Cahaya Cinta Untuk Seroja

Cahaya Cinta Untuk Seroja
CCUS 44 : Mengunjungi


__ADS_3


"A-Aku baik-baik saja Ru..."


Kikuk, itulah ekspresi wajah yang ditampakkan oleh Seroja saat pertama kali kembali dipertemukan dengan teman masa kecilnya. Sekilas, ada sedikit perubahan di raut wajah Fakhru. Karena seingatnya, teman kecilnya ini tidak bergigi gingsul namun entah bagaimana saat ini ia menjadi lelaki bergigi gingsul. Satu hal yang membuat Seroja yakin bahwa lelaki ini adalah teman masa kecilnya, kedua lesung di tulang pipinya lah yang tidak menghilang sampai saat ini.


"Alhamdulillah ... semoga kamu selalu berada di dalam lindungan Allah, Seroja."


Fakhru, pemuda tampan itu tiada henti melukiskan senyum manis di bibirnya. Hatinya teramat bahagia karena bisa kembali bertemu dengan teman masa kecilnya ini. Salah seorang teman yang di masa kecilnya tidak pernah jauh darinya. Bahkan hampir setiap hari mereka selalu bermain bersama. Sebuah hal yang wajar jika hanya dirinya dan saudara kembarnya lah yang menjadi teman Seroja, karena dulu wanita yang saat ini berada di hadapannya ini selalu mendapatkan diskriminasi.


Dua puluh dua tahun mereka terpisah. Dan kini di saat keduanya sudah menginjak usia dewasa, takdir kembali mempertemukan mereka? Mungkinkah ada maksud yang Allah sematkan di balik pertemuannya kembali dengan teman kecilnya ini? Semakin larut Fakhru dalam rasa takjub akan pertemuannya ini, rasa-rasanya semakin membuat pemuda itu larut dalam lamunannya sendiri.


"Aamiin ... semoga Allah juga senantiasa melindungimu Ru." Seroja menautkan pandangannya ke arah Ana dan Manda yang masih setia menunggu di depan surau. Sepertinya mereka sudah terlalu lama menunggu.


Seroja kembali menatap wajah lelaki ini, bermaksud untuk pamit. "Ru, aku pamit pulang terlebih dahulu. Kasihan Manda dan suster Ana jika terlalu lama menunggu."


"Seroja, di mana kamu tinggal? Aku ingin bersilaturahmi ke tempatmu!"


Sekilas, Seroja hanya membalikkan sedikit tubuhnya kala telapak kakinya sudah menginjak pelataran surau ini. "Aku tinggal tak jauh dari sini Ru. Aku pulang dulu, assalamu'alaikum!"


"Waalaikumsalam Seroja... "


Seroja, Ana, dan Alamanda kembali mengayunkan langkah kaki mereka untuk meninggalkan surau. Perlahan, bayang tubuh ketiga orang itu menghilang dari pandangan Fakhru.


Hakim yang sedari tadi memperhatikan interaksi antara Fakhru dan Seroja hanya bisa menatap dua orang itu dengan tatapan yang sukar untuk diartikan. Kala sapuan matanya menangkap sosok Seroja, ia seperti merasakan sesuatu yang sangat asing. Ia seperti pernah mengenal teman masa kecil Fakhru itu.


"Ru!" Hakim memanggil nama Fakhru sembari menepuk pundaknya.


Pemuda itu sedikit terkesiap. "Ya Tadz?"

__ADS_1


"Apakah wanita tadi adalah teman masa kecil antum?"


"Iya Tadz, namanya Seroja. Dulu kami sama-sama tinggal di Jogja, namun saat kami berusia lima tahun, kami berpisah. Ibu Seroja membawanya pindah dari kota Jogja. Dan ternyata, hari ini Allah kembali mempertemukan kami." Dahi Fakhru sedikit mengerut. Ia penasaran mengapa ustadz muda di seperti ingin tahu tentang Seroja. "Ada apa Tadz?"


Hakim menggelengkan kepala. "Entahlah, Ana seperti pernah bertemu dan mengenal wanita tadi. Dan rasa-rasanya sangat dekat. Namun entah di mana."


Fakhru hanya tergelak lirih. Sepertinya ia menangkap sebuah sinyal jika ustadz muda ini terpesona dengan Seroja. "Apakah ustadz Hakim terpesona pada kecantikan Seroja? Dan ingin menghalalkannya?"


