
"Mari silakan masuk Ustadz dan keluarga! Mohon maaf, gubug kami hanya seperti ini!"
Rintik gerimis yang berjatuhan ke bumi sama sekali tidak menyurutkan niat baik yang telah terpatri di dalam hati. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih setengah jam, pada akhirnya Hakim dan keluarga tiba di kediaman Seroja. Senyum mereka mengembang kala di depan netra telah berdiri sesosok wanita cantik dengan balutan gamis modern berwarna silver yang dengan ramah tamah menyambut dan mempersilakan mereka untuk memasuki area ruang tamu.
Netra Mukhlas dan Lily menatap teduh wanita cantik yang berdiri di hadapan mereka ini. Sebuah tatapan sarat makna yang diiringi dengan senyum tiada henti terlukis di bibir kedua paruh baya itu.
"Nak, apakah wanita ini yang bernama Ana?"
Masih tidak ingin mengalihkan pandangannya dari sosok wanita cantik di hadapannya ini, Mukhlas mencoba menanyakan siapa gerangan wanita ini kepada sang putra. Sedangkan Hakim, hanya bisa terkekeh kecil dibuatnya.
"Ayah, wanita ini bukan Ana. Dia adalah Seroja, yang beberapa saat yang lalu Hakim ceritakan."
"MashaAllah ... ternyata memang benar apa yang kamu ucapkan Nak, wanita bernama Seroja ini memang cantik."
Hakim semakin tergelak. "Ayah, jangan berbicara seperti itu. Jika Ana sampai mendengar ucapan Ayah ini, bisa-bisa ia merasa cemburu karena Hakim sempat memuji kecantikan wanita lain di belakangnya." Hakim menautkan pandangannya ke arah Seroja. "Benar begitu kan Ja?"
Seroja ikut terkekeh kecil, membuat Lily yang sedari tadi menatap lekat wajah Seroja semakin dibuat terkejut setengah mati.
Mengapa aku merasa tidak asing dengan senyuman wanita ini? Senyuman wanita ini seakan mengingatkanku kepada seseorang, namun siapa? Dan oh ya Allah, mengapa hatiku menjadi tidak karuan seperti ini? Aku merasakan apa yang Hakim rasakan, aku seperti pernah mengenal wanita ini.
Tubuh Seroja sedikit membungkuk. Ia raih telapak tangan Mukhlas dan ia kecup punggung tangan lelaki paruh baya itu. "Saya Seroja, Pak. Sedangkan suster Ana masih berada di dalam dan pastinya jauh lebih cantik dari saya."
Deg!!!
Ada sebuah rasa berbeda yang tiba-tiba menelusup ke dalam hati Mukhlas kala punggung tangannya dikecup oleh Seroja. Ia terpaku, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya ia rasakan. Sampai-sampai ia tidak sadar jika wanita itu sudah selesai dengan ritualnya mengecup punggung tangan Mukhlas.
Hakim hanya menggeleng-gelengkan kepala. Ia begitu heran dengan bahasa tubuh yang ditampakkan oleh sang ayah.
"Yah, mengapa Ayah malah terpaku seperti ini? Ada apa dengan Ayah?"
Hakim yang sengaja menepuk pelan pundak Mukhlas sukses membuat lelaki paruh baya itu kembali meraih kesadarannya. Ia mengerjabkan mata, dan kembali tersenyum simpul. "Astaghfirullah ... mohon maaf ya Nak. Bapak benar-benar terbawa suasana. Melihatmu, seakan mengingatkan Bapak kepada seseorang. Tapi Bapak tidak tahu, siapa orang itu."
Seroja dan Hakim saling bertatap netra. Keduanya hanya saling mengendikkan bahu. Mungkin Hakim paham dengan apa yang tengah dialami oleh sang ayah, di mana lelaki paruh baya itu begitu merindukan sosok sang putri yang telah lama hilang. Sedangkan Seroja, ia sungguh tidak paham dengan apa yang diucapkan oleh lelaki paruh baya itu.
Hakim menggeser tautan netranya ke arah sang ibu. Hampir sama dengan yang terjadi kepada sang ayah, wanita paruh baya itu juga hanya bisa terpaku. Dengan ekspresi wajah yang sulit terbaca.
"Ibu, ini adalah Seroja. Sedangkan Ana, masih berada di dalam."
