
Di sebuah taman yang berada di sudut kota, Seroja dengan balutan dress berwarna navy nampak sedang duduk di bangku taman yang terbuat dari beton. Tangan kanannya menggenggam sebuah cup berukuran sedang yang berisikan jus buah apel dan ia seruput menggunakan sedotan berwarna putih untuk dapat menikmati kesegaran jus buah apel itu. Kerongkongan yang sebelumnya kering kerontang di siang hari yang terasa sedikit terik dari biasanya ini, kini mulai dialiri oleh kesegaran sari buah apel yang ada di dalam cup itu.
Di depan mata Seroja tersaji hamparan bunga amarilis berwarna oranye yang nampak menyejukkan mata. Mereka mekar bersamaan seakan menunjukkan pada dunia bahwa saat ini bumi semakin nampak mempesona dengan kehadirannya.
"Mbak Seroja!"
Gelombang suara yang terdengar lembut merembet ke indera pendengaran Seroja, membuat wanita itu gegas menoleh ke arah sumber suara. Terlihat, seorang wanita yang juga mengenakan dress selutut berwarna kuning sedikit berlari menghampirinya dengan menggandeng dua anak kecil yang berusia kisaran lima tahun.
"Mbak Rosmala!"
"Maaf ya Mbak, aku jadi telat datang kemari. Ini tadi Runa dan Roni sedikit rewel di jalan. Maklumlah usia lima tahun seperti ini lebih sering rewelnya."
Ikut mendaratkan bokongnya di bangku taman yang masih kosong beserta kedua anaknya, Rosmala sedikit merasa tidak enak hati karena sedikit terlambat menemui Seroja dari waktu yang telah ditentukan. Ia ambil tisu dari dalam tasnya dan mulai mengusap keringat yang merembes di keningnya.
"Tidak mengapa, Mbak. Saya juga belum lama berada di sini." Seroja menggeser pandangannya ke arah dua anak kecil dengan seragam berwarna biru laut ini. "Anak mbak Rosmala kembar?"
Seroja sedikit penasaran dengan dua sosok anak kecil yang memiliki wajah hampir mirip. Meski mereka laki-laki dan perempuan, namun wajah keduanya benar-benar mirip. Mirip dengan Randy.
"Iya Mbak, anakku memang kembar. Yang perempuan bernama Runa dan yang lelaki bernama Roni." Rosmala meraih tangan kedua buah hatinya. "Ayo Sayang, kenalan dulu sama tante Seroja."
Sepasang anak kembar itu menurut. Mereka mengulurkan tangan ke arah Seroja.
"Aku Runa, Tante!"
"Aku Roni, Tante!"
Senyum sumringah terbit di bibir Seroja. Entah mengapa setiap kali ia berinteraksi dengan anak-anak kecil seperti ini, hatinya selalu saja dipenuhi oleh kebahagiaan.
__ADS_1
"Hallo Runa, hallo Roni! Wah, Runa dan Roni nampak tampan dan cantik ya. Sekarang sudah kelas berapa, Sayang?"
Seroja mengusap kepala Runa dan Roni dengan lembut. Sungguh di matanya, sepasang anak kembar ini terlihat sangat menggemaskan. Terlebih pipi mereka yang chubby. Benar-benar membuat mereka seperti memiliki daya tarik tersendiri.
"Kami kelas nol kecil, Tante." Roni mencondongkan tubuhnya ke arah Runa. "Runa, Runa, coba dekatkan kepalamu!"
Kembaran Roni itu menurut. Tak lama sang saudara kembar berbisik di telinganya.
Seroja dan Rosmala hanya saling melempar pandangan tatkala melihat sepasang anak kembar ini berbisik-bisik. Dahi keduanya sama-sama mengerut, tidak paham dengan apa yang dilakukan oleh anak kembar ini.
"Sayang, kalian sedang membicarakan apa? Mengapa berbisik-bisik seperti itu?"
Rosmala tidak bisa untuk tidak bertanya. Sebagai seorang ibu, wanita itu begitu penasaran dengan apa yang menjadi bahan bisikan anak-anaknya ini.
"Mama, tante Seroja cantik!" celetuk Roni langsung pada poin utamanya.
Seakan sependapat dengan apa yang diucapkan oleh Roni, Runa pun turut menganggukkan kepala. "Iya benar, tante Seroja cantik sekali. Rambutnya juga cantik. Runa kalau sudah besar ingin seperti tante Seroja!"
