Cahaya Cinta Untuk Seroja

Cahaya Cinta Untuk Seroja
CCUS 95 : Fakhru dan Adiba


__ADS_3


Adiba duduk termenung di taman belakang sembari menatap hamparan bunga teratai yang memenuhi kolam. Di bawah daun teratai yang lebar dan mengapung itu nampak ikan koi yang berenang ke sana kemari. Sesekali bersembunyi di bawah daun yang melebar itu, seperti bersembunyi dari terik panas sinar matahari.


Mbak Adiba ini cantik, tapi sayang ya sampai saat ini belum hamil. Padahal sepertinya mas Fakhru dan keluarga pak Rama sudah begitu menanti kehadiran cucu yang berasal dari mas Fakhru loh. Sedangkan saudara kembar mas Fakhru semua sudah memiliki anak.


Kasak-kusuk gunjingan para tetangga, membuat bulir-bulir kristal bening yang berkumpul di kelopak mata Adiba menetes satu persatu. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menyergap hatinya. Ucapan dari para tetangga yang dilontarkan ketika berbelanja di tukang sayur beberapa saat yang lalu, sungguh membuat hati nyonya Fakhru Miftahul Haq itu seperti tertikam pisau tak kasat mata. Yang juga turut mengucurkan darah tak kasat mata dan kini tergambar jelas melalui wajahnya yang terbingkai dengan ekspresi sendu seakan dibalut oleh kabut pilu.


Lima bulan sudah Adiba menjalani biduk rumah tangga bersama Fakhru. Seorang laki-laki shaleh yang sejak pertemuan pertama telah mencuri perhatian dan kasih sayangnya. Allah Maha Baik, karena pada akhirnya Dia yang maha Kuasa mengabulkan segala pinta yang ia punya. Saat ini, ia tinggal di kota asal sang suami, kota Jogja. Di sebuah rumah dengan desain joglo yang terlihat begitu klasik, ia mengarungi kehidupannya bersama sang suami.


Satu bulan, dua bulan, tiga bulan ia merasa begitu nyaman tinggal di tempat ini. Namun baru akhir-akhir ini ia merasakan sedikit tidak nyaman karena gunjingan dari para tetangga yang seakan menyudutkannya. Keluarga kecil yang ia bangun bersama Fakhru yang sampai saat ini belum hadir malaikat kecil di tengah-tengahnya, membuat ia seperti menjadi pihak yang disalahkan. Padahal beberapa kali menjalani pemeriksaan, keadaannya maupun keadaan sang suami juga tidak bermasalah sama sekali. Namun, para tetangga tidak mau mengerti akan hal itu, hingga akhirnya ia yang menjadi sasaran gunjingan para tetangga.


Fakhru yang berada di balik punggung sang istri, hanya bisa tersenyum simpul. Ia paham betul dengan apa yang menjadi beban pikiran istrinya ini. Ia pun mengayunkan langkah kakinya, untuk bisa lebih dekat dengan Adiba.


"Sayang, ayo ke dalam dulu. Dari tadi kamu belum makan loh."


Fakhru turut mendaratkan bokongnya di samping Adiba. Nampak jelas gurat kesedihan yang melekat di wajah istrinya ini. Meski sang istri selalu mencoba untuk menutupi, namun lagi-lagi Fakhru bisa membacanya.


Adiba menyeka sisa-sisa air mata yang masih membasahi pipi. Ia mencoba untuk tetap tersenyum meski senyumnya terasa begitu getir. "Nanti saja A', aku masih malas untuk makan. Terlebih aku juga masih kenyang."


Fakhru menyunggingkan senyum termanis yang ia miliki. Ia raih telapak tangan sang istri dan ia genggam dengan erat. "Apakah para tetangga membicarakanmu lagi?"


Mendengar sang suami menanyakan akan hal itu, kembali membuat air mata Adiba menetes. Wanita itu pun hanya mengangguk lirih. "Apakah ini semua kesalahanku A'? Belum hadirnya malaikat kecil di tengah keluarga kita, apakah merupakan kesalahanku? Aku sampai tidak tahu harus melakukan apa?"


Fakhru merengkug tubuh sang istri untuk ia bawa ke dalam dekapannya. Ia usap punggung Adiba dengan penuh kasih, mencoba untuk menenangkannya. "Ssssttt ... sudah ya Sayang, jangan lagi kamu pikirkan apa yang menjadi ucapan para tetangga. Anggap saja angin lalu, yang tidak akan menggoyahkan benteng pertahanan kita."


"Tapi A', rasa-rasanya sungguh menyesakkan dada. Aku benar-benar merasa menjadi wanita yang tidak sempurna."


"Sayang dengar, kamu adalah wanita sempurna..."


"Tapi aku masih belum bisa untuk memberikan keturunan untukmu Mas. Aku belum bisa."


