
Seroja mematutkan tubuhnya di balik jendela lebar yang berada di sudut ruangan ini. Kedua bola matanya menatap intens suasana di luar, di mana kuda-kuda besi terlihat mulai berlalu lalang memenuhi ruas-ruas jalanan beraspal kota ini. Suara klakson yang saling bersahutan seakan berlomba-lomba untuk menunjukkan eksistensi mereka, menjadi penguasa jalan.
Kejadian demi kejadian tak terduga yang ia alami hari ini semakin membuatnya larut dalam sebuah pikiran yang begitu rumit layaknya benang yang kusut. Tidak paham bagaimana caranya ia bisa mengurai simpul benang itu sehingga bisa kembali seperti semula. Pemilik ruko yang tiba-tiba mengizinkan rukonya untuk ia tempati. Pembayaran uang sewa yang diperbolehkan dibayar di lain hari. Beberapa mesin jahit yang tiba-tiba dikirim ke ruko ini. Kemudian keberadaan pemilik ruko yang tiba-tiba menghilang, entah berada di mana karena kunci ruko dititipkan kepada pemilik ruko sebelah seakan menjadi sebuah skenario seseorang yang diam-diam ingin membantunya. Ya, Seroja semakin yakin jika ada seseorang yang berada di balik ini semua. Seseorang di balik layar yang turut serta membantunya untuk mewujudkan semua mimpi dan angannya.
"Ya Allah, sebenarnya siapa yang telah melakukan ini semua untukku? Orang baik siapa yang dengan diam-diam membantuku?"
Seroja sibuk bermonolog lirih sembari membuang nafas sedikit kasar. Semakin ia larut dalam pikiran itu, justru kebuntuan yang semakin ia dapatkan.
"Semoga suatu saat nanti, aku bisa bertemu dengan orang baik itu untuk mengucapkan rasa terimakasihku."
Seroja yang tengah larut dalam pikirannya sendiri seketika terhenyak kala mendengar derap langkah kaki beberapa orang yang berada di lantai bawah. Sekilas, Seroja menyunggingkan sedikit senyumnya karena semua orang yang ia undang untuk hadir ke tempat ini telah tiba. Seroja memutar tumitnya, dan mulai melangkahkan kaki untuk menghampiri para tamunya.
"Ya Allah, semoga Engkau senantiasa memberikan keselamatan dan kebahagiaan untuk orang baik itu, karena darinyalah aku bisa membantu memberdayakan potensi orang-orang yang berada di sekitarku."
🍁🍁🍁🍁
"MashaAllah ... rasa-rasanya aura ketampanan putra Ayah semakin nampak keluar. Kira-kira ada apa ya?"
Masih dengan sarung dan baju koko yang membalut tubuhnya, Mukhlas nampak memasuki kamar Hakim yang sedari tadi dibiarkannya terbuka. Lelaki paruh baya itu mendaratkan bokongnya di tepi ranjang dan menatap lekat apa yang dilakukan sang putra. Ya, putranya itu nampak mengukir senyum tiada henti di depan cermin.
"Ayah bisa saja. Tidak ada yang berubah dari Hakim, Yah. Hakim tetap terlihat tampan seperti biasa."
Mukhlas hanya tergelak mendengar ucapan putra semata wayangnya ini. Ya, seperti inilah Hakim, meski ia sering keluar rumah untuk mengisi kajian-kajian keagamaan, ia tetaplah seorang anak yang selalu manja ketika berada di dekat kedua orangtuanya.
"Apakah malam ini kita jadi berkunjung ke kediaman Ana?"
Hakim berbalik badan, ia langkahkan kakinya untuk mendekat ke arah sang ayah dan duduk di sisinya. "InshaAllah Yah, malam ini kita datang ke kediaman Ana."
"Apakah nanti kita akan disambut oleh kedua orang tua Ana, Nak?"
__ADS_1
Hakim menghela nafas sedikit dalam dan perlahan ia hembuskan. "Sepertinya tidak Yah."
Dahi Mukhlas sedikit mengerut. Sedikit tidak paham dengan apa yang diucapkan oleh sang putra. "Tidak? Maksud kamu bagaimana Nak?"
"Begini Yah. Yang Hakim tahu, Ana menjadi perawat seorang gadis kecil berusia delapan tahun yang tidak dapat melihat. Dan ia tinggal di lokalisasi itu bukan bersama keluarganya."
"Lalu, kedua orang tua Ana tinggal di mana Nak?"
