
"MashaAllah ... aku sungguh terharu melihat ini semua Ru."
Selepas menunaikan ibadah shalat maghrib, Seroja, Ana, Alamanda dan juga Fakhru duduk-duduk di serambi surau sembari menunggu masuknya waktu shalat Isya' untuk bisa kembali berjamaah. Mata Seroja memanas kala melihat beberapa tetangga yang tinggal di lokalisasi ini mulai keluar dari surau yang sebelumnya mereka ikut menunaikan ibadah shalat maghrib. Sebuah pemandangan yang begitu langka. Surau yang sebelumnya hanya memiliki jamaah, Seroja sendiri, Ana, Fakhru, ustadz Hakim dan juga Alamanda kini perlahan mulai memiliki jamaah yang lain. Para tetangga, satu persatu mulai ikut beribadah di surau ini.
Fakhru mengulas sedikit senyum di bibirnya. Kelegaan hati juga nampak tergambar jelas melalui ekspresi wajahnya. "Alhamdulillah wa syukurilah ... aku juga sangat terharu sekaligus bersyukur melihat pemandangan seperti ini, Ja. Akhirnya ikhtiar ustadz Hakim berdakwah di tempat ini membuahkan hasil. Dan alhamdulillah Allah melembutkan hati orang-orang yang tinggal di sini. Dengan seringnya ustadz Hakim bertilawah setiap pagi dan petang sebelum adzan berkumandang, hati orang-orang di tempat ini tergerak untuk beribadah di surau ini."
Fakhru paham benar dengan konsep bahwa Allah lah yang maha membolak-balikan hati manusia. Apa yang dilakukan olehnya dan juga Hakim hanyalah sebetas berikhtiar untuk mengajak orang-orang yang berada di sekitar sini untuk lebih dekat dengan Allah. Sedangkan untuk menggerakkan hati mereka, sungguh hanya Allah lah yang mampu melakukannya.
Mendengar ucapan Fakhru, membuat Seroja sedikit tergelak. Masih saja teman masa kecilnya ini merendah. Karena pada dasarnya ini semua bukan hanya keberhasilan ustadz Hakim saja, namun pemuda itu juga turut andil di dalamnya.
"Bukan hanya hasil kerja keras ustadz Hakim saja Ru, namun kamu juga ikut andil di dalamnya. Masa masih merendah seperti itu?"
"Ya, memang bisa jadi seperti itu Ja. Namun yang jelas ini merupakan hasil kerja keras kita semua. Termasuk kamu dan suster Ana juga. Mungkin doa dari kamu dan suster Ana yang terselip untuk orang-orang yang berada di sini diijabah oleh Allah."
Ana dan Seroja saling melempar pandangan. Keduanya sama-sama tersenyum simpul dan mengucap kata 'aamiin' secara bersamaan.
"Oh iya Mas, ustadz Hakim beberapa hari ini mengapa tidak nampak berada di surau? Apakah ia sedang menghadiri undangan di berbagai tempat untuk mengisi kajian?"
Ada pemandangan sedikit berbeda yang Ana lihat beberapa hari belakangan ini. Biasanya Hakim selalu ada di surau ini, namun belakangan ustadz muda itu tidak terlihat menampakkan wajahnya.
Fakhru maupun Seroja tergelak lirih kala menangkap sinyal-sinyal kerinduan yang nampak jelas di balik pertanyaan yang dilontarkan oleh Ana.
"Ada apa suster Ana menanyakan ustadz Hakim? Suster Ana rindu kah?"
Dengan gaya bercandanya yang khas, Fakhru mencoba menggoda Ana. Dan benar saja, ucapan Fakhru itu sukses membuat Ana terkesiap dan pipinya merah merona. Wanita itupun hanya bisa tersenyum kikuk.
"Eh ... itu, anu. Aku... "
__ADS_1
Ana tergagap menanggapi ucapan Fakhru. Entah mengapa tiba-tiba lidahnya terasa kelu dan tak mampu berucap apapun. Malu, ia sungguh sangat malu.
Lagi-lagi Fakhru hanya tergelak. Ada rasa bahagia kala Ana memberikan respon seperti ini. Nampaknya, rencana ustadz Hakim untuk melamar Ana akan mendapatkan jawaban yang memuaskan.
"Suster Ana tenang saja. Ustaz Hakim baik-baik saja kok. Beliau memang sedang menghadiri undangan mengisi kajian di beberapa tempat. Namun sebentar lagi beliau akan segera kembali." Fakhru menatap netra Ana dengan lekat. "Apakah suster Ana sudah siap?"
Ana kembali terkesiap. "Maksud kamu apa Mas?"
Fakhru tersenyum penuh arti. "InshaAllah sebentar lagi ustadz Hakim bersama kedua orang tuanya akan datang menemui suster Ana. Ustadz Hakim secara langsung akan datang untuk melamar suster Ana."
Jantung Ana tetiba berdetak tiada beraturan kala mendengar Fakhru menyampaikan niat baik Hakim untuk melamarnya. Tidak dapat diingkari buncahan-buncahan rasa bahagia itu memenuhi ruang-ruang hati Ana. Bahagia karena ada sosok seorang laki-laki sempurna yang berniat baik untuk menjadikannya istri. Namun seketika kebahagiaan itu sirna kala ia teringat akan ketidaksempurnaannya sebagai seorang wanita. Tak terasa setetes bulir bening itu lolos begitu saja dari pelupuk mata Ana.
