
"MashaAllah, ini calon menantu Ibu, Ran?"
Pagi ini, Seroja bertandang ke rumah Randy. Untuk kali pertama, wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu menginjakkan kaki di rumah milik Randy dan bertemu secara langsung dengan sang ibu. Ada rasa sedikit cemas yang dirasakan oleh Seroja. Cemas jika kehadirannya tidak diterima dengan baik oleh sang calon mertua. Namun kenyataannya justru sebaliknya. Sejak telapak kakinya berpijak di teras rumah milik Randy, ia sudah disambut baik oleh calon mertua.
"Assalamualaikum Bu. Saya Seroja. Seroja Ayu Anjani. Calon istri mas Randy."
Sembari membungkukkan sedikit punggungnya, Seroja meraih telapak tangan ibunda Randy dan mengecup punggung tangan wanita itu. Sebagai salah satu bentuk rasa hormat kepada calon mertua.
"Waalaikumsalam nak Seroja. Wanita tua ini ibunya Randy. Tepatnya yang bernama ibu Asri."
"Ibu, siapa yang mengatakan Ibu tua? Ibu bahkan masih terlihat awet muda."
Sembari tergelak lirih Seroja mencoba menanggapi apa yang terlisan dari bibir ibu Asri. Tidak ada kesan tua yang membingkai wajah wanita paruh baya itu. Yang ada, ibunda Randy ini terlihat begitu awet muda, sangat berbanding terbalik dengan usianya.
Seutas senyum manis merekah di bibir wanita paruh baya ini. Ia menggenggam erat jemari tangan Seroja dan sesekali mengusap-usap lengan tangannya. "Mungkin Ibu nampak awet muda karena pada akhirnya Ibu bisa menyaksikan kebahagiaan putra Ibu, Nak. Bahagia karena tinggal menghitung hari, ia akan hidup bersama dengan seorang wanita yang teramat ia cinta."
Ya, tinggal beberapa hari lagi acara pernikahan ketiga pasang calon pengantin itu akan diadakan. Segala sesuatunya pun telah dipersiapkan secara matang. Mulai dari baju pengantin, make-up, catering, dan juga venue yang akan ditempati. Dalam keputusan final, ketiga pasang calon pengantin itu akan menikah di hari, waktu, dan tempat yang sama.
Para orang tua terlihat berkolaborasi untuk mempersiapkan semuanya. Mereka saling bekerja sama untuk bisa mempersiapkan semuanya dengan baik.
"Terima kasih karena sudah memberikan restu kepada mas Randy untuk menikahi saya Bu. Doakan saya, agar saya bisa menjadi seorang istri yang baik untuk mas Randy dan menantu yang baik untuk Ibu."
"Ibu yang seharusnya meminta maaf kepadamu Nak. Maafkan Ibu, karena putra Ibu ini pernah menyeretmu ke dalam kubangan nista. Mungkin jika dulu Ibu tidak memaksanya untuk menikahi Rosmala, Ibu dapat melihat kebahagiaannya sejak awal."
Rasa bersalah itu kembali menyergap seonggok daging bernyawa milik Asri. Bersalah karena telah menumbalkan sang putra untuk bertanggung jawab atas keadaan yang memang seharusnya bukan menjadi tanggung jawabnya. Dan hal itulah yang membuat wanita paruh baya itu terpenjara di dalam penyesalannya.
Randy dan Seroja saling menautkan pandangan, kala Asri mulai mengisakkan tangis. Seroja memberikan sebuah isyarat agar Randy melakukan sesuatu untuk menenangkan hati sang ibu. Seakan paham dengan apa yang dimaksud oleh Seroja, lelaki itu mengambil posisi jongkok di depan kursi roda yang diduduki oleh sang ibu.
"Ibu, sudahlah. Tidak perlu lagi Ibu mengingat-ingat apa yang telah berlalu. Saat ini waktunya untuk menatap masa depan. Dan masa depan Randy inshaAllah akan dipenuhi oleh kebahagiaan, Bu. Pastinya di kala Randy hidup bersama dengan wanita yang begitu Randy cintai. Dan mungkin jalan seperti yang telah lalu itulah yang harus Randy lalui terlebih dahulu sebelum pada akhirnya Randy menemukan kebahagiaan Randy."
__ADS_1
Dengan penuh kelembutan, Randy mencoba memberikan sebuah pengertian kepada sang ibu bahwasanya yang telah lalu bukanlah kesalahan siapapun. Itu semua merupakan takdir hidup yang telah tertulis di tiap lembar jalan hidupnya.
"Ibu sungguh minta maaf Rand, Ibu minta maaf!"
Randy memeluk tubuh sang ibunda dan mengusap-usap punggungnya dengan penuh kelembutan. "Sudah ya Bu. Mulai saat ini Ibu tidak perlu lagi memikirkan hal-hal yang sudah berlalu. Lihatlah, kebahagiaan Randy sudah berada di sini dan berdiri di sisi Randy."
Randy mengurai sedikit pelukannya. Ia menepuk-nepuk pundak Randy seakan menjadi isyarat bahwa terlepas dari kesalahan apapun yang pernah dilakukan oleh sang putra, ia tetap bangga memiliki Randy sebagai putranya. Seorang laki-laki yang berbakti kepada ibu dan almarhum ayahnya. Dan seorang laki-laki yang mengesampingkan apa yang menjadi kebahagiaannya untuk dapat melindungi nama baik keluarga.
"Nak Seroja, bolehkah Ibu memelukmu?"
Seroja menganggukkan kepalanya dan tanpa menunggu aba-aba ia juga ikut jongkok di hadapan Asri dan memeluk tubuh wanita paruh baya itu.