Jangan bercita-cita seperti Tante, Nak. Tante ini bukanlah wanita baik-baik. Bahkan Tante adalah wanita yang telah merusak kebahagiaan yang kalian miliki.
Seutas senyum getir nampak terbit di bibir Seroja. Ia kembali mengusap kepala gadis kecil ini. "Runa juga cantik. Tante rasa, Runa tidak perlu menjadi seperti Tante. Karena, Runa sudah memiliki kecantikannya sendiri. Bahkan bisa jadi setelah dewasa nanti, wajah Runa jauh lebih cantik daripada Tante."
"Oh ya? Benarkah seperti itu, Tante?"
Seroja menganggukkan kepala. "Tentu benar Sayang. Runa tidak perlu menjadi seperti Tante. Karena sejatinya, Runa juga sudah cantik sejak terlahir ke dunia."
Rosmala yang mendengar percakapan sang anak dengan wanita yang menjadi teman barunya ini hanya bisa tersenyum simpul. Ia tautkan pandangannya ke arah Seroja. "Ternyata kecantikan mbak Seroja ini benar-benar nyata ya. Lihatlah, bahkan anak-anakku sama-sama memuji kecantikan mbak Seroja. Aku jadi merasa iri dengan kecantikan yang Mbak miliki."
Seroja tergelak lirih mendengar penuturan istri dari lelaki yang telah menikahinya di bawah tangan. "Mbak Rosmala tidak perlu merasa iri. Karena sebenarnya mbak Rosmala juga memiliki wajah yang sangat cantik."
__ADS_1
Rosmala membuang nafas sedikit kasar. Pandangan mata yang sebelumnya fokus tertuju pada wajah wanita dewasa di hadapannya ini, kini ia geser ke sembarang arah dengan tatapan yang menerawang. "Entah mengapa, aku merasa tidak cantik lagi, Mbak. Hal itu bukan tanpa alasan. Aku merasa bahwa saat ini suamiku sedikit berubah. Dan itu semua yang membuatku berpikir bahwa aku sudah tidak cantik lagi."
Berbicara tentang suami Rosmala yang tidak lain juga merupakan suaminya, membuat Seroja sedikit terkesiap. Jantungnya tetiba berdegup kencang seperti memompa darahnya jauh lebih cepat dari biasanya.
"M-Maksud mbak Rosmala berubah bagaimana? Aku tidak paham."
Lagi-lagi Rosmala membuang nafas kasar. Seperti mengurai segala rasa sesak dalam dada. "Aku merasa saat ini mas Randy memiliki wanita simpanan, Mbak. Sudah satu tahun terakhir ini, dia tidak pernah memuji penampilanku. Memang, sikapnya masih hangat. Namun ia sama sekali sudah tidak pernah memuji penampilanku."
Menyembunyikan degup jantung yang semakin tiada terkendali dan kegugupannya, Seroja membalut bibir tipisnya dengan seutas senyum manis. "Mbak Rosmala jangan berkata seperti itu. Bisa jadi itu semua hanya perasaan mbak Rosmala saja. Ketika aku bertemu dengan mbak Rosmala di mall beberapa waktu yang lalu, sepertinya suami mbak Rosmala terlihat begitu mencintai Mbak."
Rosmala mengendikkan bahu. "Entahlah Mbak, namun itu semua yang aku rasakan. Biasanya feeling seorang istri itu tidak pernah keliru."
Seroja tertegun mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Rosmala.
Feeling kamu memang benar, Mbak. Bahwa sebenarnya mas Randy telah memiliki wanita lain di hidupnya. Dan wanita itu adalah aku.
Dahi Rosmala sedikit mengerut tatkala melihat wanita yang duduk di dekatnya ini seperti larut dalam lamunannya sendiri. Ia pun menepuk pundak Seroja. "Mbak! Mbak Seroja mengapa melamun?"
Tubuh Seroja sedikit tersentak. Ia pun hanya bisa tersenyum kikuk. "Eh, tidak apa-apa Mbak. Aku baik-baik saja."
Rosmala tersenyum penuh arti. "Oh iya Mbak, kapan-kapan, aku ingin berkunjung ke rumahmu. Mbak Seroja tidak keberatan bukan?"
Kedua bola mata Seroja terbelalak sempurna dan hampir keluar dari tempatnya bersemayam. Bibirnya terkatup dan tak bisa berkata apapun.
Pertunjukan akan segera dimulai, Seroja! Tidak salah aku membayar seseorang untuk mengintai pergerakanmu. Aku pastikan, hidupmu akan berakhir mengenaskan sebagai perebut lelaki orang.
.
.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁🍁