Cahaya Cinta Untuk Seroja

Cahaya Cinta Untuk Seroja
CCUS 40 : Menjemput Cahaya


__ADS_3


Seroja nampak sedang mencari-cari sesuatu di dalam almari pakaiannya di dini hari seperti ini. Entah apa yang ia cari, namun sedari tadi tangannya terlihat sibuk meraba-raba tumpukan lipatan pakaian-pakaian itu. Di sela kesibukannya, tanpa sengaja jemari tangannya memegang sesuatu yang berada di bawah lipatan pakaian itu. Pakaian-pakaian di rak paling bawah yang merupakan pakaian semasa kecilnya yang masih tersimpan dan tertata rapi. Entah apa tujuan sang ibu sejak dulu masih menyimpan pakaian-pakaian ini. Namun hatinya seakan kian menghangat, karena dengan seperti ini, seperti menjadi sebuah tanda bahwa sang ibu sejatinya memang menyayanginya.


Seroja menarik tangannya, kala jemarinya menyentuh sesuatu. Sebuah kantong kecil dari kain dengan aksen renda berwarna biru laut. Ia buka kerutan kantong itu kemudian ia ambil isi yang tersimpan di dalamnya. Dan sebuah tasbih kecil berwarna putih terlihat jelas di depan matanya.


"Fakhru ... "


Nama itulah yang seketika terlisan dari bibir Seroja kala menatap lekat tasbih putih itu. Sebuah tasbih yang mengingatkannya kepada sosok seorang lelaki kecil yang dulu selalu melindungi dan membelanya ketika diskriminasi itu ia dapatkan dari teman-teman sepermainannya. Dan sebuah tasbih yang membuat memori otaknya merekam ulang akan peristiwa di dua puluh dua tahun silam. Sebuah malam kelam di mana ia meninggalkan kota Jogja dengan membawa serpihan-serpihan luka.


Ini untukmu Seroja. Pergunakan ini ketika kamu merasa sedih ataupun ketakutan. Kata kakek Juna, ini akan membuat hatimu selalu tenang dan tidak pernah merasa takut.


Kata-kata yang pernah terucap dari bibir Fakhru tiba-tiba terngiang jelas di telinga Seroja. Pandangan netranya tidak lepas dari tasbih putih ini.


"Apakah benar yang dikatakan oleh Fakhru jika benda ini bisa membuatku merasakan ketenangan jiwa?"


Masih lekat menatap tasbih putih kecil ini, Seroja mulai mengayunkan langkah kakinya untuk keluar dari dalam kamar. Masih dengan membawa tasbih itu, ia bermaksud ingin duduk di teras sembari menikmati suasana dini hari ini.


Namun pergerakan kakinya terhenti kala ia melintas di depan kamar yang biasa di tempati oleh Ana dan sang ibu. Perlahan ia mendekat ke arah kamar dan sedikit menyibak kain gordyn yang menjadi penutup kamar. Kedua netranya menangkap sosok wanita yang tengah berdiri menghadap kiblat dengan melakukan gerakan-gerakan shalat. Seroja memperhatikan dengan lekat apa yang dilakukan oleh Ana. Sampai-sampai ia tidak sadar jika ia mulai larut dalam pikirannya sendiri.


"Assalamualaikum warahmatullah... Assalamualaikum warahmatullah.. "


Kalimat salam yang terlisan dari bibir Ana yang berada di dalam kamar ini, menjadi pertanda telah tertunaikannya dengan sempurna sebelas rakaat yang ia dirikan. Dilanjutkan dengan dzikir dan doa, Ana terlihat begitu khusyuk dalam lantunan nafas-nafas cinta untuk memuji sang maha penggenggam kehidupan. Memuji akan keagungan dan kasih sayang yang telah Dia berikan di kehidupan yang tiada abadi ini.


Allah menciptakan udara yang dapat dihirup hamba-hambaNya dengan percuma untuk bisa menjadi sumber kehidupan mereka. Dia menitipkan jantung, paru-paru, otak, hati, ginjal, dan semua yang ada di dalam tubuh manusia juga sebagai salah satu bentuk cinta kasih Allah kepada makhluk-makhluk Nya. Dan dengan mendirikan shalat wajib dan qiyyamul lail seperti inilah merupakan salah satu cara manusia untuk mensyukuri semua nikmat yang telah diberikan.


