "Jika ada kamu di sisiku, inshaAllah aku akan selalu kuat Mas!"
Mas Mukhlas melepaskan kecupannya dari pucuk kepalaku. Kulihat, ia kembali mencium perut buncit ku ini.
"Kamu juga harus kuat ya Nak. Kamu harus lahir dengan sehat dan selamat. Semoga, kelak Allah menjadikanmu putri yang shalihah."
"Aamiin ya rabbal alaamiin."
ππππ
Author PoV...
Suasana yang sebelumnya dipenuhi oleh kebahagiaan, kini seketika berubah dengan suasana yang dipenuhi oleh derai tangis air mata. Masih berada di atas ranjang rumah sakit, Lily terlihat menangis, meronta bahkan berteriak-teriak setelah mendapatkan kabar bahwa bayi perempuan yang baru saja ia lahirkan tiba-tiba menghilang.
"Mas ... mana putri kita Mas? Mana putri kita?"
Tangisan Lily benar-benar terdengar pilu dan menyayat hati. Mukhlas hanya bisa memeluk tubuh sang istri dengan erat untuk bisa menenangkan jiwanya yang tengah terguncang.
"Sayang, sabar ya. Kita pasti akan bisa menemukan putri kita."
"Aku ingin putriku sekarang Mas. Aku ingin dia sekarang!"
Lily masih meronta di dalam pelukan Mukhlas. Jiwa ibu mana yang tidak terguncang hebat saat mengetahui sang anak yang baru saja dilahirkan tiba-tiba hilang. Sungguh sebuah ujian hidup yang terasa begitu berat menimpa keluarga Lily.
"Aku ingin dia sekarang Mas! Aku ingin dia sekarang!"
Mukhlas hanya bisa menatap nanar keadaan sang istri yang seperti ini. Kejadian ini juga membuatnya terpukul setengah mati. Namun ia sadar bahwa ia harus tetap kuat untuk menguatkan sang istri.
Mukhlas yang sebelumnya memeluk erat tubuh Lily, kini sedikit ia lerai pelukannya. Ia mengedarkan pandangannya ke arah sang dokter yang tengah memasuki ruangan Lily.
"Ini bagaimana bisa seperti ini Dok? Mengapa anak kami tiba-tiba hilang?"
Mukhlas tak kuasa menahan segala amarah yang meletup-letup di dalam dada. Baru beberapa saat sang putri diadzani kemudian dikembalikan lagi ke ruang bayi, namun tiba-tiba sang dokter memberikan sebuah kabar bahwa putrinya telah hilang.
"Maaf Pak, sepertinya ada seseorang yang dengan sengaja mengambil putri Anda. Karena di dalam rekaman CCTV, tertangkap seseorang yang memakai pakaian seperti seorang perawat, tengah memasuki ruang bayi. Dan tak selang lama, ia keluar sembari menggendong seorang bayi kecil yang saya yakini sebagai putri pak Mukhlas dan ibu Lily."
"Apa? Itu artinya ada yang berniat menculik anakku, seperti itu maksud dokter?"
Dokter wanita itu menganghuk lirih. "Iya Pak. Analisis kami seperti itu."
"Rumah sakit macam apa ini Dok? Mengapa sistem keamanan rumah sakit ini tidak memuaskan? Mengapa ada seseorang yang berniat jahat bisa memasuki ruang bayi?" cerca Mukhlas seakan tidak lagi bisa menahan amarahnya.
"Kami benar-benar minta maaf Pak. Maaf atas kelalain kami dalam menjaga putri pak Mukhlas. Kami akan bertanggung jawab atas kejadian ini."
Lagi-lagi Mukhlas hanya bisa membuang nafas sedikit kasar. Pikirannya sangat buntu. Ingin rasanya ia menumpahkan segala amarah yang bersemayam dalam dada, namun itu semua tidak akan mengembalikan keadaan yang ada.
__ADS_1
"Boleh saya lihat rekaman CCTV nya Dok?"
"Tentu bisa Pak, mari saya antar."
"Sus, tolong jaga istri saya sebentar. Setelah ini, aku akan kembali."
"Baik Pak, saya akan meninggu ibu Lily di sini."
Pada akhirnya, Mukhlas berjalan mengekor di belakang punggung dokter wanita ini. Beberapa lorong-lorong rumah sakit berhasil dilalui oleh keduanya, hingga mengantarkan mereka tiba di ruangan CCTV.
πππππ
Mukhlas yang tengah berdiri di depan jendela lebar yang berada di ruang rawat ini, terlihat mengepalkan tangan kuat-kuat. Setelah melihat rekaman CCTV di ruang bayi di rumah sakit ini, ia dapat mengenal dengan jelas sispa yang menculik sang putri. Meski wanita itu memakai pakaian perawat dan terlihat mencoba menghindari titik CCTV itu namun Mukhlas tahu benar siapa wanita yang diyakini menggendong sang putri. Ya, dia adalah Dahlia.
