Cahaya Cinta Untuk Seroja

Cahaya Cinta Untuk Seroja
CCUS 37 : Berkumpul


__ADS_3


Setelah semalam bumi Jawa di bagian barat diguyur oleh hujan lebat, kini yang tersisa hanya harum aroma tanah yang terasa begitu menyegarkan. Dan juga butiran-butiran air yang masih bergelayut manja di permukaan daun. Semburat warna oranye telah nampak di ufuk timur. Hembusan angin pagi juga terasa lebih kencang dari biasanya yang membuat tirai putih di balik jendela kamar ini berayun-ayun seiring seirama dengan hembusannya.


Seorang wanita dengan balutan hijab, duduk di sebuah kursi yang berada di sisi ranjang, menatap nanar tubuh wanita yang tengah terbaring di atas ranjang. Ada rasa sesak yang begitu hebat mendera tatkala melihat bekas lebam-lebam yang menghiasi wajah cantik wanita ini. Sama sekali ia tidak pernah menyangka jika kepahitan hidup seperti ini kembali dialami oleh wanita ini. Hatinya seakan ikut berdenyut nyeri hingga mendorong kristal bening yang sebelumnya sudah berkumpul di pelupuk matanya jatuh satu persatu.


"Suster, apakah kak Seroja sudah bangun?"


Suara gadis kecil dari arah pintu kamar, membuat Ana sedikit terperanjat. Ia yang sebelumnya begitu intens menatap wajah lebam Seroja, ia alihkan pandangannya ke arah sumber suara. Gadis kecil yang berjalan dengan tongkatnya terlihat ikut masuk ke dalam kamar.


Ana bangkit dari posisi duduknya. Ia raih telapak tangan Alamanda, ia papah untuk ia dudukkan di tepi ranjang.


"Kak Seroja masih kelelahan Sayang, sehingga masih tertidur. Alamanda berdoa untuk kak Seroja ya agar kak Seroja bisa segera bangun."


"Suster Ana, bawa Manda dekat dengan wajah kak Seroja. Manda ingin mencium wajah kak Seroja."


Ana sedikit menimbang-nimbang apa yang menjadi kemauan Alamanda. Namun pada akhirnya ia bantu Alamanda agar tubuhnya lebih dekat dengan wajah Seroja.


Merasakan tubuhnya sudah dekat dengan wajah sang kakak, gadis kecil ini mendekatkan wajahnya ke wajah Seroja. Dengan lembut, ia mengecup kening dan pipi sang kakak.


"Kak Seroja lekas bangun ya. Manda rindu kak Seroja. Manda ingin mendengarkan cerita-cerita putri dan pangeran lagi, seperti yang dulu kak Seroja bacakan untuk Manda sebelum tidur."


Mengakhiri ucapannya untuk sang kakak, gadis kecil itu kembali mengecup pipi Seroja. "Ya Allah, jangan Engkau berikan rasa sakit untuk kak Seroja. Kak Seroja adalah kakak Manda yang baik. Jika boleh, bagi rasa sakit yang dirasakan kak Seroja dengan Manda. Agar kak Seroja tidak sendirian merasakan sakit itu."

__ADS_1


Hati Ana seketika mencelos melihat adegan seorang adik terhadap kakaknya yang begitu tulus ini. Bahkan doa-doa tulus yang keluar dari bibir gadis kecil ini sukses membuat suasana kamar ini dipenuhi oleh keharuan yang luar biasa. Lagi, air mata itu menetes perlahan dari pelupuk mata Ana.


Bola mata wanita yang sedang terbaring lemah itu sedikit bergerak meski kelopak matanya masih terpejam. Tanpa sadar, setetes bulir bening pun ikut mengalir dari sana. Entah apa yang terjadi dengan wanita itu. Namun sepertinya di bawah alam sadarnya, ia mendengar doa-doa yang dipanjatkan oleh sang adik. Doa-doa tulus yang mungkin akan segera membuatnya tersadar dan terbangun dari lelapnya.


Gerakan bola mata itu semakin bergerak cepat. Sedikit demi sedikit kelopak mata itu terbuka. Ia sedikit memincingkan mata, berusaha menahan silau dari sinar mentari yang terasa menusuk kornea matanya yang menelusup ke sela jendela. Jemari tangannya juga bergerak seakan mengeluarkan sinyal jika ia telah bangun dari tidur panjangnya.


