
Bibir Seroja bergetar. Tidak hanya bibirnya saja. Kakinya pun juga bergetar hebat. Sungguh sebuah pertemuan dengan sang mantan suami yang benar-benar bisa memporak-porandakan hatinya. Selama ini, ia berupaya untuk melupakan Randy dan berusaha menghempas segala rasa yang masih ia miliki. Namun sungguh tidak terduga, ternyata takdir mempertemukannya kembali dengan sosok laki-laki yang bahkan sampai saat ini masih bertahta merajai hati.
"M-Mas Randy...?"
Randy menganggukkan kepalanya. "Assalamu'alaikum Seroja!"
Lidah Seroja terasa kelu, tiada mampu untuk berucap apapun. Suaranya juga seakan tercekat di dalam tenggorokan seakan tidak mampu untuk mengeluarkan gelombang suara apapun. Jantungnya kembali berdegup kencang tiada terkendali seakan bekerja tiada beraturan. Memompa darah lebih cepat dari biasanya yang hanya menyisakan desiran-desiran di dalam laju aliran darahnya.
"W-Waalaikumussalam mas Randy."
Tidak ada raut wajah yang ditampakkan oleh lelaki itu selain raut wajah yang dipenuhi oleh binar-binar kebahagiaan yang begitu kentara. Buncahan-buncahan rasa kebahagiaan yang menghiasi dasar hati, seakan tergambar jelas, membingkai wajah tampan nan rupawan lelaki berusia tiga puluh tahun itu. Rasa bahagia karena dapat kembali bertatap netra secara langsung dengan sosok wanita yang begitu ia cintai dan dapat ia pastikan menjadi satu-satunya wanita yang akan ia cintai hingga waktu terhenti.
Randy melengkungkan seutas senyum manis di bibirnya, hingga membentuk bulan sabit di sana. "Apa kabar Sayang?"
Ada sepercik rasa bahagia kala mendengar Randy memanggilnya dengan panggilan 'sayang'. Rasa itu sama sekali tidak berubah. Selalu diliputi oleh kesejukan ketika panggilan itu terlisan dari bibir Randy.
"Alhamdulillah aku baik Mas."
"Alhamdulillah, aku begitu lega mendengarnya Sayang." Randy mengayunkan kakinya untuk menuju sofa yang berada di dalam ruangannya. Ia daratkan bokongnya di sana. "Duduklah Sayang! Jangan berdiri saja di depan pintu."
Seroja menurut sembari mengangguk lirih. Ia daratkan pula di sofa yang berada di hadapan Randy. Wajahnya tetap menunduk. Seakan tidak memiliki keberanian untuk menatap manik mata lelaki ini.
"Mas, mengapa kamu melakukan ini semua? Mengapa kamu memberikan ruko dan semua peralatan mesin jahit untukku?"
Pada akhirnya, Seroja memberanikan diri untuk mengawali pembicaraan dengan Randy. Terlampau banyak hal yang ingin ia tanyakan kepada Randy, terlebih perihal ruko dan semua fasilitas yang diterimanya.
"Jika kamu bertanya mengapa aku melakukan itu semua, hanya ada satu jawaban yang bisa aku berikan Sayang. Karena aku mencintaimu. Dan aku ingin membahagiakanmu."
Dengan penuh rasa percaya diri, Randy memberikan sebuah jawaban yang sukses membuat Seroja semakin menunduk dalam. Kata yang terucap dari bibir Randy memang terdengar begitu sederhana namun terasa begitu membekas di dalam kalbu. Sebuah jawaban yang masuk akal. Apa yang membuat seorang laki-laki melakukan satu hal untuk seorang wanita yang saat ini sudah berstatus sebagai mantan jika bukan karena ia masih mencintai wanita itu. Kebahagiaan wanita yang ia cintai itulah yang menjadi alasan terkuat untuk Randy memberikan itu semua untuk Seroja.
"Namun, bagaimana kamu bisa tahu bahwa aku memang sedang membutuhkan ruko itu Mas? Dan juga bagaimana kamu bisa tahu, bahwa aku memiliki mimpi untuk mendirikan sebuah usaha yang bergerak di bidang itu? Sampai akhirnya kamu mengirimkan mesin-mesin jahit itu?"
Seharusnya pertanyaan ini dapat dijawab oleh pemilik ruko. Namun lagi-lagi sang pemilik ruko sama sekali tidak mau diajak berkompromi. Tidak ada jawaban yang diberikan oleh lelaki itu selain hanya memberitahu di mana Randy berada.
Randy menghirup udara dalam-dalam dan ia hembuskan sedikit kasar. Inilah saat yang tepat untuk menceritakan semua kepada Seroja. Termasuk segala rasa yang masih tersimpan rapi di dalam hatinya.
