Cahaya Cinta Untuk Seroja

Cahaya Cinta Untuk Seroja
CCUS 45 : Tiada Yang Berubah


__ADS_3


Matahari masih nampak malu-malu tatkala Seroja mengayunkan langkah kakinya menyusuri gang sempit di depan rumahnya ini. Meski jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang, namun hari masih nampak temaram karena memang sedari pagi sang raja siang tidak menampakkan wajahnya. Memilih bersembunyi di balik awan berwarna kelabu.


"Dari mana Ja? Kok sepertinya barang bawaanmu banyak sekali?"


Fakhru yang berjalan berpapasan dengan Seroja sedikit keheranan dengan kantong-kantong plastik yang dibawa oleh wanita itu. Karena memang, yang dibawa oleh Seroja terlihat banyak dan berat. Ia seperti kesusahan membawanya.


Seroja meletakkan sejenak kantong-kantong plastik yang ia bawa di atas paving block yang memang menjadi ciri khas dari kawasan tempat tinggalnya ini. Sesekali ia terlihat mengusap keringat di wajahnya dengan tisu. Meski suasana sedikit mendung namun tidak dapat menghalangi peluh-peluhnya untuk menetes membasahi wajah.


"Aku baru saja belanja kain dan beberapa kebutuhan jahit lainnya, Ru. Di toko kain yang berada di sebrang jalan raya sana."


"Kok tumben banyak sekali belanjaanmu? Dan biasanya kamu belanja via online bukan? Tapi mengapa hari ini kamu berbelanja sendiri?"


Tiga hari berada di lokalisasi ini semakin membuat Fakhru mengerti akan keseharian Seroja. Wanita itu nampak begitu bersemangat untuk menjalankan usaha yang tekuni. Membuat desain pakaian, ia jahit, dan ia jual sendiri. Melihat keseharian Seroja yang selalu sibuk dengan pekerjaannya membuat pemuda itu begitu penasaran akan bisnis yang dikerjakan oleh teman semasa kecilnya ini. Iseng, ia membuka akun media sosial milik Seroja dan benar saja, pakaian-pakaian yang ditawarkan oleh Seroja mendapatkan respon yang begitu baik dari pasar.


"Aku harus memastikan kualitas kain yang aku pergunakan memang bagus, Ru. Yang akan aku kerjakan ini dalam partai yang lumayan besar. Aku tidak ingin mengecewakan customer, jika sampai kain yang aku pergunakan tidak sesuai dengan ekspektasi mereka."


Fakhru mengangguk-anggukkan kepala. Ia baru paham wanita ini rela untuk kerepotan sendiri membeli bahan-bahan membuat pakaian demi kualitas para pelanggan itu sendiri. "Lalu, pesanan dalam partai besar itu akan kamu selesaikan bersama siapa? Apakah mau kamu selesaikan sendiri?"


Seroja hanya nampak mengulas sedikit senyumnya. "InshaAllah aku bisa menyelesaikan semuanya sesuai dengan waktu yang sudah ditetapkan, Ru. Mulai hari ini aku fokus di pesanan partai besar ini dulu. Baru setelah selesai aku bisa memproduksi pakaian-pakaian yang lainnya lagi."


"Mengapa kamu tidak mengajak orang-orang di sekitar sini untuk membantumu Ja?"


Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Fakhru. Pemuda itu berpikir bahwa orang-orang di sekitar sini bisa membantu wanita itu dalam menjalankan bisnisnya. Barangkali juga bisa memberdayakan potensi yang di miliki oleh orang-orang di sekitar sini.


Seroja tersenyum tipis mendengarkan usulan Fakhru ini. Memang, usulan yang diutarakan oleh teman masa kecilnya ini terdengar akan sangat membantunya namun ada satu hal besar yang ia pikirkan.


"Sejak apa yang aku buat mendapatkan respon yang bagus dari pasar, aku sempat berpikir menambah karyawan untuk membantuku. Namun.... "


Seroja menjeda ucapannya. Ia pikir tidak perlu mengatakan apa yang menjadi kendalanya di depan orang lain. Ia hanya akan terus berupaya untuk mengumpulkan sedikit demi sedikit keuntungan yang ia peroleh dan nantinya dari keuntungan itu bisa ia gunakan untuk membeli atau menyewa sebuah ruko dan beberapa peralatan jahit lagi untuk membesarkan usaha yang ia jalani.


"Namun kamu terkendala perihal tempat dan juga keterbatasan jumlah mesin?"


Seroja tersentak mendengar teman masa kecilnya ini bisa menebak apa yang ada di dalam pikirannya. Sepersekian detik wanita itu terperangah, namun pada akhirnya kekehan kecil itu terdengar keluar dari bibirnya. "Apakah ustadz Hakim mengajarkanmu ilmu membaca pikiran orang?"


Pemuda itu juga terdengar tergelak lirih hingga kedua lesung itu kembali tercetak di tulang pipinya. "Ustadz Hakim tidak pernah mengajariku ilmu membaca pikiran orang."


"Lalu, bagaimana bisa kamu membaca apa yang ada di kepalaku Ru?"


Jari telunjuk Fakhru menunjuk ke atas kepala Seroja yang membuat wanita itu semakin kebingungan. "Itu di atas kepalamu muncul asap yang membentuk kata tempat dan jumlah mesin. Dari sana aku tahu bahwa yang menjadi kendalamu adalah dua hal itu."

__ADS_1


"Pfftt ... kamu ini ada-ada saja, Ru. Ternyata kamu memang tidak banyak berubah."


Gelak tawa itu tidak lagi dapat ditahan oleh Seroja. Ya, Fakhru tetaplah Fakhru, sejak kecil pemuda ini memang pandai menghibur. Dulu sewaktu ia menangis karena diolok-olok oleh teman-teman sepermainannya, Fakhru lah yang selalu mencoba menenangkannya. Tidak hanya sampai di sana, setelah itu Fakhru pasti melanjutkan candaannya dengan bercerita hal-hal yang terdengar lucu dan sukses mengganti tangis kesedihan yang ia rasakan menjadi gelak tawa tak tertahankan.


"Ada beberapa hal yang memang tidak boleh berubah dari dalam diri kita, Ja. Salah satunya kebaikan yang kita punya. Dengan sering bercanda seperti itu bukankah merupakan salah satu kebaikan dariku? Bisa membuat orang lain tertawa, inshaAllah akan bernilai pahala."


Seroja semakin tergelak. Ada-ada saja yang diucapkan oleh teman masa kecilnya ini. Ia merogoh dompet yang ia simpan di dalam tas. Ia keluarkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan dan ia berikan kepada Fakhru.


"Ru, aku dan suster Ana ada sedikit rezeki. Tolong pergunakan ini untuk membantumu dan ustadz Hakim memperbaiki kerusakan yang ada di surau ya. Semoga bisa bermanfaat."


Sebelumnya, Seroja dan Ana sempat dikejutkan dengan kedatangan beberapa karyawan toko bangunan yang mengirim beberapa bahan-bahan bangunan yang di alamatkan di surau yang berada di dekat tempat tinggalnya. Ternyata Fakhru dan Hakim menggunakan uang pribadi mereka sendiri untuk memperbaiki surau itu. Sejak hari itulah, Seroja dan juga Ana mengumpulkan uang yang mereka punya untuk ikut membantu apa yang telah dilakukan oleh kedua lelaki itu.


Fakhru menerima uang yang diulurkan oleh Seroja. Sejatinya uang yang ia miliki dengan uang yang dimiliki oleh ustadz Hakim cukup untuk perbaikan surau itu, namun ia tidak ingin menjadi penghalang bagi orang lain untuk berbuat amal. Pada akhirnya ia menerima uang pemberian Seroja. "Alhamdulillah. Terimakasih banyak, Ja. Semoga ini menjadi salah satu amal jariyah untukmu dan untuk suster Ana."


"Aamiin ya rabbal alaamiin."


Seroja bermaksud kembali mengambil barang bawaannya yang sebelumnya ia letakkan di atas paving block ini. Namun saat tangannya hampir menyentuh kantong-kantong plastik itu, buru-buru Fakhru mencegahnya.


"Biarkan aku yang membawa barang-barang ini, Ja."


"Tapi Ru ....?"


Fakhru berseloroh sembari mengayunkan langkah kakinya, hingga posisinya sedikit jauh berada di depan Seroja. Sedangkan Seroja yang hanya bisa dibuat melongo dengan apa yang diucapkan oleh pemuda itu. Namun pada akhirnya senyum itu kembali terbit di bibir Seroja. Ya, Fakhru tetaplah Fakhru. Teman kecilnya yang sedari dulu selalu bisa membuatnya tertawa.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Bu ... sudah waktunya Ibu makan. Ayo buka mulutnya!"