"Ssssttt...." Fakhru sedikit merenggangkan pelukannya. Ia tatap kembali netra milik istrinya ini dengan teduh. Sembari ia seka air matanya. "Sekarang, tugas kamu hanya satu. Tutup telinga dari apa yang menjadi bahan gunjingan para tetangga. Yakinlah, bahwa suatu saat nanti, Allah akan memberikan amanah dengan hadirnya malaikat kecil di dalam keluarga kita Sayang. Kamu harus percaya itu."


Meski hati Adiba masih diselimuti oleh kegamangan, namun kata demi kata yang terucap dari bibir suaminya ini berhasil membuat hatinya sedikit lebih tenang. Ia selalu percaya dengan apa yang diucapkan oleh Fakhru, bahwa suatu saat nanti, ia bisa merasakan apa itu mengandung, melahirkan, menyusui dan membesarkan anak-anaknya layaknya wanita yang bergelar seorang ibu di luar sana.


🍁🍁🍁🍁🍁


Srengggg!!!!


Irisan bawang putih masuk ke dalam minyak panas. Yang seketika semerbak aroma bawang memenuhi dapur. Namun, baru beberapa detik bawang putih itu masuk ke dalam minyak, tiba-tiba membuat perut Adiba mual. Gegas, ia berlari ke arah wastafel dan memuntahkan isi di dalam perutnya.


Hoek... Hoek...


Ellana yang tengah bertandang ke rumah sang anak yang kebetulan juga sedang membantu memotong sayuran, sedikit mengernyitkan dahi melihat sang menantu yang tiba-tiba memuntahkan isi di dalam perutnya.

__ADS_1


"Diba, ada apa denganmu Sayang?"'


Setelah mematikan kompor, Ellana menghampiri sang menantu dan memijit-mijit tengkuk Adiba. Berusaha untuk meregangkan otot-otot yang ada di leher agar terasa sedikit nyaman.


Adiba menggelengkan kepala pelan. Ia raup udara dalam-dalam dan perlahan ia hembuskan. " Entahlah Ma. Namun aroma bawang ini sungguh membuat Diba mual."


"Apakah biasanya seperti itu Diba? Maksud Mama, kamu selalu mual dengan aroma bawang?"


Adiba menggelengkan kepala. Ia tegakkan tubuhnya dan berbalik badan. Hingga kini ia bersitatap dengan sang mertua. "Tidak Ma. Biasanya Diba justru senang jika mencium aroma bawang. Namun entah mengapa hari ini rasanya begitu mual."


Ellana masih menelaah perkataan sang menantu. Mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sejenak, wanita berusia paruh baya itu termenung, namun tiba-tiba senyum sumringah terbit di bibirnya.


"Sepertinya, apa yang menjadi pintamu dan suamimu akan segera menjadi kenyataan Sayang."


Adiba terkesiap. Tidak begitu paham dengan apa yang diucapkan oleh ibu mertuanya ini. "Maksud Mama bagaimana? Diba tidak paham Ma."


Ellana hanya tersenyum simpul seraya mengusap pundak sang menantu dengan penuh sayang. "Apakah kamu memiliki simpanan testpack?"


"Ada Ma. Diba masih menyimpan di laci nakas."


"Sekarang, coba kamu gunakan testpack itu ya. Mama rasa kamu tengah hamil Sayang."


Perkataan Ellana berhasil membawa pikiran Adiba berkelana tentang kapan terakhir kali ia mendapati jatah bulanan. Dan seketika, bibirnya menganga lebar. "Ya Allah, Diba baru ingat jika bulan lalu Diba tidak mendapatkan haid Ma. Apakah itu artinya?"


Binar kebahagiaan tercetak jelas di raut wajah Adiba. Meski ia belum begitu yakin jika dirinya hamil, namun tamu bulanan yang tidak datang di bulan kemarin, sedikit membuat hati Adiba dibalut oleh kebahagiaan.


"Baik Ma."


Dengan langkah kaki girang, Adiba mengayunkan kakinya untuk menuju kamar. Gegas, ia pun mengambil testpack yang tersimpan di dalam laci nakas.


🍁🍁🍁🍁🍁


Adiba terlihat sedikit cemas menunggu hasil dari testpack yang ada di depannya ini. Meski ini bukanlah kali pertama ia menggunakan testpack namun entah mengapa kali ini rasanya begitu berbeda. Ia merasa jauh lebih deg-deg an dari biasanya. Setelah semua langkah ia lakukan sesuai dengan instruksi yang ada di balik kemasan itu, kini saatnya ia menunggu hasilnya.


Satu menit berlalu. Ia mengambil alat uji kehamilan yang sebelumnya ia letakkan di atas bak mandi. Matanya terbelalak yang diiringi bulir kristal menetes dari pelupuk matanya saat melihat ada dua garis merah yang terpampang jelas di alat itu.


