Cahaya Cinta Untuk Seroja

Cahaya Cinta Untuk Seroja
CCUS 83 : Orang Yang Sama


__ADS_3


"Waalaikumussa..." Lily menjeda balasan ucapan salam dan kemudian... "Nak Randy?!"


Pekikan suara Lily terdengar sedikit menggema memenuhi ruangan ini. Kedua bola matanya terbelalak dan membulat sempurna kala melihat sosok laki-laki yang berdiri tepat di hadapannya. Ia yang bermaksud membukakan pintu untuk lelaki yang akan melamar putrinya secara langsung, justru dibuat terkejut dengan kehadiran lelaki yang beberapa waktu terakhir ini sudah sangat jarang terlihat.


"Bu Lily?"


Tak jauh berbeda dengan ekspresi yang ditampakkan oleh Lily, Randy pun juga sedikit terkejut akan keberadaan wanita paruh baya yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri. Ia begitu heran, mengapa ibunda ustadz Hakim berada di sini, namun sesegera mungkin ia tepis rasa heran itu. Ia ingat bahwa ustadz Hakim akan menikahi suster Ana, sehingga sangat wajar jika bu Lily yang tak lain dan tak bukan merupakan calon mertua suster Ana berada di sini.


Tanpa menunggu banyak waktu, Lily menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Randy. Ia peluk lelaki yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri itu dengan erat.


"Ya Allah Nak, kemana saja kamu akhir-akhir ini? Mengapa kamu sangat jarang untuk berkunjung ke rumah Ibu?"


Ada sepercik kehangatan yang mengaliri aliran darah Randy kala pelukan wanita paruh baya ini terasa begitu erat membenamkan tubuhnya ke dalam rengkuhannya. Tidak ada yang dapat ia tampakkan selain hanya senyum lebar dan merekah menghiasi bingkai wajahnya.


"Maafkan saya Bu. Akhir-akhir ini pekerjaan saya memang sangat banyak sehingga membuat saya jarang berkunjung ke rumah bu Lily dan pak Mukhlas."


Lily mengurai sedikit pelukannya. Ia menepuk-nepuk bahu Randy dengan binar kasih yang begitu kentara. "Apakah kamu memiliki ikatan batin kepada Ibu? Sehingga kamu bisa tahu bahwa Ibu sedang ada di rumah anak Ibu ini, dan kamu menyusul kemari?"


Randy terkesiap kala mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Lily. "Anak Ibu? Maksud bu Lily anak menantu? Suster Ana merupakan calon anak menantu Ibu Lily kan?"


Lily tergelak lirih. Ia kembali menepuk-nepuk bahu Randy dengan penuh sayang. "Beberapa waktu kita tidak bertemu, ada banyak hal yang terjadi kepada Ibu Nak. Salah satunya adalah, kebahagiaan Ibu karena bisa kembali bertemu dengan putri kandung Ibu yang sudah terpisah selama dua puluh tujuh tahun lamanya."


Randy semakin terperangah. Ucapan Lily semakin menggiring opininya bahwa salah seorang yang tinggal di rumah ini adalah putri kandung Lily. Seketika memori otaknya merekam ulang perkataan Seroja di mana wanita itu memintanya untuk bertemu langsung kepada orang tuanya. Dan seketika itu pulalah ia menyimpulkan bahwa Lily dan Mukhlas adalah kedua orang tua Seroja.


"M-maksud bu Lily, Seroja yang tinggal di rumah ini adalah ...."


Randy memangkas ucapannya. Sungguh, ia teramat gugup dengan jawaban apa yang akan diberikan oleh Lily. Sebuah jawaban yang bisa menguatkan opininya bahwa Seroja adalah putri kandung Lily dan Mukhlas.


Lily menganggukkan kepalanya dengan mantap, diiringi dengan senyum merekah yang terhias di wajahnya. "Iya Nak, Seroja adalah putri kandung Ibu yang hilang di dua puluh tujuh tahun yang lalu. Dan dia adalah adik dari Hakim."


Tubuh Randy sedikit berguncang. Sendi-sendi di kakinya seketika melemas. Rasa-rasanya ia sudah tidak lagi mampu untuk menopang bobot tubuhnya. Lelaki itu sedikit terhuyung dan


Bruk!!!


Randy terduduk di atas lantai dengan pandangan mata yang terlihat kosong dan menerawang. "Allah ya Rabb, jika sudah seperti ini aku harus bagaimana?"

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁


Wajah-wajah yang sebelumnya dihiasi oleh binar-binar kebahagiaan, kini seketika berubah menjadi bingkai wajah yang dipenuhi oleh keterkejutan. Atmosfer ruangan yang sebelumnya mereka anggap akan dipenuhi oleh riuh tawa penuh kebahagiaan, kini seketika menjadi hening, dingin, dan membeku. Tak ada sepatah katapun yang terlisan dari bibir mereka seakan. Barangkali ada yang ingin sama-sama mereka ungkapkan, namun sepertinya apa yang ada di dalam hati tertahan dan membuat bibir mereka terbungkam. Kepala orang-orang yang ada di ruangan ini semuanya menunduk dan larut dalam keheningan masing-masing.


