
Seroja PoV
"Nak, Bapak yakin kamu adalah putri Bapak yang dibawa oleh Dahlia di dua puluh tujuh tahun yang lalu!"
"M-maksud Bapak bagaimana? Saya tidak paham!"
Ucapan lelaki paruh baya di hadapanku ini sungguh hanya membuat tubuhku semakin membeku dan terpaku. Ada sebuah dentuman yang bertalu-talu di dalam dada, di mana aku bisa merasakan cara kerja jantungku sedikit berubah. Jantung ini seakan lebih cepat dalam memompa darah, sehingga hanya menyisakan debaran-debaran yang memenuhi bilik serta serambi yang ada di sana.
Kulihat lelaki paruh baya ini menautkan pandangannya ke arah ustadz Hakim, dan ustadz Hakim nampak memberikan sebuah isyarat dengan menganggukkan kepala. Aku tidak paham, sungguh sangat tidak paham dengan apa yang menjadi maksud dua orang lelaki berbeda generasi ini. Namun pada akhirnya, pak Mukhlas kembali menghela nafas dalam, perlahan ia hembuskan dan mengedarkan pandangannya ke arahku.
"Bapak yakin jika kamu adalah putri Bapak, Nak. Putri Bapak yang telah diambil oleh kakak ipar Bapak dan dibawanya pergi entah kemana."
Aku masih intens menatap kedua netra pak Mukhlas. Aku masih belum bisa memberikan respon apapun karena sungguh, berita yang aku dengar ini begitu mengejutkanku.
"Kehadiranmu sungguh kami nantikan di dalam kehidupan Bapak, Ibu dan juga Hakim. Kami begitu bahagia ketika suara tangisanmu mulai memekak telinga memenuhi langit-langit ruang bersalin kala itu. Namun, seketika kebahagiaan itu sirna menjadi hantaman badai yang seketika hanya menyisakan tangis pilu, lara hati yang mengalirkan darah luka tak kasat mata dalam kehancuran hati kami."
Lelaki paruh baya itu kulihat menjeda ucapannya dan menyeka titik-titik embun yang mulai berjatuhan dari telaga bening miliknya sebelum ia lanjutkan ucapannya. "Kamu dibawa pergi oleh Dahlia, bahkan sebelum kami sebagai orang tua, memberikan sebuah nama untukmu!"
Sekilas cerita di masa lalu pak Mukhlas berhasil membuat tubuhku yang sebelumnya membeku, kini bergetar hebat. Sendi-sendi di kakiku seakan melemas seketika. Tak sanggup lagi aku untuk berdiri tegak untuk menopang bobot tubuhku ini. Dan akhirnya, aku hanya bisa meluruhkan tubuhku di atas lantai di salah satu sudut kamar ini.
Aku menangis tergugu, seakan menumpahkan segala gejolak rasa yang kian berkecamuk di dalam kalbu. Memory otakku kembali merekam ulang apa-apa saja yang pernah aku lalui di masa yang telah lalu. Dan kini, sebuah tanda tanya besar di dalam kepala yang selalu aku tanyakan kepada diriku sendiri, telah menemukan titik terangnya. Ternyata, perilaku ibu yang selama ini selalu saja buruk terhadapku, itu semua dikarenakan aku bukanlah anak kandungnya. Tidak ada darah darinya yang mengalir di dalam tubuhku, dan hal itulah yang mungkin membuat beliau tega memperlakukan aku bukan seperti anak kandungnya.
Aku sedikit mendongakkan kepala ketika ekor mataku menangkap bayangan dua paruh baya yang sebelumnya saling berpelukan itu berjalan ke arahku. Benar saja, pak Mukhlas dan ibu Lily medekatkan tubuh mereka ke arah tubuhku.
Keduanya meletakkan lutut mereka di atas lantai sebagai tumpuan. Tidak dapat aku ingkari, rona penuh kebahagiaan itu nampak begitu kentara di raut kedua paruh baya itu, meski masih ada sisa air mata yang bergelayut manja di kelopak mata.
__ADS_1
"Nak, ini Ibu ... bolehkah Ibu memelukmu? I-ibu sungguh merindukanmu!"
Masih dengan dipenuhi oleh derai air mata, aku menatap lekat kedua netra wanita paruh baya ini. Aku lihat sorot penuh cinta yang tersimpan di kedua bola mata ibu Lily. Yang sanggup menembus dinding-dinding pertahanan jiwa, dan mengalirkan kehangatan yang begitu terasa. Hingga pada akhirnya, aku hanya bisa mengangguk lirih.
Grep...
"Ya Allah ... akhirnya setelah sekian tahun aku kehilangan buah hatiku, kini aku bisa bertemu dengannya. Ternyata, inilah jawaban dari sebuah perasaan asing yang menyapaku kala bertemu denganmu Nak. Rasa asing itu tidak lain dan tidak bukan adalah ikatan batin antara seorang ibu dan seorang anak."