Lily sedikit terperanjat kala telapak tangan Hakim menepuk pundaknya. Ia yang sebelumnya tenggelam di dalam lautan geolak rasa yang sangat asing ia rasakan, kini mulai kembali naik ke permukaan. Wanita itu tersenyum simpul, menghadirkan senyum termanis yang ia punya.
Sama halnya yang ia lakukan terhadap Mukhlas, Seroja sedikit membungkukkan tubuh, meraih telapak tangan Lily dan mengecup punggung tangan wanita paruh baya itu.
__ADS_1
Deg!!
Sama persis yang dirasakan oleh sang suami. Lily pun merasakan sebuah rasa yang berbeda kala bibir Seroja dengan intens mengecup punggung tangannya.
"Saya Seroja, Bu. Saudara suster Ana!"
Seroja melepaskan genggaman tangannya dari tangan Lily. Tubuh Seroja kembali tegak, dan kini posisinya berdiri tepat di hadapan wanita paruh baya itu.
Dengan tatapan penuh keteduhan, Lily mengukir senyum manis di bibirnya. "Nama kamu Seroja?"
Seroja mengangguk pelan. "Iya, Bu. Saya Seroja. Seroja Ayu Anjani."
"Sungguh nama yang begitu cantik. Sama persis dengan orangnya." Lily menjeda sejenak ucapannya. Sedikit ragu, ia mengatakan keinginan yang tiba-tiba datang memenuhi ruang-ruang hatinya. Namun, pada akhirnya ia ungkapkan jua. "Nak, bolehkah Ibu meminta sesuatu kepadamu?"
Dahi Seroja sedikit mengerut. "Apa itu Bu? Jika saya mampu, pasti akan saya lakukan."
"Bolehkah Ibu memelukmu, Nak? Sebentar saja?"
Seroja terkesiap. Ia sedikit melirik ke arah Hakim. Sedangkan Hakim hanya mengangguk pelan sebagai sebuah isyarat agar Seroja mau melakukannya. Ia pun mengangguk samar.
"Silakan Bu. Ibu boleh memeluk saya!"
Grep...
Nyessss....
"Ya Allah ... jika aku bisa menemukan putriku, pasti saat ini ia sudah seumuran denganmu, Nak. Dia pasti juga akan tumbuh menjadi seorang wanita yang sangat cantik."
Lily sudah tidak sanggup lagi menahan segala dorongan emosi yang ada di dalamnya. Emosi rasa rindu kepada sang putri yang terasa semakin meletup-letup memenuhi bilik-bilik jantungnya. Dan kini, setelah ia memeluk tubuh Seroja, ia seperti memeluk putrinya sendiri. Sang putri yang telah hilang di dua puluh tujuh tahun silam. Hingga pada akhirnya, ia meluapkan segala bentuk rasa di dalam dada melalui air mata yang membanjiri wajah wanita paruh baya itu.
Tubuh Seroja hanya membeku dan terpaku kala merasakan tubuh wanita paruh baya ini sedikit bergetar dan sesenggukan di dalam pelukannya. Entah apa yang terjadi, ia seperti merasakan ada sesuatu yang berbeda kala memeluk tubuh Lily.
Ya Allah ... perasaan apa ini? Mengapa hatiku seakan dibuat melankolis kala mendengar ibu Lily mengisakkan tangis seperti ini? Dan, ah... perasaan apa ini? A-aku merasa begitu dekat dengan ibu Lily?
Seroja sibuk bermonolog di dalam hati. Ia begitu larut dalam pikirannya sendiri akibat sebuah gejolak rasa yang menyerangnya secara tiba-tiba. Sedangkan, Hakim dan Mukhlas, keduanya hanya bisa menatap penuh haru pemandangan apa yang tersaji di depan mata mereka. Meski Lily terlihat mengisakkan tangisnya, namun kebahagiaan itu nampak jelas terbingkai di wajah Lily. Hingga pada akhirnya Lily pun mengurai pelukannya.
Wanita itu terkekeh kecil sembari mengusap titik-titik embun yang membasahi pipi. "Maafkan Ibu ya Nak. Ibu sungguh-sungguh terbawa suasana. Jika sudah seperti ini, Ibu tidak bisa jika tidak menangis. Karena sungguh, jika bertemu dengan wanita berusia kurang lebih dua puluh tujuh tahun, Ibu selalu saja teringat dengan putri Ibu."