"Apa maksudmu menculik keponakanmu sendiri Lia? Hal Apa yang mendasarimu menculik keponakanmu sendiri?"
Mukhlas mengusap wajahnya frustasi. Kala pandangan matanya ia geser ke arah sang istri yang sedang terlelap, semakin membuat batin Mukhlas terasa berdenyut nyeri.
Baru saja sang istri diberikan oleh dokter obat penenang untuk bisa mengendalikan jiwa sang istri yang tengah terguncang. Sedari tadi Lily terdengar berteriak-teriak memanggil 'anakku, anakku, anakku' yang membuat hati Mukhlas seakan tersayat sembilu. Sungguh besar ujian hidup yang Allah berikan kepada keluarga kecilnya ini. Sang putri baru saja diculik oleh Dahlia, dan kini istrinya mengalami depresi yang cukup hebat hingga membuatnya seperti seseorang yang mengalami gangguan kejiwaan.
Ya Allah, ujian apa lagi ini? Sungguh berat ujian yang Engkau berikan kepada keluargaku ini ya Rabb. Putriku diculik bahkan sebelum aku memberikan nama untuknya. Dan sekarang istriku sedikit mengalami gangguan kejiwaan. Aku harus bagaimana ya Rabb? Harus bagaimana?"
Mukhlas membuang nafas kasar sembari mengusap wajahnya frustrasi. Air matanya juga tiada henti mengalir membasahi wajahnya dan ia seka dengan perlahan.
Beri aku kekuatan untuk menjalani takdir hidup yang sudah Engkau gariskan kepadaku ya Rabb. Beri aku petunjuk agar aku bisa senantiasa berada di dalam ridhoMu.
πππππ
Sementara itu, masih berada di kota yang sama,di sebuah bangunan sempit, terlihat sesosok wanita yang tengah berdiri di depan jendela sedang menikmati sebatang rokok yang ia hisap dan sesekali asap yang berasal dari rokok itu mengepul memenuhi ruangan ini.
Pandangan matanya menerawang namun tidak dapat ia sembunyikan raut wajah yang dipenuhi oleh kepuasan. Puas, karena apa yang telah ia rencanakan sukses besar. Dan, inilah awal dari sebuah sumpah yang pernah ia ikrarkan untuk menghancurkan kehidupan orang-orang yang ia benci.
Ya, dia adalah Dahlia. Sudah sejak satu minggu yang lalu ia kembali menginjakkan kakinya di kota ini. Sebuah kota yang pernah ia tinggalkan dengan membawa kepingan dendam yang suatu saat harus ia balaskan. Dan hari ini adalah waktu yang tepat untuk membalaskan dendam itu.
"Aku benar-benar tidak rela melihat kalian bahagia di atas penderitaanku. Terlebih aku tidak rela kamu mendapatkan kebahagiaan, Lily. Kamu sudah merebut laki-laki yang sangat aku cintai. Setelah itu kamu hidup bahagia bersamanya dan juga anak-anak kalian. Kali ini, aku tidak akan pernah membiarkanmu bahagia lagi, Lily."
Dahlia memutar tumitnya. Ia mendekat ke arah seorang bayi perempuan mungil yang masih terlihat begitu merah. Ia pun mendaratkan bokongnya di tepian ranjang, sembari menatap lekat wajah bayi mungil itu.
"Kamu kurang beruntung karena lahir dari rahim wanita yang aku benci Sayang, karena itu artinya kamu akan merasakan kehidupan seperti di neraka. Tapi tenang saja, aku masih memiliki belas kasih kepadamu. Kamu akan aku rawat dan akan aku besarkan, namun setelah dewasa nanti, aku akan mendorong tubuhmu untuk menjadi wanita penghibur."
Dahlia mengusap-usap pipi gembul bayi perempuan mungil ini. "Hahahaha aku tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati Lily dan juga Mukhlas jika suatu saat nanti mereka mengetahui bahwa anaknya mejadi seorang pela*cur!"
.
.
ππππππ
Akhirnya... selesai juga part flashback ini.. Hihihi hihihihi mohon maaf jika terlalu panjang ya Kak. Setelah ini kita akan kembali ke masa kini, pastinya saat Lily bertemu dengan Dahlia dan yang menjadi awal pertemuan Lily dengan sang putri. π₯°π₯°π₯°
__ADS_1
Mohon maaf, mungkin sampai perkiraan tanggal 20-an, saya update episode terbaru sedikit lebih slow ya Kak. InsyaAllah jika acara saya sudah selesai, saya akan update lebih banyak lagi (2 part tiap hariπ) Dan mohon maaf sekali lagi jika saya juga jadi jarang membalas komentar Kakak-kakak semua. Namun percayalah saya tetap membacanya ππ