
"Assalamu'alaikum!"
Ucapan salam seseorang yang berada di luar rumah, membuat orang-orang yang berada di dalamnya sedikit terkejut. Pasalnya tidak biasa di jam lima pagi seperti ini ada tamu yang berkunjung.
"Kok tumben ya Mi, pagi-pagi seperti ini ada tamu yang berkunjung?" ucap lelaki paruh baya yang tengah menyeruput teh hangatnya.
"Iya Bi, Umi juga tidak tahu."
Wanita yang dipanggil Umi oleh lelaki paruh baya ini mematikan mengangkat ubi goreng yang telah matang, kemudian ia matikan kompor itu. "Umi lihat ke depan dulu ya Bi."
Hanya diangguki kepala oleh lelaki paruh baya itu, sang istri pun mulai melenggang ke ruang depan untuk melihat siapa gerangan yang bertamu di jam lima pagi seperti ini.
"Waalaikumsalam ... Hakim?!"
Wanita itu nampak terkejut bukan main kala melihat siapa gerangan yang berkunjung di pagi hari ini. Sedangkan lelaki yang dipanggil Hakim itu seketika membungkukkan tubuhnya, meraih telapak tangan wanita paruh baya ini dan mencium punggung tangannya.
"Bibi apa kabar? Sehat?"
"Alhamdulillah, Bibi baik-baik saja Kim. Kamu sendiri bagaimana?" Wanita paruh baya itu melepaskan telapak tangannya dari genggaman lelaki ini dan membuat tubuh lelaki bernama Hakim ini sedikit lebih tegak. Ia tepuk bahu kokoh keponakannya ini. "MashaAllah, satu tahun berada di Jogja, kamu lebih nampak berisi, Kim!"
Hakim hanya tergelak. "Alhamdulillah, Bi. Joga maupun Bandung sama. Sama-sama membuat Hakim betah sehingga berat badan pun ikut bertambah."
Bibi dan keponakan itu sama-sama tergelak hingga gelak tawa mereka terpangkas kala suara bariton dari dalam rumah mendekat ke arah mereka.
"Yang datang siapa Mi? Kok...."
Kini giliran ucapan lelaki paruh baya ini yang terpangkas kala melihat sosok lelaki yang berdiri di hadapannya. Dari raut wajahnya nampak dipenuhi oleh keterkejutan akan kedatangan lelaki ini. "Hakim?!"
"Assalamualaikum Paman?"
Sama seperti yang dilakukan ke wanita paruh baya ini, Hakim juga membungkukkan tubuhnya, meraih telapak tangan sang paman dan mencium punggung tangannya.
"Waalaikumsalam ... mashaAllah, Paman benar-benar tidak menyangka ternyata tamu yang berkunjung sepagi ini adalah ustadz milenial yang sedang naik daun?"
__ADS_1
Lelaki paruh baya itu menepuk-nepuk pundak sang keponakan. Dari gesturnya, lelaki paruh baya ini teramat bangga akan keberhasilan yang telah diraih oleh sang keponakan. Menjadi salah satu pendakwah untuk menegakkan apa itu amar ma'ruf nahi munkar.
Hakim hanya tersenyum simpul, ia merasa ucapan pamannya ini sedikit berlebihan. "Hakim rasa Paman terlalu berlebihan."
"Loh, ini pemuda tampan yang berdiri di sampingmu ini siapa Kim?"
Begitu terkejutnya akan kedatangan sang keponakan di pagi hari ini, membuat wanita paruh baya ini sampai melupakan seorang pemuda tampan yang berdiri di sampingnya.
"Ya Allah ... Hakim sampai lupa belum memperkenalkan teman Hakim ini." Hakim menoleh ke arah pemuda yang berdiri di sampingnya. "Fakhru, kenalkan, dua orang paruh baya yang masih terlihat cantik dan tampan ini adalah paman dan bibi ana. Namanya paman Abdul dan bibi Aisyah."
Fakhru tersenyum simpul. Ia bungkukkan sedikit tubuhnya, meraih telapak tangan dan mencium punggung tangan masing-masing.
"Saya Fakhru, Paman, Bibi. Salah satu teman ustadz Hakim di Jogja."
Kedua paruh baya itu tersenyum lebar. "MashaAllah ... ternyata piyantun Jogja meniko guanteng-guanteng yo," ucap pak Abdul sembari terkekeh.
Sedangkan Hakim dan Fakhru juga ikut tergelak mendengar logat bicara pak Abdul yang sedikit terdengar lucu ini.