Seroja terlihat begitu terkejut, saat mengetahui bahwa sang mantan suami lah yang sejak beberapa saat lalu yang diceritakan oleh sang ibu. Sedangkan Lily, Mukhlas, dan juga Hakim juga tak kalah terkejut saat mengetahui bahwa lelaki yang mengalami kecelakaan di dekat tempat tinggal mereka adalah mantan suami dari salah satu anggota keluarganya. Sungguh, sebuah goresan tinta takdir yang sama sekali tidak pernah terbayangkan dan terpikirkan di dalam benak mereka.


Randy mendongakkan sedikit wajahnya. Sorot kedua netranya menatap intens dua paruh baya yang saat ini duduk bersebelahan. Dua paruh baya itu nampak begitu termangu dengan apa yang mereka alami malam hari ini. Tanpa membuang banyak waktu dan berpikir panjang, Randy bangkit dari posisi duduknya dan mulai bersimpuh di atas pangkuan Lily dan Mukhlas.


"Bapak, Ibu, maafkan saya atas semua kesalahan dan dosa yang pernah saya lakukan terhadap Seroja. Saya lah lelaki yang sedikit banyak juga telah menjerumuskan Seroja ke dalam jurang kenistaan itu Pak, Bu!"


Randy menenggelamkan wajahnya di atas pangkuan Lily dan Mukhlas. Air matanya mengalir deras, menyusuri tiap bagian yang membingkai wajahnya. Lelaki itu menangis tergugu di sana. Seketika ia teringat akan apa yang pernah terjadi. Menjadikan Seroja wanita simpanan meski bersembunyi di balik kata cinta. Menikmati tubuh Seroja sebelum ia mengikat wanita itu ke dalam ikatan suci pernikahan. Dan seakan semakin membuat kehancuran raga dan hati wanita yang ia cintai itu.


Lily dan Mukhlas saling melempar pandangan. Mungkin di dalam hati dua paruh baya itu terbesit sedikit perasaan kecewa. Namun kembali lagi, sebagai seorang hamba, mereka hanya bisa menjalankan segala skenario takdir yang telah tertulis. Mereka harus ikhlas dan berlapang dada dalam menjalankan semua lakon yang sudah dipilihkan oleh sang sutradara yang tak lain adalah Allah SWT.


Lily menatap pucuk kepala Randy dengan tatapan penuh arti. Keinginannya untuk memiliki seorang menantu seperti Randy, tanpa terduga lelaki itulah yang menemukan jalannya sendiri untuk mengarah ke dalam rengkuhannya. Hati wanita paruh baya itu sudah terlanjur terpaut terhadap sosok Randy. Sebagai seorang ibu, Lily meyakini bahwa cinta yang dimiliki oleh Randy teramat besar untuk Seroja dan hal itulah yang akan menjadi sumber kebahagiaan untuk Seroja.


Lily memegang bahu Randy, mencoba untuk sedikit ia tegakkan. Kini pandangan netranya bersirobok dengan netra milik Randy yang nampak sembab. Perlahan, ia seka sisa air mata yang membasahi wajah Randy.


"Maafkan saya, Bu. Maafkan saya!"


Randy mengangguk mantap. "Saya ingin memulai semuanya dari awal Bu. Dari awal di saat saya merasakan apa itu jatuh cinta kepada Seroja."


"Apa yang bisa membuat Ibu percaya bahwa kamu memang yang terbaik untuk Seroja?"


"Saya memang tidak memiliki apa-apa Bu, namun saya memiliki satu komitmen bahwa saya hanya akan satu kali menikah dan itu menikah dengan Seroja. Saya tidak akan pernah mengecewakan Seroja."


"Lalu bagaimana dengan pondasi Ilmu yang kamu miliki untuk bisa membimbing Seroja ke jalan yang di ridhoi dan di rahmati oleh Allah?"


Kini, giliran Mukhlas yang melontarkan sebuah pertanyaan kepada Randy. Bagaimanapun juga tugas seorang imam dalam sebuah keluarga bukanlah perkara yang mudah. Sejatinya seorang suami memiliki tanggung jawab yang besar dalam membimbing anggota keluarganya. Pastinya membimbing mereka untuk terhindar dari siksa api neraka.


Seroja tersentak kala pertanyaan itu dilontarkan sang ayah kepada Randy. Ia sadar bahwa Randy saat ini tengah berupaya keras untuk berbenah. Berbenah untuk dapat menjadi sosok seorang hamba yang jauh lebih baik dari sebelumnya.


Randy tersenyum getir. Ada sepercik perasaan rendah diri yang tetiba menyerang sudut hati terdalamnya. Ia sangat paham bahwa sejauh ini, perihal ilmu agama yang ia miliki masih begitu cetek bahkan bisa dikatakan baru seujung kuku. Sangat sedikit dan sangat minim. Ia pasrah jika pada akhirnya kedua orang tua Seroja tidak memberikan restu.