Seroja pun juga hanya bisa tersenyum simpul. "Tidak mengapa, Bu. Semoga kerinduan yang Ibu rasakan kepada sang putri, sedikit terobati dengan memeluk saya."
Lily tersenyum penuh arti. "Sungguh benar apa yang kamu ucapkan ini Nak. Kerinduan Ibu sedikit terobati setelah bertemu denganmu."
Seroja mengedarkan pandangannya ke sekitar. Ada sedikit keanehan yang ia rasakan. "Astaghfirullah hal 'adziim..."
__ADS_1
"Ada apa Seroja? Kok sepertinya begitu terkejut seperti itu?"
"Ustadz, mengapa sedari tadi kita hanya berdiri di ambang pintu? Dan tidak masuk ke dalam? Ya Allah, saya benar-benar minta maaf, Pak, Bu!"
Seroja sedikit terkejut kala tersadar bahwa sedari tadi, ia hanya membiarkan tamunya berdiri di ambang pintu. Ia pun hanya bisa tersenyum kikuk. Merasa tidak enak hati.
Hakim pun ikut tergelak. Begitu larut dalam suasana seperti ini, membuatnya juga baru sadar jika sedari tadi ia masih berada di depan teras.
"Baiklah, apa sekarang kamu mempersilakan kami masuk, Seroja?" ucap Hakim dengan seringai bercanda.
"Ya Allah, Ustadz. Bukankah sejak tadi saya mempersilakan ustadz Hakim dan juga bapak dan ibu untuk masuk ke dalam? Tapi mengapa masih berdiri di sini saja?" timpal Seroja yang sepertinya tidak ingin dipersalahkan dengan adanya kasus menahan tamu di teras seperti ini.
"Baiklah. Ayah, Ibu, mari kita masuk. Sang tuang rumah sudah mempersilakan kita masuk. Kasihan Ana, sedari tadi ia sudah menunggu kedatangan kita."
Mukhlas tersenyum simpul. "Baiklah, mari kita masuk. Dan kita mulai acara lamaran ini. Rupa-rupanya kamu sudah tidak sabar untuk bisa segera mempersunting Ana ya Nak?"
"Niat baik harus disegerakan, Ayah. Agar terhindar dari fitnah."
Mukhlas tergelak. "Loh, tapi di mana nak Randy? Bukankah tadi ia mengatakan bahwa akan ikut menyusul kemari?"
"Baru saja mas Randy memberi kabar jika ia ada keperluan mendadak Yah, jadi ia tidak bisa menyusul kita."
Deg!!!
Hati Seroja sedikit bergemuruh kala mendengar sebuah nama yang sangat tidak asing di telinganya.
Randy? Randy siapa yang dimaksud oleh ustadz Hakim dan keluarganya ini. Apakah mas...? Ah, tidak, tidak. Nama Randy bukan hanya milik mas Randy saja, ada banyak nama Randy di kota ini. Dan pastinya, itu bukanlah mas Randy yang aku kenal.
Pada akhirnya, Orang-orang yang sebelumnya berkumpul di teras, kini mulai mengayunkan kaki mereka untuk memasuki area ruang tamu di mana di sana telah tergelar sebuah karpet berwarna merah yang siap untuk melakukan proses lamaran ustadz Hakim.
Sedangkan seorang yang masih berada di dalam kamar, ia hanya bisa membuang nafas sedikit kasar. Berusaha untuk menghalau segala kegugupan yang ia rasakan.
Lancarkan dan berkahilah acara malam hari ini ya Allah.. Aamiin, aamiin ya rabbal alaamiin...
Tanpa mereka ketahui, di samping tempat tinggal Seroja, juga berdiri seorang laki-laki dengan membawa sebuah payung kecil di tangannya.
Sesungguhnya aku ingin sekali ikut ustadz Hakim dan keluarga datang ke kediamanmu, Sayang. Namun sungguh, aku masih belum siap untuk bertemu denganmu. Maafkan aku, karena hanya seperti inilah caraku menjagamu. Memastikan bahwa kamu dalam keadaan baik-baik saja.
.
.
🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
Sabar... Sabar... Memasuki bulan November, mohon maaf jika saya jadi sering terlambat update episode terbaru ya Kak.. Mohon doanya agar acara yang akan saya adakan di bulan ini, senantiasa diberikan kelancaran. 😘😘😘