
"Mau kemana kamu Nak? Kok tumben jam segini sudah rapi?"
Aisya yang tengah melintasi depan kamar sang putri yang dibiarkannya terbuka, sedikit keheranan dengan apa yang dilakukan oleh anaknya kali ini, karena tidak biasanya ia sudah rapi di jam setengah enam pagi seperti ini. Wanita paruh baya itu mengayunkan kaki, membawa tubuhnya untuk ia dudukkan di tepi ranjang.
Senyum merekah nampak terlukis jelas di bibir gadis berusia dua puluh empat tahun itu. Ia sematkan jarum di bawah dagunya sembari mencoba untuk menjawab apa yang menjadi pertanyaan sang ibu. "Diba ingin membantu a' Fakhru untuk acara bakti sosial, Umi."
"Bakti sosial? Di mana itu Nak?"
"Di area lokalisasi yang ada di kota ini."
Jawaban Adiba sukses membuat Aisha terperanjat seketika. "Di lokalisasi? Tidak salah itu Nak?"
Diba membalikkan badan kala apa yang ia lakukan telah paripurna. Mengenakan hijab dan gamis untuk menutupi seluruh anggota tubuhnya.
Gadis itu menggelengkan kepala. "Tidak Umi, tidak keliru. A' Fakhru beberapa minggu belakangan ini sebelum mengajar anak panti, dia memang berada di lokalisasi. Membantu kak Hakim berdakwah di sana."
Raut penuh keterkejutan nampak jelas di wajah wanita paruh baya itu. Karena tidak hanya Fakhru, Hakim pun yang notabene sebagai seorang ustadz juga berada di lokalisasi itu. "Apakah itu tidak terlalu bahaya untuk mereka Nak? Terutama tentang persepsi orang-orang yang mengidolakan mereka, khususnya Hakim?"
Adiba mengulas sedikit senyum di bibirnya. Ia kembali menggelengkan kepala untuk memangkas kekhawatiran yang mungkin dirasakan oleh sang ibu. "Pada kenyataannya tidak terjadi hal-hal buruk terhadap kak Hakim dan a' Fakhru, Umi. Mereka justru nampak begitu menikmati apa yang mereka lakukan di sana. Alhamdulillah, niat baik mereka mendapat sambutan yang baik dari orang-orang yang berada di sana. Dan kini, sebuah surau berhasil di renovasi oleh kak Hakim dan a' Fakhru. Setelah ini, pasti akan banyak agenda yang dijalankan oleh mereka untuk memulai berdakwah. Diba malah sedikit kecewa karena baru dua hari belakangan ini Diba mengetahui kegiatan a' Fakhru dan kak Hakim. Jika dari awal Diba tahu, pasti Diba sudah membantu mereka sejak awal pula."
Aisya hanya terkekeh pelan. Melihat raut wajah sang putri yang dipenuhi oleh binar-binar kebahagiaan, ia semakin yakin bahwa ada sebuah rasa yang sedang disembunyikan olehnya. "Apakah dari ucapanmu itu tersirat sebuah makna jika sejak awal kamu mengetahui apa yang dilakukan oleh Fakhru maka bisa membuatmu lebih lama dekat dengan pemuda itu?"
Diba tiba-tiba menundukkan wajahnya. Tertunduk malu karena sepertinya sang ibu sudah bisa menangkap raut wajah tidak biasa di wajahnya. "Diba... "
Bahkan suaranya tiba-tiba terasa tercekat di dalam tenggorokan. Tak mampu untuk mengungkapkan segala rasa yang membuncah di dalam dada. Sebuah rasa yang seakan tumbuh tiada terkendali dan kini memenuhi relung-relung hati.
Fakhru, pemuda tampan berusia dua puluh tujuh tahun yang berhasil mengusik ketentraman batin Diba sejak pertama kali jumpa. Seorang pemuda dengan perangai sopan, lembut bertutur kata yang seakan menjadi medan magnet yang bisa menarik perhatian kaum hawa. Tidak hanya sampai di sana, kerendahan hati yang ia miliki seakan menjadi nilai plus bagi pemuda itu.
