
"Mas!"
Seroja berhamburan ke dalam pelukan Randy, kala lelaki itu tiba di depan pintu apartement. Tidak biasaya lelakinya ini tidak membawa access card, sehingga membuatnya harus membukakan pintu untuk lelakinya ini.
"Sayang!"
"Mas ... aku takut!"
Tak bisa lagi membendung ketakutannya, Seroja seperti seorang anak kecil yang tengah mengadu kepada sang ayah. Di dalam pelukan Randy inilah, hatinya sedikit terasa lebih tenang.
"Ssstttt ... sudah Sayang. Jangan takut lagi. Aku ada di sini."
Randy menggiring tubuh Seroja untuk ia bawa ke ranjang. Mereka naik ke atas pembaringan dan mereka sandarkan punggung mereka di head board ranjang. Dengan erat, Randy memeluk tubuh Seroja. Ia gunakan dada bidang miliknya, menjadi tempat paling nyaman bagi Seroja untuk menghalau segala rasa takutnya. Wajah wanita ini nampak pucat pasi. Tubuhnya juga sedikit bergetar, seakan mempertegas bahwa ia memang tengah ketakutan.
"Mas ... di dalam almari ada bangkai burung dara. Sungguh mengerikan Mas!"
Randy sedikit mengurai pelukannya. Ia tatap lekat wajah ayu wanitanya ini. "Bangkai burung?"
Seroja mengangguk pelan. "Iya Mas, bangkai burung. Dan di cermin depan kamar mandi juga ada sebuah tulisan yang ... mengancam aku."
Randy yang sudah tidak dapat membendung rasa penasarannya, gegas beranjak dari ranjang. Ia menuju almari pakaian yang dimaksud oleh Seroja. Kedua bola mata Randy membulat sempurna. Tiba-tiba perutnya terasa mual. Merasa jijik dengan melihat darah bangkai burung dara itu yang sudah mengering. Gegas, ia menuju wastafel dan menumpahkan seluruh isi perutnya di dalam sana.
Randy kembali menegakkan tubuh tatkala perutnya sudah terasa lebih lega. Kedua bola matanya menyipit saat melihat bekas lipstik berwarna merah yang masih tercetak jelas di cermin di hadapannya ini. Kali ini, ia semakin yakin bahwa memang ada seseorang yang meneror Seroja.
"Sayang ... apa sejauh ini kamu pernah memiliki musuh? Atau mungkin seseorang yang membencimu?"
Randy kembali membawa tubuhnya untuk menyusul Seroja yang masih meringkuk di atas ranjang. Lelaki itu menyandarkan punggungnya dan kembali meraih tubuhnya untuk ia bawa ke dalam dekapannya.
Seroja menggeleng pelan. "Tidak Mas. Aku merasa tidak memiliki musuh. Dan jika orang yang membenciku ... aku sungguh tidak tahu."
__ADS_1
Randy berupaya untuk menelaah apa yang diucapkan oleh wanitanya ini. Mungkin memang benar bahwa Seroja tidak memiliki musuh. Karena sejatinya selama ini ia tidak terlalu banyak berinteraksi dengan orang-orang di luar.
"Sebentar, sebentar. Jika bangkai burung dara itu bisa berada di dalam almari, dan di cermin wastafel ada tulisan yang menerormu, itu berarti ada seseorang yang memasuki apartemen ini, bukan?"
Seroja menganggukkan kepala. "Aku juga berpikir begitu Mas. Tapi siapa yang masuk ke dalam apartemen ini jika pemegang access card saja hanya aku dan kamu?"
Ucapan Seroja sukses membuat Randy sedikit terkesiap. Benar jika pemegang access card apartemen ini hanya dirinya sendiri dan Seroja. Sehingga tidak ada yang bisa bebas keluar masuk kecuali mereka berdua.
Namun, tiba-tiba Randy teringat akan sesuatu. Ia raih tas yang ia bawa, tempat di mana ia menyimpan access card itu. Dahinya mengerut karena tidak bisa ia temukan access card itu di dalam tasnya.
"Ada apa Mas?"
