Cahaya Cinta Untuk Seroja

Cahaya Cinta Untuk Seroja
CCUS 53 : Wanita itu Kamu!


__ADS_3

"MashaAllah ... Ayah benar-benar tidak menyangka jika saat ini kamu pulang langsung meminta Ayah untuk melamar seorang wanita untukmu. Siapa wanita yang telah berhasil mencuri hati putra Ayah ini, hemm?"


Selepas menunaikan ibadah shalat Maghrib, Lili, Mukhlas, Randy, dan juga Hakim berkumpul di beranda depan. Sembari menikmati wedang bajigur yang dibuat langsung oleh tangan Lili dan martabak manis yang sebelumnya dibawakan oleh Randy, keempat orang itu terlihat begitu hangat bercengkrama. Terlebih pokok pembahasan yang kali ini mereka angkat perihal rencana Hakim untuk melamar seorang wanita. Sungguh merupakan sebuah kabar yang begitu membahagiakan untuk Mukhlas dan Lili.


Randy meraih gelas yang berisikan wedang bajigur itu kemudian ia sesap perlahan. "Namanya Ana, Yah, Bu. Firda Ana Syafira."


"Sungguh nama yang bagus Nak. Lalu di mana ia tinggal?"


Sejauh ini Hakim memang tidak pernah bercerita apapun perihal wanita. Sempat beberapa kali, lelaki itu diajak ta'aruf dengan anak-anak para kyai yang berada di sekitar sini. Bahkan banyak dari mereka mengirim CV untuk melakukan proses ta'aruf itu, namun Hakim tetap menolak. Entah wanita seperti apa yang ia inginkan. Dan kini, tiba-tiba sang anak datang dengan membawa sebuah berita bahwa ia akan melamar seorang wanita. Sungguh berita yang begitu menggembirakan. Dan kedua paruh baya itu begitu penasaran, berasal dari mana wanita yang merupakan pilihan sang putra itu.


"Ana tinggal di lokalisasi, Yah, Bu!"


Mendengar kata lokalisasi membuat bola mata kedua paruh baya itu membulat sempurna. Tubuh keduanya sedikit terperanjat. Terkejut setengah mati dengan apa yang terucap dari bibir Hakim. Tidak hanya Lili dan Mukhlas, Randy pun juga ikut terperangah tiada percaya.


Namun ucapan Hakim seakan menarik paksa ingatan Randy akan beberapa saat yang lalu, tepatnya saat ia menatap dari jauh sang mantan istri ketika berada di surau. Ya, Randy ingat bahwa lelaki ini merupakan salah seorang laki-laki yang bersama Seroja di surau itu.


Ana? Lokalisasi? Mungkinkah Ana yang dimaksud ustadz Hakim ini adalah suster Ana? Yang selama ini membantu Seroja mengurus ibu dan juga adiknya? Oh, ya Allah ... pertanda apakah ini? Tapi apakah mungkin itu suster Ana?


Randy larut dalam pikirannya sendiri. Tidak menyangka jika saat ini orang-orang yang ia temui masih berkaitan erat dengan Seroja. Layaknya seutas benang yang kelak akan mengantarkannya kembali kepada sang mantan istri.


"Nak, kamu sedang tidak bercanda kan? Apa maksud kamu mengatakan bahwa calon istrimu tinggal di lokalisasi?"


Sempat terjadi keheningan beberapa saat setelah Hakim mengatakan bahwa sang calon istri tinggal di lokalisasi. Namun suasana hening itu berhasil dipecahkan oleh Mukhlas yang mencoba meminta penjelasan dari sang putra.


Hakim tersenyum simpul. Hal seperti ini sudah ia prediksi sebelumnya, bahwa kedua orang tuanya pasti akan terkejut saat mendengar apa yang ia sampaikan.


"Ayah, Ibu ... Hakim mohon Ayah dan Ibu jangan melihat dari sisi luarnya saja terlebih dari tempat tinggal Ana. Ana adalah wanita yang baik Yah, Bu. Bahkan teramat baik. Dia bisa menjaga dirinya dengan berhijab. Dan ia juga begitu telaten menjadi perawat untuk seorang gadis kecil yang tidak dapat melihat. Bahkan tidak hanya merawat fisik. Keimanan gadis kecil itupun juga ikut dipupuk dan dirawat oleh Ana. Bagi Hakim, ia memang seorang wanita yang sangat istimewa."


Randy semakin terperanjat, ternyata benar bahwa Ana yang dimaksud Hakim adalah suster Ana. Dan gadis kecil itu adalah Alamanda. Namun ia tidak bisa melakukan apapun. Ia harus tetap berada di posisinya, seakan tidak tahu menahu tentang apa yang diucapkan oleh Hakim.


Hakim memindai ekspresi wajah kedua orang tuanya. Kini, raut wajah mereka sudah nampak sedikit lebih tenang. "Meski ia tinggal di tempat yang di mata kebanyakan orang adalah tempat yang kotor, namun Ana tetap bisa menjaga kehormatannya Yah, Bu. InshaAllah Hakim sudah memantapkan hati untuk mempersunting Ana. Semoga Ayah dan Ibu memberikan restu dan ridho."

__ADS_1


Mukhlas dan Lili saling bertatap netra. Sejenak, keduanya berada dalam mode hening. Namun, tak selang lama, keduanya sama-sama mengangguk.