Ia menunduk takdzim, larut dalam doa dan pintanya. Meminta agar hidup yang ia jalani, senantiasa berada di dalam keberkahan. Tidak hanya di dunia tetapi juga di kehidupan yang kekal nanti.


Ana mengusap wajah setelah selesai menengadahkan tangannya untuk melangitkan semua yang menjadi pintanya kepada Sang Khalik. Dahinya sedikit mengerut. Entah mengapa ia merasakan ada seseorang yang memperhatikan pergerakannya di balik punggungnya. Sedikit ia membalikkan punggung, dan benar saja Seroja nampak berdiri di depan pintu kamar.


"Mbak Seroja?"


Suara Ana sukses membuyarkan lamunan Seroja yang tengah berdiri, terdiam dan terpaku di depan pintu. Wanita itu pun hanya mengulas sedikit senyumnya.


"Suster Ana ... apakah aku mengganggu?"


Ana bangkit dari posisi bersimpuh nya. Ia mendekat ke arah wanita ini. "Tentu tidak Mbak. Saya sudah selesai shalat."

__ADS_1


"Suster Ana baru saja melaksanakan shalat apa?"


"Saya baru saja shalat tahajjud dan witir, Mbak."


Dahi Seroja sedikit mengernyit. Meski semenjak pindah dari Jogja ia tidak pernah shalat dan sesekali mendapatkan ilmu agama di bangku sekolah, namun ia ingat apa yang pernah diajarkan oleh ustadz bahwa shalat wajib itu ada lima. Dan tidak ada yang dilakukan di dini hari seperti ini.


"Itu shalat apa Sus?"


Ana menyunggingkan sedikit senyum di bibirnya. "Salah satu shalat sunnah yang begitu dianjurkan oleh Rasulullah. Shalat ini di sebut juga dengan qiyyamul lail, atau shalat malam karena memang biasanya dilakukan di malam-malam hari seperti ini. Di saat orang-orang masih terbuai dalam mimpinya."


"Mengapa shalat ini begitu dianjurkan Sus? Padahal ini hanya merupakan shalat sunnah bukan? Dan tidak wajib?"


Senyum manis itu semakin lebar terbit di bibir Ana. Kali ini ia benar-benar yakin bahwa Seroja akan menemukan titik balik hidupnya.


"Selain mendapatkan kedudukan mulia di akhirat kelak, orang-orang yang mengerjakan shalat tahajjud juga akan mendapatkan kedudukan yang mulia di dunia. Allah akan memberinya kemuliaan dan kewibawaan. Orang yang mengerjakan shalat tahajjud kemudian berdoa, insya Allah doanya dikabulkan Allah."


"Apakah itu artinya jika kita berdoa di sepertiga malam seperti ini, Allah akan segera mengabulkan doa-doa kita Sus?"


"Mbak Seroja harus tahu bahwa Allah lah yang jauh lebih mengetahui apa yang terbaik untuk hamba Nya. Dia yang lebih tahu kapan waktu terbaik untuk mengabulkan doa-doa yang dipanjatkan oleh hambaNya. Jika saat ini doa kita belum terkabul, yakinlah bahwa doa itu akan terkabul di suatu saat nanti. Ibarat mengayuh sebuah sepeda, doa itu seperti kayuhan sepeda itu. Berulang-ulang kita kayuh, dan percaya saja kelak bisa mengantarkan kita sampai ke tujuan. Sama seperti doa. Dengan mengulang-ulang doa, inshaaAllah suatu saat nanti akan dikabulkan oleh Allah."


Mendadak hati Ana diluputi oleh kehangatan. Ia mengangguk mantap. "Pasti bisa Mbak, saya akan mengajari mbak Seroja untuk shalat."


🍁🍁🍁🍁


Seroja PoV....