Larut mengingat pertemuan awal keduanya hingga interaksi yang saat ini terjalin, membuat Diba tidak sadar jika sedari tadi ia hanya terdiam, membisu, senyum yang tiada henti terukir di bibir, dengan pandangan mata yang kosong dan menerawang. Hal itulah yang membuat sang ibu yang semakin terperangah dengan apa yang sedang terjadi dengan putrinya ini.
"Nak, mengapa melamun?"
Aisya menepuk paha Diba berupaya untuk membangunkan sang anak dari lamunan panjangnya. Apa yang dilakukan oleh wanita paruh baya itu sukses membuat kesadaran Diba kembali teraih.
Menoleh ke samping, gadis manis itu tersenyum tipis. "Tidak ada apa-apa Umi."
"Namun hati Umi tidak mengatakan seperti itu." Aisya menatap lekat netra bening milik sang putri. Mencoba mencari tahu apa yang dirasakan oleh Diba melalui sorot matanya. "Apakah putri Umi ini jatuh cinta kepada pemuda bernama Fakhru?"
__ADS_1
Adiba terkesiap jantungnya tetiba berdegup kencang. Tak berani menatap lekat manik mata sang Umi, dengan maksud menghindar dari tatapan yang seakan menuntut mencari arti, ia pun kembali menundukkan wajahnya.
"Diba... "
Gadis itu kembali mere*mas-re*mas ujung jilbabnya. Menahan rasa gugup yang tiba-tiba menyerangnya. Di raihnya telapak tangan sang putri, dan ia genggam dengan erat. Wanita paruh baya itu tersenyum penuh arti di hadapan sang putri.
"Apakah perlu, abi dan Umi yang bertindak?"
Kepala yang sebelumnya menunduk, kini sedikit ia angkat. Ia terperangah. "M-maksud Umi?"
"Abi dan Umi datang ke Fakhru untuk meminta kalian berta'aruf?"
"T-tapi, Umi...."
"Tidak ada salahnya Nak. Barangkali Fakhru juga menyambut baik apa yang menjadi niat baik abi dan juga Umi."
Adiba terlihat menimbang-nimbang apa yang diusulkan oleh sang ibu. Sejenak, ia terlihat larut dalam pikirannya sendiri. Namun pada akhirnya, sebuah anggukan pelan kepala menjadi sebuah tanda bahwa ia setuju dengan apa yang menjadi rencana sang ibu.
"Baik Umi, Diba setuju. Semoga Allah memberikan jalan yang terbaik."
"Aamiin ya rabbal alaamiin." Aisya mengusap-usap pucuk kepala Diba dengan lembut dan penuh sayang. Hatinya menghangat melihat rona penuh kebahagiaan menghiasi wajah cantik putrinya ini. "Ya sudah, Umi siapkan rantang untuk kamu bawa ke tempat Fakhru dan juga Hakim ya Nak. Umi sudah memasak sayur asem dan ikan asin, bisa untuk sarapan di sana."
"Iya Umi ... Terima kasih."
🍁🍁🍁🍁🍁
"Iya Ja, itu telurnya setiap pack masing-masing satu kilo."
Fakhru, Hakim, Seroja dan Ana terlihat sibuk dengan aktivitas mereka di pagi hari ini. Beberapa kebutuhan pokok sudah berada di depan mereka seperti beras, telur, gula, minyak goreng, sarden dan juga mie instan. Nantinya barang-barang itu nantinya akan mereka bagikan kepada warga yang tinggal di sekitar sini.
"Baik Ru," ucap Seroja sambil menimbang butir-butir telur yang ada di depannya.
"Suster Ana kalau capek silakan istirahat dulu."
Hakim yang sibuk menimbang beras berseloroh asal. Namun apa yang diucapkan ustadz muda itu sukses membuat Ana terperangah seketika. "Tidak ustadz, saya sama sekali tidak merasa capek. Hanya memasukkan barang-barang ini ke dalam kantong plastik tidak terlalu banyak mengeluarkan tenaga."
