Cahaya Cinta Untuk Seroja

Cahaya Cinta Untuk Seroja
CCUS 21 : Fakhru


__ADS_3


Selepas kepergian Randy, Seroja memilih berendam di dalam bath-up. Harum aroma sabun beraroma therapy, membuat suasana rilieks seketika menyelimuti tubuhnya. Ia mainkan busa-busa sabun di dalam sana sembari sesekali menggosok tubuhnya dengan lembut.


Ucapan Randy perihal istri yang dirahasiakan, sukses membuat pikiran Seroja kembali menerawang jauh, tepatnya pada saat-saat pertama ia dipertemukan dengan Randy. Pertama kali berkencan dengan Randy, ia memang merasakan bahwa lelaki itu jauh berbeda dengan kebanyakan lelaki di luar sana. Tidak ada kesan awal yang muncul di benak Seroja, selain lelaki itu penuh dengan kelembutan.


Satu bulan menjalani kencan bersama Randy, membuat Seroja merasa semakin nyaman dengan lelaki itu. Bagaimana tidak nyaman jika setiap bertemu dengan Randy, ia selalu merasakan sebuah kehangatan dan kasih sayang dari seorang laki-laki yang selama ini tidak pernah ia dapati. Lelaki itu seakan tahu bahwa Seroja sebelumnya memiliki sebuah trauma. Tidak ada yang dapat dilakukan oleh Randy selain perlahan, mencoba untuk kembali memulihkan trauma wanita itu. Dan Randy pun berhasil membuktikan bahwa ia memanglah lelaki yang berbeda.


Dua bulan berlalu. Untuk kali pertama, Randy mengajak Seroja untuk bermalam di apartemen miliknya. Dan, untuk kali pertamanya lah mereka melakukan apa itu yang dinamakan hubungan badan. Meski ikut bekerja di bawah naungan mami Laura, namun hanya Randy lah satu-satunya lelaki yang berhasil menjamah tubuhnya, setelah manusia biadab itu merenggut kesucian yang ia miliki. Hingga di bulan keenam mereka menjalani hubungan itu, Randy benar-benar mengikatnya dengan sebuah ikatan yang kata kebanyakan orang adalah pernikahan di bawah tangan.


Seroja menghirup udara dalam-dalam dan ia hembuskan dengan kasar. Di matanya, entah diikat oleh tali pernikahan atau tidak, ia tetaplah seorang pela*cur yang bekerja dengan cara memberikan kepuasan kepada lelaki yang menjamah tubuhnya. Dan dari sudut pandang kebanyakan manusia, itu semua merupakan cara-cara yang kotor. Namun di sini, untuk keadaan Seroja sedikit berbeda karena ia hanya berhubungan dengan seorang lelaki saja.


Seroja keluar dari dalam bath-up dan berdiri di bawah shower. Ia bilas tubuhnya yang dipenuhi oleh busa sabun itu agar bersih kembali. Entah posisinya menjadi istri yang dirahasiakan atau wanita simpanan, ia tetaplah seorang wanita yang telah merusak kebahagiaan wanita lain. Tidak ada gelar yang pantas ia sandang, selain gelar perebut lelaki orang.


Ia raih bathrobe berwarna putih yang menggantung di pintu kamar mandi. Ia kenakan bathrobe itu untuk membungkus tubuhnya dan ia ayunkan langkah kakinya untuk keluar dari kamar mandi.


Ia dudukkan tubuhnya di tepian ranjang. Ia raih ponsel yang tergeletak di atas nakas. Jemarinya bergulir di atas layar ponsel itu dan lagi-lagi, foto profil milik Rosmala lah yang kembali mengusik ketentraman batinnya.


"Apa yang saat ini harus aku lakukan? Aku sadar akan posisiku. Namun mengapa rasanya begitu berat untuk melepaskan mas Randy?"

__ADS_1


Seroja sibuk bermonolog lirih. Ia rebahkan tubuhnya di atas ranjang masih sambil menatap lekat foto profil milik Rosmala. Namun, semakin lama kedua matanya terasa semakin berat akibat didera oleh rasa kantuk yang luar biasa. Ponsel itupun terjatuh diiringi dengan buaian mimpi yang mulai menyapanya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Jogjakarta....