Ketika aku mengintip apa yang dilakukan oleh suster Ana di dini hari seperti ini, entah mengapa hatiku tiba-tiba dipenuhi oleh perasaan asing yang entah apa itu namanya. Aku sungguh menangkap sinyal kedamaian dan ketenangan kala melihat gerakan-gerakan shalat yang dilakukan oleh suster Ana. Terlebih tatkala ia menengadahkan kedua telapak tangannya, dengan air mata yang menetes dari pelupuk mata seakan membuatku bertanya-tanya apa yang ditangisi oleh wanita itu.


Suster Ana mengatakan ia menangis karena teringat akan dosa-dosa yang ia lakukan. Jawaban suster Ana benar-benar menohok hatiku dan meremas kuat jantungku hingga terasa berdenyut nyeri. Suster Ana yang begitu taat beribadah masih memikirkan dosa? Lalu bagaimana dengan aku? Aku yang sama sekali tidak pernah menjalankan perintahNya, tak memperdulikan namaNya dan tenggelam melupakan diriNya, justru tidak pernah terlintas akan dosa yang telah aku lakukan. Lantas sudah berapa banyak dosa yang telah menumpuk di tubuhku jika setiap hari selama aku hidup di dunia ini selalu menumpuk dosa-dosa itu dengan tidak pernah beribadah kepada Allah. Apakah mungkin dalam waktu sekejap, dosa-dosa itu dapat meluruh? Aku mempertanyakan hal itu kepada suster Ana. Lagi-lagi dia memberiku sebuah jawaban yang semakin membuatku yakin untuk berjalan menuju cahaya.


****


Malam menjelang, dihiasi awan mendung yang meredupkan pantulan cahaya sang rembulan. Seketika langit malam menjadi kelam. Dan bumi pun menjadi kian gelap. Hembusan angin kencang menggoyangkan tirai jendela kamar, dan sesaat setelahnya mulai terdengar rintik air hujan, memecahkan kesepian dan kesunyian malam.


Setelah dari kamar suster Ana, aku bersegera mengambil air wudhu di kamar mandi. Meski aku tidak pernah shalat namun aku masih mengingat apa yang pernah diajarkan oleh seorang guru mengaji di masa-masa kecilku dulu. Setelah itu aku kembali ke dalam kamar untuk melakukan apa yang suster Ana ajarkan.


Sebuah sajadah dan mukena, suster Ana pinjamkan kepadaku. Dan tak lupa, sebuah tasbih kecil pemberian teman masa kecilku yang baru saja aku temukan juga tergeletak di sana. Sekilas, aku tatap lekat tiga barang itu. Mataku tiba-tiba memanas. Bibirku bergetar dan jantungku berdetak tak beraturan. Seharusnya barang-barang ini tidaklah asing bagiku, mengingat aku ini adalah seorang muslim. Namun mengapa barang-barang di depanku ini rasanya sangat jarang aku sentuh? Bahkan bukan jarang namun sama sekali tidak pernah aku pergunakan. Tidak heran jika dalam hatiku terbesit sebuah rasa, aku adalah seorang pendosa yang telah jauh tersesat.

__ADS_1


Aku lupa kapan terakhir kali aku memakai mukena. Aku lupa kapan terakhir kali aku bertakbiratul ikhram, rukuk, bersujud, dan memuji akan keagungan Tuhanku. Aku benar-benar lupa kapan terakhir kali aku melakukannya. Dan kini, setelah barang itu ada di depan mataku, rasanya aku kembali ingin menyentuhnya, kemudian memakainya untuk menghadap Tuhanku.


Baru kali ini aku merasakan sesuatu yang berbeda. Aku merasakan sebuah kehampaan dan kekosongan dalam jiwa. Rasanya ada sesuatu yang benar-benar telah hilang dalam diriku. Mungkinkah kali ini Tuhanku sedang menyapaku? Agar aku bisa kembali mendekat kepadanya? Mungkinkah? Mungkinkah? Mungkinkah?


***


Assalamualaikum warahmatullah... Assalamualaikum warahmatullah...


