Cahaya Cinta Untuk Seroja

Cahaya Cinta Untuk Seroja
CCUS 86 : Kedatangan Keluarga Jogja


__ADS_3


"Papa, Mama!!"


Fakhru memekik kegirangan kala kakinya telah berpijak di kediaman Fakhri. Sejak semalam, saudara kembarnya itu memaksanya untuk cepat-cepat datang ke kediamannya tanpa memberikan alasan yang jelas dan ternyata inilah kejutan yang diberikan oleh saudara kembarnya ini. Ya, Rama dan Ellana telah tiba di kota ini.


"Fakhru, putra Mama!!"


Tanpa membuang banyak waktu, Ellana meleburkan tubuhnya ke dalam pelukan Fakhru. Anak lelakinya yang baru beberapa saat berada di tanah rantau namun sudah sangat ia rindukan. Bagaimana tidak rindu? Selama ini Fakhru tidak pernah pergi jauh dari sisinya, namun hampir dua bulan terakhir ini pemuda itu meninggalkan sang ibu, sehingga begitu wajar jika Ellana tersiksa oleh belenggu rasa rindu.


"Mama apa kabar? Sehat?"


Senyum manis tiada henti merekah di bibir Fakhru. Di raut wajahnya juga tergambar jelas rona kebahagiaan di mana ia dapat kembali bersua dengan wanita paruh baya yang telah melahirkannya ini.


Setelah puas memeluk erat tubuh sang putra, Ellana sedikit merenggangkan dekapannya. Ia tatap manik cokelat milik putranya ini dengan lekat. "Alhamdulillah, Mama sehat dan baik-baik saja Sayang."


Fakhru sedikit mengerutkan dahinya. "Benarkah Mama sehat. Tapi entah mengapa Fakhru merasa tidak merasa begitu? Mama terlihat semakin kurus dari terakhir kali bertemu dengan Mama."


Ellana tergelak lirih. Wanita paruh baya itu menepuk-nepuk pundak sang putra dengan penuh sayang. "Bagaimana Mama tidak kurus jika setiap hari Mama selalu kepikiran tentang kamu, Nak. Bagaimana keadaanmu di sini. Apakah pola makanmu teratur atau tidak. Lalu bagaimana kamu tinggal. Semua seakan membuat Mama merasakan persis dengan lirik lagu yang dibawakan oleh Guyon Waton."


Fakhru sedikit terkesiap kala sang Mama berbicara perihal Guyon Waton. Yang ia tahu, Guyon Waton adalah salah satu grup band asal Jogja yang terkenal dengan lirik-lirik lagu patah hatinya. Dan seusia sang Mama kenal dengan grup band yang digandrungi kawula muda itu? Sungguh menolak tua sekali mamanya ini.


"Memang lirik lagunya seperti apa Ma? Fakhru jadi penasaran."


Pada akhirnya pemuda itu menjadi penasaran dengan lirik lagu yang dibawa-bawa oleh sang Mama. Sedangkan Ellana hanya terkekeh geli. "Yang pastinya membuat Mama tidak nafsu makan, tidur tidak nyenyak, dan malas kemana-mana. Karena apa? Ya karena memikirkan kamu, Nak!"


Pemuda tampan nan rupawan itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Karena baginya sang Mama terlalu hiperbola.


Ehemmm...


"Jadi sedari tadi hanya Mama saja yang dipeluk? Apakah putra Papa ini tidak merindukan Papa?"


Suara seseorang yang berdehem dilanjutkan dengan sebuah pertanyaan yang menuntut justru semakin membuat Fakhru terkesiap. Namun tak selang lama, ia tersenyum lebar dan mulai mendekat ke arah Rama, yang tak lain dan tak bukan adalah sang papa.

__ADS_1


"Papa .... Bagaimana kabar Papa? Sehat bukan?"


Fakhru mendekap erat tubuh lelaki paruh baya yang masih terlihat begitu gagah ini. Meski usianya sudah hampir memasuki separuh abad, namun gurat-gurat ketampanan sang papa sedikitpun tidak luntur termakan oleh masa. Tubuh lelaki itu masih terlihat begitu tegap dan begitu bugar.


Rama sedikit mengurai pelukannya. Ia tatap lekat kedua bola mata sang putra dengan intens. "Alhamdulillah Papa juga sehat Nak. Percayalah, jika ada di samping Mama, inshaAllah Papa akan selalu sehat. Karena Mama adalah sumber nutrisi yang Papa butuhkan."


Rama sedikit melirik ke arah Ellana sembari mengedip-ngedipkan sebelah mata. Perlakuan sang suami itu pulalah yang berhasil membuat Ellana tersipu malu. Dan benar saja, semburat warna merah jambu tercetak jelas di tulang pipi wanita itu.