Fakhru dan Seroja tersenyum simpul melihat ekspresi wajah Ana yang dipenuhi oleh keharuan itu, sampai-sampai ia menitikan air matanya.
Seroja meraih telapak tangan Ana dan menggenggamnya erat. "Suster Ana pasti akan berbahagia hidup bersama ustadz Hakim. Sambutlah kebahagiaan itu Sus."
Ana menatap lekat manik mata Seroja dengan tatapan tidak terbaca. Ia tengah dilanda oleh sebuah dilema. Ia bahagia mendengar sebuah kabar bahwa Hakim akan melamarnya, namun ketidaksempurnaan yang ada di dalam dirinya lah yang seketika memupus kebahagiaan itu.
🍁🍁🍁🍁🍁
Suara jangkrik terdengar menemani dua manusia yang tengah berbincang-bincang sembari duduk di beranda. Setelah menunaikan ibadah sholat isya', Fakhru menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah Seroja. Seperti biasa, pemuda itu menerima setoran hafalan surah pendek yang disetor oleh Alamanda. Biasanya Hakim lah yang melakukan itu semua, namun saat ini ketika Hakim berada di luar kawasan ini, Fakhru yang mengambil alih tugas ustadz muda itu. Setelah selesai, Fakhru memilih untuk duduk di beranda dan ditemani oleh Seroja.
"Ja, apakah menurutmu Adiba menaruh hati kepadaku?"
Pertanyaan dari bibir Fakhru sedikit membuat Seroja terkesiap. Namun setelah itu senyum tipis terbit di bibir Seroja. Ia berpikir inilah waktunya untuk menunaikan janji yang pernah ia janjikan kepada Adiba.
"Apa yang membuatmu menanyakan hal itu Ru? Apakah kamu menangkap sinyal-sinyal tidak biasa dari Adiba?"
Pikiran Fakhru sedikit menerawang kala teringat apa yang gadis itu lakukan terhadapnya. "Aku sendiri juga tidak paham Ja. Namun aku baru sadar jika semenjak aku mengenal Diba, dia selalu melakukan sesuatu yang sepertinya sebagai salah satu bentuk perhatiannya kepadaku."
__ADS_1
"Salah satu contohnya apa Ru?"
Seroja sengaja mengulik lebih dalam apa yang sebenarnya dirasakan oleh teman kecilnya ini. Bisa jadi Fakhru sebenarnya sudah mulai tertarik dengan kehadiran Adiba, namun ia belum menyadarinya.
"Ya, aku merasa dia begitu perhatian kepadaku. Hampir setiap hari bukan dia membawakan makanan untukku? Sampai-sampai lidahku ini begitu hafal dengan masakan Diba."
Seroja tersenyum simpul. Sepertinya saat ini merupakan waktu yang tepat untuk bisa membuka hati Fakhru untuk Adiba. "Menurutmu Adiba itu bagaimana Ru?"
Fakhru mengedarkan pandangannya ke sembarang arah dengan tatapan menerawang. "Dia gadis yang baik, cantik, pintar, cekatan, telaten dan shalihah. Ya, aku rasa seperti itu."
"Lalu jika sudah seperti itu, apa lagi yang tidak bisa menggerakkanmu untuk membuka hatimu Ru? Adiba sosok wanita yang sempurna. Apa lagi yang kamu cari?"
Fakhru menggelengkan kepala pelan. Ia sendiri juga merasakan kebimbangan. "Entahlah Ja, aku juga tidak mengerti. Namun, rasa yang aku miliki untuk Diba sangat berbeda dengan apa yang aku rasakan kepadamu."
Seroja tersenyum simpul. Ia paham benar bahwa sesungguhnya apa yang dirasakan oleh Fakhru terhadapnya bukan cinta, namun hanya seberkas rasa sayang dan rasa ingin melindungi sebagai seorang sahabat.
"Yang kamu rasakan kepadaku bukanlah cinta Ru. Itu semua hanya sebatas rasa saling menyayangi satu sama lain sebagai seorang sahabat."
Fakhru mengedikkan bahu. Rasa yang tersimpan dalam hati sungguh membuatnya kalit setengah mati. Sedangkan Seroja semakin terkekeh geli melihat ekspresi wajah teman kecilnya ini.
"Coba buka sedikit hatimu Ru. Pasti kamu akan merasakan betapa Adiba begitu perhatian kepadamu. Dia mencurahkan rasa cinta yang ia miliki kepadamu dengan caranya sendiri. Pastinya dengan cara selalu memberikanmu perhatian yang lebih. Apakah itu semua belum cukup untuk membuatmu mengerti bahwa Diba memang benar-benar mencintaimu?"
Fakhru masih terdiam seribu bahasa. Pemuda itu larut dalam pikirannya sendiri. Apa yang dikatakan oleh Seroja memang banyak benarnya. Diba memang terlihat begitu berbeda dalam memperlakukannya. Ya, gadis itu memang terlihat begitu mencintainya.
"Jika janji yang pernah kamu ucapkan kepadaku di masa kecil kita dulu dimana kamu akan selalu melindungiku yang membuatmu berat untuk membuka hati, aku tidak akan menganggapnya sebagai sebuah janji, Ru. Bukalah hatimu untuk menerima kehadiran Adiba. Aku yakin, Adiba adalah wanita terbaik yang telah dipersiapkan oleh Allah untuk menghapus segala luka yang pernah kamu rasakan."
.
.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