"Itulah yang Hakim kurang paham Yah, karena sejauh ini dalam interaksi Hakim dan Ana tidak pernah membahas perihal keluarga Ana. Maka dari itu, nanti malam ketika kita datang menemui Ana, kita bisa bertanya lebih jauh perihal keluarganya."
"Baiklah kalau begitu Nak. Ayah serahkan semuanya kepadamu. Jika kamu memang sudah yakin untuk menjalani kehidupan berumah tangga bersama Ana, Ayah dan ibu hanya bisa memberikan restu untukmu."
"Terimakasih Yah. Semoga setelah ini, ikhtiar kita untuk mencari keberadaan adik diberikan kemudahan oleh Allah ya Yah."
Mukhlas mengangguk pelan. Meski rasa pesimis itu begitu kuat membelenggu hatinya, namun ia percaya jika suatu saat nanti, ia akan dipertemukan dengan putri kandungnya yang selama ini hilang bak di telan bumi.
"Yah, sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal di hati Hakim kala bertemu dan berhadapan langsung dengan salah seorang wanita."
Tubuh Mukhlas sedikit terperanjat. Kedua bola mata lelaki paruh baya itu membulat sempurna. "Nak, jangan bercanda. Kamu baru saja memiliki niatan untuk melamar Ana, namun mengapa kamu tiba-tiba pindah ke lain hati?"
Hakim menoleh ke arah sang ayah dan tergelak lirih. "Bukan seperti itu maksud Hakim, Yah. Hakim tidak pindah ke lain hati."
"Lalu maksud kamu bagaimana Nak?"
Hakim membuang nafas sedikit kasar. Rasa-rasanya ia harus menceritakan perihal Seroja kepada sang ayah.
"Namanya Seroja, Yah. Dia adalah kakak dari gadis kecil yang dirawat oleh Ana."
"Lalu? Perasaan seperti apa yang kamu miliki untuk wanita bernama Seroja itu?"
"Entahlah Yah. Hakim juga tidak begitu paham. Namun rasa-rasanya Hakim seperti begitu dekat dengan Seroja. Seperti sudah mengenal sejak lama. Padahal, baru beberapa saat saja Hakim bertemu dengannya."
__ADS_1
Mukhlas hanya tersenyum simpul mendengar penuturan sang putra. Lelaki paruh baya itu meraih telapak tangan Hakim dan menggenggamnya erat. "Apakah mungkin apa yang kamu rasakan terhadap wanita bernama Seroja itu seperti rasa sayang seorang kakak terhadap adik perempuannya?"
Hakim hanya bisa mengangguk lirih. Tidak ia sangka sebelumnya, jika rasa sayang itu juga turut hadir untuk Seroja. Rasa yang tiba-tiba menyelinap masuk ke dalam hatinya dan sangat sulit ia kendalikan. Sungguh, ia merasa begitu dekat dengan wanita itu.
Mukhlas kembali mengulas sedikit senyum di bibirnya. "Ternyata bukan hanya Ayah dan ibu saja yang merindukan salah satu anggota keluarga kita yang telah lama hilang. Kamu juga nampak begitu merindukannya, Nak."
"Sepertinya memang begitu Yah. Hakim benar-benar merindukan adik."
🍁🍁🍁🍁
"Suster Ana mengapa nampak murung seperti itu?"
Seroja yang baru saja tiba di rumah, sedikit kebingungan dengan apa yang dilakukan oleh Ana di sore hari ini. Wanita itu terlihat duduk sendirian di beranda dengan pikiran yang menerawang dengan raut wajah sedikit muram.
Ana menoleh ke arah sumber suara. Dan hanya senyum tipis yang terbit di bibirnya. "Ustadz Hakim dan kedua orangtuanya nanti malam akan berkunjung kemari, Mbak."
Seroja terkesiap. "Mau berkunjung kemari? Itu artinya suster Ana akan... "
Ucapan Seroja terpangkas kala buncahan-buncahan bahagia itu terasa begitu menyeruak dalam dada. Ya, bahagia karena keluarga ustadz Hakim akan berkunjung kemari untuk melamar suster Ana.
Ana hanya mengangguk pelan. "Iya Mbak, ustadz Hakim dan keluarga akan datang kemari untuk melamar saya."
"MashaAllah ... aku benar-benar bahagia Sus. Tapi mengapa wajah suster Ana terlihat murung seperti itu? Apa yang mengganjal di hati suster Ana?"
"Saya hanya takut jika akan mengecewakan ustadz Hakim dan keluarga karena kekurangan yang ada di dalam diri saya, Mbak. Bagaimanapun juga sampai kapanpun, saya tidak akan pernah bisa memberikan keturunan untuk ustadz Hakim."
.
.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1