Seroja sedikit keheranan, tatkala melihat raut wajah Randy yang nampak sedikit kebingungan.
"Access card milikku tidak ada di dalam tas, Sayang!"
"Benarkah seperti itu?"
"Benar Sayang."
Randy mengendikkan bahu. "Entahlah, aku juga tidak paham Sayang. Tapi, apa mungkin teror yang kamu terima ini ada hubungannya dengan access card ku yang hilang ya Sayang?"
Kini dahi Seroja yang sedikit mengerut. "Maksud kamu bagaimana Mas?"
Randy memutar otaknya. Ia berpikir keras, mencoba merangkai ada hubungan apa antara terori yang dialami oleh Seroja dengan hilangnya access card yang ia miliki.
"Oh astaga... "
"Ada apa Mas?"
"Jangan-jangan ini semua ada hubungannya dengan Rosmala!"
__ADS_1
"M-maksud kamu? Mbak Rosmala sudah mengetahui hubungan kita dan dia.... "
Seroja memangkas ucapannya. Seketika otaknya bekerja secara maksimal. Dan runtutan-runtutan awal pertemuannya dengan Rosmala di mall beberapa waktu yang lalu, kemudian tiba-tiba wanita itu begitu bersemangat ingin menjadikannya teman, kemudian tiba-tiba dia mencurahkan isi hatinya bahwa sang suami telah berselingkuh, apakah mungkin itu semua sebagian dari rencana untuk lebih jauh mengetahui hubungannya dengan Randy?
Semakin otak Seroja bekerja keras untuk menghubungkan rentetan sikap Rosmala itu, maka hanya ada sebuah kesimpulan bahwa memang benar wanita itu sudah mengetahui hubungannya dengan Randy. Dan, diam-diam ia mengambil access card dari dalam tas Randy dan mulai menerornya.
"Sepertinya memang benar bahwa Rosmala sudah mengetahui hubungan kita, Sayang."
Seroja tersentak. "Lalu kita harus bagaimana Mas?" Seroja menatap wajah Randy dengan tatapan yang sulit terbaca. "Apakah kita akhiri ini semua sampai di sini Mas? Sebelum semua bertambah menjadi runyam?"
Randy menggelengkan kepalanya. "Tidak Sayang. Aku tidak mungkin melepaskanmu. Karena aku sungguh sangat mencintaimu."
Seroja terdiam. Ada rasa bahagia yang menelusup di dalam dadanya kala lelaki itu mengatakan bahwa ia begitu mencintainya. Namun, sekilas bayangan wajah Runa dan Roni kembali menghampiri yang memaksa batinnya untuk kembali berperang.
"T-Tapi nantinya ini semua tidak pernah adil untuk anak-anakmu Mas. Mereka pasti akan sangat terluka dan hancur melihat keadaan yang seperti ini."
Teringat akan Runa dan Roni membuat dada Seroja diserang oleh rasa sesak. Matanya memanas hingga satu bulir kristal itu jatuh dari pelupuk matanya. "Ini semua salahku Mas. Aku yang bersalah karena telah menjadi orang ketiga di dalam rumah tanggamu. Aku sungguh merasa sangat bberdosa."
Randy menggelengkan kepalanya. Ia tangkupkan kedua telapak tangannya di wajah wanitanya ini. "Tidak Sayang. Ini bukanlah kesalahanmu. Mungkin aku yang bersalah karena aku tidak dapat mengendalikan perasaanku sejak pertama aku bertemu denganmu. Aku sungguh mencintaimu Sayang. Sungguh mencintaimu."
"T-Tapi Runa dan Roni.... "
Randy tersenyum simpul. Sekilas, ia kecup bibir wanitanya ini dengan intens. "Aku sudah cukup baik menjalankan peranku untuk Runa dan Roni sesuai dengan porsiku sebagai ... ayah sambung untuk mereka."
.
.
πππππ
Hayolloohhh.... penulisnya pusingππ
__ADS_1
Ada apa ini? Ada apa??
Hihihihi hihihi hihihi ikuti terus kelanjutan ceritanya ya Kakπππ