__ADS_1
"Sejak kamu memintaku untuk menceraikanmu, aku sengaja mengintai pergerakanmu dari kejauhan Sayang. Aku hanya ingin memastikan bahwa kamu baik-baik saja. Dan pastinya selalu berbahagia."
"Lalu, perihal ruko dan semua peralatan jahit itu, bagaimana kamu bisa mengetahuinya Mas? Siapa yang memberikan informasi itu kepadamu?"
Randy tergelak lirih. Bisa kembali berbincang secara langsung dengan Seroja, sungguh bisa mengubah hari-harinya. Hari-hari yang sebelumnya ia lalui tanpa adanya secercah kebahagiaan yang mengiringi, kini kebahagiaan itu kembali ia dapatkan. Sungguh, baginya Seroja adalah seberkas cahaya terang yang dapat menerangi setiap pijakan-pijakan kakinya. Dan sebuah oase yang memberikan kesegaran dan kesejukan di padang hatinya yang gersang. Gersang, karena selama ini ia hidup dalam sebuah kepura-puraan. Pura-pura bahagia hidup bersama dengan seorang wanita yang tidak ia cintai. Namun, kegersangan itu seketika berubah menjadi padang rumput hijau dan dipenuhi oleh bunga-bunga nan cantik memukau kala sosok Seroja hadir di dalam kehidupannya.
"Mungkin orang itu adalah pemilik ruko itu sendiri Sayang. Saat itu, aku melihatmu berdiri di depan ruko dengan raut wajah yang nampak begitu bahagia. Namun aku begitu heran, mengapa raut wajah kamu berubah ketika kamu keluar dari ruko itu. Wajahmu nampak begitu sendu. Dan ketika kamu meninggalkan ruko, aku bertemu langsung dengan sang pemilik. Dari sana lah aku tahu bahwa kamu memiliki mimpi untuk mendirikan usaha konveksi."
Kepala Seroja semakin tertunduk dalam dan kini mulai ada satu bulir kristal bening yang menetes dari pelupuk matanya. Kata demi kata yang terucap dari bibir Randy seakan mampu menembus hingga ke ulu hati yang hanya menyisakan kebahagiaan tiada terkira.
"Terima kasih banyak untuk semua kebaikan yang sudah kamu lakukan, Mas. Sungguh, aku tidak tahu harus dengan cara apa membalas semua kebaikanmu itu."
Randy menatap lekat Seroja yang masih menundukkan wajah itu. Senyum manis terbit di bibir Randy kala melihat aura kecantikan sang pujaan hati yang semakin tergambar jelas di balik hijab yang ia kenakan.
"Kamu tidak perlu membalas dengan apapun akan apa yang sudah aku lakukan untukmu Sayang. Namun berjanjilah kepadaku bahwa kamu akan senantiasa berbahagia. Anggap saja, apa yang aku lakukan ini sebagai salah satu cara bagiku untuk menebus segala kesalahan yang pernah aku lakukan terhadapmu."
Seroja menggelengkan kepalanya. Ia paham betul ke mana arah pembicaraan Randy. Pembicaraan perihal masa lalu, di mana keduanya terlibat dalam sebuah hubungan yang mungkin di mata orang merupakan sebuah hubungan yang kotor.
"Tidak Mas, itu semua bukan hanya kesalahanmu saja, akupun ikut bersalah. Jadi aku rasa kamu tidak perlu larut dalam rasa bersalah itu. Dan yang pasti, ini semua adalah takdir. Takdir hidup yang telah tertulis di tiap lembar kehidupan kita."
Ada rasa sesak yang kembali menghujam dada Seroja. Terlebih jika ia teringat bagaimana caranya menghempaskan segala rasa cinta yang ia miliki untuk Randy secara paksa. Lelaki pertama yang memperlakukannya dengan penuh kelembutan dan cinta kasih yang selama ini tidak pernah ia dapatkan sama sekali. Sebuah hal yang wajar, jika sebagai seorang wanita, ia juga begitu mencintai sosok lelaki seperti Randy ini.
"Sayang, aku ingin mengatakan sesuatu. Bisakah kamu mendengarkannya?"
Seroja mendongakkan kepala. Ia seka air mata yang membasahi pipinya. "Apa itu Mas? Bicaralah! Aku akan mendengarkannya."
Randy mempersiapkan hati untuk menceritakan semua yang terjadi semenjak perpisahan dengan Seroja terjadi. Termasuk perpisahannya dengan Rosmala.
"Malam itu, setelah aku menceraikanmu, akupun melakukan hal yang sama terhadap Rosmala, Sayang!"
