
"Apa ada yang bisa Ibu bantu, Sayang?"
Mengayunkan langkah kaki memasuki ruang kerja Seroja, Lily mencoba melihat lebih dekat pekerjaan apa yang digeluti oleh sang putri. Sebuah mesin jahit dengan tumpukan kertas-kertas bergambar desain pakaian terlihat menghiasi ruang kerja yang berukuran cukup besar dan nyaman ini.
Sejenak, Seroja meletakkan pensil yang ia pegang di atas meja. Ia menatap lekat sosok wanita yang berjalan mendekat ke arahnya. Tatapan penuh damba dan binar bahagia yang begitu kentara.
"Tidak perlu, Bu. Menggambar desain seperti ini sudah biasa Seroja kerjakan sendiri, jadi tidak perlu dibantu oleh siapapun."
Lily merapatkan tubuhnya di meja kerja sang anak. Ia melihat berbagai macam desain pakaian, mulai dari blouse, gamis, bermacam rok panjang yang terlihat begitu cantik. Tangannya terulur, membelai kepala sang putri yang berbalut hijab ini dengan lembut.
"MashaAllah, Ibu benar-benar tidak menyangka jika putri Ibu memiliki bakat di bidang ini, Nak. Entah, menurun dari siapa kemampuan kamu ini."
Ada seberkas kehangatan yang mengaliri aliran darah Seroja kala merasakan belaian lembut jemari tangan sang ibu. Senyum lebar nan merekah menghiasi wajah cantik wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu.
"Seroja juga tidak tahu menurun dari siapa Bu. Namun sepertinya dari Ibu atau ayah. Namun tidak tersalurkan."
__ADS_1
Lily tergelak. Tetiba ingatannya tertuju pada masa-masa ia bekerja di pabrik kecimpring milik sang suami. Pabrik makanan ringan yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan tata busana.
"Ibu benar-benar bahagia dan bangga bisa melihatmu menjadi wanita seperti ini, Sayang. Wanita yang kuat, tangguh dan bisa menjadi inspirasi untuk wanita lain."
Seroja terkekeh geli mendengar penuturan sang ibu. "Inspirasi seperti apa maksud Ibu? Seroja benar-benar tidak paham."
"Inspirasi bagi kaum wanita untuk memberdayakan kemampuan yang mereka miliki, Sayang. Dan pastinya bisa menarik tangan wanita-wanita yang berada di sekelilingmu untuk bekerja di lahan yang halal. Pastinya lahan pekerjaan yang lebih diridhoi oleh Allah SWT."
Seroja tersenyum penuh arti. Hatinya pun turut menghangat jika ia melintas di ruang produksi yang ada di ruko ini. Di ruang produksi, para tetangga yang sebelumnya bekerja di tempat yang kurang baik, saat ini bisa mendapatkan pekerjaan di tempat yang jauh lebih baik dan InshaAllah hasilnya akan jauh lebih berkah.
"Alhamdulillah, Ibu. Seroja juga bersyukur bisa melihat para wanita seumuran Seroja bisa memberdayakan diri mereka. Mungkin Seroja tidak akan pernah bisa mewujudkan mimpi-mimpi ini jika tidak ada pertolongan dari Allah melalui orang baik yang bahkan tidak Seroja ketahui Bu."
Seroja menghela nafas sedikit dalam dan perlahan ia hembuskan. Memori otaknya kembali merekam ulang tentang ruko dan mesin jahit yang tiba-tiba ia dapatkan.
"Entahlah, Bu. Saya juga tidak tahu. Orang baik itu sepertinya yang telah bekerja sama dengan pemilik ruko ini untuk menangguhkan biaya sewa. Dan tidak hanya itu saja, ia juga mengirimkan mesin-mesin produksi untuk usaha Seroja ini."
"MashaAllah, ternyata Allah begitu baik kepadaMu, Sayang. Sungguh nikmat yang luar biasa. Di proses hijrahmu, Allah memberikan keberkahan hidup seperti ini, Nak." Lily membuang nafas perlahan. Tetiba ingatannya tertuju pada sosok lelaki yang sempat ia temui. "Nak, jika berbicara perihal orang baik, Ibu jadi teringat dengan lelaki yang Ibu kenal."
__ADS_1
"Lelaki? Siapa Bu? Apakah Ayah?"
Lily menggeleng pelan. "Bukan Sayang, dia bukan Ayah. Lelaki lain, mungkin seumuran kamu Sayang. Hmmmm seandainya saja saat ini hatinya tidak begitu terpaut dengan sang mantan istri, pasti sudah Ibu kenalkan ke kamu, Nak. Ibu begitu jatuh hati dengan cara dia mencintai mantan istrinya."
Mendengar penuturan sang ibu, justru semakin membuat terkekeh geli. Bisa-bisanya sang ibu memiliki rencana yang terdengar begitu menggelitik telinga. "Memang siapa sih Bu? Lelaki mana yang membuat Ibu jatuh hati?"
Lily menatap ke arah depan dengan sorot mata tajam namun menerawang. "Lelaki tampan yang lika-liku kehidupannya hampir sama dengan kamu, Nak. Namanya Randy."
Seroja terperangah. Kedua bola matanya terbelalak dan membulat sempurna. Kertas HVS yang ada di genggaman tangannya pun terjatuh seketika. "Randy??"
.
.
🍁🍁🍁🍁🍁
Mon maap sedikit dulu ya Kak... Sedang ada acara ☺☺
__ADS_1