Cahaya Cinta Untuk Seroja

Cahaya Cinta Untuk Seroja
CCUS 24 : Hati yang Luka


__ADS_3


Langit berselimut mendung kala tubuh pemuda itu meluruh di sisi pembaringan. Ia terduduk di atas lantai dengan kepala menunduk dan tetes air mata yang hingga saat ini belum juga mengering. Mereka masih saja bergelayut manja, menghiasi jendela hati sang pemuda yang semakin nampak sembab.


Raga yang sebelumnya dihiasi oleh buncahan bahagia, kini tertukar oleh lara untuk ketiga kalinya. Menikam jantungnya, merobek seonggok daging bernyawa dalam tubuhnya dan melemahkan kekuatan jiwanya. Remuk, tulang-tulang kokoh yang menopang tubuh tegap pemuda itu, kini remuk redam, hingga duka lara itu semakin sempurna menggerogoti dan melumpuhkan ketangguhan jiwanya.


Tubuh yang digerogoti oleh luka itu, ia tegakkan dari posisi sebelumnya. Ia bawa untuk melangkah menuju balkon kamar. Kepala yang sebelumnya terasa berat dan terus menunduk bak didera oleh beban berat, ia paksa untuk mendongak. Dan, hanya langit muram yang dipenuhi oleh gerombolan awan hitam dengan bentuk bulu-bulu domba lah yang membalut keperkasaannya.


Setetes air langit mulai terjatuh satu persatu dibarengi dengan kristal bening yang kembali mengalir deras dari bingkai netra dengan manik cokelat milik lelaki itu. Semakin ia memandang langit yang muram ini, semakin ia merasakan kegetiran dalam batinnya. Ia merasa, hamparan langit hitam ini sama dengan pekatnya goresan tinta takdir yang seakan masih ingin bermain-main dengannya.


Di usia duapuluh lima tahun, pemuda shaleh berparas tampan itu hampir pernah akan menikah dengan seorang gadis yang ia kenal di salah satu majelis mingguan yang ia hadiri. Acara lamaran telah dipersiapkan dengan sempurna. Namun tatkala ia dan rombongan tiba di rumah sang gadis, gadis itu justru Allah memanggilnya untuk kembali pulang ke pangkuanNya.


Mencoba untuk ikhlas dan pasrah dengan cara kembali membuka hati untuk wanita lain, di usia dua puluh enam tahun, pemuda itu mencoba untuk menjalin ta'aruf dengan seorang gadis yang merupakan putri dari salah satu ustadz yang juga ia kenal di majelis yang sering ia hadiri. Namun, lagi-lagi kabut duka itu kembali menyapa. Tiga hari sebelum pernikahan, tiba-tiba gadis itu membatalkan pinangan sang pemuda.


Dua kali gagal menikah, sama sekali tidak menepis segala prasangka baik seorang Fakhru Miftahul Haq kepada Rabb-nya. Ia selalu meyakini bahwa apa yang telah Allah gariskan pasti merupakan sesuatu yang terbaik untuknya. Hingga di usia duapuluh tujuh tahun ini, ia kembali menjalani sebuah hubungan dengan Rumana. Dari proses perkenalan, lamaran, semua berjalan lancar. Namun ternyata, justru tepat di hari H, Allah kembali mengujinya. Acara pernikahan hari ini gagal setelah Rumana melarikan diri dan memilih untuk pergi bersama mantan kekasihnya.


Fakhru menghirup udara dalam-dalam dan ia hembuskan perlahan. Mengurai rasa sesak yang melilit di setiap denyut nadi. Ujian demi ujian yang selama tiga tahun berturut-turut beruntun menerpanya, pada kenyataannya mampu menenggelamkan binar kebahagiaan di dalam bingkai wajah rupawannya.


"Allah ... apakah memang tidak ada wanita yang Engkau persiapkan untukku di dunia ini? Wanita yang akan menjadi tempat untuk mencurahkan seluruh kasih sayang yang aku miliki di dalam sebuah ikatan yang halal?"

__ADS_1


Fakhru kembali membuang nafas kasar. Kegamangan hati semakin terasa begitu merajai. "Apakah aku bukanlah hambaMu yang Engkau cinta? Sehingga tidak sedikitpun Engkau berikan kesempatan untukku mengecap arti kebahagiaan dengan mempersunting seorang wanita?"