"Apa sih Pa? Kita ini sudah tua bahkan sudah mau punya cucu, tapi kenapa masih sering menggombal macam anak muda seperti itu sih?"


Meski bibirnya sedikit mengerucut dengan diiringi oleh dentuman jantung yang bertalu-talu karena begitu tersanjung oleh pujian sang suami, Ellana tetap saja tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. Ya, tidak ada sesuatu yang ia rasakan selama mengarungi kehidupan bersama sang suami selain hanya rasa bahagia yang dibalut oleh rasa syukur. Bersyukur karena sejak dulu kadar cinta dan perhatian sang suami tidak luntur sama sekali. Persis dengan perlakuan sang papa mertua terhadap mama mertuanya. Selalu so sweet seperti gula Jawa. (Yang mau tahu ke so sweet-annya Juna dan Rama terhadap istri mereka, silakan singgah di Takdir Cinta & Bingkai Surga Untuk Ellana. Dijamin bikin melting, macam ais krim terkena panas, hihihi)


Rama tertawa renyah mendengarkan penuturan sang istri. Dihidupnya udara dalam-dalam dan ia hembuskan perlahan. "Ma, perkara bersikap manis terhadap pasangan itu tidak memiliki masa kadaluwarsa. Sehingga sah-sah saja seorang suami itu selalu memperlakukan istrinya penuh kasih sayang. Karena kembali lagi, istri adalah ladang pahala dan ladang kebaikan untuk seorang suami."


"Benar-benar mirip seperti kakek Juna. Jika Papa dan kakek Juna dikumpulkan menjadi satu, pasti para pembaca tulisan tante Rasti ini terkena serangan diabetes mendadak. Tidak mampu untuk menahan rasa manis yang ada di dalam setiap part yang tertulis. Hmmmm jika sudah seperti ini, Fakhru malah merindukan kakek Juna dan nenek Widya, Pa, Ma!"


Ucapan Fakhru bukan sebuah isapan jempol semata. Karena sejatinya, dua orang laki-laki itu memang terlalu manis dalam memperlakukan pasangan masing-masing. Sampai-sampai ia menjadikan Papa dan juga kakeknya sebagai kiblat dalam bagaimana caranya memperlakukan seorang wanita yang bergelar istri di dalam kehidupannya.


Rama dan Ellana hanya bisa mengulas sedikit senyumnya kala mendengar penuturan sang putra. Dari ekspresi wajah keduanya seakan menyiratkan sesuatu yang tengah ia sembunyikan rapat-rapat.


Suara bariton yang tiba-tiba terdengar menembus dinding ruang tamu ini, sukses membuat Fakhru mengedarkan pandangan matanya ke arah sumber suara. Kedua bola mata pemuda itu nampak berbinar kala menangkap sosok seorang laki-laki yang berdiri di antara ruang tamu dan ruang tengah kediaman Fakhri ini.


"Kakek Juna!"


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Setelah sama-sama saling melepas rindu, kini Rama, Ellana, Fakhru, Fakhri, Widya dan Juna duduk di sebuah sofa yang berada di ruang tengah. Rasa kasih sayang dan cinta kasih yang dibalut oleh kehangatan seakan menyelimuti atmosfer ruangan ini. Tidak ada sesuatu yang membingkai orang-orang yang tengah bercengkerama sembari sesekali terlihat dipenuhi oleh gelak tawa itu selain bingkai bahagia yang begitu kentara. Semuanya larut dalam lautan kebahagiaan ini.


"Jadi apakah benar atas apa yang Kakek dengar dari Fakhri, bahwa kamu ingin memperkenalkan kami semua kepada salah seorang wanita yang ada di kota ini, Nak?"


Juna mengawali pembicaraan seriusnya. Wajah lelaki berusia senja itu begitu nampak bahagia sejak ada kabar yang terdengar bahwa sang cucu memiliki niat untuk memperkenalkan keluarga besarnya kepada salah seorang wanita yang tinggal di kota ini. Itu semua dapat diartikan bahwa sang cucu telah berupaya untuk beranjak dari luka lama akibat kegagalan menikah yang ia alami untuk keempat kalinya. Oleh karenanya ia begitu bersemangat untuk ikut bertandang ke kota asalnya ini.


Fakhru tersenyum kikuk sembari melirik ke arah sang saudara kembar. "Ternyata kamu Ri, yang sudah merencakan ini semua? Meminta Papa, Mama, kakek dan nenek untuk datang kemari?"

__ADS_1


Fakhri hanya tersenyum simpul. Karena pada dasarnya ia sudah berada di jalur yang tepat. "Sejak Abang mengatakan bahwa ingin memperkenalkan Mama dan Papa dengan Adiba, aku memang segera membuat rencana ini Bang. Bukankah niat baik itu harus disegerakan, hemmm?"