"Lah ini mengapa hanya berdiri saja di sini? Ayo silakan duduk."
🍁🍁🍁🍁
"Jadi begitu Paman, saya mengajak Fakhru ke kota ini untuk membantu Paman dan Bibi mengurus panti. Hakim dengar, Paman dan Bibi sedang membutuhkan seorang ustadz untuk bisa mengajarkan ilmu agama ke anak-anak panti. Fakhru ini masih muda, tampan, pintar, inshaAllah Fakhru adalah orang yang tepat untuk mengajari mereka." Hakim menoleh ke arah Fakhru dan tersenyum simpul. "Bukan begitu Ru?"
Pemuda tampan putra Rama dan Ellana itu hanya bisa tersenyum kikuk. Baginya ucapan Hakim ini sedikit berlebihan. "Ustadz Hakim terlalu berlebihan. Ilmu saya tidak setinggi itu Tadz."
Hakim justru tergelak mendengar ucapan Fakhru ini. "Nah, Paman, Bibi, inilah salah satu kelebihan pemuda tampan dari Jogja ini. Dia merupakan seorang laki-laki yang rendah hati dan mudah bergaul. InshaAllah anak-anak panti akan senang mendapatkan guru mengaji seperti Fakhru ini."
Pak Abdul tersenyum lebar. Terlampau bahagia akan kehadiran pemuda ini. "MashaAllah ... Paman benar-benar bahagia dengan kedatangan nak Fakhru di sini. Namun bagaimana ya. Paman merasa tidak enak jika karena tidak bisa menggaji nak Fakhru dengan layak. Karena memang.... "
"Maaf Paman, saya sama sekali tidak mengharapkan imbalan untuk mengajari anak-anak di panti ini. Saya sungguh ikhlas melakukannya."
Pak Abdullah terperangah. Tidak begitu paham dengan apa yang diucapkan oleh Fakhru. "I-ini maksud nak Fakhru bagaimana?"
"Jadi begini Paman, Fakhru akan mengajari anak-anak panti ketika sore hingga malam hari. Nah untuk kesehariannya, Fakhru akan mengurus beberapa kafe yang merupakan warisan dari kakek buyutnya yang ada di kota ini."
__ADS_1
"J-jadi nak Fakhru ini memiliki kerabat yang tinggal di Bandung?"
Fakhru mengangguk. "Kurang lebihnya seperti itu Paman. Namun maaf, tidak bisa saya jelaskan secara detail. Takutnya bisa panjang. Sepanjang jalan kenangan."
Ucapan Fakhru sukses membuat Abdul dan Aisyah tergelak lirih. Rupa-rupanya pemuda tampan ini pandai bergurau juga.
"MashaAllah, Paman benar-benar tidak menyangka akan mendapatkan kemudahan seperti ini. Akhirnya, Allah mengirimkan pertolongan Nya, menghadirkan nak Fakhru untuk bisa membantu Paman di panti."
"Sama-sama Paman. Semoga saya bisa mengemban amanah ini dengan baik."
"Aamiin, aamiin, ya Rabbal alamiin."
Fakhru, Hakim, Abdul dan Aisyah terlihat larut dalam obrolan pagi hari ini. Sembari menikmati teh hangat dan ubi goreng, mereka bercengkrama dengan penuh kehangatan dan keakraban.
"Assalamu'alaikum... "
Lembut suara ucapan salam seorang wanita yang tiba-tiba datang, membuat orang-orang yang berada di teras ini sama-sama menoleh ke arah sumber suara. Terlihat seorang gadis cantik berusia dua puluh lima tahun dengan balutan hijab di kepala, berjalan anggun memasuki teras.
"Waalaikumsalam."
Hakim tersenyum lebar tatkala melihat siapa yang datang. "Nah, Fakhru. Kalau gadis cantik ini adalah putri tunggal dari paman Abdul dan bibi Aisyah yang berarti saudara sepupuku. Namanya Adiba."
Fakhru dan gadis bernama Adiba itu saling menganggukkan kepala dan kemudian menundukkan wajah. Sebagai salam perkenalan.
"Nah Diba, mulai besok kamu akan dibantu Fakhru untuk mengajar di panti. Semoga kalian bisa menjadi partner yang baik ya," sambung Hakim mengakhiri perkenalan antara paman, bibi, sang sepupu dengan Fakhru.
Adiba hanya tertunduk malu. Melihat pemuda tampan di hadapannya ini, membuat gadis itu sedikit merasakan hal yang berbeda.
Astaghfirullahalazim... Jaga hati dan pandanganku ya Allah....
.
.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1