Cahaya Cinta Untuk Seroja

Cahaya Cinta Untuk Seroja
CCUS 65 : Tentang Masa Lalu -1-


__ADS_3


Beberapa puluh tahun yang lalu...


Sang surya mulai naik ke peraduan. Membiaskan semburat warna keemasan yang nampak begitu mengesankan. Menjadi suplay semangat bagi jiwa-jiwa tangguh untuk menelusuri jejak-jejak langkah di hari yang baru.


Kakak beradik itu nampak begitu bersemangat menjejakkan kaki mereka melewati pematang sawah yang terhampar luas di area persawahan ini. Tanpa alas kaki, dua gadis itu nampak begitu bahagia menikmati suasana pagi di pedesaan seperti ini. Dua buah rantang dan satu buah ceret berada di dalam genggaman tangan mereka masing-masing, yang akan mereka gunakan untuk mengisi perut di waktu siang nanti.


Tanaman padi mulai menguning sebagai pertanda jika saat ini merupakan waktu yang tepat untuk memanen salah satu tanaman yang menjadi sumber makanan pokok di negara ini.


"Pokoknya nanti Kakak tidak mau ikut memanen padi ya Ly. Seperti biasa, Kakak akan menunggu kamu, ayah dan juga ibu di gubug kecil yang ada di pinggir sawah kita. Setiap hari Kakak sudah terlalu lelah bekerja di pabrik pembuatan kecimpring. Jadi saat ini waktunya Kakak untuk beristirahat."


Gadis yang berusia dua tahun lebih tua itu memberikan sebuah peringatan kepada sang adik bahwa ia tidak akan ikut memanen padi. Ia beralasan jika tubuhnya sudah terlalu lelah bekerja di salah satu pabrik pembuatan kecimpring yang berada di kota ini.


"Kak Dahlia benar tidak ingin ikut memanen padi? Sungguh sangat disayangkan jika kak Dahlia tidak ikut memanen padi, karena itu berarti Kakak akan melewatkan satu hal yang sangat mengasyikkan."


Lily masih berusaha keras untuk membujuk sang kakak agar mau diajak untuk ikut memanen padi. Namun tetap saja, hanya sebuah penolakan yang ia dapatkan. Gadis bernama Dahlia itu sama sekali tidak tertarik dengan apa yang akan dilakukan oleh sang adik semenarik dan se mengasyikkan apapun itu.


"Aku bahkan sangat tidak perduli dengan yang katamu sebagai hal mengasyikkan itu. Lebih baik aku kehilangan hal yang mengasyikkan itu daripada nanti kulitku menghitam karena terkena terik sinar matahari."


Masih kekeuh pada pendiriannya, Dahlia tetap tidak ingin ikut membantu memanen padi. Sedangkan Lily sudah tidak dapat berkata apapun. Gadis itupun hanya tersenyum simpul dan kembali mengayunkan kakinya untuk bisa segera sampai di sawah milik kedua orangtuanya. Dan, tak selang lama, dua kakak beradik itu tiba di sebuah gubug kecil yang berada di samping sawah milik kedua orang tua mereka.


Dahlia naik ke gubug kecil itu dan ia letakkan rantang yang ia bawa di sana. Setelah itu, ia mulai merebahkan diri sembari menikmati suasana sekitar. Sedangkan Lily, gadis itu terlihat menyusul ayah dan juga ibunya yang tengah memotong padi.


"Nak, mengapa kamu ikut kemari? Kamu beristirahat saja. Agar tidak kepanasan dan tidak kelelahan."


Wanita berusia paruh baya yang tak lain adalah sang ibu meminta Lily untuk tidak ikut memotong padi. Wanita paruh baya itu hanya khawatir jika ada sesuatu yang berbahaya terjadi kepada putrinya ini. Ia khawatir jika ada ular atau hewan-hewan berbahaya lainnya menggigit kaki sang putri.


Lily hanya tersenyum simpul. Ia mulai turun ke sawah milik kedua orang tuanya ini. Gadis itu menyusul sang ayah dan memulai aktivitasnya untuk ikut memotong padi. "Tidak apa-apa Bu. Lily malah senang sekali bisa membantu Ibu dan ayah berada di sawah. Lily benar-benar bosan jika tidak melakukan apapun. Terlebih, setiap hari Lily berada di pabrik, dan hanya itu-itu saja yang Lily lakukan."


Sang ibu hanya berdecak pelan sembari menggeleng-gelengkan kepala. "Ya sudah jika kamu ingin ikut memotong padi Nak. Tapi hati-hati ya. Jangan jauh-jauh dari ayah ataupun Ibu."


"Baik Bu."


"Lalu di mana kakakmu?"


"Kak Dahlia ada di gubug Bu. Dia menunggu di sana sembari beristirahat."


"Hmmmm ... seharusnya kamu juga ikut menunggu di sana saja Nak."

__ADS_1


Lily tetap menggelengkan kepala dan memilih untuk menyusul sang ayah yang sudah berada di tengah petak sawah yang dimiliki.