Seorang lelaki paruh baya dengan kaos putih tipis dan sarung terlihat memegang sebuah piring yang di atasnya tersusun rapi menu nasi, ayam goreng, tempe garit dan juga sayur sup. Sebelah tangannya lagi ia gunakan untuk memegang sendok, bermaksud untuk menyuapi seorang wanita yang berusia dua tahun lebih muda darinya.


"Pak ... anak kita ... anak kita... "


Wanita itu terus saja menautkan pandangannya ke arah luar jendela dengan tatapan menerawang. Air matanya tiada henti mengalir


"Ibu yang sabar. Anak kita pasti akan kembali. Hakim pasti bisa menemukannya."


"Telepon Hakim, Pak! Telepon Hakim! Tanyakan padanya apa dia sudah bisa menemukan adiknya? Ibu benar-benar merindukan putri kita Pak!"


Wanita yang sebelumnya menatap lekat suasana luar jendela dengan tatapan menerawang, kini ia geser sapuan matanya. Ia raih sebuah bantal yang ada di dekatnya, dan ia benamkan wajahnya di atas bantal itu.


"Putriku ... di mana kamu Nak? Ibu merindukanmu!"

__ADS_1


Wanita itu menangis tergugu di atas permukaan bantal. Suara tangis wanita itu terdengar pilu seakan ikut mengiris perih batin lelaki yang berada di dekatnya. Selalu seperti ini. Sejak dua puluh tujuh tahun yang lalu, sang istri selalu membenamkan dirinya dalam luka yang tiada bertepi. Sebuah luka yang hanya menyisakan nyanyian-nyanyian pilu yang terdengar menggerus hati.


Piring yang sebelumnya berada di dalam genggaman tangannya, ia letakkan di atas nakas. Kemudian ia dekati sang istri, ia rengkuh tubuhnya untuk ia bawa ke dalam pelukannya. "Ibu yang sabar. InshaAllah Allah akan segera mempertemukan kita dengan putri kita."


"Ibu merindukannya Pak ... Ibu merindukannya."


Bertambah deras pula air mata yang jatuh dari pelupuk mata lelaki ini. Hatinya juga ikut bergemuruh dan terasa begitu sesak jika mengingat sang putri yang dibawa pergi oleh seseorang yang bahkan belum sempat ia beri nama. Dengan penuh kelembutan ia mengusap-usap punggung sang istri, berupaya untuk menenangkannya.


"Bapak pun juga merindukan putri kita, Bu. Namun, Bapak minta, Ibu tetap sabar dan jangan terlalu larut dalam kesedihan ini. Bapak tidak ingin jika sampai terjadi sesuatu yang bisa membuat kesehatan psikis Ibu seperti dulu lagi."


Masa-masa terberat itu sudah berlalu. Di saat sang istri mengalami depresi berat dan membuat jiwanya terguncang. Setelah sekian tahun, perlahan semua kembali seperti semula. Jiwa sang istri sudah bisa sedikit terkendali. Dan itulah yang membuat lelaki itu berusaha mati-matian menjaga keadaan sang istri agar jangan sampai kembali seperti dulu lagi.


"Putri kita Pak ... putri kita... "


"Istighfar Bu... Istighfar. Mohon kepada Allah, agar hati Ibu bisa lebih tenang."


"Astaghfirullahal 'adziim... "


Lelaki itu masih setia mengusap-usap punggung sang istri sembari mengecup pucuk kepalanya. Mentransfer rasa sabar dan tawakal akan apa yang telah digariskan oleh Allah SWT.


Engkau bawa ke mana putriku, Dahlia? Dan di mana sebenarnya engkau bersembunyi? Dua puluh tujuh tahun, aku sama sekali tidak bisa mengendus persembunyianmu.


Ckitttt.....


Brakk.... Brakkkk!!!!


Tubuh lelaki itu terperanjat seketika kala mendengar decitan suara rem mobil dan sesuatu yang menghantam entah apa itu yang terdengar memekak telinga. Ia pun bangkit dari posisi duduknya dan dari balik jendela terlihat sebuah mobil menghantam pohon beringin yang berada di tepi jalan.


"Innalillah .... "


"Ada apa Pak?"


"Sepertinya di depan ada kecelakaan, Bu. Bapak lihat ke depan sebentar ya Bu."


"Hati-hati Pak... "


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2