Seroja terperangah. "M-maksud kamu bagaimana Mas?"
"Aku juga menceraikan Rosmala ..."
"Mas, mengapa kamu melakukan hal itu? Apakah kamu tidak memikirkan perasaan si kembar? Mereka pasti akan sangat terluka karena kedua orang tuanya berpisah!"
Seroja memangkas perkataan Randy. Ia memilih untuk mundur agar Randy bisa kembali kepada keluarganya dengan utuh. Bisa mencurahkan semua kasih sayang yang ia miliki untuk si kembar dengan penuh, namun justru jalan perpisahan yang ia tempuh. Sungguh, Seroja sendiri pun tidak mengerti akan keputusan yang dibuat oleh Randy.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan aku Sayang? Bagaimana dengan hatiku yang selama ini terus berpura-pura bahagia menjalani kehidupanku? Padahal sejatinya aku begitu tersiksa dengan keadaan seperti itu."
"Tapi Mas ...."
"Semua sudah selesai Sayang. Ibu dan juga kakakku pun menerima akan keputusan yang sudah aku ambil. Perkara si kembar, meski aku bukanlah ayah biologis dari mereka, aku tetap memberikan kasih sayangku untuk mereka. Karena bagaimanapun juga ada seorang laki-laki yang jauh lebih berkewajiban untuk mencurahi si kembar dengan penuh cinta kasih yaitu kakakku, yang tidak lain adalah ayah kandung si kembar."
"Mas ...."
"Sayang, sudah. Saat ini, bukan hal itu yang ingin aku bicarakan. Ada hal yang jauh lebih penting yang ingin aku katakan kepadamu. Bersediakah kamu mendengarkannya Sayang?"
Seroja mengangguk pelan. "Bicaralah Mas!"
"Sayang, aku sadar akan kekeliruan di dalam mengikatmu selama ini. Sejak pertama jumpa, aku memang telah jatuh hati kepadamu Sayang. Namun aku keliru di dalam mengikatmu. Seharusnya aku menikahimu terlebih dahulu sebelum aku menikmati ragamu."
Seroja masih dengan seksama mendengar setiap kata yang terucap dari bibir Randy. Sedangkan Randy, lelaki itu berupaya keras untuk menahan segala rasa yang bergejolak di dalam dadanya.
"Semenjak malam itu, aku berupaya berbenah diri untuk menjadi manusia yang jauh lebih baik lagi. Aku senantiasa melangitkan pinta kepada Ilahi agar ketika nanti aku kembali dipertemukan denganmu, aku sudah menjadi manusia yang jauh lebih baik dari sebelumnya."
Seroja masih tak bergeming sama sekali. Ia masih berupaya untuk mengikuti kemana arah pembicaraan sang mantan suami.
"Sayang, jika saat ini aku ingin memperbaiki semua kekeliruan yang pernah aku lakukan terhadapmu, apakah kamu mengizinkanku untuk melakukannya?"
Seroja terperangah. "M-maksud kamu apa Mas?"
"Aku ingin kembali merengkuhmu. Mendekapmu erat dalam pelukan penuh cinta. Cinta yang lebih sempurna dari yang pernah ada sebelumnya. Cinta yang di dalamnya berhembus nafas-nafas cinta dari sang Maha pemilik cinta."
Deg ... deg... deg....
Entah jantung siapa yang berdegup kencang. Mungkin jantung keduanya yang terdengar bertalu-talu yang mungkin sanggup untuk menembus keheningan yang menghiasi atmosfer ruangan ini. Seroja masih tetap dalam posisinya. Perkataan Randy sungguh hanya bisa membuatnya terdiam dan terpaku.
"Aku masih begitu mencintaimu. Dan sampai kapanpun, engkau tidak akan pernah tergantikan. Tidak ada satupun yang mampu menggeser posisimu di dalam hati." Randy menjeda ucapannya, menghirup udara dalam-dalam dan dengan perlahan, ia hembuskan. "Seroja Ayu Anjani, bersediakah engkau untuk menjadi istriku kembali? Kita awali semua ini dengan baik. Pastinya dengan ridho Ilahi, yang akan menuntun langkah kita hingga akhir waktu nanti?"
Tes.... Tes.... Tes....
Lagi, bulir-bulir bening itu kembali berjatuhan dari jendela hati milik Seroja. "Mas Randy ... aku...."
๐๐๐๐๐
__ADS_1
Terima gak nih? Hihihi hihihi hihihihi... Saya yakin sudah banyak yang tahu jawaban apa yang akan Seroja berikan untuk Randyโบโบ
Dengan siapapun Seroja berjodoh, semoga tetap ada satu hikmah yang bisa diambil ya Kak... โค๏ธโค๏ธ