Ya seperti itulah anak-anak wanita paruh baya bernama Melati itu. Dahlia, sang putri sulung memang memiliki sikap dan perilaku semaunya sendiri. Ia terkesan jauh lebih manja dan ingin menang sendiri. Berbeda jauh dengan Lily yang merupakan adik kandungnya. Lily nampak jauh lebih bijak dalam bersikap dan berperilaku. Dan hatinya pun jauh lebih lembut dari Dahlia. Tidak mengherankan jika gadis itu jauh lebih lebih mudah tersentuh dengan keadaan di sekitar.


Melati hanya bisa tersenyum simpul. Meski kedua putrinya lahir dari rahim yang sama, namun ternyata untuk sikap dan kepribadian terlihat begitu kontras. Namun sebagai orang tua, ia tida pernah membedakan dalam memberikan kasih sayang yang ia miliki untuk putri-putri mereka. Ia senantiasa berdoa, semoga kedua putrinya akan selalu mendapatkan kebahagiaan di hidup masing-masing.


🍁🍁🍁🍁


Sembari memasukkan kecimpring di dalam kemasan, kedua netra Dahlia masih sibuk menatap lekat sosok lelaki yang sedang berada di tempat penjemuran kecimpring yang berada di halaman depan. Untuk mendapatkan hasil kecimpring yang bagus, olahan cemilan yang berasal dari singkong ini memang harus kering secara sempurna sebelum digoreng.


Lelaki dengan perawakan tinggi, gagah, dan berwajah tampan seakan memancarkan pesona yang begitu kentara. Bukan hanya secara fisik saja, secara finansial pun lelaki itu termasuk salah satu orang yang berada. Karena ia merupakan putra pertama dari pemilik pabrik kecimpring ini. Ya, dia adalah Mukhlas Al-Huda. Pria tampan nan rupawan yang hingga saat ini masih setia dalam kesendiriannya. Entah wanita seperti apa yang ia cari, yang membuatnya enggan untuk menikah di usianya yang sudah matang ini.


Sungguh laki-laki yang sempurna. Sudah tampan, kaya dan gagah. Aku benar-benar jatuh hati kepada Mukhlas, aku harus bisa mendapatkan hati dan perhatiannya. Aku pasti akan sangat beruntung jika bisa menjadi istri lelaki itu. Mungkin ini adalah salah satu rencana Tuhan menakdirkan aku bekerja di pabrik ini. Salah satunya bisa bertemu dengan jodohku, yang tidak lain adalah Mukhlas.


Di dalam kepala Dahlia, muncul angan-angan yang terasa begitu membahagiakan. Sebuah angan di mana ia bisa menjadi istri dari putra pertama pemilik pabrik ini. Yang pastinya kekayaan yang ia miliki tidak akan pernah habis tujuh turunan.


"Kak Dahlia sedang memperhatikan apa? Mengapa sedari tadi Kakak melihat ke arah tempat penjemuran kecimpring?"


Dahi Lily mengerut kala memperhatikan gelagat aneh di wajah sang kakak. Sedari tadi kakaknya ini terlihat tidak fokus dengan kecimpringnya dan justru fokus melihat ke arah tempat penjemuran kecimpring.


Dahlia sedikit terkesiap. Pertanyaan sang adik sukses membuyarkan pikirannya yang entah menerawang kemana. Namun sepertinya menerawang jauh ke dalam pesona yang dihadirkan oleh lelaki bernama Mukhlas itu.


Lily tergelak lirih. Jawaban yang dilontarkan oleh sang kakak sungguh terdengar sedikit tidak masuk akal. "Mengapa Kakak sibuk dengan cuaca di luar sana? Bukankah sudah banyak karyawan yang berada di luar sana? Jadi mereka bisa segera memasukkan kecimpring-kecimpring itu jika tetiba turun hujan bukan?"


Ucapan Lily sungguh membuat Dahlia malu setengah mati. Ia sadar, apa yang ia ucapkan memang terdengar sedikit tidak masuk akal. Ia pun hanya tersenyum kikuk. "Aaahhhh ... sudahlah, lanjutkan saja pekerjaanmu Ly! Dan jangan lupa, nanti kamu yang menggantikan aku untuk lembur. Badanku benar-benar lelah. Aku ingin segera beristirahat di rumah."


Akibat adanya pesanan mendadak dari luar kota dan dalam jumlah yang cukup banyak, membuat pemilik pabrik kecimpring ini mengharuskan karyawannya untuk lembur. Diantara Dahlia dan Lily seharusnya jatah Dahlia untuk lembur, namun wanita itu berdalih sedang tidak enak badan. Ia pun meminta sang adik untuk menggantikannya lembur.


"Baiklah Kak, biar aku yang lembur. Kakak istirahat saja di rumah daripada bertambah parah."