"Semoga Allah selalu mencurahimu dan Randy dengan cinta dan kasih sayang ya Nak. Semoga kehidupan kalian akan dipenuhi oleh keberkahan di dunia maupun di akhirat. Dan semoga cahaya cinta dari Allah lah yang kelak akan menuntun langkah kaki kalian untuk bisa kembali disatukan di dalam jannah-Nya."
Untaian doa-doa tulus keluar dari bibir Asri. Doa-doa yang ia yakini dapat membuka pintu-pintu langit dan akan menjadi pengiring jejak langkah kaki sang putra bersama istrinya.
"Aamiin, aamiin, aamiin ya Rabbal alaamiin. Semua doa-doa baik yang Ibu langitkan, semoga juga mengiringi langkah kaki Ibu ya. Senantiasa berada di dalam naungan kasih sayang Allah hingga akhir waktu nanti."
"InshaAllah Bu, inshaAllah saya dan juga mas Randy akan selalu bersama hingga kami kembali ke sisi Allah SWT. Dan, jika memang Allah mengizinkan, inshaAllah saya dan mas Randy akan sehidup sesurga di kehidupan yang akan datang nanti."
🍁🍁🍁🍁🍁
"Nah, ini adalah menu cumi asam manis. Silakan dinikmati!"
Rama, Ellana, Juna, Widya dan pastinya Fakhru, duduk melingkar di meja makan. Di sebuah rumah yang merupakan salah satu peninggalan kakek buyut Fakhru yaitu opa Wijaya dan oma Hanna yang ada di kota ini (Pak Wijaya & Ibu Hanna adalah orang tua Juna) menjadi tempat tinggal mereka selama mereka ada di sini. Pastinya sambil mempersiapkan segala keperluan pernikahan Fakhru dan Adiba.
Pagi ini, Adiba berkunjung di kediaman Juna dan menyajikan sebuah hidangan lezat untuk menemani sarapan pagi kali ini. Dan menu cumi asam manis dan gulai kepala ikan, telah terhidang di atas meja makan.
Semua yang duduk di ruang makan ini nampak begitu bersemangat untuk segera mencicipi hidangan ini. Harum aroma olahan cumi dan ikan kakap seakan semakin menggugah selera.
"Benar apa kata Fakhru, ternyata masakan kamu memang enak, Nak. Pantas saja Fakhru bisa langsung jatuh hati kepadamu."
__ADS_1
Sesuap menu cumi asam manis sudah memanjakan lidah Ellana. Ia memuji hasil masakan calon menantunya yang memang terasa sangat lezat. Hal itulah yang membuat Adiba tersipu malu.
"Terima kasih banyak untuk pujiannya Ma. Adiba juga sedang dalam proses belajar."
Ellana tersenyum simpul. Tetiba ada sesuatu yang mengusik pikirannya. "Jika melihatmu begitu ahli dalam mengolah makanan seperti ini, Mama menjadi malu sendiri, Nak."
"Oh ya? Malu karena apa Ma?"
Ellana hanya tersenyum kikuk. Ekspresi wajahnya itu tidak luput dari pandangan mata sang suami, Rama. Lelaki itu nampaknya tahu akan apa yang dipikirkan oleh Ellana.
"Calon mama mertua kamu ini malu karena dulu sewaktu ia nikah dengan Papa, ia sama sekali belum bisa memasak Nak. Jadi ketika melihatmu begitu pandai memasak seperti ini, mamamu menjadi malu." Rama menjeda sejenak ucapannya. "Benar begitu kan Ma?"
Ellana hanya mengangguk samar. Ia teringat akan balada ayam goreng dan sambal tomat yang merupakan masakan pertama untuk sang suami, namun saat itu malah justru gagal total. Jika teringat akan hal itu, sungguh ia hanya malu setengah mati.
"Meski Mama tidak pandai memasak, namun Papa tetap cinta bukan?" timpal Fakhru sembari meneguk air putih yang ada di hadapannya.
"Itu sudah pasti Nak. Karena cinta yang Papa miliki untuk mamamu ini utuh, sehingga meski ia tidak pandai memasak saat itu, Papa tetap cinta. Dan pada akhirnya, mama berhasil juga kan, menjadi salah satu chef terbaik? Meski hanya menjadi juru masak untuk keluarga kita?"
Ucapan Rama hanya mengundang gelak tawa seketika. Dan tawa itu terdengar memenuhi langit-langit ruang makan ini.
"Pa, sudahlah jangan dibahas lagi. Saat ini Mama begitu bahagia karena Fakhru mendapatkan calon istri yang pandai memasak, jadi Mama tidak perlu risau akan gizi dan nutrisi yang masuk ke dalam tubuhnya."
"Sungguh paket komplit calon cucu menantu Kakek ini. Semoga kamu bisa belajar dari kedua wanita hebat yang ada di depan kamu ini ya Nak. Kedua wanita ini merupakan wanita-wanita istimewa yang dimiliki oleh Kakek, calon Papa mertuamu dan juga calon suamimu."
Adiba menganggukkan kepalanya. Ia menyetujui akan apa yang diucapkan oleh Juna. "Iya Kek, Diba akan belajar menjadi seorang istri yang baik untuk aa' Fakhru dari mama Ellana dan juga nenek Widya. Diba juga mohon bimbingannya, sehingga Diba bisa menjalankan peran Diba dengan baik."
"Itu sudah pasti Nak. Kita semua akan sama-sama belajar dan tidak boleh berhenti. Karena hidup adalah sebuah proses untuk bisa menjadi yang terbaik," sambung Widya menjadi topik terakhir yang mereka bicarakan di pagi hari ini.
Mereka kembali fokus dengan makanan yang berada di hadapan masing-masing. Hanya terdengar denting suara sendok yang beradu dengan piring yang membuat suasana semakin hidup.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1