Pemuda itu sibuk bermonolog lirih. Mencoba melepaskan segala beban dengan mencurahkan apa yang tertahan di dalam hati.


Wanita paruh baya yang sedari tadi berdiri di ambang pintu kamar sang putra, hanya bisa menatap punggung putranya ini dengan tatapan nanar. Sama sekali tidak terlintas di dalam benaknya, bahwa salah satu dari buah hatinya kembali diterpa gelombang uji seperti ini.


Rasa sesak juga tak luput menerpa bongkahan hati dalam raganya. Hingga mendorong titik-titik mata air yang siap untuk mengalir menyusuri bingkai wajah yang masih terlihat ayu di usianya yang telah memasuki setengah abad ini.


"Nak... "


Menguatkan hati untuk berupaya menjadi sandaran bagi sang putra, Ellana melangkahkan kaki mendekat ke tubuh tegap Fakhru. Tangan yang mengusap lembut punggung sang putra, sukses membuat Fakhru terkesiap seketika.


"Mama.... "


Suara Fakhru seakan tercekat di dalam tenggorokan. Bibirnya bergetar dihiasi oleh helaan nafas yang terdengar begitu memburu. Tak ada yang dapat ia lakukan selain meluruhkan tubuhnya ke dalam dekapan sang mama.


"Mengapa ini kembali terjadi kepada Fakhru, Ma? Apa salah Fakhru hingga takdir Allah begitu mempermainkan Fakhru seperti ini? Apakah Fakhru bukanlah hamba yang dicintai oleh Allah? Sehingga Allah memberikan ujian yang bertubi-tubi seperti ini?"


Ellana mengusap punggung Fakhru dengan penuh kelembutan. Kejadian hari ini juga turut membuat hatinya sebagai seorang ibu ikut terkoyak. Bahkan hancur berkeping-keping yang menjadi serpihan luka di dasar hatinya.

__ADS_1


Setega itukah Rumana, gadis yang selalu bersikap baik di hadapan keluarganya melakukan ini semua? Perangainya yang baik, tutur katanya yang halus dan lembut justru yang semakin dalam menancapkan luka di hati seluruh keluarga besarnya. Tidak pernah ia sangka jika di balik raga yang nyaris sempurna, wanita itu memiliki sebuah rahasia yang begitu besar. Rahasia hati, bahwa ia masih terjerat oleh cinta sang mantan.


"Nak, ujian ini bukan pertanda bahwa Allah tidak menyayangimu. Justru karena Allah mencintaimu, Dia memberikan ujian ini. Dia ingin tahu, seberapa ikhlas kamu melewati ini semua."


"Tapi mengapa ujian perihal jodoh yang selalu menimpa Fakhru, Ma? Mengapa Allah tidak pernah memberikan kesempatan kepada Fakhru untuk mencecap kebahagiaan itu?"


Air mata luka itu semakin deras mengalir dari jendela hati milik pemuda berusia dua puluh tujuh tahun ini. Tidak lagi dapat terbendung. Justru semakin membanjiri wajah tampannya.


Ellana mencoba untuk menghela nafas dalam. Sungguh, saat ini ia juga merasakan apa itu kerapuhan. Namun, mati-matian wanita paruh baya itu mencoba untuk tetap tegar agar bisa menjadi sandaran bagi sang putra.


"Nak, apa yang menurut kamu baik belum tentu baik menurut Allah. Yakinlah, bahwa apa yang kamu alami di hari ini merupakan sesuatu yang baik yang telah Allah pilihkan untukmu."


Ellana melerai sedikit pelukannya. Hingga kini dengan jelas, ia dapat memandang wajah sang putra yang masih dibalut oleh kabut duka. Jemarinya mengusap sisa-sisa air mata itu dan mencoba untuk memberikan senyum termanis yang ia miliki sebagai penguat kerapuhan hati yang tengah ia rasakan.


"Hari ini Allah menunjukkan kepadamu bahwa Rumana bukanlah wanita yang baik untuk menjadi pendamping hidupmu. Percayalah bahwa Allah telah mempersiapkan jodoh terbaik yang kelak bisa menjadi tempatmu untuk mencurahkan seluruh cinta yang kamu miliki dan yang akan kamu genggam tangannya untuk bersama-sama menuju jannah."


.


.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2