"Ya, itu jauh lebih baik. Seharusnya memang seperti itu. Tugasmu memang menggantikan aku ketika aku tidak bisa lembur. Ingat ya, kamu bisa bekerja di pabrik ini karena aku yang membawamu. Jadi kamu menurut saja dengan apa yang aku mau."


Lily hanya mengangguk samar. Meski sang kakak sering berbuat semaunya, namun ia sungguh menyayanginya. "Iya Kak, iya."


Pada akhirnya, Lily mengiyakan apa yang menjadi kemauan sang kakak. Dan hari ini ia akan lembur.


🍁🍁🍁🍁


Dewi malam mulai merangkak naik menggantikan sang raja siang yang sudah kelelahan berjaga seharian. Cahaya lembutnya terlihat begitu cantik menghiasi langit malam ini. Di temani oleh ribuan kerlip bintang yang bersinar terang, seakan menambah keramaian suasana malam hari ini.

__ADS_1


Suasana ruang produksi kecimpring masih terlihat ramai di malam ini. Sebagian karyawan menggoreng kecimpring-kecimpring itu di dalam sebuah wajan besar dan sebagian lagi memasukkan ke dalam kemasan. Malam ini mereka harus bekerja ekstra keras, karena esok, kecimpring-kecimpring ini akan segera dikirim ke luar kota.


"Mbak, aku izin sebentar ya. Mau shalat maghrib terlebih dulu. Takut jika waktunya keburu habis!"


Lily meletakkan plastik yang ia gunakan untuk mengemas kecimpring-kecimpring ini, ia beranjak dari posisi duduknya dan bermaksud ke mushola untuk menunaikan ibadah sholat maghrib.


"Enak saja kamu Ly. Bisa-bisanya kamu keluar dari ruangan ini dan meninggalkan pekerjaanmu. Kita di sini sibuk, kamu malah main meninggalkan tempat ini saja!"


"Iya benar itu. Padahal gaji lembur kita sama, namun kamu malah ingin keluyuran di luar. Kalau seperti itu enakan kamu!"


Lily hanya mengelus dada mendengarkan ucapan teman-temannya ini. "Ya Allah Mbak, aku tidak keluyuran. Aku hanya ingin shalat sebentar. Setelah itu aku akan kembali lagi kemari."


"Halah itu alasan kamu saja kan Ly, biar bisa santai-santai? Kalau seperti ini tidak adil untuk kita yang lebih lama berada di tempat ini daripada kamu. Harusnya gaji lembur kita tidak sama."


Lily membuang nafas sedikit kasar. Rupa-rupanya teman satu pekerjaannya ini tidak rela jika gaji lembur yang akan ia terima sama dengan yang mereka terima. "Baiklah Mbak, nanti aku akan bicara ke bagian keuangan agar mengurangi gaji lemburku. Aku pastikan tidak akan sama dengan apa yang Mbak-Mbak dapatkan."


Teman-teman Lily saling melempar pandangan dan sama-sama menaikkan alis masing-masing dengan raut wajah sinis. "Aku pegang ucapanmu Ly. Pokoknya kami tidak rela jika sampai gaji lembur kita sama."


"Iya Mbak, iya. Aku siap dipotong gaji jika perkara shalat saja saja menjadi sebuah masalah yang besar. Aku lebih baik kehilangan beberapa gajiku daripada aku harus kehilangan waktu untuk beribadah kepada Tuhanku."


"Ah, terserah kamu saja lah Ly. Cepat sana shalat. Jangan-jangan memang benar, kamu bersembunyi di balik kata shalat hanya untuk bersantai-santai?"


"Astaghfirullah Mbak. Capek aku memberi penjelasan ke kalian semua!"


Pada akhirnya, Lily bersegera meninggalkan tempat packing kecimpring ini. Ia mengambil langkah kaki lebar untuk bisa bersegera tiba di mushola. Sungguh, ia khawatir jika akan kehabisan waktu untuk menunaikan ibadah shalat maghrib. Setelah sampai di depan mushola, ia gegas ke tempat wudhu, dan mulai membersihkan tubuhnya dari hadas kecil dengan air wudhu itu.


Tak jauh dari tempat packing kecimpring, terlihat seorang laki-laki yang berdiri tegap. Niatnya untuk memasuki tempat packing itu terhenti kala sayup-sayup terdengar suara seorang wanita yang tengah berdebat dengan teman-temannya. Dan yang lebih membuat lelaki itu takjub, mereka berdebat perkara shalat. Ia begitu terkesima dengan apa yang dilakukan oleh wanita yang mati-matian teguh dalam pendiriannya untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim yakni menunaikan shalat lima waktu. Bahkan ia rela dipotong gaji asal ia bisa menunaikan shalat.


Tanpa terasa senyum manis terbit di bibir lelaki itu.


Benar-benar wanita istimewa!


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Beberapa part ke depan, kita kulik kehidupan Mukhlas, Lily dan Dahlia terlebih dahulu ya Kak.. Hehehehe gak apa-apa ya.. ☺☺☺

__ADS_1


__ADS_2