Lantunan kalam cinta terdengar mengalun merdu di balik kamar seorang pemuda berusia dua puluh tujuh tahun ini. Setelah sebelas rakaat selesai ia tunaikan, ia memilih untuk bermesra-mesraan dengan Rabb nya. Bersimpuh di atas sajadah, menundukkan kepalanya dengan takdzim, membelai tiap butiran tasbih dengan menyerukan pujian kepada sang Maha sempurna, kemudian ia tutup dengan tilawah yang ia lantunkan di sepertiga malam terakhir ini.


Jendela kamar sengaja ia buka lebar-lebar hingga membuat nafas-nafas cinta dari sang penggenggam kehidupan melalui hembusan angin dini hari ini masuk ke dalam kamar dan tidak ada jejak yang tertinggal selain jejak-jejak kesejukan di dalam kamar.


Sadaqallahul 'adziim....


Maha benar Allah dengan segala firmanNya. Pemuda yang tak lain dan tak bukan adalah putra dari Rama Gilang Pradana dan Ellana Alessia Safaraz Ismail itu menutup Al-Qur'an yang berada di dalam genggaman tangannya setelah satu juz berhasil ia lantunkan. Ia cium kalam cinta dari sang Maha pemilik kehidupan itu sembari melangitkan pinta, semoga ia tetap istiqomah dalam berpegang teguh pada kitab ini, hingga akhir nafasnya nanti.


Kepala Fakhru mendongak. Ia tatap lekat hamparan langit malam kota Jogja yang dipenuhi oleh mutiara-mutiara alam yang nampak berkerlip di sana. Senyum manis itu kembali tersungging di bibirnya


"Nak, jangan keseringan melamun. Nanti bisa digoda oleh sesuatu yang tak kasat mata."


Tubuh Fakhru sedikit terperanjat tatkala suara bariton dari balik tubuhnya tiba-tiba merembet masuk ke dalam indera pendengarannya. Ia menautkan pandangan matanya ke arah sosok lelaki paruh baya yang berjalan mendekatinya.

__ADS_1


"Papa?!"


Lelaki paruh baya itu berdiri di sisi sang putra sembari mengukir seutas senyum di bibirnya. Ia ikut menatap hamparan langit luas yang tersaji di atas kepala sembari bertasbih, memuji akan keindahan alam semesta yang diciptakan oleh Allah, Tuhan yang merajai seluruh alam semesta ini.


"Apa yang dilakukan oleh calon pengantin di malam hari menjelang pagi seperti ini? Apakah putra Papa merasa gugup, karena esok hari akan mengucapkan kalimat qabul di hadapan wali dan saksi?"


Fakhru tergelak lirih mendengar ucapan sang papa. Karena pada dasarnya, apa yang diucapkan oleh lelaki paruh baya ini memang benar adanya. Ia diserang oleh rasa gugup karena esok, ia akan melangsungkan pernikahan.


"Jika boleh jujur, bukan kegugupan yang saat ini mendominasi hati Fakhru, Pa. Namun Fakhru merasa takut. Takut jika..... "


"Sstttt... Nak, sudahlah. Jangan lagi kamu ingat-ingat akan semua yang telah berlalu. Yakinlah, bahwa saat ini merupakan waktu terbaik yang telah Allah pilihkan untuk menyatukanmu dengan pendamping hidupmu."


Fakhru mengangguk samar. Kejadian-demi kejadian yang telah terjadi di masa yang telah lalu seakan membuatnya merasakan setitik rasa takut yang tiada berujung. Namun ia selalu percaya bahwa setiap tinta takdir yang telah tergores untuknya, merupakan hal terbaik yang telah dipilihkan oleh Allah untuknya.


"Fakhru hanya bisa terus memohon kepada Allah, semoga esok hari acara yang telah tersusun rapi dapat berjalan lancar Pa."


Rama mengangguk. "Aamiin, aamiin ya rabbal alamiin."


.

__ADS_1


.


🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2