Ia kemudian membuka pintu kamar mandi. Kemudian menyusul seluruh keluarganya yang masih berkumpul di ruang keluarga. Adiba menghampiri Fakhru kemudian memeluk tubuh sang suami dengan erat.


"A' Fakhru!" ucap Adiba sesenggukan di dalam dekapan Fakhru.


Fakhru keheranan melihat sang istri yang tengah menangis itu. Dahinya pun sedikit mengernyit. "S-sayang ada apa? Mengapa kamu menangis?"


Sedangkan Ellana dan Rama yang ikut duduk di sofa yang juga terlihat harap-harap cemas menunggu jawaban dari Adiba.


Adiba merenggangkan pelukannya. Ia tatap wajah sang suami dengan lekat. Fakhru menghapus air mata yang membanjiri pipi istrinya ini dengan lembut. "Kamu kenapa Sayang?"

__ADS_1


Adiba tersenyum manis seraya mengulurkan testpack yang ada di tangannya. "Sebentar lagi, kamu akan menjadi seorang ayah. A-aku hamil A', aku hamil!"


Fakhru mengamati benda kecil itu. Matanya membulat sempurna saat melihat dua garis merah tercetak jelas di sana. Lelaki itu membungkukkan tubuhnya di lantai dan bersujud syukur di sana. Bersyukur atas apa yang telah Allah berikan untuk keluarganya.


"Alhamdulillah ya Allah. Alhamdulillah," ucap Fakhru dengan air mata yang juga menetes dari pelupuk matanya.


"Alhamdulillah," ucap Rama dan juga Ellana bersamaan. Sebagai orang tua, mereka juga teramat bahagia atas nikmat dan karunia ini.


Fakhru kembali duduk di samping Adiba. Ia peluk erat tubuh sang istri dengan penuh rasa cinta yang menyeruak di dalam dada. Ia lerai pelukannya, kemudian ia tatap lekat netra sang istri.


Cup...


Fakhru mencium bibir Adiba dengan intens di depan Rama dan Ellana. Entah perasaan apa yang mengaliri aliran darah lelaki itu sehingga membuatnya merasa jika rasa cintanya kepada sang istri bertambah berkali-kali lipat. Tentunya setelah mengetahui bahwa sang istri tengah mengandung benih cintanya.


Rama dan Ellana hanya bisa melongo melihat kedua orang itu larut dalam suasana intim, seakan tidak menyadari jika saat ini mereka tidak hanya berdua.


Fakhru melepaskan pagutan bibirnya. "Terima kasih Sayang. Terima kasih!"


Adiba mengangguk. "Sama-sama A'. Aku juga berterima kasih karena aa' Fakhru, Papa, dan juga Mama selalu memberikan kekuatan untuk Adiba. Sehingga membuat Adiba lebih kuat."


Ehemmm.. eheemmmm...


Terdengar Rama berdehem. "Sudah puas cium-ciumnya? Kalau belum puas lanjutkan saja di kamar, Nak. Jangan di sini. Meski kami ini sudah tua namun masih tetap merasa iri loh jika melihat kemesraan orang."


Rama berkelakar yang seketika membuat Fakhru dan Adiba tergelak seketika. Mereka baru sadar jika di ruangan ini tidak hanya ada mereka.


"Kalau Papa iri, silakan lakukan hal yang sama ke Mama, Pa!"


Rama menatap netra Ellana dengan intens. Sedikit ia mainkan sebelah alisnya dan juga mengerlingkan mata. Dan mendekatkan wajahnya di pipi sang istri. "Ma, boleh jika saat ini Papa mencium Mama seperti apa yang dilakukan oleh anak-anak kita?"


Kedua bola mata Ellana terbelalak dan membulat sempurna. Buru-buru ia menoel pipi suaminya ini dengan gemas. "Jangan ngadi-adi deh Pa. Ingat umur!"


"Ahahaha hahaha!"


Adiba dan Fakhru kembali terbahak. Allah maha baik. Kabut duka yang sempat menghias wajah keduanya kala mendengar cibiran-cibiran tetangga kini menjadi raut wajah yang dipenuhi dengan kebahagiaan tiada terkira. Satu hal yang mereka percaya dan mereka tanamkan. Bahwa Allah lah yang jauh lebih mengetahui kapan waktu terbaik untuk memberikan anugerah dan nikmat untuk hamba-hambaNya. Asalkan seorang hamba tidak pernah berputus asa dari rahmat dan senantiasa berusaha, berdoa, dan berpasrah, niscaya nikmat itu akan hadir tanpa disangka-sangka.


.


.


bersambung...


Bonus... 😘😘😘


__ADS_1



__ADS_2