Dua rakaat telah selesai aku tunaikan. Berbekal sedikit ilmu pengetahuan agama yang pernah aku dapatkan semasa kecil dan sesekali aku dapatkan melalui pelajaran ilmu agama di sekolah, serta yang diajarkan oleh suster Ana, aku pergunakan untuk menunaikan sholat ini. Sholat sunnah taubat, sepertinya menjadi awal niatku untuk kembali mendekatkan diri kepada Tuhanku.


Aku bersimpuh menghadap arah kiblat. Ku lafadzkan kalimat-kalimat istighfar untuk memohon ampun atas semua dosa yang telah aku lakukan. Dosa karena selama ini aku tidak menjalankan perintah Nya, tidak memperdulikan nama Nya, dan tenggelam melupakan diri Nya.


Tidak hanya itu, kalimat tasbih, tahmid, dan tahlil aku ucapkan untuk memuji keagungan Tuhanku. Sebagai salah satu bentuk ucapan terimakasih atas segala kasih sayang yang telah Dia berikan kepadaku. Meski aku ini adalah seorang hamba yang hina dan berlumur dosa namun Dia masih tetap mendekapku erat dalam kasih sayangNya.


Kumalnya sajadah lama yang rindu pada tuannya. Mukena terjuntai, tidak pernah cicipi baunya tubuh. Sang pendosa nan alpa pada bait-bait penciptanya. Kini tertunduk bak daun gugur dari rantingnya.


Aku ... Ya akulah sang pendosa. Penyanjung 'tampannya' kedustaan, penikmat 'cantiknya' maksiat. Berbaju dosa lengkap dengan setelan 'kemewahan' syetan. Jalan hidup hanya kesesatan.


Aku selingkuhi Illahi dengan moleknya duniawi. Ya Rabbi.. Masihkah pantas aku disebut hambaMu? Sedang FirmanMu asing di tuturku? Bahkan neraka jahanam merasa enggan untuk memaafkan.


Ya Illahi... Adakah sebutir debu maafMu? Ya... Hanya sebutir debu untuk memaafkan ribuan salahku. Ku gadai namaMu pada tiap sumpahku. Namun Engkau tersenyum diam. Sedangkan aku lena tanpa tegurMu.


Pada tiap udara yang kuhirup pun tak Engkau sampaikan sebuah kesalahan. Hingga airmata yang menamparku, membuatku sadar, betapa aku sangatlah munkar. Sesungguhnya semua adalah milikMu, dan aku hanya debu di hadapanMu.


Air mata itu kembali mengalir deras membasahi pipiku. Aku menangis tergugu di atas sajadah panjang ini. Air mata penyesalan akan dosa-dosa yang telah aku lakukan. Aku sadar bahwa aku telah berjalan jauh meninggalkan Rabb-ku. Yang membuat jalanku tak berarah dan hanya menemukan kehampaan semata. Hanya satu pintaku, sebanyak apapun dosa-dosa itu, aku harap pintu ampunan itu masih terbuka lebar untukku.


Allahu Rabbi ... disaksikan oleh rinai air hujan di luar sana. Hembusan sang bayu yang terasa begitu dingin menusuk tulang dan dan ranting-ranting pohon yang bergoyang sembari bertasbih memuji keagunganMu, aku Seroja Ayu Anjani mengetuk pintu ampunanMu. Kembali pulang ke dalam dekapanMu dan memohon keberkahan dalam hidupku. Sudilah kiranya Engkau mengampuniku ya Rabb... Karena ampunanMu lah yang akan membuat langkah kaki ini akan semakin terarah. Ridhoi jalanku menuju cahaya Mu ya Rabbi ... cahaya yang dapat menerangi jejak langkah kaki yang tidak akan pernah membuatku tersesat lagi.


.


.


🍁🍁🍁🍁


Yang bertanya kapan Seroja akan bertemu dengan Fakhru? InshaAllah di part berikutnya ya kak.. heeheh mohon bersabar 😘😘


Note✍️ ada kalimat-kalimat yang author copas dari salah satu puisi dengan judul "Doa Sang Pendosa" karya Sang Pribumi (2018)

__ADS_1


__ADS_2