"Baiklah Nak, Ibu ridho dan memberikan restu untukmu. Bagaimanapun juga nantinya kamu sendirilah yang akan menjalani kehidupan berumah tangga, jika kamu sudah memantapkan hati, Ibu dan ayah hanya tinggal mendoakan dan memberikan restu untukmu."


Ucapan sang ibu layaknya sebuah embun pagi yang begitu menyejukkan hati. Senyum lebar nampak begitu jelas terlukis di bibir ustadz muda itu. "Alhamdulillah ... terimakasih banyak Ayah, Ibu, Hakim benar-benar bahagia."


Mukhlas ikut mengukir senyum lebar melihat kebahagiaan sang putra yang begitu kentara di wajahnya. Apalagi yang menjadi mimpi orang tua jika bukan kebahagiaan sang anak?


"Lalu, kapan putra Ayah ini ingin melamar wanita itu? Tiga bulan lagi? Enam bulan lagi? Atau satu tahun lagi?" tanya Mukhlas yang ingin tahu kapan sang putra akan melamar wanita yang menjadi pilihannya.


Hakim menggeleng samar. "Tidak semuanya Yah?"


"Lalu?"


"Dua minggu lagi Yah. Dua minggu lagi Hakim ingin melamar Ana secara langsung!"


🍁🍁🍁🍁🍁


Selepas shalat Isya', Fakhru berkunjung ke kediaman Seroja. Di beranda, keduanya nampak duduk saling berhadapan.


Seroja terkekeh geli. Sedari tadi Fakhru memaksanya untuk memakan apa yang berada di dalam kotak bekal makanan itu. "Habiskan Ru. Itu buatan Diba kan? Dan itu khusus untuk kamu!"


Aroma bumbu seblak begitu menyengat di hidung Seroja kala teman kecilnya ini membuka tutup kotak bekal itu. Menu seblak yang secara khusus dibuat oleh Adiba untuk Fakhru.


Fakhru mulai menyendok seblak yang berisi makaroni, telor, dan juga kerupuk itu. Ia masukkan ke dalam mulut dan mulai menikmati sensasi rasa nikmat dari seblak ini.


"Diba membuat seblak ini banyak sekali. Aku khawatir jika tidak sanggup menghabiskannya sendiri. Maka dari itu, ayo makan Ja!"


Seroja menggeleng-gelengkan kepala melihat Fakhru yang begitu lahap menikmati seblak yang ada di depannya. Teman masa kecilnya ini memang tidak berubah. Masih saja ia jadikan menu ini sebagai makanan favoritnya.


"Aku yakin kamu bisa menghabiskan itu semua Ru. Bagaimana? Masakan Diba lezat kan?"

__ADS_1


Fakhru meraih botol air mineral yang ada di sampingnya. Perlahan, ia meneguk botol air mineral itu. "Iya, Diba memang pandai memasak Ja. Masakannya sungguh nikmat. Ketika di panti milik pak Abdul, beberapa kali aku sering memakan hasil masakan Diba, dan rasanya memang lezat. Hampir sama dengan masakan Mama di rumah."


Seroja tersenyum penuh arti. Ia yakin jika Fakhru bisa jatuh cinta kepada melalui masakan yang dibuat oleh gadis cantik itu. Sudah cantik, shalehah, berpendidikan dan pandai memasak. Sungguh sebuah potret wanita idaman para lelaki.


"Apa kamu tidak ingin mempersunting Adiba, Ru? Dia sosok wanita yang sempurna. Pasti akan menjadi pendamping hidup yang baik untukmu."


Seroja sengaja untuk mengulik hal pribadi tentang Fakhru. Ia sudah berjanji akan membantu Adiba untuk dekat dengan Fakhru, dengan seperti ini ia yakin bisa menggali informasi yang lebih dalam tentang teman masa kecilnya ini.


Sejenak, Fakhru hentikan kunyahannya. Masih sambil menatap seblak di hadapannya, pemuda itu menggeleng pelan. "Tidak Ja. Aku sama sekali tidak memiliki niat untuk mempersunting Adiba."


"Kenapa bisa begitu Ru? Adiba wanita yang sempurna. Jadi apa yang kurang darinya?"


"Aku tidak bisa, Ja!"


"Coba katakan apa yang menjadi alasanmu Ru?"


"Karena aku sudah mencintai wanita lain."


Seroja terperangah mendengar ucapan Fakhru. Sejauh yang ia tahu, lelaki itu tidak terlihat dekat wanita manapun. Namun mengapa sekarang ia mengatakan bahwa ia mencintai wanita lain. "S-siapa Ru? Mengapa aku tidak mengetahuinya?"


Kepala Fakhru yang sebelumnya tertunduk, kini sedikit ia dongakkan. Dalam posisi seperti ini, ia bisa melihat dengan jelas wajah cantik milik teman masa kecilnya ini. Tatapan Fakhru dibarengi dengan manik mata Seroja yang juga menatap ke arahnya. Dan kini pandangan keduanya bersirobok.


Fakhru menyunggingkan sedikit senyumnya hingga menampilkan lesung di tulang pipinya dan gigi gingsulnya. "Wanita itu kamu, Ja. Kamu, Seroja Ayu Anjani!"


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁


Eeeaaaaaaaa..... Eeeaaaaaaaa.... Eeaaaaaaa...... 🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2