"Biarkan Oja saja yang melanjutkan Sus. Suster Ana istirahat saja dulu."
Tanpa mengalihkan pandangannya dari arah butiran-bubutiran beras yang ada di hadapannya, Hakim masih saja memaksa Ana untuk beristirahat. Dan malah meminta Seroja yang mengambil alih pekerjaannya. Hal itulah yang membuat bibir Seroja sedikit mengerucut.
__ADS_1
"Ustadz Hakim pilih kasih kan? Masa hanya suster Ana saja yang disuruh istirahat. Saya juga mau Tadz."
"Istirahat bagaimana Ja? Sedari tadi kamu belum melakukan apapun kan, jadi mana boleh beristirahat."
"Nah kan, pilih kasih kan. Padahal sedari tadi apa yang saya kerjakan juga hampir sama dengan suster Ana, Tadz," cebik Seroja dengan memasang wajah sedikit kesal namun hanya dibuat-buat.
Fakhru yang mendengar percakapan orang-orang itu hanya bisa terkekeh pelan. "Ja, kamu ingin tahu bagaimana caranya seorang ustadz memberikan perhatian kepada ukhti-ukhti yang ia cinta?"
Fakhru yang menimpali ucapan Seroja sukses membuat Seroja tersentak seketika. "Hmmmm ... memang seperti apa Ru? Aku sungguh belum pernah melihat bagaimana seorang ustadz memberikan perhatiannya untuk wanita yang ia cintai."
Fakhru melirik ke arah Hakim. Senyum simpul terbit di bibirnya. Merasa ada yang memperhatikannya, Hakim pun hanya menatap wajah Fakhru dengan tatapan mata yang sukar untuk diartikan.
"Ya seperti ustadz Hakim ini Ja. Seperti inilah cara seorang ustadz memberikan perhatiannya kepada wanita yang ia cinta." Selepas menatap lekat wajah Hakim, kini pandangan Fakhru beralih ke sosok wanita muda yang sedari tadi hanya menundukkan wajahnya. "Suster Ana?"
"Ya Mas?"
"Jika ustadz Hakim ingin mengajak suster Ana untuk bersama-sama meraih jannah Nya di dalam sebuah ikatan suci pernikahan bagaimana?"
Kedua bola mata Ana terbelalak sempurna. Bibirnya menganga, dan seketika membuat tubuhnya membeku. Tak mampu berucap apa-apa. "Saya..."
"Assalamu'alaikum... "
Ucapan Ana terpangkas kala suara lembut seorang wanita tiba di tempat ini. Orang-orang yang sebelumnya sibuk dengan aktivitas masing-masing, kini sama-sama menoleh ke arah sumber suara. Dan nampak seorang gadis cantik dengan balutan gamis berwarna biru dan kerudung berwarna hitam memasuki area serambi surau
"Waalaikumsalam warahmatullah... "
Gadis cantik yang tak lain Adiba itu hanya mengulas sedikit senyum dengan kepala menunduk. "Maaf, jika saya datang terlambat ya A'."
"Tidak mengapa, Diba. Kami juga baru saja memulai. Mari silakan bergabung di sini, ucap Fakhru mempersilahkan.
" Terimakasih A'."
Diba mengambil langkah untuk mendekat ke arah Seroja dan ia pun duduk di samping teman masa kecil Fakhru itu. Dan kelima orang itu melanjutkan kembali aktivitas mereka masing-masing. Berharap sebelum dzuhur, paket-paket sembako ini bisa segera dibagikan.
Tak jauh dari surau , sepasang mata milik seseorang yang berdiri di bawah pohon jambu, menatap lekat salah seorang wanita yang berada di serambi surau. Hatinya menghangat seketika kala melihat wajah ayu seorang wanita yang hingga saat ini masih menjadi ratu di dalam hatinya.
"Kamu nampak semakin cantik dengan kerudung itu Sayang ... aku sungguh merindukanmu. Semoga Allah masih memberikanku kesempatan untuk kembali ke sisimu."
.
__ADS_1
.
🍁🍁🍁🍁🍁