Wanita itu mengulas senyumnya, kala orang pertama yang ia lihat adalah Alamanda. Gadis kecil yang membuat ia harus terus bertahan untuk melanjutkan hidupnya. Tangannya yang masih terasa begitu lemah, is paksa untuk bisa membelai wajah sang adik. Dengan lembut, jemarinya menyusuri bingkai wajah Alamanda. Hal itulah yang membuat gadis kecil ini sedikit terkejut.


"Kak Seroja? Apakah kak Seroja sudah bangun?"


Seroja mengangguk lirih meski ia tahu bahasa tubuh apapun yang ia tampakkan tidak akan pernah nampak di indera penglihatan Alamanda. "Iya Sayang, kakak sudah bangun."


Binar-binar kebahagiaan itu nampak jelas di raut wajah Alamanda. Wajahnya kembali ia dekatkan ke wajah sang kakak, dan kembali ia kecup pipinya. "Alhamdulillah ... terima kasih ya Allah, karena Engkau sudah mengabulkan doa-doa Manda." Alamanda menggenggam erat telapak tangan Seroja. Masih melempar pandangan ke segala arah dengan tatapan menerawang, gadis itu kembali melanjutkan ucapannya. "Kak Seroja tinggal di sini saja ya. Jadi jika kak Seroja sakit, Manda bisa mengurus kak Seroja."


Ada setitik kehangatan yang menyelimuti hati Seroja kala mendengar secara langsung doa-doa tulus dari adiknya ini. "Mulai sekarang, kak Seroja akan tinggal di sini bersama Manda. Dan tidak akan pernah meninggalkan Manda lagi."


"Benar Sayang, kak Seroja tidak akan pernah meninggalkan Alamanda lagi."


Seroja, Ana dan Alamanda terlihat larut dalam pertemuan mereka ini. Meski di saat-saat pahit seperti ini ia bisa bertemu dengan Alamanda, namun setidaknya kepahitan yang ia rasakan inilah yang bisa mengumpulkannya kembali dengan keluarganya. Sebuah keluarga yang tidak akan pernah bisa ternilai dengan apapun.


Di sela gelak tawa mereka, ekor mata Seroja menangkap sebuah bayangan tubuh seseorang yang tengah berdiri di depan pintu. Wajahnya mendadak pias, khawatir jika seseorang itu akan kembali mengamuk karena kedatangannya.


"I-Ibu?"

__ADS_1


Ucapan lirih dari bibir Seroja, membuat Ana ikut menautkan pandangannya ke arah pintu. Dan benar saja, Dahlia terlihat berdiri di sana. Berdiri terpaku tanpa mengeluarkan ekspresi apapun. Dan wanita itupun segera menjauh dari kamar Seroja.


"Sus ... mengapa jiwa ibu tidak terguncang tatkala melihat kedatanganku? Padahal biasanya ibu akan histeris bukan jika melihat aku berada di sini?"


Tidak salah jika Seroja mempertanyakan hal itu. Karena memang biasanya sang ibu akan mengamuk ketika melihat wanita itu berada di rumah. Namun saat ini sungguh berbeda. Sang ibu hanya sekilas memandang apa yang ada di dalam kamar Seroja kemudian berlalu pergi.


"Alhamdulillah kondisi psikis ibu mengalami perubahan yang cukup berarti Mbak. Setelah saya rutin membaca Al-Quran di samping ibu Dahlia setelah shalat malam, beliau sudah tidak pernah lagi mengamuk."


Seroja sedikit terkejut. Apakah sebegitu besarnya dampak positif dari kitab Al-Quran? Ia sungguh begitu terkesima.


"Benarkah seperti itu Sus?"


Suster Ana menganggukkan kepalanya. "Tentu saja benar Mbak. Karena salah satu fungsi Al-Quran adalah sebagai penawar akan kesakitan yang dirasakan oleh hamba-hamba Allah."


Nyesss....


Ada setitik rasa asing yang tiba-tiba menyelinap di hati Seroja. Ia sendiri pun tidak tahu itu apa. Wanita itupun hanya menatap wajah Ana dengan sorot mata yang sulit terbaca.


Ana kembali tersenyum penuh arti. Ia berharap saat ini adalah titik balik hidup Seroja untuk bisa menjadi manusia yang jauh lebih baik dari sebelumnya.


"Jika mbak Seroja ingin merasakan salah satu manfaat membaca Al-Quran, saya bisa mengajari mbak Seroja."


.

__ADS_1


.


🍁🍁🍁🍁🍁💛


__ADS_2