Fakhru hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Rupa-rupanya saudara kembarnya ini sudah mencuri start lebih awal darinya. Sebuah rencana yang baru sekedar menjadi wacana, ternyata direalisasikan langsung oleh saudara kembarnya ini.


"Iya Kek, Fakhru memang memiliki rencana untuk memperkenalkan Papa, Mama, Kakek dan juga Nenek kepada seorang gadis yang tinggal di kota ini. Namanya Adiba. Putri salah seorang pemilik panti di kota ini."


Ellana, Rama, Juna dan Widya saling melempar pandangan. Keempat orang itu sama-sama melengkungkan seutas senyum manis di bibir masing-masing. Mungkin dalam benak mereka sama-sama berpikir bahwa Fakhru telah sembuh dari segala luka hatinya dan sudah tidak lagi merasakan sebuah trauma karena beberapa kali gagal menikah.


"MashaAllah, Mama benar-benar bahagia mendengarnya Sayang. Itu artinya kamu sudah bisa membuka hatimu kembali."


Wajah Ellana oleh kebahagiaan yang begitu mendominasi. Menjadi saksi akan berkali-kali kandasnya kisah cinta sang putra, membuat wanita yang melahirkan Fakhru itu tidak memiliki keinginan yang muluk-muluk. Ia hanya ingin sang putra bertemu dengan cinta sejatinya. Dan pastinya melihat sang putra dapat kembali memeluk apa yang menjadi kebahagiaannya.


Fakhru hanya tersenyum simpul. "InshaAllah Fakhru akan berupaya membuka hati untuk Adiba, Ma."


"Berupaya untuk membuka hati untuk Adiba? Maksud kamu bagaimana Nak?" timpal Rama dengan sedikit mengerutkan dahinya. Dari ucapan sang putra ini sepertinya ada sesuatu yang belum ia ketahui dengan pasti.


Fakhru menghela nafas dalam dan perlahan ia hembuskan. "Sebenarnya Fakhru belum bisa mengartikan apa yang Fakhru rasakan untuk Adiba sebagai sebentuk perasaan cinta. Karena sejak awal Fakhru hanya menganggap Adiba sebagai seorang adik. Namun, kala melihat sikap dan perhatian yang diberikan oleh Adiba untuk Fakhru, Fakhru dapat menangkap sinyal bahwa gadis itu memang menaruh hati kepada Fakhru. Hal itulah yang membuat Fakhru mengambil sebuah keputusan untuk mencoba membuka hati dan berusaha untuk menerima kehadiran Adiba."


Ellana semakin terkesiap kala mendengar penuturan sang putra. "Nak, apakah kamu melakukan ini karena sebuah rasa terpaksa dan kasihan kepada Adiba? Jika memang iya, Mama rasa hentikan rencana kamu untuk meminang wanita itu. Mama tidak ingin kamu menikahi seorang gadis hanya karena rasa iba dan ada unsur sebuah keterpaksaan. Karena sejatinya itu semua tidak akan pernah menjadikan pernikahan kalian berbahagia."


Rama meraih telapak tangan sang istri. Ia genggam jemari tangan istrinya itu dengan erat. "Ma, jangan berpikir jauh sampai ke sana. Fakhru pasti akan bisa bertanggungjawab dengan apa yang sudah menjadi keputusannya."


"Betul apa yang dikatakan oleh suamimu, Nak. Serahkan semua kepada Allah. Allah lah yang maha membolak-balikan hati manusia. Jika memang Fakhru sudah memiliki niatan baik untuk merengkuh Adiba, biarkan Allah sendiri lah yang menghadirkan rasa cinta itu di dalam hati Fakhru," sambung Widya yang turut memberikan argumentasinya.


Masih dipenuhi oleh kabut kecemasau, Ellana menatap lekat manik mata sang putra. "Jadi, apakah kamu akan tetap meminang Adiba, Nak?"


Fakhru menganggukkan kepalanya. "InshaAllah Ma. InshaAllah, Fakhru akan segera datang ke kediaman Adiba untuk meminangnya. Perkara hati, semua Fakhru serahkan kepada Allah SWT Ma. Semoga Adiba lah yang menjadi jawaban atas segala pinta yang Fakhru langitkan."


Ellana membuang nafas lega. Ia baru teringat bahwa putranya ini salah seorang laki-laki yang berpegang teguh akan janji yang telah terpatri. Jika memang putranya ini berniat untuk merengkuh tubuh seorang gadis, ia percaya bahwa Fakhru bisa berkomitmen dengan apa yang telah ia ucapkan.


"Lalu, kapan cucu Kakek ini berencana datang ke rumah Adiba?" sambung Juna yang terlihat sudah sangat tidak sabar.


Fakhru nampak sejenak berpikir. Hingga pada akhirnya. "Besok malam. Besok malam tolong dampingi Fakhru untuk meminang Adiba!"

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2