Kurasakan wanita paruh baya di hadapanku ini memelukku dengan erat sembari mengucapkan rasa syukur yang teramat mendalam. Aku masih berada di dalam mode terpaku. Meski wanita paruh baya ini begitu asing untukku, namun kehangatan itu tetap terasa mengalir deras memenuhi aliran-aliran darah.
Tanganku yang sebelumnya menjuntai ke bawah, sedikit aku geser. Tanpa mendapatkan instruksi dari siapapun, tanganku mulai membalas pelukan wanita paruh baya ini. Dan tanpa membuang banyak waktu, pak Mukhlas semakin mencondongkan tibuhnya untuk mendekat ke arahku. Dan ia pun ikut memeluk tubuhku dengan erat.
Aku sedikit terkesiap kala kulihat ustadz Hakim juga ikut berjalan ke arahku. Sama persis dengan apa yang dilakukan oleh kedua orangtuanya, ustadz muda itu juga ikut memelukku. Ketiga orang di hadapanku ini begitu erat memelukku.
"Alhamdulillah ya Allah, akhirnya setelah bertahun-tahun penantianku terhadap putriku yang hilang, kini terbayar tunai. Alhamdulillah ya Allah, terima kasih atas segala limpahan cinta dan kasih sayang Mu."
Kudengar pak Mukhlas turut bersuara di dalam pelukanku. Aku pun hanya bisa kembali menganggukkan kepala. "S-silakan Pak. Jika saya mampu, pasti akan saya lakukan."
"Panggil kami semua dengan sebutan yang menyiratkan sebuah arti bahwa kami adalah keluargamu, Nak!"
Aku terdiam, mencoba memahami apa yang diucapkan oleh pak Mukhlas. Aku merutuki diriku sendiri karena saat ini, cara kerja otakku sedikit menurun. Rasa-rasanya aku begitu sulit untuk mencerna apa yang menjadi maksud dari ucapan pak Mukhlas. Hingga pada akhirnya....
"I-ibu ..."
"A-ayah ..."
"K-kakak ...."
__ADS_1
"MashaAllah .... Terima kasih banyak atas segala berkah yang telah Engkau berikan kepada kami ya Allah. Terima kasih..."
Lagi-lagi wanita paruh baya ini mengucap syukur atas segala hal yang telah diberikan oleh Allah. Hal itulah yang membuatku semakin terhanyut dalam lautan penuh kasih sayang.
"Dik, kamu adalah adik kakak. Mulai saat ini kami akan senantiasa menjaga dan melindungimu."
Ustadz Hakim yang sebelumnya hanya terdiam membisu mulai sedikit mengeluarkan suara. Dari bibir ustadz muda itu tersirat sebuah makna akan kasih sayang yang sesungguhnya. Yakni, kasih sayang dari sebuah keluarga.
Lagi, aku hanya bisa menangis tergugu melihat perlakuan-perlakuan hangat dan penuh cinta dari orang-orang ini. Mereka adalah orang asing, namun seketika bisa membuatku merasa begitu disayang dan dicintai.
"Mulai saat ini, kita adalah keluarga. Dan sudah selayaknya kita hidup saling berdampingan." Pak Mukhlas sedikit mengurai pelukannya dan menjeda ucapannya. "Nak, bagaimana kehidupanmu sejauh ini? K-kamu senantiasa dipenuhi oleh kebahagiaan bukan? Dahlia mencurahimu dengan kasih sayang, bukan?"
Tubuhku sedikit terkesiap. Aku dilanda oleh perasaan yang terasa begitu membelenggu jiwa. Ayah, ibu dan kak Hakim adalah orang-orang baik. Lalu apa yang akan menjadi respon mereka ketika tahu bahwa salah satu anggota keluarga mereka pernah tergelincir dan bahkan jatuh ke dalam jurang nista..
Kuhirup udara dalam-dalam, berusaha mengisi rongga-rongga dada dengan oksigen yang terasa semakin terkikis habis. Jantungku kian terasa berdenyut nyeri jika teringat akan apa yang pernah aku lalui. Namun, seburuk apapun masa lalu itu, dia akan tetap ada dalam tiap lembar cerita hidup yang telah lalu. Dan lebih bijak aku ceritakan semuanya kepada keluargaku daripada nantinya hanya akan menjadi bom waktu yang justru bisa meluluhlantakkan masa depan yang aku jalani.
"Saya...."
.
.
🍁🍁🍁🍁
Ya Allah... mohon maaf atas keterlambatan ini ya Kak.. Untuk kak Ely yang bertanya tentang Fakhru, Randy dan Diba, inshaAllah besok akan saya hadirkan... Sabar ya.. 😚😚😚
Part ini sudah saya revisi karena sebelumnya banyak typo yang bertebaran dan banyak rangkaian kalimat yang tidak nyambung. Saya ngetiknya sambil mengalami microsleep (gak sadar tiba-tiba tertidur) jadi mohon maaf jika banyak typo bertebaran ya Kak... 😚😚😚
__ADS_1