"Saya memang bukanlah seorang hamba yang bertaqwa dan paham benar akan syariat-syariat agama, Pak. Bahkan saya lebih tepat disebut dengan seorang pendosa yang masih sering tersesat." Randy menjeda sedikit ucapannya dan menghirup udara dalam-dalam, mengisi rongga dadanya dengan oksigen. "Namun saya akan berusaha untuk terus belajar. Pastinya belajar untuk bisa menjadi sosok seorang imam yang terbaik untuk istri saya."


"Apakah kamu tidak malu, baru belajar memperdalam ilmu agama di usiamu yang sudah menginjak tiga puluh tahun ini?"

__ADS_1


Lagi, Mukhlas menghujani Randy dengan pertanyaan-pertanyaan yang penuh dengan intimidasi. Ia ingin tahu, setangguh apa lelaki ini mempertahankan rasa cinta yang ia miliki untuk sang putri.


"Selama raga ini masih bernyawa. Jantung dalam tubuh saya masih memompa darah. Dan denyut nadi berdetak, saya yakin Allah akan memberikan jalan yang mudah untuk saya berbenah. Itulah salah satu hal yang begitu saya inginkan. Menjadikan Seroja pendamping hidup yang kelak bisa menegur dan turut mengingatkan akan semua yang saya lakukan."


Dengan kepala menunduk, Randy mencoba mengutarakan argumentasinya. Saat ini, ia berada di dalam titik yang rendah. Ia pasrah jika sang mantan istri tidak akan pernah lagi kembali ke dalam pelukannya.


Mukhlas menoleh ke arah Seroja yang duduk tak jauh dari tempatnya terduduk saat ini. "Nak, bagaimana denganmu? Apakah kamu bersedia menerima nak Randy untuk kembali menjadi suamimu?"


Sekilas, Seroja menatap satu persatu manik mata orang-orang yang berkumpul di sini. Ia pun menghela nafas dalam. "Seroja bersedia Yah, Seroja bersedia menerima mas Randy kembali."


Mukhlas tersenyum simpul. Ia menepuk-nepuk pundak Randy sama halnya yang dilakukan oleh sang istri terhadap lelaki yang tengah bersimpuh ini.


"Nak, putri Bapak bersedia menerima kehadiranmu kembali. Tidak ada yang dapat bapak, Ibu dan Hakim lakukan selain hanya memberikan restu dan ridho. Karena pada dasarnya, kalian masih sama-sama saling mencintai."


Randy terperangah kala mendengar kata kiasan yang keluar dari bibir Mukhlas. "P-Pak, apakah itu berarti ....."


Mukhlas menganggukkan kepalanya. "Iya Nak, Bapak mewakili Ibu dan kakak dari Seroja memberikan restu untuk kalian. Mungkin waktu yang telah lalu bukanlah waktu yang tepat bagi kalian untuk bersama. Di mana kalian sama-sama masih menjadi seorang hamba yang belum begitu paham dengan ilmu agama. Dan kini kalian kembali dipertemukan dan disatukan ketika cahaya cinta dari Allah telah menelusup masuk ke dalam relung jiwa kalian masing-masing. Bapak percaya bahwa cahaya cinta dari Rabbi itulah yang akan senantiasa menerangi titian jejak-jejak langkah kaki kalian."


"Pak .... "


Suara Randy tercekat di dalam tenggorokan, seakan terhalang oleh sesuatu yang menghalangi laju gelombang suaranya. Dadanya seakan dipenuhi oleh kelopak-kelopak kebahagiaan yang berhamburan. Dan hanya bisa membuatnya lidahnya kelu seketika. Hanya ada lelehan air mata yang menjadi sebuah isyarat bahwa saat ini ia terlampau bahagia.


"Inilah salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada kalian semua. Jangan pernah merasa rendah diri akan masa lalu yang pernah kalian lewati. Meski tubuh kalian berlumur dosa, namun Allah tidak pernah membedakan akan kasih sayang yang Dia berikan kepada hamba yang benar-benar mengharap cahaya cinta dariNya. Semoga keberkahan dan rahmat dari Allah SWT senantiasa mengiringi langkah kaki kalian di hari-hari yang akan kalian lalui."


Randy sudah tidak bisa berucap apapun. Ia menggeser sedikit tubuhnya dan kemudian ia sujud syukur di atas lantai ruangan ini. "Alhamdulillah wa syukurillah .... Terima kasih atas semua nikmat dan karuniaMu ini, ya Allah!"


Tak jauh berbeda dengan Randy, Seroja juga hanya bisa menangis tergugu di dekapan Hakim. Wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu tidak pernah menyangka akan kembali disatukan dengan lelaki yang hingga saat ini masih merajai hati.


"Berbahagialah selalu adikku. Berbahagialah selalu!" ucap Hakim sembari menghujani pucuk kepala Seroja dengan kecupan lembut dari bibirnya.


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁


Saya ngetik part ini sambil teklak-tekluk (menahan rasa kantuk) mohon maaf jika banyak typo ya Kak... ☺☺

__ADS_1


__ADS_2