
"Mari silakan masuk nak Fakhru, pak Rama, ibu Ellana dan keluarga!"
"Terima kasih pak Abdullah."
Tepat pukul setengah delapan malam, Fakhru beserta keluarga besarnya tiba di kediaman Abdullah. Kedatangan rombongan keluarga Fakhru itu disambut dengan baik oleh keluarga besar Adiba. Abdullah memimpin keluarga besar Fakhru untuk memasuki ruang keluarga dan perlahan, mereka berjalan mengekor di belakang punggung Abdullah dan mendaratkan bokong masing-masing di kursi yang telah dipersiapkan.
Tak selang lama, Adiba berjalan keluar dari kamar sembari diapit oleh Seroja dan Aisyah. Dengan balutan gamis brukat yang dikombinasikan dengan kain satin warna biru donker serta hijab warna senada, membuat gadis berusia dua puluh empat tahun itu nampak sangat anggun dan cantik. Kini, Adiba duduk manis diapit oleh kedua orangtuanya.
"Ehemmmm!!!"
Rama berdehem untuk mengawali acara malam hari ini. Ia kemudian mengambil nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Assalamu'alaikum pak Abdul dan ibu Aisyah. Maksud dan tujuan saya beserta keluarga besar saya berkunjung ke rumah pak Abdullah dan ibu Aisyah yang pertama adalah untuk bersilaturahmi. Yang kedua, saya mewakili putra saya Fakhru Miftahul Haq bermaksud meminang putri bapak yang bernama Adiba Rahma Saleha. Apakah pak Abul berkenan menerima pinangan dari putra saya?"
Abdul tersenyum simpul. Melukiskan raut penuh kebahagiaan di wajahnya. "Saya ucapkan banyak terima kasih untuk kehadiran pak Rama beserta keluarga ke kediaman kami, sungguh sebuah kehormatan bagi kami bisa kedatangan keluarga besar yang penuh kehangatan seperti keluarga pak Rama ini."
Abdul menghela nafas dalam dan ia hembuskan perlahan. "Saya rasa nak Fakhru adalah seorang pemuda yang baik, dan saya setuju jika ia meminang putri saya. Namun sekali lagi keputusan saya serahkan sepenuhnya kepada putri saya sendiri. Karena bagaimanapun juga nantinya ia sendirilah yang akan menjalani kehidupan berumah tangganya."
Abdul menatap kedua manik mata Adiba dengan lekat sembari menggenggam tangannya. Entah mengapa ia merasakan keharuan yang begitu dalam. Sebentar lagi ia akan melepaskan anak perempuan satu-satunya yang ia miliki untuk hidup bersama sang suami. "Sayang, apakah kamu bersedia menerima pinangan nak Fakhru dan menikah dengannya?"
Adiba mengedarkan pandangan ke arah abi, umi dan seluruh keluarga besarnya. papa, mama dan juga keluarga besarnya. Terakhir, ia menatap wajah Fakhru. Ketika menatap wajah Fakhru, rasa yang bersemayam di dalam dadanya masih sama. Jantungnya serasa berdetak lebih cepat tiada beraturan, seolah dipenuhi oleh kebahagiaan yang membuncah. Adiba menghela nafas dalam. "Bismillah, Adiba menerima pinangan dari aa' Fakhru dan bersedia menjadi istrinya, Bi!"
"Alhamdulillah," ucap semua orang yang ada di ruangan ini secara bersamaan sembari mengusap wajah masing-masing dengan telapak tangan mereka. Mereka lega, karena tinggal satu langkah lagi, Fakhru dan Adiba akan resmi menjadi sepasang suami istri.
__ADS_1
Kebahagiaan itu nampak jelas di raut wajah Rama, Ellana, Juna, Widya dan juga Fakhri. Setelah salah seorang anggota keluarga mereka mengalami kegagalan di dalam percintaan, pada akhirnya malam ini, ia kembali mendapatkan penawar atas luka hatinya.
Sekilas, Fakhru menatap lekat wajah Adiba yang saat ini tepat berada di hadapannya. Adiba pun turut membalas dengan teduh tatapan Fakhru. Pandangan mata keduanya bertemu dan saling mengunci. Dari sorot mata mereka sama-sama menyiratkan sebuah perasaan bahagia tiada terkira.
Bagi Adiba, ia begitu bahagia karena pada akhirnya, segala pinta yang ia langitkan kepada sang Maha penggenggam kehidupan mendapatkan ridho. Sedangkan Fakhru, lelaki itu berbahagia karena bertemu dengan seorang gadis yang sejauh ini selalu memperlakukannya dengan istimewa. Nampaknya, kebaikan dan ketulusan hati Adiba lah yang perlahan membuka pintu hati pemuda tampan nan shaleh itu untuk bisa menerima kehadirannya.
"Nah, karena putra saya dan putri pak Abdul sudah sama-sama menerima lamaran ini, lalu kapan sebaiknya kita akan melangsungkan acara pernikahan untuk putra putri kita ini, Pak?"
Mengacu pada sebuah prinsip yang ia pegang selama ini bahwa niat baik harus disegerakan, Rama bergegas membuka sebuah pembahasan akan kapan waktu yang tepat untuk melangsungkan acara pernikahan bagi Fakhru dan Adiba.