Hakim yang sebelumnya terlihat larut dalam pikirannya sembari mengingat-ingat siapa gerangan wanita itu, seketika tersentak. Ia menatap wajah pemuda di hadapannya ini dengan lekat pula. "Sama sekali tidak Ru. Bukan terpesona. Ana hanya merasa seperti dekat dengan wanita tadi. Seperti pernah mengenal lama."


Fakhru hanya mengernyitkan kening. "Dekat? Mengenal lama? Apakah mungkin ustadz juga pernah mengenal Seroja?"


Hakim mengedikkan bahu. "Entahlah Ru. Ana yakin tidak mengenal wanita itu. Namun entah, rasanya begitu dekat."


Hakim semakin larut dalam pikirannya sendiri. Ia berusaha keras untuk mengingat wanita itu. Namun, semakin keras ia mengingat yang ia temukan hanya kebuntuan semata. Karena sejatinya ia tidak pernah mengenalnya.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Jadi ini tempat tinggalmu Ja?"


Sesuai janji yang telah terucap, Fakhru mendatangi kediaman Seroja. Setelah bertanya beberapa orang yang ada di sekitar sini, akhirnya Fakhru menemukan tempat tinggal teman masa kecilnya ini. Pandangan mata Fakhru menyapu seluruh penjuru rumah ini. Rumah yang begitu sederhana dan dipenuhi oleh peralatan jahit.


Sembari membuat pola di atas kertas, Seroja menganggukkan kepala. "Iya Ru, ini tempat tinggalku. Maaf jika terlalu sempit. Dan maaf juga jika aku sela dengan pekerjaan ini. Ada pesanan baju yang harus aku selesaikan."


Fakhru tergelak lirih. Diam-diam ia mencuri pandang ke arah wanita yang tengah sibuk dengan pola-pola yang ada di atas kertas. Entah mengapa ia begitu terkesima dengan wanita ini. Meski ia tinggal di lokalisasi, namun ia tetap memberdayakan dirinya untuk mencari rezeki dengan cara yang halal. Dan ia juga menjaga dirinya dengan berhijab. Sungguh wanita yang sangat istimewa.


"Justru aku yang merasa jika aku mengganggumu Ja. Maaf kalau kehadiranku justru membuat konsentrasimu terbagi."


"Sama sekali tidak Ru. Aku sudah terbiasa melakukan pekerjaan seperti ini jadi tidak masalah." Seroja menempelkan pola itu di atas kain dan siap untuk mengguntingnya. "Oh iya, bagaimana kabar Fakhri dan juga Farhana? Apakah saat ini mereka masih tetap di Jogja?"

__ADS_1


Fakhru menggelengkan kepala. "Tidak Ja. Kami semua justru meninggalkan Jogja. Farhana sudah menikah dan ikut suaminya di Surabaya. Sedangkan Fakhri juga sudah menikah dan tinggal di kota ini juga. Dia menjadi salah seorang dokter di salah satu rumah sakit di kota ini."


Seroja menghentikan sejenak aktivitasnya. Kepala yang sebelumnya menunduk, kini sedikit ia dongakkan. "Dokter di kota ini? Praktek di mana Fakhri, Ru?"


"Praktik di rumah sakit permata hati. Sudah lumayan lama juga dia bekerja di sana."


Deg...


"Rumah sakit Permata Hati?"


"Iya Ja, di sana. Ada apa? Mengapa kamu terlihat seperti terkejut seperti itu?"


Fakhru menatap heran ekspresi wajah Seroja yang nampak seperti seseorang yang tengah terkejut. Dan seperti pernah bertemu dengan Fakhri sebelumnya.


"Ternyata dokter yang sempat menangani Alamanda, adalah Fakhri, adikmu... "


Tak jauh berbeda dengan Seroja, Fakhru pun juga ikut terkejut. "Benarkah seperti itu?"


Seroja menganggukkan kepalanya. "Benar Ru. Dulu, Fakhri pernah menangani Alamanda sebelum akhirnya diambil alih oleh dokter spesialis mata."


Senyum di bibir Fakhru nampak semakin lebar. "MashaAllah ... aku benar-benar tidak menyangka, meski kita pernah terpisah lama dan jauh namun ternyata sejatinya kita itu dekat."


Seroja hanya tersenyum getir. Entah apa yang harus ia tunjukkan dengan pertemuannya kali ini. Apakah ia harus bahagia atau sebaliknya? Dan bagaimana respon pemuda itu jika sampai tahu bahwa sebelumnya dirinya hidup dalam kubangan dosa?


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2