Abdul sedikit mengerutkan keningnya. "Jika untuk hal itu, kita langsung bertanya kepada anak-anak kita saja pak Rama. Agar tidak ada unsur keterpaksaan." Abdul menoleh ke arah Adiba. "Sayang, bagaimana? Kapan kamu dan nak Fakhru akan melangsungkan pernikahan?"
Adiba hanya bisa tersenyum kikuk. Sebagai seseorang yang paham tentang ilmu agama, ia tidak ingin berlama-lama agar terhindar dari segala sesuatu yang dapat menimbulkan fitnah. Semakin cepat akan semakin baik. Dengan begitu, kehormatan yang ia miliki bisa ia jaga dengan baik. Jika terlalu lama berada di dalam hubungan yang belum berlandaskan sebuah hubungan yang halal, ia khawatir jika akan semakin menyeretnya ke dalam lembah nista. Namun, ia tidak dapat memberikan keputusan apapun karena pada dasarnya, ia akan menyerahkan semuanya kepada Fakhru.
Rama yang mendengar penuturan sang calon menantu, kemudian mengedarkan pandangannya ke arah sang putra. "Nah Sayang, kapan kamu siap untuk menikahi Adiba? Satu bulan lagi? Dua bulan? Tiga bulan? Atau mungkin akhir tahun?"
Fakhru terlihat berpikir keras karena pada dasarnya ia sama sekali belum memiliki rencana kapan pernikahannya dengan Adiba diselenggarakan. Lama pemuda itu terdiam dan terpaku seakan berupaya keras untuk menentukan waktu terbaiknya. Namun lagi-lagi hanya kebuntuan yang ia dapatkan. Mendadak pikirannya seakan tidak bisa untuk bekerja sama dengan baik.
Ekspresi wajah penuh kebingungan Fakhru tidak luput dari penglihatan Hakim. Ustadz muda itu paham betul dengan apa yang dirasakan oleh Fakhru. Mungkin, kisah-kisah yang telah lalu masih menyisakan sedikit trauma yang menghambat langkah kakinya.
"Fakhru, beristighfar lah!"
Ucapan Hakim sukses membuat kepala Fakhru yang sebelumnya menunduk, kini sedikit ia dongakkan. Terlihat, ustadz muda itu tersenyum simpul ke arahnya. "Astaghfirullah hal 'adziim."
"Fakhru, bagaimana jika antum menikah bersamaan dengan ana dan juga Seroja?"
__ADS_1
Bukan hanya Fakhru, Adiba dan keluarga besar Rama nampak begitu terkejut dengan penuturan Hakim. "Maksud ustadz Hakim bagaimana?"
Hakim hanya tergelak lirih. "Ana dan Seroja memiliki rencana untuk melangsungkan pernikahan di hari yang sama tepatnya satu bulan lagi. Nah, bagaimana jika antum juga ikut melangsungkan pernikahan di hari yang sama? Ana rasa lebih baik disegerakan. Dan bukankah akan menjadi sesuatu yang berkesan jika dalam sehari ada tiga pasang calon pengantin yang menikah."
Fakhru terlihat memikirkan apa yang diucapkan oleh Hakim. Ia menautkan pandangannya ke arah keluarga besarnya, dan mereka semua hanya menganggukkan kepala sebagai isyarat bahwa keputusan apapun sepenuhnya mereka serahkan kepada Fakhru.
Pada akhirnya, Fakhru menganggukkan kepalanya. "Baiklah, saya akan menikahi Adiba satu bulan lagi. Bagaimana Adiba, pak Abdul dan bu Aisyah? Apakah rencana saya ini dapat diterima?"
"Bagaimana Diba? Kamu setuju dengan rencana nak Fakhru?" ucap Abdul mencoba untuk kembali meminta keputusan dari sang putri.
Sekilas, Adiba melirik ke arah Fakhru dan hanya dibalas dengan senyum manis yang terbit di bibir pemuda itu. Adiba mengangguk. "Inshaallah Adiba setuju Abi, Umi. Adiba setuju untuk menikah dengan aa' Fakhru satu bulan lagi."
"Alhamdulillah ya Allah...." ucap semua orang yang berada di ruangan ini bersamaan.
Acara kembali dilanjutkan dengan menikmati kudapan yang ada di hadapan mereka. Malam ini, binar bahagia nampak begitu jelas di raut wajah masing-masing orang yang berada di ruangan ini. Bahagia, karena acara ini berjalan lancar. Meski hanya melibatkan kedua keluarga namun tidak sedikitpun mengurangi kebahagiaan mereka. Suasana hangat pun lebih terasa di kala mereka larut dalam obrolan-obrolan ringan untuk bisa saling mengenal satu sama lain.
Dua keluarga yang sebelumnya tidak saling mengenal, sebentar lagi akan melebur menjadi sebuah keluarga besar kala masing-masing anak mereka akan mengikat hubungan mereka di bawah ikatan suci pernikahan. Ya, sejatinya menikah bukan hanya menyatukan dan menyamakan dua karakter individu. Namun juga menyatukan dua keluarga dengan latar belakang yang berbeda pula agar bisa selaras dalam mendampingi langkah anak-anak mereka untuk meraih jannah-Nya.
.
.
. 🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Ulaalaalaaaa... Bakalan barengan nih nikahan mereka... Jangan lupa siapkan 3 amplop ya Kak.. Hihihihi hihihihi ☺☺☺☺
__ADS_1